Home » Sastra » Naskah Drama | “Pulang”

Naskah Drama | “Pulang”

Ishak Sambayang.

Judul:
Pulang

Ide cerita:
Rolly Koemadji & Athief Lihawa

Naskah:
Ishak Sambayang

Para pemain:
Prajurit 1 :
Seorang prajurit bujang. Ikut perang pada gelombang kedua. Berumur sekitar 29 tahun.

Prajurit 2:
Seorang prajurit yang bertampang serius. Ikut perang pada gelombang pertama, enam bulan lebih awal dari Prajurit 2. Berumur sekitar 32 tahun.

Lelaki tua:
Seorang pribumi di wilayah perang.

 

PROLOG:
Pulang…
Itulah kata yang lama kami tunggu di sini.
Setelah tahun-tahun hanya darah, erangan, tangisan, desingan peluru dan dentuman senjata yang menemani kami. Siang dan malam adalah sama.
Rumah adalah kenangan dan rindu. Tempat paling indah yang menjadi mimpi yang menyulut semangat kami menuju kepulangan esok hari.

 

Adegan 1
Di arena perang.
Gerakan gerilya pasukan pemberontak menyerang sebuah kamp prajurit negara di sebuah hutan. Dua hari terakhir terjadi kontak senjata antara prajurit negara dengan pasukan pemberontak. Pasukan prajurit negara dipaksa tercerai berai oleh gencarnya serangan gerilyawan.

Di panggung, dua orang prajurit negara mengendap-endap dengan waspada dari arah yang berbeda. Mereka pun bertemu. Saling sapa ala prajurit, dan seterusnya….

Prajurit 2:
Apa kau baik-baik saja?

Prajurit 1:
Habislah kita! Kamp di tenggara berhasil dipukul mundur pasukan gerilya. Kita harus ke kamp utara. Kenapa kakimu?

Prajurit 2:
Tidak apa-apa, hanya tersambar peluru.

Prajurit 1:
(mengambil alat komunikasi untuk menghubungi kamp utara)

Prajurit 2:
Tahan dulu! Pasukan pemberontak ada dimana-mana. Jangan sampai ketahuan. Tidak jauh dari sini ada sebuah gua, baiknya kita berlindung di sana.

 

Adegan 2
Di sebuah rumah. Di pemukiman pribumi.
Seorang lelaki tua setengah gila, meletakkan sesosok mayat di pangkuannya. Seorang bocah yang tertembak entah oleh siapa, prajurit negara atau pasukan gerilya. Dia pun tak tahu.

Lelaki tua:
Timang-timang anakku sayang.
Buah hati ayanda seorang

….

(menggamit tangan si mayat) Lihatlah tangan ini, kembali lembut seperti tanah. Kembali ke rupa, sebagaimana dia bermula. Oo, entah siapa yang akan kusebut pahlawan. Orang-orang bergerombol dalam pasukan meneriakkan yel-yel  kedamaian lewat peperangan.

(mengerang) Kemana kalian iblis-iblis! Di mana kedamaian yang kalian janjikan, saat peluru yang kalian lontarkan menembus dada anak-anak kami?

(tertawa)

(kepada si mayat) Ssssttttt…. jangan rewel. Tidurlah, Nak. Bapak tidak apa-apa. Tadi itu cuma batuk yang hebat. Kenapa? Kau lapar? Ah, kau mau mengganggu Bapak lagi, ya? Tadi kan sudah makan. Tidurlah….

Aih, kenapa lagi? Berhentilah meracau, Nak.

Rumah? Kau rindu rumah?

(meninggikan suara) Bagaimana bisa kau merindukan rumah. Kita sedang ada di rumah Heh..? ah, kau pasti terlalu asyik diajari oleh televisi, sampai-sampai lupa nasihat Bapak.

Hei, kenapa diam? Pura-pura tidur, ya…? Ayo, jawab Bapak! O, jadi begini anak Bapak? Ayo jawab! Hey!!!

(mengerang lebih garang)

 

Adegan 3
Di dalam gua.
Dua prajurit negara tadi sedang berlindung.

Prajurit  1:
(menghela nafas panjang) Seandainya kita ada di rumah.
O… tiada tempat seindah rumah.

Prajurit 2:
Rasanya tempat ini sudah cocok dengan kita. Seperti sedang menikmati rumah.

(tertawa).

Prajurit  1:
Ini bukan rumah. Ini labirin, tempat kita tak ada pilihan lain selain terus menembus dari lorong ke lorong hanya untuk mencari pintu keluar yang adalah juga pintu masuk ke ruang perang yang baru.

Prajurit  2:
Hei…! Jangan terlalu risau. Ini hanyalah dermaga. Kita cuma butuh beberapa waktu saja untuk menunggu di dermaga ini. Sebab sebentar lagi heli akan serupa kawanan bangau tepat di atas kepala. Kita akan berpamitan kepada hutan, mengucapkan selamat tinggal kepada burung dan sungai. Yel-yel kemenangan akan pasti bergemuruh di cakrawala. Mereka akan datang menjemput kita. Kita hanya dituntut untuk sedikit bersabar. Setelah itu… PLEK… Rumah… tempat yang paling indah.

Prajurit  1:
Bukan itu yang aku khawatirkan. Kita tengah terpisah dari pasukan inti. Beberapa menit kemudian, kita bisa saja mengalami kematian yang datang dengan tiba-tiba, dan akhirnya tidak seorangpun di antara kita yang bisa menikmati udara rumah yang sejuk.

Kita tidak lain akan pulang sebagai pahlawan dengan dada yang lubang dan bendera kebangsaan di atas peti mati kita sendiri. Kita cuma bisa pulang dengan menyandang nama, sementara istri dan anak kita terperangkap dalam duka tiada tara.

Terkadang aku berpikir, benar kata orang, kita seharusnya bisa menjadi pahlawan untuk diri sendiri dan keluarga sebelum kita menjadi pahlawan untuk orang banyak.

Prajurit  2:
Jangan terlalu terlarut. Kita pasti akan pulang. Mengetuk pintu rumah, berpelukan dengan sanak saudara, dan malamnya kita langsung bisa meregangkan tulang belakang kita yang kaku. Tidak ada lagi hutan dan pemberontak nekat itu. Kita bisa bersenang-senang.

Ayolah….

Prajurit  1:
Aku khawatir….

Prajurit  2:
Eit… Ini peperangan.

Prajurit  1:
Justru karena ini peperangan, maka selalu ada kekhawatiran.

Prajurit  2:
Kekhawatiran itu datangnya dari sini. (menepuk dadanya).

Maka lepaskan itu semua, atau dia akan terus datang mengganggu pikiran dan semangat juang kita.

Prajurit  1:
(dengan tatapan kosong)

Semua orang di sini merasa benar untuk perjuangan mereka, mata mereka seperti serigala pembunuh. Yang kalah atau yang menang semua menjadi debu di medan laga.

Prajurit  2:
(mengangkat bahu)

Kita ini prajurit negara, yang siap dadanya terkoyak, usus terburai, kaki terpotong bahkan pulang tinggal nama demi negara.

Prajurit  1:
Dan di saat yang sama negara membutuhkan kita dalam peperangan yang akan berujung pada saling bunuh. Kita membunuh para pemberontak yang juga berjuang, sama halnya dengan kita. Kita juga sudah banyak membunuh harapan para istri dan anak mereka di kemudian hari.

Prajurit  2:
(meneguk air)

Aku setuju. Aku enam bulan lebih lama di hutan ini. Pemberontak itu, kalau tidak dibunuh lebih dulu, mereka yang akan membunuh kita dan harapan anak istri kita lebih dari ini. Menciptakan ribuan peperangan baru yang melelahkan dan tiada berkesudahan. Maka sudahilah itu sekarang. Biar lepas semua….

Prajurit  1:
Ini bukan soal siapa lebih dulu membunuh. Ini soal manusia yang menyelesaikan masalah dengan tidak manusiawi.

Prajurit  2:
Sudahlah. Semua ini akan tiba pada ujung jalan. Biarkan para penyair dan sejarawan mencatat semua dalam puisi dan buku sejarah yang toh akan dipelajari oleh anak-anak kita.

Seberapa besar gigihnya ayah-ayah mereka meruncingkan mata pisau, mengangkat senjata dan merelakan jiwa raga untuk sebuah pembelaan yang sebenar-benarnya. Maka di saat yang sama, mereka akan pulang ke rumah dan menceritakan ke teman-teman mereka tentang kita yang berhasil menjadi pahlawan untuk mereka, juga untuk orang banyak. Dua predikat sekaligus yang bisa kita nikmati di hari tua.

Saat nantinya kita tinggal bisa duduk di kursi malas dengan kacamata tebal di hidung kita sambil membaca koran dan ditemani oleh secangkir kopi hangat.

Tiba-tiba suara tembakan pasukan pemberontak terdengar dari dalam hutan. Kedua prajurit bersiaga, saling-melindungi satu sama lain.

Prajurit  1:
Meskipun kita bisa pulang.
Apa yang kita dapatkan dari ini? Nihil!!

Suara tembakan semakin hebat. Sambil berlindung di pohonan, keduanya bergerak mendekati sumber tembakan.

Prajurit  2:
Sstttt…!! Simpan dulu kekhawatiranmu. Toh, kita sudah bisa melewati hal terburuk sejauh ini.

Prajurit 1 mencoba menghubungi kamp utara. Sesaat ada jawaban, kemudian terputus seiring terdengarnya letusan.

Prajurit  2:
(meminta prajurit 1 untuk diam) Kita harus bergegas ke utara.

Dari luar panggung, iring-iringan pasukan pemberontak melintas tidak jauh dari gua tempat dua prajurit negara ini bersembunyi. Sambil tetap siaga keduanya keluar dan bergegas menuju kamp utara.

 

Adegan 4
Kembali ke adegan lelaki tua. Dia meletakkan mayat anaknya di sebuah kursi sambil terus mengajaknya bercakap-cakap.

Lelaki tua:
Masih tidak mau menjawab?

Bapak tidak menyangka kau bisa gagal menjawab pertanyaan semudah ini? Bapak cuma mau kau menjawab. Bapak tidak memaksamu untuk menjawab soal “Apa pengaruh pemikiran Einstein terhadap perang dunia, atau mengapa Hitler mati, siapa itu Mussolini siapa Gandhi, Dalai Lama, dan lain-lain”.

Bapak hanya mau kau menjawab, “Mengapa kau diam, tanda tanya”. Itu saja, mudah, kan?

Kalau kau tak tahu, bertanyalah. Aku ini Bapakmu, kau pasti anakku. Kita hanya perlu saling bertanya, saling menjawab, supaya tidak berperang.

Hampir petang. Menelusuri semak, dua prajurit negara menjaga agar tak ada daunan kering yang bergemeretak tergilas sepatu. Mereka mendekati pemukiman, tempat lelaki tua mengadili mayat anaknya.

Prajurit  2:
Siapa kau…?

Lelaki tua:
Siapa kau…?

Prajurit 2:
Aku yang duluan bertanya, siapa kau?

Lelaki tua:
Aku yang punya rumah ini. Siapa kau? Oh, tidak perlu dijawab. Mukamu legam, keningmu kokoh bagai tebing. Kalian pasti prajurit negara. Maaf, aku hanya sedang mengajari anakku bagaimana cara bertanya yang baik. Ada pertanyaan lain?

Prajurit 2:
Boleh kami masuk?

Lelaki tua:
Boleh saja.

Prajurit  1:
Itu anakmu?

Lelaki tua:
Ya.

Prajurit 1:
Kau mengikatnya.

Lelaki tua:
Ya.

Prajurit 2:
Dia sudah…

Lelaki tua:
Tidur.

Prajurit 2:
Mayat.

Lelaki tua:
Bukan. Dia anakku.

Prajurit 2:
Ya.

Lelaki tua:
Kali ini kau benar.

Prajurit 1:
Maksud kami, dia, anakmu, sudah mati.

Lelaki tua:
Benarkah?

Prajurit 1:
Ya.

Lelaki tua:
Kenapa kau bisa bilang kalian benar.

Prajurit 2:
Benar. Dia…

Lelaki tua:
Mari kita bicara soal ihwal benar. Sejak embrio kita adalah makhluk yang penuh ketergantungan terhadap ibu. Kemudian terlahir rabun dan masih bisu. Sejak kapan kalian mengerti soal benar salah?

Prajurit 1:
Sebentar. Kau membunuh anakmu?

Lelaki tua:
Kau pikir itu benar?

Prajurit 2:
kepada prajurit 1) Orang ini pasti gila.

Lelaki tua:
Benarkah?

Prajurit 1:
Sebentar.

Lelaki tua:
Sebentar? Dia sudah lama tidur.

Prajurit 1:
Mengapa dia tidur?

Prajurit 2:
(kepada prajurit 1) Kau mulai ikut gila. Kau pikir dia bisa menolong kita dari kejaran pemberontak?

Prajurit 1:
Ikutlah dengan kami. Kau tidak bisa bertahan di sini hanya dengan menjaga mayat anakmu sampai menjadi tulang.

Prajurit 2:
Apa kau sudah gila?

Prajurit 1:
(kepada prajurit 2) Dia pribumi. Kita mestinya menolong dia keluar dari sini.

Prajurit 2:
Tapi, bukan orang gila seperti dia.

Lelaki tua:
Kalian gila? (tertawa, kepada mayat anaknya)

Lihat anakku. Orang-orang ini pasti belum mengerti pelajaran kita hari ini. “Kemampuan bertanya dasar”. Hehehe.

Prajurit 1:
Ikutlah dengan kami!

Prajurit 2:
Tidak bisa! Kita harus ke utara.

Lelaki tua:
Kalian mau ke utara. Lagi-lagi kalian melakukan pembenaran. Kalian pikir perang tidak akan masuk ke utara? Nah, kali ini kalian tidak mengerti bagaimana bertanya yang baik.

(kepada anaknya) Jangan ikuti mereka. Mereka telah banyak menjawab segala hal dengan peluru tanpa bertanya kepada kita apa kita rela tubuh kita dirobek dengan peluru. Mereka melakukan pembenaran tentang perlawanan mereka terhadap pemberontak. Ini pelajaran kedua, anakku. Maukah kau menjawab, “Siapa itu pemberontak?”

(tertawa) Ah, Bapak lupa, kau pasti sedang nyenyak.

(kepada prajurit) “Siapa itu pemberontak?”

Prajurit 1:
Mereka yang menyebabkan kekacauan negara.

Lelaki tua:
Kalian menyebabkan kekacauan negara. Kalian mengacaukan pemukiman kami. Kalian tembaki kaum kami, kalian sebut mereka pemberontak, membangkang terhadap negara. Ada apa dengan negara?

Prajurit 2:
Ah, persetan denganmu! Kau gila!

Lelaki tua:
Kalian membawa peluru. Merobek kenyamanan kami. Kalian pemberontak. Kalian gila?

Prajurit 1:
Tidak.

Lelaki tua:
Kalian perusak pemukiman kami!

Prajurit 2:
Gila!!!

Lelaki tua:
Kalian pemberontak! (mulai mengerang)

Prajurit 1:
Bukan.

Lelaki tua:
Kalian…! Jangan dekati anakku. Dia lagi tidur! Jangan bunuh dia! Dia masih bocah!

Prajurit 2:
Kau gila!

Lelaki tua:
Kau gila! Kau punya senapan! Kalian gila! Aku benar!

Prajurit 1:
Kau salah!

Lelaki tua:
Tolong kami bunda hutan! Jahanam kalian!

Prajurit 1:
Kumohon. Kami bukan…!

Lelaki tua:
Jahanam!!! (Mengambil sebuah lampu baca di atas meja. Hendak memukul prajurit 1)

Prajurit 2:
(mengarahkan senapan kepada lelaki tua)

Prajurit 1:
Jangan!

Lelaki tua:
(memukuli prajurit 1) Kalian pemangsa!

Lelaki tua terus memukuli prajurit 1 sambil terus menodongkan lampu baca. Terjadi kekacauan hebat. Prajurit 2 menarik pelatuk senapan. Peluru menembus dada lelaki tua. Tiba-tiba hening.

Prajurit  1:
Kau lihat? Kita bahkan sudah lebih berang dari serigala.

Prajurit  2:
Kau bahkan masih mengumbar petuah saat genting begini!!! Tolonglah. Tidak tepat membicarakan perihal kemanusiaan sekarang.

Prajurit  1:
Karena kita sudah jadi binatang. Kita bahkan tak tahu lagi mana kawan, mana lawan.

Prajurit  2:
Kau yang binatang!!!

Prajurit 1:
Apa kau tidak cukup pantas disebut binatang buas? Memakan segala yang ada di hadapan meski itu dari kaummu sendiri…!

Prajurit 2:
Bahkan disaat aku menyelamatkanmu…?

Prajurit 1:
Dengan membungkam keselamatan orang lain?

Prajurit 2:
Ya, dia orang lain. Bukan siapa-siapa!

Prajurit 1:

Dia manusia. Sepertimu, seperti kita. Sesaat sebelum pelurumu merobek dadanya!

Prajurit 2:
Dia binatang ketika menyerangmu!

Prajurit  1:

Baiklah. Dia dan aku binatang. Kau yang manusia, pergi sajalah ke utara. Aku akan menunggu di sini. Memangsa atau menjadi mangsa.

Tanpa disangka, letusan senapan pada saat membunuh si lelaki tua menjadi pertanda buat pasukan pemberontak untuk melakukan ronda di kawasan pemukiman. Deru kendaraan pemberontak mulai mendekat ke rumah lelaki tua, kedua prajurit negara ini terdesak dan tidak bisa keluar dari rumah. Sesaat terdengar orang-orang menggedor-gedor pintu. Kedua prajurit negara bersiaga. Ketika pintu didobrak para pemberontak, dua prajurit merubung mereka dengan peluru. Terjadi kontak senjata, hingga semua pemberontak yang datang menyergap berhasil ditumbangkan. Dan heninglah rumah lelaki tua. Peluru melubangi hampir seluruh dinding dan isi rumah. Yang tersisa hanyalah darah, juga mayat dan dua prajurit yang duduk letih menyandar pada dinding rumah, tatapan kosong kearah langit-langit dan jendela. Pause.

Prajurit 1:
Kita sudah ada di rumah… di sini nyaman. Walaupun bukan ke sini semestinya kita berpulang.
(pause)

Kau punya istri?

Prajurit 2:
Pernah punya.

Prajurit 1:
Kalau lelaki tua itu punya istri, dia pasti nyonya rumah yang baik. Yang membukakan pintu saat tamu menunggu, menyapa sambil menyunggingkan senyumnya yang ramah, meminta kita untuk duduk di kursi kayunya yang nyaman, lalu membawakan kita secangkir kopi hangat.
(pause)

Bekas istrimu… maaf… Bagaimana dengannya?

Prajurit 2:
(menyengir) Dia terlalu muda untukku.

Prajurit 1:
Lantas?

Prajurit 2:
Jadilah dia istri pengeluh, tidak pernah merasa puas dengan segala hal, dan selalu merasa sepi.

(menghela nafas dalam-dalam)
Ah, sudahlah. Hampir enam bulan setelah aku ikut perang, Dia diam-diam main serong dengan seorang bujang di suatu malam, dan… Pufff…. (mengangkat bahu)

Prajurit 1:
Perempuan… selalu saja terkesan dengan perjumpaan yang memukau matanya.

Prajurit 2:
Perempuanmu?

Prajurit 1:
(sambil tersenyum) Seorang perempuan bertemu denganku secara tidak sengaja. Perempuan yang menangisi kematian suaminya, jauh di negeri orang.

Prajurit 2:
Dan…?

Prajurit 1:
Tidak seperti hasrat Shakespeare terhadap Viola, atau Qays terhadap Layla. Semua terjadi begitu saja. Pertemuan yang tidak disangka, beradu mata, bertanya nama, berjalan beriringan di sela taman bunga, mengakrabi anaknya, dan ketika petang tiba kita melepas jumpa. Tapi, entah karena alasan apa, aku kemudian begitu berkeinginan untuk segera meminangnya. Sampai kemudian perang membuyarkan segala niat.

Prajurit 2:
Itulah mengapa kau begitu berkeras untuk pulang?

Prajurit 1:
(tersenyum) Ah, aku bisa saja gila.

Prajurit 2:
Kau seperti baru saja menemukan perempuan surga yang jatuh ke bumi. Aku jadi ingin tahu, seperti apakah dia.

Prajurit 1:

Aku pun tidak sempat jelas mengenalinya. Bagiku itu tidaklah menjadi soal. Apa yang memukau mata, diterima oleh akal, kuyakini sebagai garis Tuhan. Begitulah keinginanku terhadapnya.

Prajurit 2:
Bukankah kalian sudah saling sapa dan bertukar cerita.

Prajurit 1:
Lebih dari itu, keinginan telah menggiringku ke rumahnya. Kamar tamunya yang remang seperti telah menyediakan untukku ranjang pengantin. Setelah itu, aku tertidur pulas di sana, dan ketika paginya, layaknya istri kepada suami, dia membuatkan sarapan bagiku, berbasa-basi sambil menonton berita pagi, dan…

Begitulah. Aku pulang. Aku mengenalnya hanya satu pekan sebelum akhirnya aku diutus ke perang ini.

Prajurit 2:
Cuma itu?

Prajurit 1:
[tersenyum] Begitulah alam, Bung. Selalu memperhadapkan kita pada berbagai pertemuan yang tidak kita duga sebelumnya. Aku hanya ingat, dia bercerita soal kakeknya yang mantan pejuang Permesta bertemu dengan neneknya yang adalah gadis tercantik di kampungnya. Di tengah kecamuk perang, mereka masih bisa menikmati cinta, menikah, punya anak, mengungsi dari desa satu ke desa lainnya. Ketika kakeknya wafat, neneknya menanam pohon kemboja. Ayahnyalah yang menjadi sangat cinta dengan bunga kemboja. Itulah alasan mengapa nama bunga itu mejadi nama tengahnya.

Prajurit 2:
Apa kau yakin dia benar-benar seorang janda?

Prajurit 1:
Begitulah

Prajurit 2:
Apa dia bercerita soal mendiang suaminya?

Prajurit 1:
[menyeringai] Suaminya… suaminya adalah tenaga buruh di negeri orang, yang tidak pernah memberi kabar kepada anak istrinya. Hampir enam bulan dia menunggu suaminya, sampai akhirnya tiba kabar bahwa suaminya tewas dalam sebuah kecelakaan kerja. Istri yang malang. Padahal dia pernah bilang padaku, kalau dia ingin sekali dinikahi oleh seorang prajurit seperti kakeknya.

Prajurit 2:
(tiba-tiba menatap ke arah prajurit 1)
Apa kau yakin dengan ceritamu itu?

Prajurit 1:
Mengapa tidak? Itulah yang aku dengar langsung dari mulutnya setelah….

(mengatupkan telapak tangannya, perlambang adegan percintaan)

Ah…. Maaf, aku sudah terlalu banyak bercerita. Lalu bagaimana kau tahu kalau istrimu…

Prajurit 2:
(menyela pembicaraan) Aku punya seorang teman. Belum lama aku mengenalnya. Dia sedang jatuh cinta pada seorang perempuan. Seperti sedang menuliskan surat kepadaku, dia menceritakan panjang lebar soal perempuannya. Tapi, sayangnya temanku itu tidak bisa berlama-lama dengan perempuannya. Ada beberapa alasan mengapa mereka harus berpisah. Aku tidak bisa menceritakan itu padamu.

Prajurit 1:
Lalu, bagaimana dia bisa tahu soal istrimu yang…

Prajurit 2:
Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu.

Prajurit 1:
Aneh. Kapan kau bertemu temanmu itu?

Prajurit 2:
Beberapa waktu yang lalu.

Prajurit 1:
Mengapa dia berani mendatangimu di saat perang begini?

Prajurit 2:
Aku tidak mengerti soal itu.

Prajurit 1:
Atau mungkin dia prajurit juga?

Prajurit 2:
Katanya, aku tidak boleh bercerita soal itu.

Prajurit 1:
Mungkin dia teman istrimu?

Prajurit 2:
Aku tidak tahu.

Prajurit 1:
(mengerutkan keningnya) Bagaimana kau bisa tahu kalau…

Prajurit 2:
(melepas kalung dari lehernya) Ia memberikan ini kepadaku.

Prajurit 1:
(mengamati kalung prajurit 2, lalu ikut melepas kalungnya. Mengamati kedua kalung yang tampaknya persis sama bentuknya itu)

Dari mana temanmu mendapatkan ini?

Prajurit 2:
(menatap prajurit 1 dalam-dalam)

Istriku…

Prajurit 1 terbelalak dengan jawaban terakhir yang dilontarkan prajurit 2 kepadanya. Keduanya saling menatap. Lama. Sangat lama. Tiba-tiba keduanya berdiri dan mengambil senjata yang berserak di lantai rumah lelaki tua. Mereka saling menodong.

Prajurit 2:
Dia tidak menikahi seorang buruh! Kau tertipu.

Prajurit 1:
Jangan main-main dengan perkataanmu. Aku bisa saja menembakmu.

Prajurit 2:
Kau bilang aku binatang buas. Sekarang siapa yang binatang?

Prajurit 1:
Tolong jangan mendesakku. Aku akan menembakmu.

Prajurit 2:
Aku yang seharusnya menembakmu lebih dulu.

Prajurit 1:
Kau pasti menipuku.

Prajurit 2:
Kau yang menipu istriku dengan petuah manismu.

Prajurit 1:
Kau gila!

Prajurit 2:
Kau menodai ranjang pengantinku dengan bau keringatmu!

Prajurit 1:
Diam kau!

Prajurit 2:
Mari kita selesaikan ini dengan cara seorang prajurit.

Kedua prajurit negara ini saling bersiaga. Masing-masing telah siap melontarkan peluru dari senapan. Prajurit 2 menarik pelatuk lebih dulu, tak ada peluru yang keluar dari senapan. Tak lama berselang, peluru keluar dengan cepat dari senapan prajurit 1, mengenai dada prajurit 2 hingga tembus ke dinding rumah.

Prajurit 2 terbelalak sampai akhirnya rebah ke lantai.

Prajurit 1 tak bisa berkata-kata. Senapan yang dicengkeramnya kuat, jatuh ke lantai seiring dengan tubuhnya yang jatuh berlutut di lantai. Dia hanya bisa terbelalak. Sampai wajahnya merah padam.

Tak lama setelah kejadian ini, terdengar deru kendaraan militer tak jauh dari rumah lelaki tua. Sesekali berhenti, memeriksa setiap rumah. Sekelompok prajurit, bala bantuan menuju kamp utara, mencoba menyelamatkan pribumi yang selamat dari amuk perang. Mereka pun menemukan prajurit 1 yang tersandar lemas di dinding rumah lelaki tua. Prajurit 1 ikut diselamatkan, mayat prajurit 2 ikut dibawa pulang. Menaiki kendaraan militer dan berangkat menuju kamp utara. Prajurit 1 masih terdiam. Matanya masih menyala, wajahnya masih saja merah padam.

(LAMPU MEREDUP)

 

EPILOG:
Tidak ada lagi jalan pulang yang mengiringku ke rumah.
Tidak ada lagi tempat paling indah yang kunantikan.
Semua menjadi jalan bebatuan yang buntu
Yang hanya bisa dilewati oleh kemurnian dan niat tulus. Bukan sebuah keberanian semu yang kubawa.
Dia  pulang…
Pulang sebagai pahlawan bagi negara
Pahlawan bagi orang banyak
Aku pun tetap bisa pulang
Tapi gagal untuk sekadar menjadi pahlawan
Bagi orang-orang di tempat aku pulang
Bahkan bagi diriku sendiri….

(LAMPU PADAM)

Naskah Drama | “Pulang”, 5.0 out of 5 based on 3 ratings
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +2 (from 2 votes)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (3 votes cast)

Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=6152

Posted by on Jul 12 2012. Filed under Sastra. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Comments with Facebook

Or Usual Comment

Radio Lentera Timur

Winamp Windows Media Player iTunes VLC BlackBerry Real One Android iPhone

Naskah Terkait

  • Tidak Ada Naskah Terkait

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.

Switch to our mobile site