<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Timur &#187; Layar</title>
	<atom:link href="http://www.lenteratimur.com/category/nukilan/layar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenteratimur.com</link>
	<description>Menyigi Identitas Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 May 2013 14:10:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Serdadu Kumbang, Sengatan dari Tana Samawa</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/serdadu-kumbang-sengatan-dari-tana-samawa/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/serdadu-kumbang-sengatan-dari-tana-samawa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 04:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Miryam Vivekananda Fadlil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Nukilan]]></category>
		<category><![CDATA[alenia pictures]]></category>
		<category><![CDATA[ari sihasale]]></category>
		<category><![CDATA[Denias Senandung di Atas Awan]]></category>
		<category><![CDATA[film King]]></category>
		<category><![CDATA[film Liburan Seru]]></category>
		<category><![CDATA[film tanah air beta]]></category>
		<category><![CDATA[ken miryam vivekananda fadlil]]></category>
		<category><![CDATA[lenteratimur.com]]></category>
		<category><![CDATA[nia zulkarnaen]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Putu Wijaya]]></category>
		<category><![CDATA[resensi film terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[resensi serdadu kumbang]]></category>
		<category><![CDATA[Sengatan dari Tana Samawa]]></category>
		<category><![CDATA[Serdadu Kumbang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=4676</guid>
		<description><![CDATA[“Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan? Saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati.”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4677" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadukumbang2.jpg"><img class="size-full wp-image-4677" title="Minun Hibur Amek" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadukumbang2.jpg" alt="" width="600" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Minun menghibur adiknya, Amek, yang baru kehilangan Smodeng, kuda kesayangannya. Foto-foto: www.serdadukumbangthemovie.com</p></div>
<p>“Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan? Saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati.”</p>
<p>Pernyataan itu keluar dari mulut Haji Maesa dalam salah satu adegan di film <em>Serdadu Kumbang</em> (2011) saat memprotes kekerasan yang dilakukan guru-guru di sekolah cucunya. Maesa, yang diperankan oleh seniman Putu Wijaya, adalah seorang sesepuh desa. Ia akrab dipanggil Papin, yang tak lain sapaan khas untuk orang tua di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.</p>
<p>Dialog-dialog yang terbangun dalam film besutan Alenia Pictures ini memang kental dengan nilai-nilai yang tersirat. Dan itulah yang saya kira menjadi ruh penghidup dan penggerak kisah yang ditiupkan dari Tana Samawa (Tanah Sumbawa) ini. Nilai dari keseharian yang bersahaja ditampilkan di antara bentang panorama darat dan laut yang amat memikat.</p>
<p>Nilai-nilai yang dihidupkan oleh peran-peran yang apik ini pun berkelindan dengan kegagahan kaki-kaki kecil yang kuat berlari kencang bak kuda-kuda yang berpacu di padang rumput Sumbawa. Pun dengan kepekaan serta semangat para bocah dalam membantu sesama yang sedang berkesusahan.</p>
<p>Film ini dapat menjadi penyejuk mata dan batin bagi siapapun yang melihat. Hanya saja, terlalu kasarnya PT. Newmont Nusa Tenggara, sponsor tunggal film ini, masuk ke dalam karakter cerita tak pelak menjadi catatan tersendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Serdadu Kumbang</em> menjadi bukti konsistensi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen sebagai sutradara dan produser yang setia memproduksi film bertema anak-anak di Indonesia. Sebut saja film <em>Denias</em><em>, </em><em>Senandung di </em><em>A</em><em>tas Awan</em> (2006); <em>Liburan Seru</em> (2008); <em>King</em> (2009); dan <a href="http://www.lenteratimur.com/tanah-air-beta-harga-sebuah-nasionalisme/" target="_blank"><em>Tanah Air Beta</em></a> (2010).</p>
<p>Dari semua judul dengan tema yang khas itu, selalu nampak ada penghargaan atas lokalitas yang ditunjukkan oleh Ari dan Nia dalam bangunan cerita. Jika banyak pihak pembuat film di Jakarta yang ketika menampilkan kisah suatu kawasan selalu memasukkan sosok orang Jakarta sebagai “sinterklas” bagi masyarakat yang bersangkutan, sebagaimana dahulu kulit putih memperlakukan kulit coklat dalam kajian-kajian poskolonialisme, maka Ari dan Nia berbeda.</p>
<p><em>Serdadu Kumbang</em> yang mulai ditayangkan pada 16 Juni 2011 ini mengangkat kisah dari Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Selain Mantar sebagai lokasi utama, cerita juga sedikit-sedikit bergerak ke daerah Poto Tano, Maluk, Townsite, dan Taliwang di Sumbawa Barat, serta Pulau Bungin dan Pacuan Kuda Krato di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.</p>
<p>Mantar yang berjarak delapan kilometer dari pusat Kota Sumbawa dan berada pada ketinggian delapan ratus meter di atas permukaan laut merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Sumbawa Barat. Teknik pengambilan gambar <em>long shoot</em> dalam <em>Serdadu Kumbang</em>, meski tak seoptimal tampilan pada sinematografi film-film Alenia sebelumnya, cukup berhasil menyapu keindahan panorama hamparan sawah di sebelah timur bukit Mantar dan birunya laut selat Alas-Sumbawa di sebelah barat.</p>
<p>Tak hanya menjadikan Mantar sebagai latar lokasi yang indah, Ari dan Nia juga nampak jeli menjejakkan seluruh jalan cerita pada lokalitas Mantar. Selain lima anak asli Sumbawa yang dilibatkan dalam film ini, yakni Kencor, Jafar, Beda, Ima, dan Lan, detail garapan <em>Serdadu Kumbang</em> nampak lahir dari hasil riset yang tak hanya ‘selewat jalan’.</p>
<p>Nyanyian syahdu Papin tentang dongeng Gunung Tambora, dialek khas plus selipan kosa kata Sumbawa lengkap dengan lagu-lagunya, tradisi pacuan kuda, cerita rakyat tentang asal-usul kumbang dan kupu-kupu, pun permainan tradisional memburu kumbang, tersemat begitu cermat dalam film ini.</p>
<p>Permainan berburu kumbang, lalu memotong bisanya dengan kuku kemudian mengikat si kumbang dengan benang untuk diterbangkan, adalah kegemaran khas anak Sumbawa yang masih dimainkan hingga kini. Terkadang, kumbang tersebut terbang dengan membawa sepotong pesan. Kumbang pulalah yang kemudian dijadikan judul film ini sebagai metafora kehidupan anak-anak Sumbawa.</p>
<p>Kehadiran satu tokoh anak albino dalam film ini pun agaknya bukan sebuah kebetulan. Hal ini senada pada “Legenda Albino&#8221; yang pernah saya dengar di  Tanah Sumbawa. Sebagian masyarakat Sumbawa percaya bahwa “si bule” memang bukan orang Sumbawa asli, melainkan keturunan Portugis. Mereka meyakini bahwa kaum Portugis pernah terdampar di bukit Mantar, yang dibuktikan dengan perahu-perahunya yang terdampar di sebelah barat desa, di sebuah tebing menuju laut.</p>
<p>Detail-detail ini sekali lagi menjadi bukti kejelian Ari dan Nia dalam menjejakkan kisah <em>Serdadu Kumbang</em> pada realitas kebudayaan Sumbawa di Desa Mantar. Inilah desa yang terhampar di leher bukit, dimana sinyal telefon genggam hanya ada di pucuk-pucuk tinggi pepohonan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kisah <em>Serdadu Kumbang</em> berpusat pada tokoh Amek (Yudi Miftahudin), bocah kelas enam Sekolah Dasar yang bersahabat karib dengan Umbe (Aji Santosa) dan Acan (Fachri Azhari). Selain dua sahabatnya, Amek juga memiliki seekor kuda kesayangan yang diberi nama Smodeng.</p>
<p>Ketiga lelaki kecil ini kerap belajar mengaji pada Papin, seorang kakek yang penyayang. Papin mengajari nilai-nilai agama dan moral kepada anak-anak itu dengan cara yang halus dan bijaksana. Papin pula yang melihat bakat Amek yang mahir mengendalikan kuda, takat ia selalu menang dalam lomba pacuan kuda yang sering dilaksanakan di kampungnya.</p>
<div id="attachment_4679" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadu-kumbang1.jpg"><img class="size-full wp-image-4679" title="Mengintip" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadu-kumbang1.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">Tiga sahabat dari Desa Mantar: Amek, Ombe, dan Acan. Mereka sedang mengintip rok ibu guru.</p></div>
<p>Amek adalah bocah yang terlahir dengan celah di bibirnya. Ia hidup di tengah kemiskinan kolektif yang dirasakan bersama penduduk Desa Mantar. Dengan kondisi sangat sederhana di sebuah rumah panggung, Amek hidup bersama sang Inak (ibu) bernama Siti (Titi Sjuman) dan kakaknya, Minun (Monica Sayangbati). Sejak ditinggal sang ayah, Zakaria (Asrul Dahlan), yang sudah tiga lebaran tak pulang karena mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, Inak menghidupi keluarganya dengan berjualan minuman di kolong rumah mereka.</p>
<p>Di antara kawan-kawannya, hanya Amek yang tak berani menyebutkan cita-cita ketika ditanya oleh gurunya di sekolah. Amek pun hanya terdiam ketika anak-anak Mantar lainnya menggantungkan aneka botol berisi harapan mereka ke dahan Pohon Cita-Cita yang terletak persis di bibir tebing dan menghadap ke laut lepas. Diamnya Amek bukan tanpa alasan. Amek sadar akan bibirnya yang sumbing, yang membuat dirinya lebih memilih diam karena takut diejek.</p>
<p>Amek adalah salah satu dari sekian banyak murid Sekolah Dasar Negeri 08 Mantar yang tak lulus Ujian Nasional tahun lalu. Sejumlah faktor menjadi latar belakang ketidaklulusan Amek; entah fasilitas pendidikan yang kurang, gaya pendidikan sekolah yang terlampau keras, atau faktor psikologis Amek yang rindu pada sang ayah. Meski demikian, Inak, Minun, dan Ibu Guru Imbok (Ririn Ekawati) terus menerus memompa semangat belajar Amek.</p>
<p>Sebaliknya, Minun duduk di bangku tiga Sekolah Menengah Pertama dan selalu juara kelas. Minun sering menjuarai lomba matematika se-Kabupaten Sumbawa Barat. Sederet piala dan sertifikat berjejer di dinding rumah mereka. Minun adalah ikon sekolah, kebanggaan keluarga, bahkan masyarakat di Desa Mantar.</p>
<p>Di sekolah Amek, para guru berambisi penuh untuk dapat meluluskan seluruh siswanya di tahun ini. Selagi Ibu Imbok dan Pak Openg (Leroy Osmani) menerapkan kelembutan, ada Pak Alim (Lukman Sardi) yang selalu menempa murid dengan disiplin kaku dan keras. Kekerasan ini didukung oleh kepala sekolah, Pak Jabuk (Dorman Borisman).</p>
<p>Lain guru, lain pula siswa. Para siswa justru menempuh cara yang tidak wajar agar bisa lulus ujian. Mereka lebih memilih menggantungkan harapan ke Pohon Cita-Cita.</p>
<p>Amek yang malas belajar lebih sering berkhayal untuk mengikuti jejak Najwa Shihab untuk menjadi seorang pembawa acara berita. Najwa Shihab adalah pembawa berita di stasiun televisi Jakarta namun bersiaran nasional. Amek gemar menonton berita di televisi yang akhirnya membuat ia menjadi satu-satunya pemberi kabar dari dunia luar bagi warga kampungnya.</p>
<p>“Apa <em>rungan</em> negeri kita?” begitu kerap tetangga-tetangga bertanya pada Amek. ‘Rungan’ adalah bahasa Sumbawa untuk ‘kabar’.</p>
<p>Amek pun lantas berdiri di depan jendela, berpura-pura membacakan berita dengan suara lantang.</p>
<p>“…Bertahun-tahun demo, semua atas nama rakyat. Bahkan anak SD pun disuruh demo membakar buku pelajaran demi demokrasi, pemirsa.”</p>
<p>“Pemirsa, potong sana potong sini. Itu namanya biaya koordinasi.”</p>
<p>Demikianlah gaya Amek membaca berita dari balik bingkai jendela kayu di rumahnya. Kalimat-kalimat yang diucapkan hanya berdasar pada ingatan akan berita yang ditontonnya dari televisi yang bergambar buram.</p>
<p>Di sekolah, Amek sering dihukum oleh Pak Alim yang gemar mengajar ala militer. Tindakan Pak Alim sering diprotes Ibu Guru Imbok yang lebih suka mengajar dengan penuh kesabaran dan lemah lembut.</p>
<p>“Saya mau sekolah. Tapi selalu dihukum,” demikian jawaban Amek kepada Ibu Imbok ketika ditemukan sedang membolos dari sekolah.</p>
<p>Dalam satu adegan, Amek secara spontan mengacungkan jarinya, mengaku sebagai penyebab robohnya kursi yang diduduki oleh Pak Alim. Sebelumnya, Pak Alim mengancam tidak akan memperbolehkan seluruh siswa ikut ujian jika tidak ada yang mengaku sebagai penyebab ambruknya kursi. Padahal, guru itu mungkin lupa, kursi sekolah itu memang sudah terlalu reyot untuk menopang berat badannya.</p>
<p>“Saya tidak menukar kursi Pak Alim,” jawab Amek setelah dihukum habis-habisan.</p>
<p>“Lalu mengapa kamu mengacungkan jari?” tanya Ibu Imbok.</p>
<p>“Teman-teman mau ikut ulangan, Bu.”</p>
<p>Konflik berkembang kala Amek dan kawan-kawan mengintip rok Ibu Rukiah (Melly Zamri). Hukuman Pak Alim dan Pak Jabuk terhadap murid-murid lagi-lagi dianggap oleh Ibu Imbok terlalu keras. Untuk mempertegas sikap antikekerasannya, Ibu Imbok akhirnya mengundurkan diri dan mulai mengajar murid-murid di kolong rumah panggung bersama dengan para manula yang buta huruf.</p>
<p>Kisah bergeser ketika Zakaria pulang dari Malaysia. Dengan berkalung emas dan memikul <em>tape recorder</em>, ia disambut bak pahlawan pulang kandang. Malam-malam di Desa Mantar pun riuh dengan ceritanya yang disampaikan dengan salah satu dialek yang ada di Malaysia – yang juga menjadi dialek banyak kawasan di Indonesia.</p>
<p>“Dulu, guru-guru Malaysia belajar ke Indonesia. Sekarang, orang Indonesia belajar ke Malaysia untuk jadi babu… Susah dicari pengemis di Malaysia… Kesenian, tari pendet, reog, semuanya laku di Malaysia,” demikian dongengnya.</p>
<p>Singkat cerita, penampilan mentereng Zakaria ternyata hanya sesumbar belaka. Ketika uang mulai menipis, Zakaria pun menjual jam tangannya yang ia beli di Malaysia. Namun, apa daya, akibat tuna aksara, Zakaria malah dituduh sebagai penipu karena menjual jam tangan palsu. Smodeng, kuda kesayangan Amek, pun diambil paksa sebagai tebusan. Padahal, kala itu Amek sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba joki cilik di Sumbawa. Amek pun berteriak kuat-kuat seraya berlari mengejar Smodeng yang telah ditarik dengan sepeda motor. Namun apa daya, Smodeng tak dapat dikejar.</p>
<p>Kala Amek tenggelam dalam kesedihan, kasih sayang Minun menghapus segala duka Amek dengan kalimat-kalimat lembutnya.</p>
<p>“Kak Minun akan tebus Smodeng pakai tabungan. Smodeng keluarga kita, Mek,” tutur Minun menghibur Amek yang sedang berduka di dermaga.</p>
<p>Kakak beradik itu pun kemudian berpelukan dengan latar laut biru yang luas. Kehangatan kakak beradik ini nampak begitu alami.</p>
<p>Plot pun memuncak ketika hasil Ujian Nasional diumumkan. Minun yang penuh dengan prestasi gemilang dan cemerlang, harus menelan pil pahit bersama ke-26 kawannya yang tak lulus ujian. Minun pun putus asa dan ingin melepas kembali harapan yang telah ia gantungkan di Pohon Cita-Cita. Di sinilah kemudian takdir hadir dengan wajahnya yang getir.  Minun terjatuh dari pohon cita-cita. Nyawanya terenggut di usia yang terlalu muda.</p>
<p>Meskipun film berakhir dengan keceriaan, justru pada puncak inilah <em>Serdadu Kumbang</em> menyengat tajam.</p>
<p>Fenomena Ujian Nasional yang membingkai keseluruhan kisah film ini memang menjadi tragedi yang nyata dan menakutkan bagi para anak dan orang tua di Indonesia.</p>
<p>Ekspresi ketakutan ini direkam secara satir dalam <em>Serdadu Kumbang</em>.</p>
<p>“Kau tak lihat ini muka sudah biru? Sudah dua minggu saya tak buang air besar. Takut anak saya tak lulus,” tukas salah satu orang tua dalam satu adegan menjelang Ujian Nasional.</p>
<p><em>Serdadu Kumbang</em> pun menampilkan berbagai macam cara yang ditempuh oleh para orang tua agar sang anak lulus ujian, termasuk menjual kambing agar dapat pergi ke dukun.</p>
<p>“Mau jadi bintang sinetron dan lulus ujian,” demikian jawab si anak ketika sang dukun menanyakan keinginannya.</p>
<p><em>Serdadu Kumbang</em> jelas bukan film yang menyajikan mimpi muluk. Justru, bangunan cerita yang naskahnya ditulis oleh Jeremias Nyangoen ini mengalirkan konflik demi konflik secara bertubi-tubi. Penonton seakan dihadapkan pada semacam potongan-potongan yang ternyata dibingkai dalam satu persoalan nyata: pendidikan nasional.</p>
<div id="attachment_4681" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadukumbang3.jpg"><img class="size-full wp-image-4681" title="Film Serdadu Kumbang" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/06/serdadukumbang3.jpg" alt="" width="250" height="325" /></a><p class="wp-caption-text">Serdadu Kumbang, film produksi Alenia Pictures yang mengangkat kehidupan anak-anak Tanah Sumbawa.</p></div>
<p><em>S</em><em>erdadu Kumbang</em> memberi sengatan akan satu dari sekian banyak aspek yang mesti memikul embel-embel “<a href="http://www.lenteratimur.com/menimbang-denasionalisasi/" target="_blank">nasional</a>”. Ketika pengetahuan diuji dalam kacamata yang sama untuk anak-anak Indonesia di ujung barat hingga ujung timur, yang panjangnya kira-kira setara dari Inggris hingga Irak, sistem pendidikan nasional seakan mengabaikan nasib anak-anak yang tinggal di pedesaan, atau anak-anak dengan latar belakang yang terlalu beragam.</p>
<p>Persoalan dalam <em>Serdadu Kumbang</em> ini mengingatkan saya pada apa yang pernah dicetuskan oleh Fadhal Alhamid, salah seorang petinggi Dewan Adat Papua. Dengan gusar, ia menyatakan bahwa apa yang diajarkan di sekolah-sekolah kini kerap merupakan sesuatu yang asing.</p>
<p>“(Dulu) kalau ajar membaca… ‘ini api, api menyala, babi lari’. Sesuatu yang mengakar dalam realita. Sekarang, ‘ini Pak Madi, Pak Madi ke sawah’. Siapa Pak Madi? Sawah mana? Orang Papua tidak kenal sawah. Orang Papua kenal hutan sagu,” tukas Fadhal pada pertengahan 2010 di Jakarta.</p>
<p>Standarisasi pendidikan nasional pun menjadi terlalu keji bagi murid-murid di titik-titik yang jauh dari Jakarta, sebuah kawasan yang menghisap sumber daya alam dan sumber daya manusia di seluruh Indonesia. Bagaimana seorang anak di suatu kota yang tak memiliki jalur kereta api, misalnya, dapat menjawab soal-soal kereta api yang hanya ada di kota-kota besar?</p>
<p>“Bagaimana anak SMP di Cikini menjawab soal yang sama dengan anak di pedalaman Papua yang guru keseniannya (juga) mengajar fisika, guru agama mengajar matematika? … Bahkan di Merauke itu ada sekolah yang pohon pisang itu tumbuh di dalam kelas,” demikian tambah Fadhal.</p>
<p>Segala satir dalam <em>Serdadu Kumbang</em> memang bukan tak mungkin betul-betul terjadi pada kehidupan nyata. Satir yang mengantar pada tragedi pahit yang terwujud pada tangisan Amek yang mesti kehilangan kakak tersayang dan juga bentakan Zakaria kepada kepala sekolah.</p>
<p>“Pendidikan macam apa yang menghukum murid-murid seperti ini? Negara macam apa?” raung Zakaria.</p>
<p>Dan sengatan itu pun terasa begitu tajam saat sang kepala sekolah hanya dapat menjawab lemas.</p>
<p>“Ini sudah menjadi ketentuan nasional.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/serdadu-kumbang-sengatan-dari-tana-samawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Sebuah Imajinasi Kompleks</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/indonesia-sebuah-imajinasi-kompleks/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/indonesia-sebuah-imajinasi-kompleks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 12:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TM. Dhani Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Nukilan]]></category>
		<category><![CDATA[aldy zulfikar]]></category>
		<category><![CDATA[Amir]]></category>
		<category><![CDATA[atiqah hasiholan]]></category>
		<category><![CDATA[darah garuda]]></category>
		<category><![CDATA[darius sinatrya]]></category>
		<category><![CDATA[Dayan]]></category>
		<category><![CDATA[donny alamsyah]]></category>
		<category><![CDATA[film perang indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[film perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[film rasa hollywood]]></category>
		<category><![CDATA[hasyim djojohadikusumo]]></category>
		<category><![CDATA[lentera timur]]></category>
		<category><![CDATA[lukman sardi]]></category>
		<category><![CDATA[Marius]]></category>
		<category><![CDATA[merah putih 2]]></category>
		<category><![CDATA[rahayu saraswati]]></category>
		<category><![CDATA[resensi film]]></category>
		<category><![CDATA[rudy wowor]]></category>
		<category><![CDATA[Teuku Rifnu Wikana]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas]]></category>
		<category><![CDATA[tm. dhani iqbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=2753</guid>
		<description><![CDATA[“Kalian tidak akan bisa bertahan satu minggu tanpa kami,” ujar  Major Van Gaartner. “Muslim, Kristen, Katolik, Protestan, Hindu, Java, Bali, Batak, China.... Kalian akan saling membunuh.”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2768" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Darah-Garuda.jpg"><img class="size-full wp-image-2768" title="Darah Garuda" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Darah-Garuda.jpg" alt="Darah Garuda. Foto-foto: www.merahputihthefilm.com." width="550" height="430" /></a><p class="wp-caption-text">Darah Garuda. Foto-foto: www.merahputihthefilm.com.</p></div>
<p>“Kalian tidak akan bisa bertahan satu minggu tanpa kami,” ujar  Major Van Gaartner. “Muslim, Kristen, Katolik, Protestan, Hindu, Java, Bali, Batak, China&#8230;. Kalian akan saling membunuh.”</p>
<p>“Setelah kami membunuh kalian,” jawab Dayan.</p>
<p>Dialog antara seorang komandan pasukan Belanda dengan pejuang kemerdekaan asal Bali yang tengah tertangkap itu muncul dalam film “Darah Garuda”. Film yang diluncurkan pada September 2010 tersebut merupakan bagian kedua dari trilogi Merah Putih, sebuah epos perang revolusi kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Film berlatar 1947 yang disokong oleh Hasyim Djojohadikusumo, putera seorang tokoh perlawanan dari Pemerintah Republik Rakyat Indonesia (PRRI) di Sumatera-Sulawesi, memang mengejutkan. Percakapan Van Gaartner, diperankan Rudy Wowor, dengan Dayan, dilakoni Teuku Rifnu Wikana, adalah salah satu contoh bahwa film ini hendak memberikan semacam sengatan kesadaran terhadap khalayak perihal bagaimana berdirinya sebuah negara bernama Indonesia.</p>
<p>Ya, Indonesia memang dibangun oleh negeri-negeri yang sudah terlebih dahulu ada. Negeri-negeri tersebut, jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa, sudah memiliki peradaban atau sistem nilai. Hanya saja, sebelum kedatangan Eropa, tidak ada konsep persatuan diantara negeri-negeri tersebut. Dan, entahlah, apakah Belanda sudah mengetahui watak ketidakharmonisan di antara negeri-negeri tersebut ketika Van Gaartner mengucapkan “kalian akan saling membunuh”?</p>
<div id="attachment_2773" class="wp-caption aligncenter" style="width: 567px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Para-tokoh-ditahan-gerilyawan-Islam.jpg"><img class="size-full wp-image-2773" title="Para tokoh ditahan gerilyawan Islam" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Para-tokoh-ditahan-gerilyawan-Islam.jpg" alt="Para gerilyawan pro Indonesia ditangkap gerilyawan Islam di Jawa Barat." width="557" height="358" /></a><p class="wp-caption-text">Para gerilyawan pro Indonesia ditangkap gerilyawan Islam di Jawa Barat.</p></div>
<p>Jawaban Dayan “Setelah kami membunuh kalian,” juga tak kalah menariknya. Apakah itu maksudnya memberikan pembenaran terhadap apa yang dilihat oleh Belanda? Yang jelas, hingga saat ini, Indonesia memang masih didera oleh sekian banyak konflik terkait identitas, baik secara terang-terangan dan brutal, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku, atau yang mengendap di dalam batin dan siap meledak, seperti Jawa, Sunda, Batak, Papua, Aceh, Buton, atau Riau.</p>
<p>Dalam kondisi tidak ada konsep persatuan di antara negeri-negeri tersebut, membangun imajinasi tentang Indonesia tentu bukan perkara mudah. Empat tokoh di film ini, yakni Thomas (Donny Alamsyah, Manado, Kristen), Amir (Lukman Sardi, Jawa, Islam), Marius (Darius Sinatrya, Batavia), dan Dayan (Teuku Rifnu Wikana, Bali, Hindu), adalah simbol dari keberagaman tersebut. Mereka, yang di daerahnya masing-masing mengalami penyiksaan oleh kulit putih, disatukan untuk satu kepentingan: mengusir Belanda. Slogannya adalah <em>to become free, they become one</em>.</p>
<p>Para tokoh ini, yang selamat dari pembantaian Belanda pada film terdahulu, Merah Putih, kemudian diberi tugas yang amat penting oleh salah seorang komandan dalam pasukan Jenderal Sudirman. Perintahnya tak main-main: menyusup ke garis belakang musuh di daerah Jawa Barat untuk menghancurkan proyek pembangunan bandara Belanda; menghancurkan ambisi penyerangan mematikan Jenderal Van Mook dari Belanda.</p>
<div id="attachment_2774" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Kyai-pimpinan-gerilyawan-Islam.jpg"><img class="size-full wp-image-2774" title="Kyai, pimpinan gerilyawan Islam" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Kyai-pimpinan-gerilyawan-Islam.jpg" alt="Kyai, pimpinan gerilyawan Islam, sempat bimbang untuk menentukan nasib gerilyawan pro Indonesia yang ia tangkap." width="540" height="279" /></a><p class="wp-caption-text">Kyai, pimpinan gerilyawan Islam, sempat bimbang untuk menentukan nasib gerilyawan pro Indonesia yang ia tangkap.</p></div>
<p>Dalam perjalanan di Jawa Barat, keempatnya bertemu dan ditangkap oleh gerilyawan Islam. Meski juga sedang melawan Belanda, mereka tampak alergi dengan apa yang disebut Indonesia. Selain persoalan perbedaan etnik tadi, adegan ini seakan mencatat bahwa imajinasi tentang Indonesia berada di antara bayang-bayang perbedaan yang prinsipil.</p>
<p>“Sumatera, Jawa, Celebes, Borneo, itu aku tahu. Tapi Republik Indonesia, mana?” kata seorang gerilyawan Muslim di Jawa Barat.</p>
<p>Pertanyaan materil semacam ini lantas dijawab secara abstrak, tepatnya dari perspektif cita-cita akan adanya sebuah negara baru.</p>
<p>“Republik Indonesia tempat orang-orang merdeka, Bung, dimana anak-anak kita tidak perlu tunduk terhadap orang kafir,” jawab Amir.</p>
<p>Gemas karena melihat ada yang tidak memihak pada apa yang dibayangkan sebagai Indonesia, Thomas pun berang.</p>
<p>“So lama ngana jadi anjing Belanda?”</p>
<p>Sontak geriyawan Islam tadi marah. Ia mengacungkan senapannya ke arah Thomas.</p>
<div id="attachment_2775" class="wp-caption aligncenter" style="width: 578px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Thomas-mencelat-akibat-ledakan-bom.jpg"><img class="size-full wp-image-2775" title="Thomas mencelat akibat ledakan bom" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Thomas-mencelat-akibat-ledakan-bom.jpg" alt="Thomas, pejuang asal Manado, mencelat akibat ledakan bom." width="568" height="396" /></a><p class="wp-caption-text">Thomas, pejuang asal Manado, mencelat akibat ledakan bom.</p></div>
<p>“Aku bukan kacung siapa-siapa dan bukan anjing siapa-siapa! Aku hanya mengabdi kepada Allah <em>Subhana Wa Taala</em>!” Mata sang gerilyawan mendelik berang.</p>
<p>Percakapan ini kemudian berlanjut antara Amir dan Kyai, diperankan Alex Komang, pimpinan gerilyawan Islam. Keduanya berdialog soal anti penindasan berdasarkan surat-surat di Al-Quran. Percakapan itu diakhiri oleh sang kyai dengan sebuah pertanyaan.</p>
<p>“Apa kau benar-benar yakin bahwa Allah akan merestui republik ini?”</p>
<p>Pertanyaan Kyai tak dijawab oleh para tentara. Malah, yang terdengar justru suara petir yang menggelegar. Dan wajah Amir tampak bingung dan meragu.</p>
<p>Selain dialog-dialog yang memikat dan berwawasan sejarah, film ini cukup menggairahkan dari segi gambar. Suasana alam, kantor-kantor tempo dulu, pencahayaan, dan berbagai ledakan tampak begitu nyata. Penonton disuguhkan sebuah kualitas sinematografi yang patut diacungi jempol.</p>
<p>Meski demikian, film ini bukannya tanpa cacat. Salah satunya adalah persoalan dialek. Banyak percakapan yang sepertinya dialihbahasakan secara telanjang dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dan yang tampak mencolok adalah tidak adanya bahasa Sunda saat para tokoh berada di Jawa Barat. Alih-alih berbahasa Sunda, di sebuah pasar malah terdengar gumaman-gumanan berbahasa Jawa dari masyarakat.</p>
<p>Selain itu, keganjilan juga tampak saat Amir, yang merupakan komandan pasukan, mengucapkan kata sayang pada istrinya. Tak terbayang ada seorang komandan berbicara semacam itu di depan pasukan. Apalagi, yang tengah terbangun adalah emosi serangan mematikan, bukan emosi domestik.</p>
<p>Terlepas dari kekurangan tersebut, apresiasi tinggi haruslah ditujukan pada Teuku Rifnu Wikana dan Donny Alamsyah. Aksi Dayan, yang lidahnya dipotong Belanda, sanggup mengguncang emosi siapapun yang melihat. Ia datang secara tak terduga di saat kawan-kawannya putus asa. Ekspresinya begitu tajam kala ia menusukkan kayu dari tengkuk hingga tembus ke mulut seorang Belanda yang sedang merangsek dengan senapan berat. Tanpa bicara, ia menunjukkan bagaimana sebuah persahabatan harus dijunjung.</p>
<div id="attachment_2776" class="wp-caption aligncenter" style="width: 549px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Dayan-datang-mendadak..jpg"><img class="size-full wp-image-2776" title="Dayan datang mendadak." src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Dayan-datang-mendadak..jpg" alt="Dayan, pejuang asal Bali, datang mendadak menolong untuk kawan-kawannya." width="539" height="354" /></a><p class="wp-caption-text">Dayan, pejuang asal Bali, datang mendadak untuk menolong kawan-kawannya.</p></div>
<p>Hal serupa juga ditunjukkan oleh Thomas ketika ia hendak menghajar Marius karena disangka meninggalkan Dayan di antara pasukan Belanda. Pun, ekspresi tawa sekaligus tangis Thomas begitu kental kala melihat Marius datang membawa pesawat. Kedatangan Marius tak lama setelah Dayan tiba.</p>
<p>“Lihat itu,” kata Thomas pada Amir, Senja, dan Budi (Aldy Zulfikar) yang nyaris mati diberondong peluru Belanda. Tawa dan tangisnya bercampur. “Marius datang bawa pesawat.”</p>
<p>Film ini layak untuk ditonton oleh siapa saja yang rindu pada patriotisme kulit coklat. Dan film ini, bagi saya, mendorong orang untuk mempertanyakan sesuatu yang masih amat relevan untuk zaman ini: Apa kabar gerakan Islam itu? Mengapa kelak menjadi kesatuan layaknya militer? Dan, apa kabar nasib negeri-negeri di Indonesia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/indonesia-sebuah-imajinasi-kompleks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pencerah: Bersetia Dengan Cita-Cita</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/sang-pencerah-bersetia-dengan-cita-cita/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/sang-pencerah-bersetia-dengan-cita-cita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 22:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Miryam Vivekananda Fadlil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Nukilan]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad dahlan]]></category>
		<category><![CDATA[film indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>
		<category><![CDATA[hanung bramantyo]]></category>
		<category><![CDATA[kauman yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[ken miryam vivekananda fadlil]]></category>
		<category><![CDATA[langgar kidoel]]></category>
		<category><![CDATA[lukman sardi]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad darwis]]></category>
		<category><![CDATA[muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[resensi film]]></category>
		<category><![CDATA[resensi sang pencerah]]></category>
		<category><![CDATA[sang pencerah]]></category>
		<category><![CDATA[satu abad muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[sesai]]></category>
		<category><![CDATA[slamet rahardjo]]></category>
		<category><![CDATA[zaskia adya mecca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=2732</guid>
		<description><![CDATA[Alih-alih menjawab, Dahlan justru memainkan biolanya. Nadanya begitu indah. Semua menjadi terdiam. Mata-mata terpejam. Usai itu, ia mengatakan inilah agama. Indah. Damai. Tenteram.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2733" class="wp-caption aligncenter" style="width: 502px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Biola.jpg"><img class="size-full wp-image-2733" title="Biola" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Biola.jpg" alt="Kyai Haji Ahmad Dahlan, Sang Pencerah. Foto-foto: www.sangpencerahthemovie.com" width="492" height="297" /></a><p class="wp-caption-text">Kyai Haji Ahmad Dahlan, Sang Pencerah. Foto-foto: www.sangpencerahthemovie.com.</p></div>
<p>Sempat tertangkap nada cibiran penonton di bioskop ketika nama raja sinetron, Raam Punjabi, terpampang di layar sebagai produser. Pengalaman ini saya temui ketika menonton film “Sang Pencerah” besutan sutradara Hanung Bramantyo,  yang diputar perdana pada 8 September 2010, serentak di seluruh Indonesia.</p>
<p>Namun, cibiran itu tak berlangsung lama. Adegan awal film yang menyuguhkan sinematografi apik karya Faozan &#8216;Pao&#8217; Rizal serta olahan musik yang digawangi oleh Tya Subiakto perlahan-lahan cukup berhasil<strong> </strong>melarutkan penonton pada babak awal kisah perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Hanya saja, semakin lama penggunaan musik terasa cukup mengganggu karena terasa ada ketidakkonsistenan dengan atmosfer masa lampau.</p>
<p>Menghadirkan masa lampau ke layar lebar tentu saja tak mudah dan tak murah. Sempat hangat di beberapa situs berita, diperlukan dana produksi sebesar 12 milyar untuk mewujudkan ide yang sudah 15 tahun mengendap ini.</p>
<p>Patut diapresiasi bahwa dalam durasi  112 menit,  gambar bergerak produksi MVP (Multivison Plus) Pictures ini berani menyajikan  latar suasana Yogyakarta pada tahun 1800-an secara dominan. Reka-ulang bangunan Masjid Agung Kauman, wilayah keraton, Kota Gede, Bintaran, dan Stasiun Kereta Api Lempuyangan, termasuk sudut-sudut kota Yogyakarta, berhasil menghadirkan atmosfer di tahun itu dengan cukup nyata. Hal ini didukung pula dengan kekuatan kostum dan tata rias dengan detail yang cermat di sepanjang kisah.</p>
<p>Kisah mengalir sejak  kelahiran sang tokoh hingga pada masa ia mendirikan Muhammadiyah pada 12 November 1912.  Romantika perjuangan tokoh pembaharu ini digambarkan tak bebas dari kegelisahan, bahkan nyaris keputusasaan.</p>
<p>Konflik mulai terbangun saat Darwis remaja (Ihsan Taroreh) digambarkan sebagai sosok yang kerap gelisah dengan lingkungan sekitarnya; ketika Islam di Jawa tak lepas dari praktik mistisme. Kegelisahan Darwis ini tergambar jenaka ketika ia mencuri makanan sesaji yang diletakkan warga kampung  di bawah sebuah pohon besar.</p>
<p>Sebuah catatan pengantar di awal film menyebutkan bahwa praktik sesaji ini merupakan warisan dari Syekh Siti Jenar. Tudingan langsung terhadap nama tersebut agaknya sebuah kecerobohan.</p>
<p>Kauman, latar film ini, adalah sebuah daerah sekitar keraton yang lekat dengan pengaruh Hindu. Dan hingga saat ini pun keraton masih memiliki dua kyai: Kyai Kauman dan Kyai Hindu. Artinya, sesaji justru dipertahankan oleh Sunan Kalijaga ketika ada perkawinan budaya saat ia memasukkan nilai Islam dalam masyarakat Hindu.</p>
<p>Selain sesaji, film ini pun cenderung melakukan simplifikasi nilai pada isu yasinan dan tahlilan. Padahal, ia merupakan isu besar yang hingga kini diusung oleh Muhammadiyah, yang tentunya terbit dari kegelisahan pendirinya.</p>
<div id="attachment_2734" class="wp-caption aligncenter" style="width: 511px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Sesaji.jpg"><img class="size-full wp-image-2734" title="Sesaji" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Sesaji.jpg" alt="Praktik sesaji sudah menjadi tradisi masyarakat Kauman, Yogyakarta." width="501" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Praktik sesaji sudah menjadi tradisi masyarakat Kauman, Yogyakarta.</p></div>
<p>Kecemasan mengenai praktik Islam yang menggelisahkan ini akhirnya mendorong Darwis, yang waktu itu baru berusia 15 tahun, untuk melakukan perjalanan laut ke Mekkah guna mendalami agama Islam sekaligus berhaji. Sejarah mencatat, selama kurun waktu lima tahun di sana, Darwis berkenalan dengan pemikiran-pemikiran para pembaharu islam seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.</p>
<p>Sayang, dalam film ini tak diceritakan bahwa di Arab itu Darwis bertemu dengan Hasyim Ashari, yang kelak menjadi pendiri Nahdhlatul Ulama. Keduanya, bersama Agus Salim, nantinya akan berguru pada imam madzhab Syafi’iyah di Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Khatib. Padahal, jika ini diceritakan, pendirian Muhammadyah akan menjadi utuh sebagai dialektika Islam Indonesia; bukan sesuatu yang begitu saja muncul dari bumi.</p>
<p>Sekembalinya ke tanah air,  kehidupan Darwis yang telah berganti nama menjadi Kyai Haji Ahmad Dahlan (Lukman Sardi), mulai memasuki babak seru. Beberapa praktik keliru dalam beribadah yang berkembang di masyarakat mulai ia koreksi. Langgar Kidoel Kauman pun didirikannya sebagai pusat penyebaran pemikiran dan ajarannya.</p>
<p>Berbeda dengan tempat pendidikan lain yang selalu monolog, Dahlan justru melakukan praktik pendidikan secara dialogis. Ia mendorong santri untuk memulai pertanyaan. Dan keluarlah pertanyaan dari seorang santri.</p>
<p>&#8220;Agama itu apa, Kyai?&#8221;</p>
<p>Alih-alih menjawab, Dahlan justru memainkan biolanya. Nadanya begitu indah. Semua menjadi terdiam. Mata-mata terpejam. Usai itu, ia mengatakan inilah agama. Indah. Damai. Tenteram.</p>
<p>Lalu Dahlan kemudian meminta salah satu santrinya, Hisyam muda (Joshua Suherman), memainkan biola tersebut. Terdengar nada sumbang yang memecah tawa. Di sini ia mengucapkan pemikirannya tentang agama.</p>
<p>&#8220;Agama hakikatnya seperti musik. Ia dapat memberi  keindahan, ketenteraman, dan mencerahkan. Seperti musik,  ia mengayomi, menyelimuti.  Namun, jika kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu hanya akan membuat resah dan menjadi bahan tertawaan.”</p>
<p>Jawaban ini sungguh berkualitas. Hanya saja, apakah benar ini merupakan rekam jejak asli dari Ahmad Dahlan dahulu? Dalam poster film ini, memang terbaca kalimat &#8220;Tentang Ahmad Dahlan&#8221;. Namun, kita tidak dapat menemukan kalimat &#8220;Berdasar kisah nyata&#8221; sebagaimana film-film tentang seseorang yang nyata. Akhirnya, memang menjadi lebih tepat jika meresepsi film ini (hanya) sebagai salah satu tafsir “Tentang Ahmad Dahlan” yang masih perlu diverifikasi lagi perkara referensi dan kebenarannya.</p>
<p>Upaya Dahlan untuk mengubah sudut pandang ajaran Islam yang telah tumbuh selama setengah abad di Kauman memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika pemuda 21 tahun itu berpendapat bahwa arah kiblat semua masjid dan langgar harus diubah, para kyai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), menentang keras.  Dahlan, yang kemudian memiliki kiblat sendiri, pun dianggap kyai kafir yang dicap sebagai musuh bersama.</p>
<div id="attachment_2735" class="wp-caption aligncenter" style="width: 564px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Kiai-Penghulu.jpg"><img class="size-full wp-image-2735" title="Kiai Penghulu" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Kiai-Penghulu.jpg" alt="Para pemegang tradisi cemas dengan gerakan Ahmad Dahlan." width="554" height="337" /></a><p class="wp-caption-text">Para pemegang tradisi cemas dengan gerakan Ahmad Dahlan.</p></div>
<p>Di pekatnya malam, segerombolan laki-laki berbondong-bondong menuju Langgar Kidoel Kauman. Sambil memekikkan “Allah Akbar”, mereka mengangkat obor tinggi-tinggi. Langgar hancur, terbakar, rata dengan tanah.</p>
<p>Adegan robohnya surau ini sangat relevan dengan konteks konflik agama yang kerap dan baru saja dialami oleh Indonesia kini. Perusakan rumah ibadah dan kekerasan dengan membawa-bawa agama yang ditampilkan dalam film itu seolah ingin menunjukkan bahwa peristiwa yang sering kita alami saat ini sebenarnya telah berakar lama.</p>
<p>Teriakan “Allahu Akbar” yang diserukan berulang-ulang oleh para perusak surau, mau tak mau, membawa kenangan buruk atas kelakukan serupa kaum fundamentalis di sekitar kita; yang dengan mudah menyebut kafir pada siapa pun yang baru atau berbeda.</p>
<p>Adegan perusakan langgar ini berhasil meraih puncak emosi penonton. Tapi, akibatnya, ketika film berlanjut, emosi jadi sulit untuk terbangun kembali. Klimaks terlanjur lebih dulu terjadi, padahal cerita belum berhenti di sini.</p>
<p>Dibantu dengan dukungan keluarga, meski sempat merasa “kalah”, Dahlan kembali bangkit dan meneruskan ajarannya. Dengan dukungan sang istri, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid setianya: Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara), dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Dahlan meneruskan perjuangannya.</p>
<p>Dahlan memilih untuk tetap bersetia pada cita-cita, meski harus kembali dicemooh. Ia mendapat tuduhan kyai kejawen ketika ia  merapat ke lingkungan cendekiawan Jawa, Boedi Oetomo.</p>
<p>Satu hal yang mengganjal, persinggungan Dahlan dengan Sarekat Islam, organisasi bervisi kebangsaan yang lahir lebih dulu dari Boedi Oetomo, hanya disebut selintas. Seolah, Dahlan hanya terpengaruh oleh orientasi Boedi Oetomo untuk peduli pada kerja-kerja terorganisir dan pendidikan.</p>
<div id="attachment_2736" class="wp-caption aligncenter" style="width: 556px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Sang-Pencerah-1.jpg"><img class="size-full wp-image-2736" title="Sang Pencerah 1" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Sang-Pencerah-1.jpg" alt="Pengabdian sosial sebagai sikap beragama Ahmad Dahlan." width="546" height="319" /></a><p class="wp-caption-text">Pengabdian sosial sebagai sikap beragama Ahmad Dahlan.</p></div>
<p>Terbantu dengan momentum Ramadhan dan lebaran, film yang bernafaskan perlawanan terhadap fanatisme bertaut kebencian pada umat lain ini cukup menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Ditambah lagi dengan maraknya isu fundamentalis agama, kebutuhan untuk memahami agama secara damai menjadi terasa amat kontekstual dan dekat.</p>
<p>“Sang Pencerah” akhirnya hadir sebagai sebuah karya konkret atas sebuah refleksi. Refleksi yang berhasil membuat kita bertanya, sesiap dan sesantun apa kita mampu membuka hati untuk menerima atau merefleksikan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/sang-pencerah-bersetia-dengan-cita-cita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balibo Five dan Perang Cara Pandang</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/balibo-five-dan-perang-cara-pandang/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/balibo-five-dan-perang-cara-pandang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 22:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TM. Dhani Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Layar]]></category>
		<category><![CDATA[Nukilan]]></category>
		<category><![CDATA[12 november 1991]]></category>
		<category><![CDATA[balibi five]]></category>
		<category><![CDATA[bea viegas]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Peters]]></category>
		<category><![CDATA[desa balibo]]></category>
		<category><![CDATA[film kontroversial]]></category>
		<category><![CDATA[Gary Cunningham]]></category>
		<category><![CDATA[Greg Shackleton]]></category>
		<category><![CDATA[insiden dili]]></category>
		<category><![CDATA[ketika jurnalisme dibungkam sastra bicara]]></category>
		<category><![CDATA[lima wartawan australia]]></category>
		<category><![CDATA[Malcolm Rennie]]></category>
		<category><![CDATA[oscar isaac]]></category>
		<category><![CDATA[perang timor]]></category>
		<category><![CDATA[ramos horta]]></category>
		<category><![CDATA[seno gumira]]></category>
		<category><![CDATA[timor leste]]></category>
		<category><![CDATA[tm. dhani iqbal]]></category>
		<category><![CDATA[Tony Stewart]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan tewas]]></category>
		<category><![CDATA[xanana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=2720</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah helikopter melayang-layang di udara. Seorang tua kulit pucat bersama seorang muda Timor panik. Tak lama keduanya berlari tak karuan. Helikopter itu mulai memberikan tembakan-tembakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_2721" class="wp-caption aligncenter" style="width: 538px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Tentara-Indonesia-menyerbu.jpg"><img class="size-full wp-image-2721 " title="Tentara Indonesia Menyerbu." src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Tentara-Indonesia-menyerbu.jpg" alt="Tentara Indonesia Menyerbu." width="528" height="279" /></a><p class="wp-caption-text">Tentara Indonesia Menyerbu. Foto-foto: www.balibo.com</p></div>
<p>Sebuah helikopter melayang-layang di udara. Seorang tua kulit pucat bersama seorang muda Timor panik. Tak lama keduanya berlari tak karuan. Helikopter itu mulai memberikan tembakan-tembakan. Si tua terperosok sembari berlindung di balik sebuah ceruk pepohonan besar.</p>
<p>Inilah secuplik dari film kontroversial <em>Balibo Five</em> yang berlatarbelakang perang pada 1975 di perbatasan Indonesia dengan Timor, tepatnya di Desa Balibo. Film ini berplotkan arus mundur (<em>flashback</em>) dari ingatan seorang Juliana, diperankan oleh Bea Viegas, yang masa kecil hingga dewasanya mengalami tekanan batin luar biasa. Perempuan itu menceritakan kisahnya di depan seorang pewawancara berkulit pucat.</p>
<p>Saat bercerita itulah film ini memusarkan diri pada kasus tewasnya lima jurnalis asal Australia. Dan si tua yang ditembaki itu, Roger East, yang diperankan oleh Antoni La Paglia, adalah seorang wartawan tua asal Australia yang datang ke Timor untuk mencari kelima jurnalis itu. Kelimanya adalah Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Gary Cunningham dari Channel 7, dan Brian Peters dan Malcolm Rennie dari Channel 9.</p>
<p>Sebetulnya, East tak peduli dengan apa yang terjadi di Timor. Namun, Jose Ramos Horta, utusan dari pemerintahan darurat Timor yang diperankan oleh Oscar Isaac, membakar sentimen East. Horta ingin agar East membantu perjuangan rakyat Timor dengan mengendalikan kantor berita. Terlebih, Australia tahu apa yang terjadi di Timor, termasuk kasus hilangnya kelima jurnalis itu.</p>
<p>Tak lama setelah tiba di Timor, dalam perjalanan di tengah hutan menuju Balibo untuk mencari tahu nasib kelima jurnalis itu, East dan Horta disambut hujan peluru dari sebuah helikopter. Dan ini sempat membuat East gentar. Ia berpikir untuk pulang saja. Tapi di hutan itu Horta kembali membakar emosi East. Kata Horta, hal semacam inilah yang terjadi pada lima jurnalis asal Australia itu. Helikopter Indonesia, yang dibuat oleh Amerika Serikat, menembaki mereka berdua karena informasi dari intelijen Australia.</p>
<p>Pada bagian lain, film ini menggambarkan, dengan cukup detail, apa yang terjadi pada kelima jurnalis televisi itu. Kelima jurnalis itu, dengan naluri mendapatkan eksklusifitas gambar, tidak turut berlarian sebagaimana yang dilakukan pasukan Timor saat pasukan Indonesia menyerbu. Alih-alih lari, mereka justru mengambil arah berlawanan. Mereka mengambil tempat di sebuah tembok yang memungkinkan mereka berlindung sembari mengambil gambar.</p>
<p>Tak lama, muncullah orang-orang bersenjata namun tak berseragam militer. Bahkan ada yang mengenakan celana pendek layaknya turis. Sekilas, ini mengingatkan kita pada laporan majalah<em>Jakarta Jakarta</em> pada Januari 1992 (Seno Gumira Ajidarma, <em>Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara</em>, Edisi II, 2005), dimana tentara Indonesia tak berbaju dan bawa senjata saat insiden Dili meletus pada 12 November 1991.</p>
<div id="attachment_2723" class="wp-caption aligncenter" style="width: 568px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Jurnalis-Australia-bersiap-meliput-kedatangan-pasukan-militer-Indonesia..jpg"><img class="size-full wp-image-2723" title="Jurnalis Australia bersiap meliput kedatangan pasukan militer Indonesia." src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Jurnalis-Australia-bersiap-meliput-kedatangan-pasukan-militer-Indonesia..jpg" alt="Jurnalis Australia bersiap meliput kedatangan pasukan militer Indonesia." width="558" height="239" /></a><p class="wp-caption-text">Jurnalis Australia bersiap meliput kedatangan pasukan militer Indonesia.</p></div>
<p style="text-align: left;">Kelima jurnalis itu bergulat dengan detik. Mereka bertahan demi keyakinan bahwa pasti ada diantara orang-orang itu yang berseragam militer Indonesia. Pasukan tak berseragam itu kian mendekat. Setelah mendapatkan gambar yang dimaksud, juga karena kian terdesak, mereka kabur kencang-kencang. Tapi sayang, mereka terkepung. Dengan kepanikan luar biasa, akhirnya mereka bersembunyi di sebuah rumah kosong.</p>
<p>Di luar rumah persembunyian itu, orang-orang tak berseragam tadi berteriak-teriak, “Hajar!”, “Hajar!”, dan berbagai celotehan lain dengan aksen Indonesia. Di sini saya merasakan keganjilan. Orang-orang itu adalah pasukan militer. Apakah memang begitu sikap militer saat berperang atau melakukan penyergapan atau pengepungan? Dalam pikiran saya,militer itu berbasis komando, dan tidak berteriak-teriak “Hajar!”, “Hajar!”, seperti preman kampung yang hendak menyerang kampung tetangga.</p>
<p>Dalam pengepungan itulah kelima jurnalis televisi tersebut tewas ditembak. Dan Roger East sendiri tewas oleh tentara Indonesia yang datang secara tiba-tiba melalui udara Kota Dili pada 7 Desember 1975. Ketika itu East sedang bekerja, memimpin kantor berita dari negeri yang ditempur Indonesia.</p>
<p><strong>Sikap Nasionalis?</strong><br />
Entah disengaja atau tidak, film ini lahir setelah pengadilan koroner New South Wales, Australia, memutuskan pada November 2007 bahwa Tentara Nasional Indonesia adakah pelaku pembunuhan terhadap lima jurnalis Australia. Dan pada Agustus 2009 lalu, Polisi Federal Australia berencana menyeret mantan petinggi tentara Indonesia ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.</p>
<p>Secara konsitusional, perang 1975 itu sepertinya memang bermasalah. Ketika itu, Jenderal Suharto selaku Presiden Indonesia nyatanya memang tidak pernah meminta persetujuan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk melakukan perang. Sebagai seorang diktator, barangkali ia merasa tidak perlu mengindahkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 11 yang mengatur perihal tindakan perang atau perdamaian dengan negara lain.</p>
<p>Apakah perseteruan Indonesia dengan Australia akan memasuki babak baru? Entahlah. Yang jelas, diktator Suharto memang telah meninggalkan persoalan besar buat generasi Indonesia berikutnya. Dan rasanya itu menjadi persoalan pelik, tentang bagaimana seorang nasionalis harus menyikapi persoalan Balibo ini.</p>
<p><strong>Semata Fiksi</strong></p>
<p style="text-align: left;">
<div id="attachment_2726" class="wp-caption aligncenter" style="width: 524px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Lima-jurnalis-Australia-berlari-karena-dikejar-tentara-Indonesia.jpg"><img class="size-full wp-image-2726 " title="Lima jurnalis Australia berlari karena dikejar tentara Indonesia." src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2010/09/Lima-jurnalis-Australia-berlari-karena-dikejar-tentara-Indonesia.jpg" alt="Lima jurnalis Australia berlari karena dikejar tentara Indonesia." width="514" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">Lima jurnalis Australia berlari karena dikejar tentara Indonesia.</p></div>
<p>Film ini memang jelas tidak berimbang. Ia menempatkan Indonesia sebagai si hitam dan Timor sebagai si putih dari sebuah perseteruan politik global yang kompleks. Namun demikian, bagaimanapun film adalah sebuah fiksi. Dan fiksi memiliki dunianya sendiri. Merujukkannya secara total pada realitas sama dengan memasuki kamar yang salah. Sama halnya ketika pada 1965 pengadilan Sumatera Utara mengadili cterita pendek Ki Pandjikusmin yang mashyur itu karena dianggap mendiskreditkan agama Islam.</p>
<p>Dan pelarangan sebuah film dari Lembaga Sensor Film, yang notebene lembaga pemerintah, sungguhlah bukan hal cerdas. Keberadaan teknologi komunikasi internet sudah tak bisa dibendung. Alih-alih sentralistik, penyebaran informasi kini terjadi secara acak. Pemutaran film ini di berbagai tempat secara tegas telah membuat pemerintah kian kehilangan wibawanya.</p>
<p>Dalam adat pikiran sesaat saya, semestinya yang melarang film itu adalah pihak Australia sendiri. Sebab, tindakan Australia itu akan dipandang sebagai sebuah tantangan serius bagi Indonesia. Namun Perdana Menteri Australia Kevin Rudd justru mengembangkan layar lebar-lebar. Ia akan tetap membawa kasus lima jurnalis yang tewas pada 1975 itu ke depan hukum. Dan film ini, yang bagi saya nilai propagandanya setara dengan film <em>G30S/PKI</em>, pun terus beredar dari satu tempat ke tempat lain.</p>
<p>Sementara itu, dalam adat pikiran yang berkebalikan dengan Australia, Indonesia pernah melarang film <em>Romusha</em> (1973) karya Sjumandjaya demi menjaga hubungan baik dengan Jepang. Begitu juga lagu <em>Terang Bulan</em> yang pernah dilarang Sukarno untuk dinyanyikan oleh orang Indonesia karena, kabarnya, sudah diberikan kepada Malaysia untuk dijadikan lagu kebangsaan.</p>
<p>Sekilas, Indonesia adalah negara yang tak mau ribut-ribut dengan orang luar. Namun, berkebalikkan dengan itu, Indonesia juga memproduksi film-film yang menunjukkan kelakuan bandit-bandit Belanda atau Inggris, macam film <em>Nagabonar</em> atau film <em>Merah Putih</em>. Hanya saja, saya belum mendengar ada protes dari Belanda atas film-film tersebut.</p>
<p>Dalam konteks tewasnya jurnalis Australia pada 1975, biarlah itu menjadi urusan diplomat-diplomat Indonesia, yang sekaligus dapat kita uji sejauh apa nyalinya melawan negara koloni Inggris itu. Sedangkan dalam konteks film, ada baiknya jika seniman-seniman Indonesia segera membuat film tandingan yang setara dengan <em>Balibo Five</em>.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/balibo-five-dan-perang-cara-pandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
