Home » Featured, Kasatmata » Melindungi Anak dengan Kebudayaan

Melindungi Anak dengan Kebudayaan

Hasil karya gambar anak korban konflik di Tobelo, Maluku Utara. Gambar: Nathanael Sumampow.

Di Indonesia, frase “titik api” tak hanya bernuansa geo-vulkanis semata. Intensitas konflik sosial di Indonesia turut menjelma sebagai rangkaian titik api yang merambah di ranah etnis, agama, ekonomi, perebutan sumber daya, juga beragam konflik lainnya. Adalah mereka, perempuan dan anak-anak, yang bukan pelaku langsung dalam konflik, yang kerap tak mampu menampik belitan konflik yang mencekik.

Hal ini tersemat dalam pendapat Direktur Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial, Harry Hikmat, pada diskusi “Menyelamatkan Anak Korban Konflik”, Selasa (31/05), di Jakarta.

“Ketika terjadi konflik, yang pertama kali harus dilindungi adalah anak dan perempuan,” tegas Harry.

Menurut data pemerintah Indonesia, saat ini masih ada sekitar 1,2 juta pengungsi yang tersebar di 19 provinsi. Dari angka itu, sekitar 350 ribu adalah anak-anak (di Maluku sekitar125 ribu anak, Nusa Tenggara Timur 100 ribu, Aceh 75 ribu, dan daerah lain 50 ribu). Di luar angka-angka ini, tentunya ada pula anak-anak korban konflik yang luput dari catatan. Mereka semua kehilangan hak atas kelangsungan hidup, hak atas perlindungan, hak untuk tumbuh berkembang, dan hak untuk berpartisipasi secara sosial dengan lingkungannya.

Pemerintah Pusat Bertindak
Lebih lanjut, Harry memaparkan bahwa sejauh ini Kementerian Sosial telah membentuk manajemen kelembagaan perlindungan anak. Lembaga ini terdiri dari Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota (Dinas Sosial), dan sekretariat bersama (SEKBER) perlindungan anak yang dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya adalah untuk dapat melakukan koordinasi, konsolidasi, berbagi program, atau evaluasi.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh penyiar stasiun televisi Jakarta, Metro TV, Fessy Alwi, Harry juga mengingatkan bahwa sudah ada komitmen dari tujuh kementerian melalui Memorandum of Understanding (MoU) sebagai indikasi kepedulian pemerintah pada isu anak.

Akan tetapi, model perlindungan anak, seperti fasilitasi Pondok Anak Ceria sebagai pusat perlindungan dan rehabilitasi sosial anak di pengungsian/lokasi bencana, yang dipaparkan Harry sebetulnya serupa dengan program-program yang telah dijalani oleh sekian banyak LSM.

“Program-program yang dibuat Kemensos ini sama dengan yang dijalani oleh LSM. Negara jadi tak ada bedanya dengan NGO atau Ormas,” keluh Mariana Amiruddin, Direktur Yayasan Jurnal Perempuan kepada LenteraTimur.com pada kesempatan terpisah.

Harry juga menyatakan bahwa pihaknya telah membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Anak, Satuan Bakti Pekerja Sosial, relawan sosial dari macam-macam lembaga, dan pelatihan tim terpadu perlindungan anak. Tim Reaksi Cepat mempunyai anggaran Rp. 8,1 milyar.

“TRC itu penting,” kata Harry. “Semua keputusan akan bersifat terpusat untuk memudahkan koordinasi yang selama ini seakan berjalan sendiri-sendiri.”

Berbasis Kebudayaan Masing-Masing
Dalam forum yang sama, Aris Merdeka Sirait dari Komisi Nasional Perlindungan Anak justru menyatakan bahwa sesungguhnya negaralah yang telah menciptakan konflik yang terjadi selama ini dan bahkan membiarkan konflik itu terjadi.

“Kementerian sosial sesungguhnya menjadi garda terdepan dalam persoalan ini. Tapi TRC saya lihat juga masih gamang. Dalam hal ini, KPAI nampaknya harus berjuang lebih keras. Jangan hanya mengurusi kasus Arumi,” tutur Aris. Arumi yang dimaksud adalah Arumi Bachsin yang pada Mei 2010 meninggalkan rumah orangtuanya di Jakarta selama tujuh bulan karena depresi akan konflik keluarga.

Berkebalikan dengan perspektif pusat yang diusung Harry, Aris mengajak para pihak untuk menjadikan kebudayaan lokal sebagai basis solusi penanganan konflik untuk melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan.

“Kita ini sekarang sudah melupakan multi-etnis dan multi-budaya. Ini mesti dibangkitkan kembali. Jika tidak, jangan heran jika suatu waktu anak-anak kita akan siap berperang dengan etnis lain. Budaya adalah sebuah instrumen utama. Mengenal karakteristik lokal menjadi sangat-sangat penting. Jika kita kembangkan kembali budaya bersama melalui budi pekerti, konflik pasti akan bisa kita lawan,” ujar Aris.

Senada dengan Aris, Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPAI), Maria Ulfah Anshor, pun mengamini hal ini. Menurutnya, kearifan lokal dapat meredam konflik karena hidup bersama dengan yang berbeda bukan hal baru buat masyarakat.

“Kearifan lokal penting untuk memediasi konflik. Contoh saja di Poso. Sesungguhnya mereka telah bertahun-tahun sebelumnya hidup damai berdampingan. Namun, karena ada konflik yang didatangkan’, budaya lokal itu seakan terlupakan. Padahal, masyarakat lokal biasanya memiliki mekanisme penyelesaian konflik sendiri-sendiri,” tutur Maria.

Psikolog Universitas Indonesia, Nathanael Sumampow, bersetuju dengan pandangan Maria dan Aris. Ia menyokong gagasan pemberdayaan budaya lokal untuk melindungi hak-hak anak dalam situasi darurat.

“Kita perlu menyelesaikan persoalan di akar rumput dahulu. Baru kemudian melangkah pada tahap solusi dengan skala yang lebih luas,“ ungkapnya.

Peran Media Massa
Dalam membantu mengadvokasi hak-hak dasar anak, Nathanael menyinggung pentingnya peran serta media massa.

“Media semestinya tidak melulu mencari kisah sedih di hari minggu. Tapi carilah success story dari setiap peristiwa untuk memicu kembali semangat si anak,” pungkas Nathanael.

Firdaus Mubarik dari LenteraTimur.com meraih penghargaan liputan media terbaik tentang anak periode 2010-2011 dari AJI-Unicef. Foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

Saat membuka diskusi perihal anak sebagai korban konflik, Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Jajang Jamaludin, mengungkapkan bahwa di media massa Indonesia, liputan soal anak memang masih berada di pinggiran. Akibat miskin perspektif, banyak liputan yang tadinya hendak mengungkap nasib anak, malah turut mengeksploitasi anak sebagai obyek berita. Padahal fakta dan data menunjukkan nasib anak belum lagi membaik.

“Di media, mereka kalah oleh pemberitaan seputar skandal politik, korupsi pejabat negara, ekspor barang-barang ilegal, penyalahgunaan wewenang, dan lain-lain,” tutur Jajang.

Penghargaan untuk Media Massa
Seusai diskusi, Aliansi Jurnalis Independen dan UNICEF selaku empunya hajat kemudian mengumumkan pemenang penghargaan tahunan kelima Penghargaan Liputan Media Terbaik Tentang Anak periode 2010-2011.

Sejak 2006, Aliansi Jurnalis Independen dan UNICEF memberikan apresiasi kepada wartawan yang memberikan kontribusi untuk memberi pemahaman hak-hak anak kepada masyarakat. Di tahun kelima ini, total karya yang mendaftar sebagai peserta berjumlah sebanyak 318 karya, yakni cetak dan online (teks) sebanyak 122 karya, radio 38 karya, televisi 45 karya, dan foto 113 karya. Karya-karya yang masuk lantas dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari para jurnalis, ahli hak-hak anak, dan perwakilan industri.

Untuk kategori kategori cetak dan online, pilihan juri jatuh pada Firdaus Mubarik dengan Anak-anak (menjadi) Perantau dari Lentera Timur.com. Untuk kategori liputan radio, Liza Desylanhi dengan karya Anak Cisalada Dalam Trauma dari KBRH68, Jakarta. Untuk kategori foto, Fery Pradolo dengan tajuk Minim Tempat Bermain dari Harian Indopos, Jakarta. Dan terakhir untuk kategori televisi, Tunggul Bayuaji dengan Tangan-tangan Mungil Pengukir Batu dari Trans7, Jakarta.

Sebelum membacakan pemenang, Irwanto, salah satu juri untuk kategori cetak dan online, mengutip kisah dari seorang mantan uskup agung, Desmond Tutu.

“Pada suatu waktu, terkisahlah ketika gajah-gajah sedang berperang. Dalam perang tersebut, satu ekor tikus terinjak oleh kaki besar sang gajah. Siapa pun yang memilih untuk mengatakan ‘Maaf, aku tidak ingin terlibat pada persoalan ini karena aku ingin netral,’ tentunya tidak akan mendapatkan simpati dari si tikus. Intinya, jika kita bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, berarti kita telah menunjukkan keberpihakan kita pada sisi si pelaku ketidakadilan,” ujar Irwanto.

Melindungi Anak dengan Kebudayaan, 5.0 out of 5 based on 1 rating
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: +1 (from 1 vote)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.0/5 (1 vote cast)

Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=4609

Posted by on Jun 1 2011. Filed under Featured, Kasatmata. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Comments with Facebook

Or Usual Comment

Radio Lentera Timur

Winamp Windows Media Player iTunes VLC BlackBerry Real One Android iPhone

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.

Switch to our mobile site