Syair Tengku Ryo
Sastra Friday, April 5th, 2013Jika saat itu datang wahai anakku…
Sambutlah dengan suka cita dan menarilah dengan zapin dan joget
Karena begitulah kami dan orang-orang sebelum kamu menyambut kegembiraan
Jika saat itu datang wahai anakku…
Sambutlah dengan suka cita dan menarilah dengan zapin dan joget
Karena begitulah kami dan orang-orang sebelum kamu menyambut kegembiraan
Aku tinggalkan dia, biarkan dia terus bercakap dengan kertas-kertas. Dia masih tenggelam dalam maklumat revolusinya. Dia masih terus menggenggam secarik kertas.
Ma, boleh kucium kenangan lampau di Rantau Panjang yang elok?/ Di rumah panggung setengah papan separuh bata/ Pada pandangan kolam temaram, ladang kopi, pokok randu, dan alang-alang//
“Ini tempat penampungan minyak yang ditambang, hanya sebagian kecil, cuma sebagai syarat bahwa Bojonegoro juga mendapat bagian.”
Dan, sewaktu pulang, yang dipunyai ternyata cuma kampung, halamannya berganti jadi jemuran orang. Nasib!
Mereka tak punya Nuh, tak punya bahtera/ mereka hanya ingin percaya kepadanya/ yang sedang menunggu di ujung sana
Di kamar itu, dia ada namun tiada.
Aku pun tetap bisa pulang / Tapi gagal untuk sekadar menjadi pahlawan / Bagi orang-orang di tempat aku pulang / Bahkan bagi diriku sendiri….
Tak tahan, Manekin Kita perlahan-lahan turun dari tempat ia berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Rasman memegang amplop itu, kemudian mengeluarkan sehelai kertas berharga di dalamnya dan meletakkannya di atas meja, lalu memotretnya dari jarak dekat dan berbagai sudut.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.
Lentera Timur.