Home » Featured, Potret » Doa yang Bersaing dengan Amarah

Doa yang Bersaing dengan Amarah

Harmonisasi kehidupan antar umat beragama belum begitu menyata di Jawa Barat. Setidaknya, itulah yang terjadi pada 25 Desember 2010, dimana sekelompok massa melakukan pengepungan terhadap jemaah Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin, Bogor. Mereka, yang sebagian bersarung dan berselendang kain, berteriak-teriak, marah, pada jemaah yang tengah berdoa dan bernyanyi di malam natal.

Ketika itu, jemaah Kristen tidak sedang melakukan ibadah di Gereja, tetapi di trotoar jalan. Gereja mereka memang sudah disegel paksa oleh pemerintah Kota Bogor. Meski surat izin mendirikan bangunan, satu instrumen administrasi yang biasanya menjadi biang keladi konflik beragama, sudah mereka dapatkan, hal itu menjadi tak berarti. Karena desakan sekelompok massa, pemerintah kota lantas melakukan penyegelan.

Meski sudah di trotoar, praktik ibadah itu rupanya tetap ditentang kelompok massa. Alasannya, trotoar bukan tempat ibadah. Kelompok massa itu pun meminta polisi membubarkan ibadah itu. Tapi, polisi menolak. Sembari membiarkan jemaah Kristen melakukan ibadah refleksi malam natal, polisi berjaga-jaga dengan senjata lengkap.

Akhirnya, ibadah berhasil dilaksanakan walau dilakukan ditengah teriakan sekelompok massa yang berteriak marah dan garang. Pekikan “tangkap!”, “bubarkan!”, “bakar!” tak mampu menghalangi jemaah untuk tetap khusyuk memanjatkan doa dan menyanyikan pujian. Doa-doa para jemaah laksana berlomba dengan teriakan marah massa untuk mendaki langit. Lalu, Tuhan mendengar siapa?

VN:F [1.9.11_1134]
Rating: +1 (from 1 vote)
VN:F [1.9.11_1134]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)

Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=3854

Posted by on Dec 29 2010. Filed under Featured, Potret. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Comments with Facebook

2 Comments for “Doa yang Bersaing dengan Amarah”

  1. Prasetya ghani anggala

    Kasihan ya republik ini, makin hari makin ruyem.
    @Calu: saya tidak melihat komentar anda berimbang. Sebaliknya coba melihat bahwa kenyataan sulitnya berdiri rumah ibadah minoritas ditengah republik ini.
    Pada kenyataannya, vihara tanjung balai, gereja, dll coba tanyakan mengapa?
    Masyarakat kini lupa sejarah pendirian republiknya yang beragam.

    Saya merindukan sosok-sosok Gusdur, Romo Mangun, KH Zharkashy, Cak nor, Rm Shandy dll, yang lewat pancaran matanya menampilkan cinta dan kasih. Berbuat dengan tindakan. Bukan “maniak agama”, namun miskin nilai humanisme-kemanusiaan.

    VA:F [1.9.11_1134]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.11_1134]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Hal ini Sebenarnya tidak perlu terjadi kalau jemaah GKI menaati aturan yang sudah dibuat pemerintah

    VA:F [1.9.11_1134]
    Rating: 4.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.11_1134]
    Rating: -2 (from 2 votes)

Or Usual Comment

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.