Sajak-Sajak Ishak Sambayang
Sastra Friday, May 11th, 2012aku lupa membetulkanmu tepat di bawah sebuah jembatan kayu / tempat aku ingin sekali melahirkanmu.
aku lupa membetulkanmu tepat di bawah sebuah jembatan kayu / tempat aku ingin sekali melahirkanmu.
Angin berpusing gasing akibat tangan dan kaki yang saling menangkis dan menendang, berkelebatan di antara bermacam tajam senjata. Teriakan-teriakan menusuk jantung.
engkau lelaki cadangan yang menari / di putaran zafana menekuk mata sekandang siku / puan..! / berlarilah paling timur.
Saripati emas yang membuat ribuan manusia dari segala penjuru menyerbu Setalangan, demi mengadu peruntungan dalam lubang-lubang tambang.
Dipotong sama dadu/ Diiris titah nasib segaris/ Ditusuk- tusuk sama banyak/ Dijejer-jejer sama panjang
“Omong kosong!” bantah Agam pada kording yang itu juga….. “Aku cuma memuji kaum tani Dachai. Mereka telah merubah dataran tinggi Dachai menjadi lahan pertanian teladan, tetapi dengan cangkul dan bukan kutipan kata-kata siapapun….”
Dalam satu tandan kelapa harus ada satu buah yang dikorbankan sarinya untuk menyuburkan buah lain.
Dengan doa akmaan yang terbit dari mohabet ‘l-qulub / Bersama perahu dan tarian-tarian laut / Serupa riwayat Canga menombak sembilan arah angin
Tukiran tak tahu dan tak peduli warna bendera apa melambangkan apa. Baginya yang penting ada bendera yang harus menancap di sana sebagai tengara ada peristiwa yang sangat melukai hatinya.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.
Lentera Timur.