Tanah Air Beta: Harga Sebuah Nasionalisme
Featured, Potret Sunday, June 20th, 2010Setiap konflik senantiasa menyertakan duka. Tidak hanya struktur sosial atau pemerintahan yang menjadi kacau balau, tetapi juga keluarga. Perpisahan di antara mereka yang saling menyayangi pun kadang menjadi tak terelakkan. Kondisi semacam itulah yang hendak diangkat dalam film Tanah Air Beta.
Film besutan Ari Sihasale, yang diluncurkan perdana pada 14 Juni 2010 di Planet Hollywood, Jakarta, ini tampaknya hendak menunjukkan adanya duka-duka terabaikan di balik narasi besar perseteruan Indonesia dan Timor Leste. Duka itu bermunculan tak lama setelah referendum berdarah pada 1999 di Timor Leste yang berujung pada pisahnya tetangga Nusa Tenggara Timur itu dari Indonesia.
Kesuraman pun muncul pada adegan pembuka. Di sana ada eksodus besar-besaran dari mereka yang memilih bergabung dengan Republik Indonesia sebagai tanah airnya. Langkah kaki-kaki tak bersepatu. Panasnya tanah berdebu. Matahari yang menyengat. Kibaran bendera merah putih yang lusuh di atas gerobak yang kepayahan. Semuanya dibalut dengan alunan musik yang dapat membuat orang merasa tercekam. Dan pada saat yang sama, penonton pun sontak diajak bertanya, demi alas an apakah sesungguhnya mereka mau melakukan eksodus itu?
Jawaban atas pertanyaan ini memang tak kunjung ditemukan hingga film berujung. Film ini lebih cenderung mewujudkan gambaran romantika kasih sayang seorang ibu, Tatiana (Alexandra Gottardo) pada anaknya, Merry (Griffit Patricia) dan Mauro (Marcel Raymond).
Tatiana dan Merry, yang hidup di sebuah kamp pengungsian di Kupang, Nusa Tenggara Timur, harus berjuang menjalani hidup yang keras dan susah. Dalam kehidupan yang berantakan pascakonflik, keduanya pun memendam rindu seraya terus berjuang menemui Mauro, abang Merry, yang tertinggal di Timor Leste. Perjuangan Tatiana dan Merry untuk berkumpul kembali dengan Mauro ini kemudian dibantu oleh Abu Bakar (Asrul Dahlan) dan Carlo (Yehuda Rumbindi).
Film ini diperankan oleh banyak bintang, seperti Alexandra Gottardo (Tatiana), Asrul Dahlan (Abu Bakar), Lukman Sardi (Lukman), Yehuda Rumbindi (Carlo), Robby Tumewu (Koh Ipin), Thessa Kaunang (Ci Irene), Ari Sihasale (Dr. Joseph), Griffit Patricia (Merry), Marcel Raymond (Mauro), dan Martalita Nadia (Merry Kecil).







Semangat terus untuk Garudaku Garudamu