Home » Boga, Featured » Membeli Kenangan dari Sepotong Roti

Membeli Kenangan dari Sepotong Roti

Sejumlah roti yang dijual di Tan Ek Tjoan. Foto-foto: Ester Pandiangan.

Kenapa toko-toko roti zaman dulu bisa bertahan hingga saat ini? Jawabnya tentu karena ia memiliki sesuatu yang istimewa dibanding toko-toko yang menjual roti hari ini. Sebut saja Roti Ganda di Siantar atau Taartjes Meses di Tip Top Medan.

Keistimewaan roti-roti dari masa lalu ini terletak pada keotentikan rasa dan sebongkah kenangan yang menyelinap di dalamnya. Itu sebab meski industri roti buatan luar negeri membuka franchise-nya di Indonesia, roti-roti yang lahir sebelum Indonesia ada tetap tak tergantikan.

Di Jakarta, tempat perantauan saya kini, saya pun menemukan satu toko roti yang tak tergilas zaman. Toko Roti Tan Ek Tjoan, begitu namanya. Toko ini berlokasi di Jalan Cikini Raya No. 61, Jakarta Pusat.

Toko roti yang sudah dikelola oleh generasi ketiga ini berdiri sejak 1921 dan masih tetap setia digandrungi penikmatnya. Bentuk bolehlah disebut kalah kreasi dengan roti-roti yang beredar di mal-mal, tapi soal rasa dan nilai historis, ia tak akan mungkin mengalah.

Toko Roti Pembauran
Kawasan Menteng-Cikini-Sabang-Gondangdia di Jakarta adalah sebagian kecil dari wilayah yang disebut dengan Kota Baru pada zaman India Belanda dahulu. Kota Baru ini, yang lengkap dengan vila dan taman-tamannya yang asri, memang sengaja dibangun untuk pemukiman orang-orang Belanda nan kaya raya. Dan hari ini, kota tersebut dihuni oleh orang-orang kaya Indonesia, sekaligus tempat kediaman petinggi-petinggi partai politik, yang mengatur perintah dan segala macam restu ke seluruh penjuru kepulauan.

Roti gambang.

Masjid Cut Meutia—sebelum dialihfungsikan menjadi masjid, adalah kantor pengembang dari pembangunan vila-vila di kawasan Kota Baru tersebut. Karenanya, arah kiblatnya tidak lazim, karena memang bangunan ini dibangun pertama kali bukan sebagai masjid.

Adalah seorang Cina bernama Tan Ek Tjoan yang melihat ruang kota ini sebagai peluang bisnis. Bersama anaknya, dia kemudian membangun usaha kuliner toko roti untuk dipasarkan kepada orang-orang kaya Belanda yang tinggal di wilayah Kota Baru tersebut.

Tan Ek Tjoan menggunakan tiga buah simbol sebagai logo tokonya, yakni gandum, terompet, dan mahkota. Masing-masing memiliki makna. Gandum menyimbolkan kemakmuran, terompet bermakna pemberitahuan dari upayanya berdagang keliling, dan mahkota melambangkan kualitas roti untuk para raja–yang pada saat itu merujuk pada negara Kerajaan Belanda.

Adapun para pekerja Tan Ek Tjoan adalah adalah bumiputra. Mereka bertugas untuk mendagangkan roti buatannya. Jenis roti dan gaya pemasaran inilah yang membuatnya dikenal sebagai tokoh pembauran, yakni membaurkan Cina (Tionghoa), bumiputra, dan Belanda.

Karena diperuntukkan untuk orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia/Jakarta, tak heran roti-rotinya pun sangat khas dengan citarasa Eropa. Tan Ek Tjoan menciptakan kue Belanda dengan racikannya sendiri, dan terciptalah kue gambang, roti bertekstur keras; dan bim bam, roti sobek dengan tekstur lembut. Ada juga kue yin dan yang. Disebut yin dan yang karena tampilannya sesuai konsep ‘yin dan yang’: hitam-putih, keras-lembut.

Roti gambang yang berbahan kayu manis dan gula merah ini kurang sedap jika dimakan sendirian. Ia lebih enak dimakan setelah dicocol dengan kopi. Dan memang sejatinya untuk itulah gambang dibuat—untuk dinikmati bersama kopi, sesuai dengan kebiasaan sore hari orang Belanda.

Khas
Toko Roti Tan Ek Tjoan tak hanya bercerita soal sejarah saja, tapi juga citarasa yang tetap bertahan dari masa ke masa. Banyak toko roti lain yang menjual gambang dan menyesuaikannya dengan zaman: dibuat lebih empuk dan lunak. Hanya saja, Toko Roti Tan Ek Tjoan menolak larut dalam arus zaman. Tan Ek Tjoan tetap mempertahankan rasa muasalnya, karena memang begitulah Gambang dibuat: padat, tidak menjual angin—seperti roti pada umumnya. Proses pembuatan yang tetap manual juga menjadi cirinya yang lain.

Selain dapat dibeli dari toko rotinya langsung, Tan Ek Tjoan ternyata tetap mempertahankan metode marketing yang sudah dijalankannya selama berpuluh tahun, yakni menjual roti dengan gerobak dayung. Saat ini, Tan Ek Tjoan memiliki 200 gerobak dayung yang tersebar di wilayah regional Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek). Masing-masing gerobak membawa hampir 200 roti untuk dipasarkan. Harga roti di gerobak dayung lebih mahal dibanding di toko karena memang selisih harga diperuntukkan untuk kocek si pengayuh gerobak.

Kiri: Toko Roti Tan Ek Tjoan di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Kanan: Salah satu gerobak roti Tan Ek Tjoan.

Kini Toko Roti Tan Ek Tjoan tak hanya dapat ditemukan di Jalan Cikini, tapi juga bisa ditemukan di Ciputat, Rawamangun, Bekasi, Tangerang, dan Cinere. Meski telah memiliki banyak cabang, proses produksi tetap dilakukan di Jalan Cikini, karena sang pemilik tetap memegang prinsip bahwa rasa harus tetap dijaga. Boleh saja sama-sama bermerk Tan Ek Tjoan, tapi berbedanya tempat produksi bisa memberi kemungkinan berbedanya rasa. Dan dalam proses produksinya, Toko Roti Tan Ek Tjoan tetap menggunakan mesin-mesin lama. Semuanya serba kuno.

Saat saya memasuki toko rotinya, saya membayangkan melihat noni-noni Belanda yang berjalan dengan payung kembangnya di sisi kiri dan kanan jalan. Nampak juga para lelaki tua berambut putih dengan hidung lancip pun berjalan mendongak menggandeng perempuan-perempuan berkulit putih. Mereka menikmati roti Tan Ek Tjoan dengan secangkir kopi atau teh yang dituangkan di cangkir keramik motif bunga, sebuah tradisi sore hari di Batavia.

Hah! Padahal saya belum lahir ketika momen-momen itu terjadi. Namun, meski suasana itu sudah lenyap, dan memang tak ada situasi yang abadi, Tan Ek Tjoan mampu membuat saya membayang-bayangkan para orang tua-tua, atau sesiapa pun yang hidup di zaman koloni itu, hanya dari sekeping roti.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)

Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=6768

Posted by on Dec 21 2012. Filed under Boga, Featured. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Comments with Facebook

Or Usual Comment

Radio Lentera Timur

Winamp Windows Media Player iTunes VLC BlackBerry Real One Android iPhone

Naskah Terkait

  • Tidak Ada Naskah Terkait

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.