<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Timur &#187; Jelajah</title>
	<atom:link href="http://www.lenteratimur.com/category/jelajah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenteratimur.com</link>
	<description>Menyigi Identitas Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 May 2013 14:10:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Membaca Detak Jam Gadang</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/membaca-detak-jam-gadang/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/membaca-detak-jam-gadang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jan 2013 07:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adela Eka Putra Marza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Jam Gadang]]></category>
		<category><![CDATA[Menara Big Ben]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Ateh]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Bawah]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Gadang]]></category>
		<category><![CDATA[The Bank Job]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=6785</guid>
		<description><![CDATA[Selain di Bukittinggi, kembaran dari mesin jam tersebut saat ini terpasang di Menara Big Ben di London, Inggris.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6786" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Jam-Gadang.jpg"><img class=" wp-image-6786" title="Jam Gadang" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Jam-Gadang.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Angka IIII pada Jam Gadang. Foto-foto: Adela Eka Putra Marza.</p></div>
<p>Sekitar 86 tahun yang lalu, tepatnya 5 Oktober, sebuah kapal besar dari Rotterdam, Belanda, merapat di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Banyak barang yang diturunkan oleh awak kapal. Salah satunya adalah sebuah paket besar yang berisi empat buah jam besar, yang masing-masingnya berdiameter 80 sentimeter.</p>
<p>Ratu Belanda IV, Wilhelmina, disebut-sebut menghadiahkan jam besar tersebut kepada <em>Controleur</em> Buktitinggi zaman Belanda dahulu, Rook Maker. Hadiah ini merupakan bentuk penghargaan ratu terhadap hasil kerja Rook Maker di Bukittinggi. Hanya saja, dalam catatan sejarah tak dijelaskan secara detail keberhasilan macam apa yang telah dia raih.</p>
<p>Tak lama setelah kedatangan jam tersebut, masih pada 1926, sebuah menara empat tingkat dengan tinggi 26 meter dibangun di Bukittinggi. Dan keempat jam besar itu pun kemudian dipasang di sana, tepatnya di tengah Taman Sabai nan Aluih, persis di depan Gedung Pertemuan Muhammad Hatta (dulu Gedung Tri Arga). Sejak itu, menara jam besar itu dikenal dengan sebutan Jam Gadang, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Jam Besar’.</p>
<p>Menara Jam Gadang ini dibangun oleh seorang arsitek putra Sumatera Barat sendiri, yakni Yazid Abidin dari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam sekarang. Sedangkan mandor dan pemborongnya berasal dari Birugo Bukittinggi, Sutan Gigi Ameh dan Haji Moran. Pembangunan menara Jam Gadang ini menghabiskan biaya 3000 gulden; nilai yang cukup besar untuk saat itu.</p>
<p>Menara tempat jam dipasang ini dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Campurannya hanya berupa kapur, putih telur, dan pasir putih. Adonan itu dipakai sebagai perekat batu-batu, fondasi, dan dinding bangunan. Sejak dibangun pada 1926, Jam Gadang itu masih kokoh berdiri.</p>
<p>Namun, keunikan tak hanya pada bangunan menaranya. Jamnya sendiri terbuat dari tembaga dan besi kuningan yang diproduksi di Jerman dengan nama Brixlion. Mesin jam ini disebut-sebut hanya ada dua di dunia. Selain di Bukittinggi, kembaran dari mesin jam tersebut saat ini terpasang di Menara Big Ben di London, Inggris.</p>
<div id="attachment_6787" class="wp-caption alignright" style="width: 332px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Jam-Gadang-2.jpg"><img class=" wp-image-6787" title="Jam Gadang Berlatar Gunung Merapi" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Jam-Gadang-2.jpg" alt="" width="322" height="429" /></a><p class="wp-caption-text">Bangunan menara Jam Gadang dengan latar belakang Gunung Merapi.</p></div>
<p>Pada lonceng Jam Gadang terukir tulisan “Aba B Vortmann T fabrik L.W. Germany”. Vortmann adalah pembuat mesin Jam Gadang. Pada bagian roda gigi jam, juga terdapat tulisan cetak timbul “B Vortmann, Recklinghausen – 1926.” Inilah petunjuk asal-usul Jam Gadang, yang berasal dari sebuah pabrik di salah satu distrik di Jerman, yaitu pabrik L.W. Germany di Recklinghausen.</p>
<p>Tak hanya bangunan menara dan mesin jamnya saja yang memiliki sejarah. Atap menara Jam Gadang pun beberapa kali diganti, seiring dengan sejarah kelahiran perjalanan Bukittinggi. Ketika awal berdiri di zaman Belanda, bentuknya bulat telur dengan patung seekor ayam jantan di puncaknya. Bentuknya kemudian berubah menjadi kelenteng di zaman penjajahan Jepang. Setelah di dalam Indonesia, bentuknya kembali diganti dengan gaya atap <em>bagonjong</em> khas Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau, hingga saat ini.</p>
<p>Yang paling unik dari Jam Gadang adalah penulisan salah satu angka Romawi pada angka jam tersebut. Jika angka romawi untuk angka empat biasanya ditulis “IV”, maka di Jam Gadang tertulis “IIII”. Menurut cerita, angka empat Romawi yang aneh itu berhubungan dengan jumlah pekerja bangunan yang meninggal ketika pembangunan menara Jam Gadang. Keanehan angkat empat Romawi itu dianggap sebagai simbol tumbal dari keempat korban tersebut. Cerita ini pernah muncul di kalangan orang-orang tua di Bukittinggi.</p>
<p>Akan tetapi, dalam film <em>The Bank Job</em> (2009), yang bercerita tentang perampokan bank di London pada 1971, ada juga jam besar dengan angka empat yang ditulis dengan simbol “IIII”. Jam besar itu terlihat di salah satu stasiun kereta api di London. Bisa jadi, penulisan angka empat Romawi seperti itu merupakan patron lama dan kuno. Namun demikian, angka empat Romawi pada jam di Menara Big Ben tetap ditulis “IV”.</p>
<p>Penulisan angka empat Romawi dengan simbol “IIII” inilah yang menjadi salah satu daya tarik Jam Gadang. Jika beruntung, menara Jam Gadang ini bisa dinaiki hingga ke tingkat paling atas, yang menjadi tempat mesin jam besar itu berada. Disebut “beruntung” karena izin masuk ke dalam menara tidak lagi sebebas dulu. Belakangan, pemerintah Kota Bukittinggi menutup akses wisatawan untuk naik ke puncak menara dengan alasan menjaga mesin jam tersebut.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Bukittinggi terletak dalam deretan Bukit Barisan. Lokasi kota kecil yang berhawa sejuk ini, dengan suhu umumnya 20 derajat celcius, tak begitu jauh dari Kota Padang, ibu kota Sumatera Barat. Jaraknya hanya 90 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Jika menggunakan bus, ongkosnya Rp. 15.000. Meski demikian, suhunya berbeda dengan Padang yang begitu hangat.</p>
<p>Perjalanan Padang-Bukittingi takkan terasa dengan kondisi alam yang asri. Ada air terjun Lembah Anai, Batang Anai yang mengalir deras di antara bebatuan besar, atau jalur kereta api kuno yang membelah perbukitan. Namun, di akhir pekan, kemacetan sering terjadi di jalur ini.</p>
<p>Sementara itu, destinasi wisata di Bukittinggi juga beragam. Ada Taman Lobang Jepang, bekas penjara yang menyimpan sejarah kekejaman pendudukan Jepang di Indonesia. Ada benteng Fort De Kock yang dibangun Belanda sebagai saksi bisu dalam Perang Paderi. Ada pula Kebun Binatang Bukittinggi yang sudah ada sejak 1929, sebagai salah satu kebun binatang tertua di Indonesia atau India Belakang.</p>
<p>Ngarai Sianok dengan panorama lembahnya yang memukau tak ketinggalan menjadi tujuan orang-orang yang hendak berwisata. Yang juga tak bisa dilewatkan adalah wisata kuliner khas Minangkabau, yang tersedia lengkap di Bukittinggi. Dan, tentu saja, menara Jam Gadang yang masih menjadi simbol kuat bagi kota Bukittinggi, yang juga menjadi ikon pariwisata Sumatera Barat.</p>
<div id="attachment_6788" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Pasar.jpg"><img class=" wp-image-6788" title="Pasar Ateh" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/Pasar.jpg" alt="" width="585" height="438" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Pasar Ateh dengan latar belakang Jam Gadang.</p></div>
<p>Selain itu, ada juga pasar tradisonal Bukittinggi yang bisa dikunjungi: Pasar Ateh (pasar atas) dan Pasar Bawah. Pasar Ateh dan Pasar Bawah memang sesuai dengan namanya, yakni satu di atas dan satu lagi di bawah. Tapi, pasar ini bukan bertingkat. Maksudnya, Pasar Ateh berada di daerah perbukitan dan Pasar Bawah di dataran yang lebih rendah.</p>
<p>Untuk Souvenir khas Bukittinggi, orang dapat menjumpainya di Pasar Ateh, yang berjarak hanya sekitar lima menit jalan kaki dari lokasi Jam Gadang. Semua souvenir yang dijual bercirikan Jam Gadang atau Rumah Gadang;. mulai dari miniatur bangunan, gantungan kunci, dan kaos. Jika berbelanja, pintar-pintarlah menawar. Karena Orang Minang sudah sejak lama terkenal cerdik dalam berniaga.</p>
<p>Sebelum pulang, jangan lupa menikmati sepiring nasi kapau dengan gulai <em>itiak</em> <em>lado ijau</em> (gulai itik sambal hijau) di Pasar Ateh, tepatnya di Los Lambuang; sebuah <em>foodcourt </em>tradisional di tengah-tengah Pasar Ateh. Atau bisa juga mencoba gulai <em>tambusu</em>, yakni sepotong usus sapi yang diisi dengan adonan telur berbumbu. Tentunya dengan minuman <em>teh</em> <em>talua</em> (teh telur) khas orang Minang. <em>Ondeh, lamak bana</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/membaca-detak-jam-gadang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merdang Merdem, Pesta ala Petani Karo</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/merdang-merdem-pesta-ala-petani-karo/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/merdang-merdem-pesta-ala-petani-karo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2012 06:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim Ramli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Jambur]]></category>
		<category><![CDATA[Merdang Merdem]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi Karo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=6719</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan pesta hanya diselenggarakan dalam dua hari, yakni Jumat dan Sabtu. Sebabnya sederhana: susah mengumpulkan dana dalam jumlah besar untuk menggelar pesta selama tujuh hari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6720" class="wp-caption alignleft" style="width: 334px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/masmur.jpg"><img class=" wp-image-6720" title="masmur" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/12/masmur.jpg" alt="" width="324" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu atraksi di Merdang Merdem. Foto: Muslim Ramli.</p></div>
<p>Pesta tak biasa yang diadakan berhari-hari. Mengumpulkan sanak famili hingga ajang mencari jodoh. Dentuman musik hingga beragam tarian mengemuka. Inilah Merdang Merdem, pesta ala Petani Karo.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pertengahan Oktober lalu, Desa Tanjung Barus punya agenda besar. Mereka mengadakan Merdang Merdem, atau Kerja Tahun. Mulai anak-anak, pemuda, sampai orang tua sudah berkumpul sejak satu jam sebelum acara dimulai.</p>
<p>Tanjung Barus adalah sebuah desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. <a href="http://www.lenteratimur.com/aru-dahulu-langkat-kemudian/" target="_blank">Karo</a> sendiri merupakan daerah pegunungan. Cuacanya dingin. Tanahnya subur. Kondisi demikian membuat hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai petani. Macam-macam yang mereka tanam. Selain padi, mereka juga menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Sebut saja stroberi, jeruk, atau wartel, untuk kemudian dipasok ke Medan hingga Aceh.</p>
<p>Merdang merdem sendiri diselenggarakan di jambur. Di Karo, jambur adalah bangunan tak berdinding yang berukuran 20 x 20 meter. Bangunannya terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari seng. Tapi, di tempat lain, jambur mulai dibuat dari beton. Ada dinding sekitar satu meter untuk sekadar bersandar atau duduk-duduk. Pada hari biasa, bangunan ini digunakan sebagai tempat rapat atau jual beli hasil panen dan keperluan sehari-hari.</p>
<p>Elkana, Kepala Desa Tanjung Barus, menjelaskan bahwa Merdang Merdem merupakan sebuah pesta besar-besaran sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Seharusnya, pesta ini diselenggarakan selama enam hari hingga satu minggu penuh.</p>
<p>Kegiatan di dalam hari-hari peringatan Merdang Merdem berbeda-berbeda. Untuk hari pertama, yang merupakan bagian awal dari persiapan menyambut Merdang Merdem, ditandai dengan kegiatan mencari <em>kor-kor</em>. Kor-kor adalah sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah. Serangga ini nantinya dijadikan lauk makanan.</p>
<p>Setelah mencari kor-kor, di hari kedua mereka mencari <em>cikurung</em>, juga sejenis serangga namun hidup di sawah. Sama seperti hari pertama, cikurung juga dijadikan lauk makanan. Di hari ketiga, mereka mencari <em>ndurung</em>. Ndurung adalah jenis ikan yang hidup di sawah dan sungai. Di hari itu, penduduk satu kampung makan dengan lauk ikan. Ikan yang ditangkap biasanya <em>ndurung mas</em>, yakni lele yang biasa disebut <em>sebakut</em>.</p>
<p>Di hari keempat, atau sehari menjelang hari perayaan puncak, kegiatan ditandai dengan <em>mantem</em> atau motong. Hari itu penduduk kampung memotong lembu, kerbau, dan babi untuk dijadikan lauk. Hari kelima, <em>matana</em>. Matana artinya hari puncak perayaan. Pada hari itu, semua penduduk saling mengunjungi kerabatnya. Setiap kali berkunjung, semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari kor-kor<em>, </em>cikurung<em>, </em>ndurung, dan mantem, dihidangkan. Pada saat itu semua penduduk bergembira.</p>
<p>Hari keenam adalah <em>nimpa</em>, yang ditandai dengan kegiatan membuat <em>cimpa</em>, makanan khas Karo, yang juga biasa disebut <em>lepat</em>. Bahan dasar cimpa adalah tepung terigu, gula merah, dan kelapa parut. Cimpa biasanya dijadikan hidangan tambahan setelah makan.</p>
<p>Hari ketujuh, <em>rebu</em>, yang merupakan hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya. Pada hari tersebut tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tamu-tamu sudah kembali ke tempat asalnya. Semua penduduk berdiam di rumah. Acara kunjung-mengunjungi telah selesai.</p>
<p>Meski demikian, belakangan masyarakat umumnya menyelenggarakan pesta tersebut hanya dalam dua hari, yakni Jumat dan Sabtu. Sebabnya sederhana: susah mengumpulkan dana dalam jumlah besar untuk menggelar pesta selama tujuh hari. Untuk mengadakan acara dua hari ini, panitia membutuhkan dana sekitar Rp. 25 juta. Setiap hari ada panitia yang bertugas mengumpulkan dana.</p>
<p>“Semua dana dari masyarakat. Mereka menyumbang dalam bentuk uang. Kalau panen bagus, ya, mereka nyumbang banyak,” ujar Elkana.</p>
<p>Bahkan, tak jarang juga pesta sama sekali tidak diadakan jika panen sedang jelek.</p>
<p>Meski demikian, tak selamanya faktor dana menjadi kendala digelarnya Merdang Merdem. Ada juga faktor sanak famili yang sulit dikumpulkan.</p>
<p>“Banyak anggota keluarga tidak di kampung lagi. Mereka kebanyakan merantau untuk bekerja dan sekolah di luar sana,” terang Elkana.</p>
<p>Malam itu Elkana tetap sibuk memantau jalannya acara. Sesekali dia mengecek panitia demi memastikan agenda malam itu tidak berantakan, meski tidak ada agenda khusus dalam pesta kali ini. Pesta ya pesta. Artinya, hiburan digelar semalam suntuk, mulai dari pukul sepuluh malam hingga subuh. Setelah sesi pembukaan dengan tarian Karo, secara bergantian masyarakat yang datang kemudian berjoget dan bernyanyi bersama.</p>
<p>Biasanya, yang usia lebih tua akan lebih dulu meninggalkan jambur untuk pulang ke rumah. Pada saat itulah kesempatan muda-mudi untuk berpesta hingga pagi.</p>
<p>“Biasanya, kalau ada pesta <em>kayak</em> <em>gini</em>, ada <em>aja</em> yang dapat jodoh,” ujar Elkana tertawa.</p>
<p>Malam itu, tepat pukul 24, saya dengan seorang rekan, Anggita Maini, menumpang di salah satu rumah warga untuk menginap. Rumah itu berbentuk <a href="http://www.lenteratimur.com/dari-kolong-rumah-panggung/" target="_blank">rumah panggung</a> yang terbuat dari kayu. Luasnya sekitar 6 x 6 meter. Dinding rumah dihiasi dengan beberapa foto keluarga, lukisan, dan patung Yesus. Di beberapa sudut lain, pemilik rumah sudah menggelar tikar dan sejumlah selimut tebal untuk tidur.</p>
<p>Di rumah itu, kami mendengar lebih banyak cerita mengenai Kerja Tahun dari sang kepala desa. Tak hanya kepala desa, tokoh desa, dan beberapa pemuda setempat juga ada di sana. Salah satu pemuda adalah Usaha Barus, pakar pertanian asal Karo yang pernah mengajar di Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.</p>
<p>“Ya beginilah adat kami. Bisa dikatakan di dunia ini cuma ada di sini pesta semacam ini,” ujar Usaha Barus tentang acara Merdang Merdem di kampungnya.</p>
<p>Hanya saja, dia menyayangkan acara adat semacam ini semakin tergerus zaman. Tidak banyak lagi kampung yang mengadakannya. Alasannya adalah modernisasi.</p>
<p>“Kalau dulu hampir semua desa pasti mengadakan Kerja Tahun ini,” keluh Usaha.</p>
<p>Usaha mengatakan, acara semacam ini sudah seharusnya dipertahankan. Kerja Tahun bagi orang Karo sama halnya dengan lebaran. Pesta semacam ini hanya sekali dalam setahun. Semua keluarga akan berkumpul, dan mereka yang di perantauan akan pulang.</p>
<p>Malam semakin dingin. Pemilik rumah membawakan hidangan makanan. Ada dodol dan <em>timphan</em>. Timphan adalah jenis kue yang terbalut dari daun pisang yang terbuat dari tepung dan isi kelapa.</p>
<p>“Kalau lagi Kerja Tahun, semua rumah di kampung ini adalah rumah kita. Kami juga bisa makan dan tidur di rumah manapun. Rumah ini terbuka untuk siapa saja, contohnya malam ini,” ujar Usaha.</p>
<p>Selama Kerja Tahun berlangsung, tambah Usaha, semua masyarakat tidak boleh pergi ke ladang. Menurutnya, ini adalah bentuk syukur, jadi semuanya harus berbahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/merdang-merdem-pesta-ala-petani-karo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setapak Surabaya</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/setapak-surabaya/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/setapak-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2012 13:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ester Pandiangan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[kerajaan di jawa timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Trowulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Kenjeran]]></category>
		<category><![CDATA[situs trowulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=6182</guid>
		<description><![CDATA[Hanya dua hal yang mendorong saya ingin mengunjungi Surabaya, yakni melihat lumpur Lapindo, yang lokasinya tak jauh dari Surabaya, dan kawasan lampu merah Dolly.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6183" class="wp-caption aligncenter" style="width: 615px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Patung-Kwan-Im.jpg"><img class="size-full wp-image-6183" title="Patung Kwan Im" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Patung-Kwan-Im.jpg" alt="" width="605" height="452" /></a><p class="wp-caption-text">Patung Kwan Im. Foto-foto: Ester Pandiangan.</p></div>
<p>Sejauh ini, hanya dua hal yang mendorong saya ingin mengunjungi Surabaya, Jawa Timur. Pertama, ingin melihat lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo – yang lokasinya tak jauh dari Surabaya; dan kedua, kawasan lampu merah Dolly. Sayang, karena satu dua hal, keinginan saya itu tak kesampaian, betapapun saya akhirnya dapat menginjakkan kaki di Surabaya.</p>
<p>Meski demikian, perjalanan ini tak saya sesali. Setidaknya saya bisa mengakrabi sejarah kerajaan yang ada di sini, Majapahit. Adalah Situs Trowulan yang merekam remah-remah Majapahit dahulu kala. Situs ini berlokasi di Kabupaten Mojokerto dengan luas area 11 x 9 kilometer. Dari Surabaya, ia memakan waktu tempuh selama hampir tiga jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua.</p>
<p><strong>Kolam Segaran</strong><br />
Kolam ini terletak di depan Museum Trowulan. Bentuknya persegi panjang berukuran 375 x 125 meter. Kolam mini ini terbuat dari bata yang direkatkan. Karena usia, warnanya sudah kelabu dengan lumut di sana-sini. Konon, dahulu tempat ini adalah tempat rekreasi para pembesar kerajaan Majapahit, dan, katanya lagi, Patih Gajah Mada minum dari kolam ini.</p>
<p>Sekarang tempat ini lebih sering digunakan untuk memancing dan duduk-duduk santai. Mungkin sambil merenung dan meresapi kalau dulunya tempat ini adalah tempat Raja Majapahit dan pembesarnya bersantai.</p>
<p><strong>Museum Trowulan</strong></p>
<div id="attachment_6184" class="wp-caption alignright" style="width: 304px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Pendopo-Agung.jpg"><img class="size-full wp-image-6184" title="Pendopo Agung" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Pendopo-Agung.jpg" alt="" width="294" height="390" /></a><p class="wp-caption-text">Pendopo Agung.</p></div>
<p>Museum ini menyimpan berbagai peninggalan Majapahit. Mulai dari koleksi tanah liat, keramik, logam, dan batu. Bahkan, ada juga arca-arca sisa peradaban Hindu yang hingga kini masih mengental di Jawa. Jangan heran juga jika di sini ada artefak lingga yoni serta arca durga.</p>
<p>Supaya pengunjung dapat lebih jelas membangun skema kehidupan rakyat Majapahit di kepalanya, di dalam museumnya juga dibuat replika rumah penduduk zaman dahulu.</p>
<p>Museum ini sangat luas dengan banyak ruang-ruang yang dipenuhi benda-benda bersejarah. Memasukinya membuat kita laksana tersedot ke masa lalu dan membayangkan kisah-kisah dibalik setiap benda di dalamnya.</p>
<p><strong>Situs Pendopo Agung</strong><br />
Entah apa dulunya fungsi bangunan ini. Konon, di sinilah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Di pendopo ini terdapat relief Gajah Mada, yang entah kenapa amat mirip dengan Mohamad Yamin, dan patung Raden Wijaya yang merupakan pendiri kerajaan Majapahit.</p>
<p>Sekarang, pendopo ini lebih banyak digunakan sebagai tempat liburan keluarga. Orang dapat duduk santai di ubinnya yang sejuk. Bahkan, tak jarang ada juga pasangan yang berpacaran di sini.</p>
<p>Sementara, di halaman belakang pendopo, terdapat pekuburan kecil dan sebuah makam yang dipagar. Saya tidak tahu pasti apa fungsinya. Hanya saja, saat saya datang, ada beberapa lelaki yang menyiram air ke makam tersebut, seperti melakukan sebuah ritual.</p>
<p><strong>Situs Kedaton</strong><br />
Saya juga sedikit bingung, entah apa istimewanya situs ini. Hanya berupa batu berundak-undak berwarna merah bata. Menurut cerita orang sekitar, sumur yang terdapat di depan bangunan ini dipercaya mempunyai khasiat sehingga sering dipakai untuk menyucikan diri sebelum bersemedi.</p>
<p><strong>Pantai Kenjeran</strong><br />
Dari Situs Trowulan kita beralih ke Pantai Kenjeran. Pantai Kenjeran adalah salah satu tempat wisata keluarga di Surabaya. Dari pantai ini kita bisa melihat Madura. Apa saja yang bisa dilakukan di Pantai Kenjeran? Banyak. Meski tidak begitu bersih, tapi pantai ini tetap menjadi tempat liburan favorit buat keluarga, pun para pasangan yang hobi memadu kasih di tempat umum.</p>
<p>Tak jauh dari lokasi pantai, terdapat kuil dengan patung Budha raksasa empat wajah—indah dan agung. Kemudian, ada juga kelenteng Sanggar Agung dimana terdapat patung Kwan Im yang berdiri di atas naga raksasa. Wangi dupa dan hio menguar. Beberapa pengunjung sembahyang dan ada juga yang melempar kembang bunga di pantai.</p>
<p><strong>Makan-makan!</strong></p>
<div id="attachment_6186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 616px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Patung-Budha.jpg"><img class="size-full wp-image-6186" title="Patung Budha" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/07/Patung-Budha.jpg" alt="" width="606" height="404" /></a><p class="wp-caption-text">Patung Budha (kiri) dan Lingga-Yoni (kanan).</p></div>
<p>Jauh-jauh hari saya sudah diwanti-wanti oleh saudara saya yang tinggal di Surabaya, bahwa makanan di sini kelewatan murahnya. Jika di Medan kita mengeluarkan uang Rp. 15 ribu untuk seporsi ayam penyet, maka di sini, untuk menu yang kurang lebih sama, biayanya hanya Rp. 7 ribu– Rp. 8 ribu per porsinya. Begitu pula ketika saya tiba di Surabaya, dimana kami menikmati sarapan di salah satu kedai. Menunya biasa saja; nasi sayur, ayam goreng tepung, dan teh manis hangat. Dan uang yang harus kami bayar untuk biaya makan berdua tidak sampai Rp. 20 ribu.</p>
<p>Tentu saja, di lain kesempatan saat makan, saya mencicipi nasi rawon yang tak hanya rasanya saja yang sangat enak, tapi juga harganya yang amat murah. Demikian pula dengan tehnya, dimana aromanya wangi dengan rasa kelat yang pas, plus disajikan dengan gula batu yang membuat cita rasanya <em>perfecto</em>.</p>
<p>Rekan saya melancong, saudara saya, sampai geleng-geleng kepala. Bukan pada makanan atau harganya, tetapi kepada saya. Menurutnya, ekspresi saya berlebihan menanggapi kesegaran teh di sini.</p>
<p>“Kamu juga bisa membuat teh yang sama, tinggal beli gula batu,” demikian komentarnya.</p>
<p>Ada sedikit benarnya, tapi tetap saja ada perbedaannya. Sebab saya meminumnya di Jakarta, bukan di tempat asalnya. Teh dan penyajian yang sama namun ketika saya menyeruputnya di sebuah warung sederhana di Surabaya, rasanya akan berbeda. Atmosfer itu mahal, Bung!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/setapak-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Timur Banua Borneo</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/dari-timur-banua-borneo/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/dari-timur-banua-borneo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 04:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TM. Dhani Iqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[banua kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[benua borneo]]></category>
		<category><![CDATA[kondisi jalan kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis untuk kesederajatan]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan jurnalistik di tarakan]]></category>
		<category><![CDATA[tanjug selor ke banjarmasin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=6017</guid>
		<description><![CDATA[“Paling banyak itu dari Jawa Timur dan Solo… maksudnya Solowesi.”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6019" class="wp-caption alignleft" style="width: 290px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Gedung-Rektorat.jpg"><img class="size-full wp-image-6019" title="Gedung Rektorat" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Gedung-Rektorat.jpg" alt="" width="280" height="419" /></a><p class="wp-caption-text">Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.</p></div>
<p>15 Juni 2012. Dari atas bukit yang sejuk, seujung pandang lembah terhampar luas di tepi laut. Kapal-kapal datang dan pergi, beberapa berdiam untuk mengambil batu bara. Di atas bukit inilah Universitas Borneo Tarakan berada, yang dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi yang datang dari banyak wilayah.</p>
<p>Keberagaman mahasiswa di kampus menjadi cerminan atas dinamika yang ada di masyarakat Tarakan, Kalimantan Timur. Keberagaman, yang tentu saja mengisyaratkan perjumpaan-perjumpaan dari yang berbeda, sesuai dengan pengertian “Tarakan” sebagai suatu istilah. Dalam bahasa Tidung, <em>tarak</em> berarti ‘tempat singgah’ dan <em>ngakan</em> berarti ‘makan’.</p>
<p>Tarakan memang tak satu warna. Ia tak saja didiami oleh etnis Tidung, yang menjadi penduduk asli, tetapi juga oleh para pendatang, seperti Bugis, Jawa, atau Banjar. Keberagaman ini terasa dalam pelatihan jurnalistik <a href="http://www.lenteratimur.com/15-%E2%80%93-19-juni-2012-tarakan-%E2%80%93-pelatihan-jurnalistik-%E2%80%9Cmenulis-untuk-kesederajatan%E2%80%9D-iii/" target="_blank">“Menulis untuk Kesederajatan”</a> yang digelar oleh tim LenteraTimur.com di Universitas Borneo Tarakan pada 15-19 Juni 2012. Pelatihan yang didukung oleh <a href="http://www.ciptamedia.org/" target="_blank">Cipta Media Bersama</a> ini dihadiri oleh peserta yang memang datang dari mana-mana, bahkan umumnya berasal dari luar Tarakan atau luar Tidung.</p>
<p>Nama kampung yang ada di Tarakan, salah satunya, menunjukkan eksistensi tiap-tiap identitas tersebut. Kampung Bugis, misalnya, meskipun kini ia lebih banyak dihuni oleh orang-orang Cina. Hanya saja, pada 2010, sempat pecah bentrokan keras antara penduduk asli dengan pendatang.</p>
<p>“Etnis Tidungnya terasa terpinggirkan,” ujar salah seorang peserta.</p>
<p>Konstruksi konflik yang melanda Tarakan agaknya enggan dibahas oleh peserta. Dan itu dapat dipahami mengingat latarbelakang peserta. Tim yang terdiri dari Martin Aleida, TM. Dhani Iqbal, Christopel Paino, Ken Miryam Vivekananda Fadlil, dan Arif Budiman, mendapatkan informasi dari pihak di luar kelas, di luar pihak yang bertikai, tentang bagaimana kosmologi pikiran Tidung terhadap pihak di luar dirinya. Dan sampai saat ini, konflik semacam itu disebut-sebut berpotensi untuk meletus kembali.</p>
<p>“Tapi insya Allah tidak terjadi lagi. Kita jaga bersama,” ujar Wali Kota Tarakan, Udin Hianggio, kepada LenteraTimur.com di Tarakan.</p>
<p>Hanya saja, Udin yang berasal dari Gorontalo tak menyebutkan bagaimana proyeksi perlindungan terhadap masyarakat etnis Tidung dalam pembangunan di Tarakan yang terasa tumbuh pesat. Ia hanya mengakui bahwa arus migrasi cukup kencang di Tarakan.</p>
<p>“Paling banyak itu dari Jawa Timur dan Solo… maksudnya Solowesi,” canda Udin yang kala itu memakai pakaian songket.</p>
<p>Keberagaman yang ada di Tarakan memang sudah terbangun lama. Arus migrasi kian meningkat sejak dimekarkan menjadi kotamadya pada 1997. Tidak saja orang-orangnya yang berdatangan, tetapi juga barang-barangnya. Produk-produk Malaysia, misalnya, amat banyak ditemui dengan kualitas terjaga. Ragamnya pun amat banyak, mulai dari jam, tas, ranjang, tempat mandi bayi, ayunan bayi, sapu, sabun mandi, sabun cuci, susu, pakaian, kompor gas, tabung gas, minuman, makanan, atau kue ringan.</p>
<p>“Istri saya lebih suka Malaysia punya karena kualitasnya lebih bagus ketimbang Indonesia,” ujar seorang rekan di Tarakan.</p>
<p>Sebaran produk ini memang wajar mengingat jarak Tarakan dengan Malaysia, tepatnya Tawau di Negara Bagian Sabah, amat dekat. Dan logika alamiah memang mengatakan untuk selalu mencari akses pasar terdekat. Untuk mencapai Tawau atau sebaliknya, hanya dibutuhkan waktu sekitar empat jam dengan menggunakan <em>speed boat</em> atau sekitar setengah jam dengan pesawat udara. Dan, baik Tarakan atau Sabah, keduanya banyak didatangi oleh orang-orang dari Sulawesi, khususnya Bugis.</p>
<div id="attachment_6033" class="wp-caption alignright" style="width: 340px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Suasana-Pelatihan.jpg"><img class="size-full wp-image-6033" title="Suasana Pelatihan" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Suasana-Pelatihan.jpg" alt="" width="330" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Pelatihan Jurnalistik &quot;Menulis untuk Kesederajatan&quot; (III) di Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan.</p></div>
<p>Akan tetapi, meski jaraknya dekat, nasibnya berbeda jauh. Tarakan adalah kota dimana bor-bor minyak dapat ditemukan dengan mudah di sepanjang jalan. Hanya saja, jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) disebut-sebut hanya sekitar dua hingga empat buah, bahkan tak jarang masyarakat mengalami <a href="http://www.lenteratimur.com/bara-borneo-untuk-jakarta/" target="_blank">kelangkaan minyak</a>.</p>
<p>Terkait pembahasan kesederajatan yang bertalian dengan keberagaman, ada yang sedikit menggelitik di sela pelatihan. Seorang wartawan, yang juga peserta pelatihan, mewawancarai salah seorang tim LenteraTimur.com mengenai wajah pers Indonesia. Hal ini berkaitan dengan sudah terselenggaranya pelatihan di Medan, Gorontalo, juga Jakarta, dan kini Tarakan.</p>
<p>Pertanyaan ini berat. Bagaimana mau menjawabnya, apalagi dalam satu dua tarikan napas? Tim LenteraTimur.com dengan pelatihan jurnalistiknya baru bersentuhan dengan media massa di empat wilayah, dari hampir 500 wilayah di seluruh Indonesia. Masing-masing punya karakteristik, baik dari bahasan atau fokus persoalan, penulisan, perspektif, adaptasi perkembangan teknologi media, respon kebijakan kekuasaan, pun kompetisi oplah dengan kaki tangan media-media luar wilayah.</p>
<p>Menyamakan keempat wilayah tersebut dalam pembahasan singkat, secara otomatis, dapat membuat persoalan justru tak teridentifikasi. Tindakan itu bahkan dapat disebut peremehan atau penghilangan karakter, membuatnya keluar dari dinamika, dan membunuh identitas – sesuatu yang tak masuk dalam skema multikulturalisme. Tim tak seberani orang-orang yang mampu berbicara lantang atau membuat buku-buku tentang pers Indonesia, betapapun hanya membahas satu dua koran lama di satu wilayah macam <em>Indonesia Raya</em> sembari memperangahkan diri pada satu pribadi.</p>
<p>Dan secara kebetulan, ketika tim berada di kota kosmopolit ini, terdengarlah ribut-ribut dari media-media lokal Jakarta yang bersiaran nasional mengenai kebudayaan yang ada di Mandailing, Sumatera, terkait Malaysia. Dari Tarakan, bersama tim dan rekan-rekan di Tarakan, hal itu terdengar menggelikan. Seperti halnya Borneo Tarakan dengan Borneo Malaysia yang amat dekat, satu daratan, begitu pula Sumatera dengan Semenanjung, Malaysia, yang hanya terpisah 70 sampai 300-an kilometer. Dan jika media-media di Jakarta tak punya wawasan ihwal kebudayaan dan diaspora orang-orang Sumatera, barangkali itu wajar. Jarak antara kawasan Mandailing dengan kawasan Jakarta adalah sekitar 1.200 kilometer. Apalagi Jakarta sendiri memang jauh dari dunia internasional.</p>
<p>Jauhnya jarak memang bisa jadi berbanding lurus dengan jauhnya hati. Tapi itu tak mutlak. Saat ditanya, peserta dari Tidung tak keberatan jika penduduk Pulau Tidung di Jakarta Kepulauan mengaku sebagai Tidung – karena ada cerita seorang pemuda Pulau Tidung yang menolak datang ke acara Betawi di Jakarta Daratan karena dirinya adalah seorang Tidung. Padahal, jika ditarik garis lurus, jarak wilayah Tidung di Tarakan dengan Pulau Tidung di Jakarta Kepulauan mencapai sekitar 1.500 kilometer. Jadi, barangkali ini memang semata soal wawasan dan kedekatan geografis dengan dunia internasional.</p>
<div id="attachment_6021" class="wp-caption aligncenter" style="width: 596px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Di-atas-kapal-di-antara-Sulawesi-dan-Borneo.jpg"><img class="size-full wp-image-6021" title="Sulawesi-Borneo" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Di-atas-kapal-di-antara-Sulawesi-dan-Borneo.jpg" alt="" width="586" height="391" /></a><p class="wp-caption-text">Di atas kapal, dari Sulawesi menuju Borneo.</p></div>
<p><strong>Ke Tarakan</strong><br />
Untuk mencapai Tarakan, tim LenteraTimur.com menempuh jalan yang tak lazim, barangkali. Dari kantor di Jakarta Selatan, tim menggunakan kereta api menuju Surabaya selama sekitar sepuluh jam. Sepanjang mata memandang, sawah-sawah menghampar dimana-mana. Petani-petani mencangkul di antara rumah-rumah gubuk.</p>
<p>Dari Surabaya, tim melanjutkan perjalanan ke Makassar dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Tidar (lihat <strong><a href="http://www.lenteratimur.com/bahtera-laju-ke-utara/" target="_blank">Bahtera Laju ke Utara</a></strong>). Jarak tempuhnya sekitar empat hari empat malam. Jika ditarik garis lurus melalui jalur yang dilewati, yakni Surabaya, Makassar, Pare-Pare, Balikpapan, dan Tarakan, maka jaraknya mencapai sekitar dua ribu kilometer. Jika ditaruh di peta Eropa Barat, maka ia setara dengan jarak dari London (Inggris) ke Rumania, atau dari Eropa Barat ke Eropa Timur.</p>
<p>Waktu tempuh laut dari Surabaya ke Makassar, dengan Tidar, adalah sekitar satu hari dua malam. Kala itu, kedua pelabuhan ini tampak sama sibuk. Kapal-kapal banyak terparkir atau berlalu lalang. Di sini penumpang kapal yang naik mulai beragam. Ini terlihat dari berbeda-bedanya bahasa dan logat Melayu/Indonesia yang digunakan. Pada sejumlah penumpang yang dijumpai, banyak yang bertujuan ke Nunukan.</p>
<p>“Saya mau ke Nunukan,” ujar seorang pemuda asal Jawa bersama kawan-kawannya. Entahlah jika mereka akan masuk ke Malaysia atau tidak. Sebab, orang yang mau ke Malaysia biasanya masuk dari Nunukan.</p>
<p>Dari Makassar, kapal kemudian bergerak ke Pare-Pare dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam. Selama perjalanan, kapal menyisiri pesisir Sulawesi. Daratan selalu ada di ujung pandang. Namun, berbeda dengan Surabaya atau Makassar, pelabuhan Pare-Pare saat itu tampak lebih sibuk. Bukan dengan banyaknya kapal, melainkan kesibukan aktivitas angkut barang. Di sini banyak barang yang dimasukkan ke kapal. Umumnya berupa hasil tanaman, seperti bawang, bawang merah, telur, dan sebagainya.</p>
<p>Setelah itu, kapal laju ke Balikpapan dengan waktu tempuh sekitar setengah hari satu malam, dengan pemandangan kilang-kilang minyak dan tongkang-tongkang batu bara dimana-mana. Aktivitas di pelabuhan Balikpapan sendiri relatif cukup ramai. Banyak barang yang tadi dibawa dari Pare-Pare kemudian diturunkan di sini.</p>
<p>Kemudian, dari Balikpapan, perjalanan dilanjutkan menuju Tarakan dengan waktu tempuh sekitar satu hari satu malam, tetap dengan pemandangan berupa kilang minyak dan tongkang batu bara. Di Tarakan inilah tim turun, sedangkan kapal laju kembali ke Nunukan sebagai pelabuhan terakhir.</p>
<div id="attachment_6023" class="wp-caption aligncenter" style="width: 618px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Motor-di-Sungai-Kayan.jpg"><img class="size-full wp-image-6023" title="Sungai Kayan" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Motor-di-Sungai-Kayan.jpg" alt="Dari atas perahu di Sungai Kayan" width="608" height="405" /></a><p class="wp-caption-text">Di atas perahu di Sungai Kayan, menuju Tanjung Selor.</p></div>
<p style="text-align: left;"><strong>Sedikit Membelah Borneo</strong><br />
Sore usai pelatihan, yakni pada 19 Juni 2012, tim LenteraTimur.com bersiap untuk ke Jakarta. Karena ingin mengetahui sedikit mengenai wajah Kalimantan, pun karena biayanya lebih murah, tim tak berangkat melalui udara. Dari Tarakan, tim memilih untuk mengarungi sungai dan menjejaki darat.</p>
<p>Sungai Kayan, yang menjadi pertemuan sungai dengan laut, adalah lintasan pertama yang harus dilalui untuk menuju Tanjung Selor, Bulungan, yang masih berada dalam Provinsi Kalimantan Timur. Dengan menggunakan <em>speed boat</em>, waktu tempuhya sekitar satu jam 15 menit. Di Bulungan inilah kisah tragis tersuar dari mulut seorang cerdik pandai. Ya, ada yang disebut <a href="http://www.lenteratimur.com/malam-jahanam-di-bulungan/" target="_blank">Tragedi Bulungan</a> memang, yang terjadi pada 1964, yang dilakukan melalui pembantaian orang-orang Kesultanan Bulungan.</p>
<p>Di Bulungan inilah terasa nuansa sebuah kota tua. Ia berbeda dengan, katakanlah, Medan, Jakarta, atau Bandung, yang kota tuanya bercitarasa Eropa. Di sini kota tua benar-benar kota tua Melayu. Rumah-rumah panggung lengkap dengan ornamen khasnya berjejer di sana sini.</p>
<p>Karena sudah malam, tim pun menginap di Bulungan. Besok perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Banjarmasin. Tapi tak bisa cepat-cepat untuk mencapai tujuan. Ini Kalimantan, yang oleh antropolog-antropolog Eropa dahulu kerap disebut sebagai benua (<em>continent</em>). Entah kebetulan atau tidak, orang Dayak juga menyebut wilayahnya sebagai <em>banua</em>. “Benua”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai daratan yang amat luas sehingga di bagian tengah tak mendapat pengaruh langsung dari angin laut. Apakah dengan demikian Kalimantan atau Borneo memang adalah sebuah benua, bukan pulau? Bisa jadi ya.</p>
<p>Dari Bulungan, tim bergerak menuju Berau dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Di sini perjalanan betul-betul penuh goncangan. Sepanjang lebih dari 60 kilometer, kondisi jalan betul-betul rusak, bergelombang, dan berdebu. Seisi penumpang roda empat terguncang-guncang (lihat video di bawah). Dan di sinilah area <a href="http://www.lenteratimur.com/jatam-kalimantan-timur-bukan-toilet-tambang/" target="_blank">pertambangan</a> batu bara raksasa yang kontroversial banyak ditemukan.</p>
<p>Selepas Berau, jalanan mulai sedikit membaik. Tapi itu tak berarti pengemudi lantas bisa memacu kendaraannya dengan lega. Di satu titik, ada kantor militer yang mewajibkan seluruh kendaraan berjalan pelan di sepanjang depan kantornya.</p>
<p>“Di sini harus pelan-pelan. Kalau tidak, wah… kita dikejarnya sampai manapun, terus disuruh hitung batang pagar,” ujar Kepin, sopir asal Yogyakarta yang sudah lama hidup di Tanjung Selor.</p>
<div id="attachment_6025" class="wp-caption aligncenter" style="width: 599px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Area-Pertambangan.jpg"><img class="size-full wp-image-6025" title="Area Pertambangan" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Area-Pertambangan.jpg" alt="" width="589" height="417" /></a><p class="wp-caption-text">Sejumlah titik area pertambangan di Kutai Timur.</p></div>
<p>Jelang malam, laju kendaraan mulai memasuki Kutai Timur dengan waktu tempuh sekitar sepuluh hingga sebelas jam, Bontang dengan waktu tempuh sekitar tiga jam, <a href="http://www.lenteratimur.com/samarinda-meradang/" target="_blank">Samarinda</a> sekitar tiga jam, lalu Balikpapan sekitar tiga jam. Jika ditotal, maka perjalanan Bulungan takat Balikpapan, dengan kecepatan sedang, memakan waktu sekitar 22 jam.</p>
<p>Karena tiba di Balikpapan saat tengah malam, pun badan sudah begitu letih, tim memilih untuk menginap. Di Balikpapan tim kembali berjumpa dengan dua perempuan kulit putih dari Spanyol. Sebelumnya, di salah satu tempat macam perkampungan imigran/transmigran Jawa di antara Bulungan dan Balikpapan, tim memang sudah berjumpa dengan keduanya. Saat bercakap-cakap di Balikpapan, keduanya tampak gusar dan marah. Pasalnya, mereka ketinggalan pesawat menuju Makassar karena sopir travelnya terlalu banyak istirahat.</p>
<p>“Di tengah jalan kami sudah bilang supaya jangan terlalu lama. Tapi dia (sopirnya-red) bilang, <em>don’t worry</em>,” ujar seorang di antaranya dengan bahasa Inggris. Kepalanya geleng-geleng.</p>
<p>Keesokan harinya, tim kembali bergerak menuju Penajam melalui Teluk Balikpapan. Penyeberangan ke Penajam ini sebetulnya hanya sekitar satu jam 45 menit. Namun, yang lama adalah mengantri kendaraan untuk masuk ke kapal feri, yang ketika itu menghabiskan waktu sekitar enam jam. Karena terlalu lama, tim melihat harga tiket pesawat dari Banjarmasin ke  Jakarta sudah berubah, dari yang tadinya sekitar 500-an ribu rupiah menjadi sekitar 1,2 juta rupiah. Dari koran <em>Kaltim Post</em> di hari yang sama, memang ada berita bahwa sudah terjadi lonjakan harga tiket pesawat karena liburan anak sekolah.</p>
<div id="attachment_6027" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Tabalong.jpg"><img class="size-full wp-image-6027" title="Tabalong" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Tabalong.jpg" alt="" width="277" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Antrian kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Tabalong, Kalimantan Selatan.</p></div>
<p>Sesampai di Penajam, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Paser dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Paser sendiri masih termasuk Kalimantan Timur. Dan ini membuat provinsi ini tampak begitu besar. Dengan hanya menyusuri Tarakan sampai Paser, dan tidak berputar-putar di dalamnya, total waktu yang dibutuhkan, termasuk darat dan laut/sungai dan tanpa menghitung kemacetan di pelabuhan atau waktu menginap, adalah sekitar 29 jam atau lebih dari satu hari satu malam. Luas yang sedemikian, ditambah sulitnya sarana transportasi, membuat masyarakat Krayan, misalnya, harus menggunakan pesawat udara hanya untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk. Karena itulah sebagian wilayah Kalimantan Timur ingin diseparasi untuk menjadi Kalimantan Utara.</p>
<p>Selanjutnya, dari Paser ke Banjarmasin, waktu tempuh mencapai sekitar delapan jam. Berbeda dengan Bulungan ke Berau, atau pada umumnya hingga Kutai Timur atau Samarinda, kondisi jalan dari Paser menuju Banjarmasin cukup baik. Tidak ada jalan tanah yang amat berdebu atau jalan bergelombang karena rusak. Secara keseluruhan, jalanan yang ditempuh ini pada umumnya naik turun, berbukit-bukit.</p>
<p>Karena tiba tengah malam, maka tim menginap di Banjarmasin. Rencana semula untuk menggunakan kapal tipe <em>roll on – roll off</em> (roro) dibatalkan. Tubuh tak lagi kuat menanggung keinginan. Karena itu, pesawat udara pun dipilih untuk langsung menuju Jakarta, dengan waktu tempuh sekitar satu jam 30 menit. Dan perjalanan di sepanjang timur Borneo pun berakhir di ujung selatan tanah raya yang kaya ini.</p>
<p><strong><br /><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/FP.jpg" alt="media" /><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/dari-timur-banua-borneo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<enclosure url="http://www.youtube.com/watch?v=FChk9VL95I0" length="1" type="application/unknown"/>
	</item>
		<item>
		<title>Mengejar Angin di Atap Sinabung</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/mengejar-angin-di-atap-sinabung/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/mengejar-angin-di-atap-sinabung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2012 14:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adela Eka Putra Marza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Berastagi]]></category>
		<category><![CDATA[Bus SInabung]]></category>
		<category><![CDATA[tanah deli]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Karo]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=5940</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang penumpang naik ke atas bus justru ketika bus sedang berjalan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5941" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/1.jpg"><img class="size-full wp-image-5941" title="Atap Bus" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/1.jpg" alt="" width="601" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Mengejar angin di atap bus, di jalanan sempit berkelok-kelok dan menanjak selepas dari Kota Medan. Foto-foto: Adela Eka Putra Marza.</p></div>
<p style="text-align: left;">Tanah Karo dan Berastagi di Sumatera Utara sudah lama dikenal orang, bahkan hingga ke tanah yang jauh. Sejuta kenangan menunggu di sana: wisata kuliner di malam hari, matahari terbit di Puncak Sinabung dan Sibayak, kehangatan cuaca di Lau Sidebuk-debuk, hingga berburu jeruk di Pajak Buah. Tapi, ada satu yang tak boleh dilewatkan: mengejar angin sembari menguji nyali di atap bus kecil Sinabung Jaya.</p>
<p>Itu pula yang saya cari sore itu. Hawa dingin sisa hujan yang baru saja berhenti mulai menyelinap di balik baju. Ketika itu kami, saya dan tiga orang teman, menaiki tangga yang terpasang di bus yang dinamakan sama dengan gunung tertinggi di Tanah Karo itu. Kami naik ke atap bus, selepas melewati kantor polisi di Pancur Batu, Deli Serdang, sekitar tiga puluh menit dari Simpang Pos Medan yang menjadi markas bus-bus kecil ini di Tanah Deli.</p>
<p>Tak lama, kami pun mengatur tempat untuk bersila di atap bus kecil itu, di antara tumpukan belanjaan milik <em>inang-inang </em>(ibu-ibu, bahasa Batak) hasil dari menjual jeruk dan sayur hasil Tanah Karo. Ya, kami benar-benar sedang berada di atap sebuah bus, dalam perjalanan dari Medan menuju Berastagi, kota kecil di dataran tinggi Bukit Barisan bagian Sumatera Utara.</p>
<div id="attachment_5942" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Bus-Sinabung.jpg"><img class="size-full wp-image-5942" title="Bus Sinabung" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/Bus-Sinabung.jpg" alt="" width="600" height="433" /></a><p class="wp-caption-text">Kiri: Angin dingin dari Berastagi terus menampar-nampar wajah sepanjang perjalanan. Atas: Bus Sinabung yang disesaki penumpang, membuat atapnya juga menghasilkan uang. Bawah: Barisan mobil yang mengular di jalanan Medan-Berastagi.</p></div>
<p>Saya dan teman-teman membaur dengan sejumlah pemuda yang juga ikut “menumpang” di atas bus itu. Sinabung kecil meliuk-liuk membelah jalanan Tanah Karo yang berkelok-kelok seperti ular. Sang sopir begitu lincah memainkan kemudi mobilnya, menyalip dengan tingkahan klakson yang berirama tanpa mengurangi kecepatan meskipun jalanan sempit; hanya cukup untuk dua kendaraan roda empat yang berlawanan arah.</p>
<p>Sopir Batak memang terkenal lincah dalam mengendarai mobil, termasuk juga mobil kecil seperti angkutan kota (angkot). Percaya tak percaya, ternyata angkot dan mini bus yang bersileweran di kota Jakarta pun kebanyakan dikuasai orang Batak, tentu saja sebagai sopir. Coba sesekali sapa mereka dengan panggilan “Apa kabar, <em>Lae</em>?”. Maka bahasa Batak pun akan mengalir dengan logatnya yang keras dari mulut mereka.</p>
<p>Kembali ke atap Sinabung. Seperti hari-hari libur lain, jalanan menuju Berastagi malam ini juga macet. Dari atas, puluhan mobil terlihat harus merangkak di beberapa ruas jalan. Jalan yang sempit memaksa para sopir Batak, yang biasanya suka kebut-kebutan, terpaksa harus sedikit menahan kemudi. Sesekali klakson terdengar berbunyi keras, disambut sumpah serapah karena mobil pribadi di depan berjalan pelan sekali.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, si sopir akan mencari jalan untuk mendahuluinya. Dengan liukan tajam, Sinabung kecil pun melesat kencang melintasi jalanan yang kemudian semakin menanjak. Lampu-lampu yang mulai menyala dari mobil-mobil seiring gelap malam yang telah menjeru tampak mengular, menguntit Sinabung yang kami tumpangi. Berkejar-kejaran dengan bus lain yang punya rute sama menuju Berastagi atau Kabanjahe.</p>
<p>Saya begitu menikmati perjalanan ini, mengejar angin sembari menguji nyali di antara tamparan-tamparan angin kering di wajah saya yang juga telah mengering. Ini adalah hal yang takkan pernah saya lewatkan, jika ada kesempatan dalam perjalanan menuju Berastagi. Bahkan, saya sepakat dengan pernyataan bahwa belum sah ke Berastagi jika belum mencoba uji nyali di atap bus kecil ini.</p>
<p>Pertama kali saya mendengar slogan ini adalah tujuh tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya juga menjejakkan kaki di Medan dari Tanah Minang. Sampai sekarang, inilah yang selalu saya bangga-banggakan kepada teman-teman yang baru datang ke Berastagi. Ahai… Anak muda mana pula yang tak akan tergiur adrenalinnya dengan bus umum bersejarah di Tanah Karo ini.</p>
<p>Selain Sinabung, ada juga nama Borneo dan Sutera (Sumatera Transport) yang tertera di badan bus-bus kecil yang melewati jalanan Medan-Berastagi itu. Mobil merek Toyota jenis engkel colt diesel itu tentunya menjadi unik di antara jenis kendaraan-kendaraan mewah yang muncul saat ini. Sinabung menggunakan mobil Toyota itu sejak 1981, dua puluh tahun setelah salah satu perusahaan transportasi besar di Tanah Karo ini berdiri, yakni tepat pada 1 April 1961.</p>
<p>Tentu saja menikmati angin di atap bus umum ini menjadi sensasi tersendiri dalam perjalanan ke Tanah Karo. Meski sebenarnya sangat berbahaya dan beresiko tinggi terhadap keselamatan, duduk di atap bus ini seakan sudah menjadi “tradisi” bagi masyarakat Tanah Karo dan Medan umumnya, terutama bagi para pemuda laki-laki. Terkadang ada juga gadis-gadis remaja yang ikut-ikutan, mungkin hanya untuk sekedar cari sensasi bersama sang pacar.</p>
<p>Saya tidak tahu pasti kenapa kebiasaan ini bisa menjadi mentradisi. Namun, barangkali, bisa jadi karena sempitnya ruang di dalam bus yang seringkali penuh penumpang. Sumpek. Belum lagi bau bahan bakar mobil yang sangat menyengat. Jika tak biasa, perut Anda akan mual dan memuntahkan semua isinya. Hal inilah yang membuat para penumpang menjadi tak suka<em> </em>berada di dalam bus.</p>
<p>Akan tetapi, fenomena ini sekarang sudah mulai jarang terlihat. Pihak polisi mulai rajin melakukan razia di sejumlah titik di jalanan Medan-Berastagi. Selain itu, menurut kernet bus Sinabung yang saya tumpangi, sejak 2005, hal itu juga dipicu oleh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan naiknya ongkos Medan-Berastagi, dari Rp. 5 ribu menjadi Rp. 8 ribu. Saya tak tahu apa hubungannya, tapi begitulah cerita dia.</p>
<div id="attachment_5943" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/5.jpg"><img class="size-full wp-image-5943" title="Berastagi" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/06/5.jpg" alt="" width="585" height="438" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Berastagi malam hari dengan hawa dingin yang menusuk.</p></div>
<p>Saat ini, jika sopir membiarkan para penumpang naik ke atap bus, maka petugas polisi tidak akan segan-segan menilang. Uang puluhan ribu pun akan melayang, berpindah ke tangan si petugas. Kalau tak salah, saya sudah tiga kali diturunkan polisi dari atap bus ini. Kami yang di atap tertangkap mata oleh mereka. Terpaksa bus berhenti, dan kami pun turun satu per satu. Sopir bus perang urat syaraf dengan petugas polisi.</p>
<p>Meski begitu, masih ada satu dua sopir yang mencuri-curi kesempatan, terutama dalam perjalanan di malam hari. Bahkan, terkadang penumpang naik ke atas bus justru ketika bus sedang berjalan. Mungkin bisa Anda bayangkan betapa mengerikan tantangan itu; bergelantungan di pinggir bus, dan kemudian menaiki atap lewat tangga kecil di sisi kirinya. Saya pernah melakukannya. Itulah sensasi yang sebenarnya, “menantang maut”.</p>
<p>Setelah melalui jalan berkelok-kelok melewati daerah Sembahe, Sibolangit, Bandarbaru, dan Penatapan selama dua jam lebih, dengan ongkos Rp. 8 ribu per orang, tibalah kami di pusat Kota Berastagi. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Masih ada masa untuk mencoba wisata kuliner malam hari di Berastagi yang hawa dinginnya kian menusuk tulang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/mengejar-angin-di-atap-sinabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja yang Tersuruk di Danau Toba</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/senja-yang-tersuruk-di-danau-toba/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/senja-yang-tersuruk-di-danau-toba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 06:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adela Eka Putra Marza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[adela eka putra marzan]]></category>
		<category><![CDATA[dermaga tigaraja]]></category>
		<category><![CDATA[kisah di tanah batak]]></category>
		<category><![CDATA[legenda danau toba]]></category>
		<category><![CDATA[legenda samosir]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan danau toba]]></category>
		<category><![CDATA[nahum situmorang]]></category>
		<category><![CDATA[parapat]]></category>
		<category><![CDATA[supervolcano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=5485</guid>
		<description><![CDATA[“Dasar anak ikan,” maki Toba.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5486" class="wp-caption aligncenter" style="width: 651px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Matahari-yang-mulai-terbenam-di-Pulau-Samosir.jpg"><img class="size-full wp-image-5486" title="Matahari Terbenam" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Matahari-yang-mulai-terbenam-di-Pulau-Samosir.jpg" alt="" width="641" height="425" /></a><p class="wp-caption-text">Matahari yang mulai terbenam di Pulau Samosir. Foto-foto: Adela Eka Putra Marza.</p></div>
<p><em>O Tao Toba, raja ni sudena tao;</em><br />
<em>Tao na sumurung na lumobi ulimi;</em><br />
<em>Molo huida rupami sian na dao;</em><br />
<em>Tudos tu intan do denggan jala uli.</em><br />
<em>Barita ni hinaulim di tano on;</em><br />
<em>Umpama ni hinajogim di portibi on;</em><br />
<em>Mambahen sihol saluhut ni nasa bangso;</em><br />
<em>Memereng ho, o Tao Toba na uli.</em></p>
<p>(Oh Danau Toba, raja dari segala danau;<br />
Danau yang tiada tertandingi akan keindahanmu;<br />
Kalau kupandang dari jauh;<br />
Seperti intan cantiknya dirimu.<br />
Keindahanmu telah tersiar di dunia ini;<br />
Layaknya pesona kekuatanmu di dunia ini;<br />
Memberi kerinduan pada semua bangsa;<br />
Memandangmu, oh Danau Toba yang indah.)</p>
<p><strong>“O Tao Toba &#8211; Nahum Situmorang”</strong><strong></strong></p>
<p>Siapa tak kenal Danau Toba? Danau yang mengelilingi Pulau Samosir ini adalah salah satu <em>landmark</em> Sumatera Utara atau Tanah Batak. Ia sudah lama menjadi penarik hati wisatawan, selain Bukit Lawang dan Pulau Nias. Bahkan, danau ini sempat dinominasikan dalam pemilihan tujuh keajaiban dunia versi alam yang dilansir oleh salah satu lembaga internasional.</p>
<p>Akan tetapi, meski tersohor, Danau Toba bukan tak  bernoda. Adalah masalah lingkungan yang membuatnya gugur dalam seleksi pemilihan keajaiban alam itu. Di antara moleknya danau, ada limbah yang masuk ke perairan Danau Toba, yang salah satunya disebabkan oleh pakan ikan keramba yang berserak di permukaan danau. Dan soal pencemaran lingkungan ini menjadi masalah serius bagi Danau Toba.</p>
<p>Pakan-pakan ikan tersebut mengandung zat kimia yang mencemari air danau. Zat kimia tersebut juga semakin memicu pertumbuhan enceng gondok yang merusak keindahan danau. Alhasil, potensi besar Danau Toba tenggelam begitu saja ke dasar danau hanya karena ada yang tak becus menjaga ‘keajaiban alam’ ini.</p>
<p>Uang yang dihasilkan dari Danau Toba memang cukup banyak. Tapi, jika itu malah merusak keasrian dan keindahannya, apalah guna? Ini bukan hanya sekedar masalah mengeruk pundi-pundi rupiah dari sumber daya alam ini. Rupiah-rupiah itu masih jauh kalah berharga dibandingkan perasaan jiwa yang tenang dan nyaman kala  menikmati panorama Danau Toba.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Danau Toba tak hadir begitu saja. Keberadaannya diiringi oleh perspektif yang kisahnya mengalir dari generasi ke generasi. Diceritakan bahwa dahulu kala hiduplah seorang petani miskin di Tanah Batak. Toba, begitulah namanya. Hidup dari alam sekitar; menanam padi di sawah dan mencari ikan di sungai. Terkadang nasib memang tak dapat diduga. Si petani mendapatkan seekor ikan yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Ikan tersebut menjelma menjadi seorang gadis cantik yang menawan.</p>
<div id="attachment_5489" class="wp-caption aligncenter" style="width: 597px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Penumpang-kapal-penyeberangan-yang-tampak-kelelahan.jpg"><img class="size-full wp-image-5489" title="Penumpang Kelelahan" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Penumpang-kapal-penyeberangan-yang-tampak-kelelahan.jpg" alt="" width="587" height="391" /></a><p class="wp-caption-text">Penumpang kapal penyeberangan tampak kelelahan.</p></div>
<p>Toba pun mempersuntingnya sebagai istri. Tapi, ada satu syarat yang harus dipenuhinya. Ia harus berjanji tidak akan pernah mengungkit masa lalu sang istri, yang merupakan jelmaan ikan. Jika ia melanggar sumpahnya, maka sang isteri akan kembali ke wujud semula. Itu akan menjadi pertanda malapetaka bagi kehidupan Toba. Dan Toba pun memenuhi permintaan tersebut.</p>
<p>Hidup terus berjalan, waktu terus bergulir. Toba dan istrinya lantas dikaruniai seorang anak. Samosir, begitu mereka menamainya. Namun, si anak tak seperti harapan orang tua. Samosir punya perangai buruk. Suatu ketika, saat ibunya menyuruh Samosir mengantarkan nasi untuk bapaknya, Samosir malah memakan nasi itu sendiri. Hanya tulang belulang ikan yang tersisa dalam bungkus nasi tersebut. Toba begitu marah menghadapi perilaku sang anak.</p>
<p>“Dasar anak ikan,” maki Toba.</p>
<p>Dan sumpah pun terlanggar. Sang istri menangis dan pergi meninggalkan Toba. Ia pulang ke sungai asalnya, tempat ia ditemukan, dan kembali menjadi ikan. Hujan lebat turun terus menerus hingga membanjiri kawasan yang begitu luas. Semuanya tenggelam. Dan itulah Danau Toba. Sementara, Samosir kehilangan ibunya dan terdampar di sebuah bukit, yang kelak menjadi Pulau Samosir.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Tak ada yang bisa memastikan soal kebenaran perspektif yang saya ceritakan tadi. Tapi orang Batak seringkali meninabobokan anak-anaknya dengan dongeng tersebut setiap malam. Dongeng tentang desa petani miskin yang kemudian berubah menjadi Danau Toba, salah satu danau terluas dan terdalam di dunia.</p>
<p>Danau Toba punya luas 1.265 kilometer per segi dan panjang 90 kilometer. Kedalamannya rata-rata 450 meter dengan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Dan Pulau Samosir terbentang di atasnya dari utara ke selatan. Di banding negara tetangga, Singapura, Danau Toba bahkan jauh lebih luas.</p>
<p>Dalam perspektif geologi, Danau Toba diperkirakan terbentuk akibat letusan supervolcano (gunung api raksasa) sekitar puluhan ribu tahun yang lalu. Letusan ini kemudian menimbulkan ruang kosong di tubuh gunung api ini. Dengan pengaruh gaya tarik bumi, tubuh gunung api pun runtuh ke dalam, dan terbentuklah kaldera.  Kaldera ini, secara evolusi, kemudian berisi air yang melimpah dari dataran di sekelilingnya. Dan terbentuklah Danau Toba. Sedangkan Pulau Samosir yang berada ditengahnya muncul karena tekanan ke atas magma yang belum keluar.</p>
<p>Letusan Supervolcano Toba yang paling dahsyat diperkirakan terjadi sekitar 75 ribu tahun yang lalu. Hasil penelitian Bill Rose dan Crag Chesner dari Michigan Technological University menyebutkan bahwa letusan ini memuntahkan ribuan material dan abu vulkanik yang tertiup angin ke barat selama dua minggu. Debu vulkanik ini telah menyebar ke hampir separuh bumi, dari Cina sampai Afrika Selatan.</p>
<p>Letusan terjadi selama satu minggu, dan lontaran debunya mencapai sepuluh kilometer di atas permukaan laut. Peristiwa ini menyebabkan kematian massal, dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini menyusutkan jumlah manusia sampai enam puluh persen dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta orang. Letusan yang sama juga turut menyebabkan terjadinya apa yang disebut zaman es – meskipun para ahli masih memperdebatkan hal ini.</p>
<p>Menurut banyak pakar, dataran tinggi di kawasan Danau Toba merupakan satu dari dua supervolcano yang pernah terjadi dan teridentifikasi di dunia, selain supervolcano Yellowstone di Amerika. Supervolcano Toba memiliki tingkat letusan mencapai skala 8 VEI (Volcano Explosivity Index/skala maksimum).</p>
<p align="center">* * *</p>
<div id="attachment_5491" class="wp-caption aligncenter" style="width: 645px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Turis-asing-yang-sedang-nego-sewa-kapal-di-Dermaga-Tigaraja-Parapat.jpg"><img class="size-full wp-image-5491" title="Turis Asing " src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Turis-asing-yang-sedang-nego-sewa-kapal-di-Dermaga-Tigaraja-Parapat.jpg" alt="" width="635" height="424" /></a><p class="wp-caption-text">Turis asing sedang negosiasi ihwal sewa kapal di Dermaga Tigaraja, Parapat.</p></div>
<p>Matahari tampak terburu-buru kembali ke peraduannya, ketika kami, saya dan seorang teman, menginjakkan kaki di Parapat, kota kecil di Kabupaten Simalungun yang berada di tepian Danau Toba. Hanya sempat menghirup bau mangga Parapat yang menggoda selera, kami harus berkejaran dengan waktu; berharap masih ada kapal yang bisa ditumpangi untuk menyeberang ke Pulau Samosir. Ya, tujuan kami memang pulau kecil yang berada di tengah-tengah Danau Toba tersebut.</p>
<p>Syukur, kapal terakhir yang akan membawa penumpang mengarungi “samudera” Danau Toba ternyata masih terdampar di Tigaraja, dermaga kecil di pinggir Pasar Parapat. Seraya mengambil napas beberapa saat, kami memperhatikan dua orang turis asing yang sedang bernegosiasi dengan beberapa pemuda setempat dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.</p>
<p>Kami pun menaiki kapal. “Sumber”, begitu tertulis di bagian depannya dengan huruf besar. Jurusan Tomok – Tigaraja. Tak ada yang istimewa dari kapal ini. Biasa saja, hanya sebuah kapal kecil pengangkut penumpang yang ingin menyeberang ke Pulau Samosir. Saya juga tak mau mencari keunikannya. Yang ada di benak Saya, sudah saatnya melepas penat dengan hembusan semilir angin sore Danau Toba. Kami memilih duduk di bagian belakang, dekat buritan. Biar lebih nyaman menikmati karya Tuhan tersebut.</p>
<p>Akhirnya tiba waktunya kapal berangkat. Mesin kapal mulai terdengar berisik. Perlahan, kapal kecil yang kami tumpangi bergerak membelah hamparan air tawar Danau Toba. Riak-riak kecil bermain-main di buritan kapal. Nun jauh di depan mata, Pulau Samosir tampak diselimuti kabut tipis. Saya tak bisa mengelak untuk mengucapkan bahasa kekaguman.</p>
<p>Dengan lima lembar uang rupiah ribuan, Anda juga dapat menikmati panorama Danau Toba dari kapal kecil ini, seperti yang saya nikmati kali ini: menghirup angin danau yang khas sembari menikmati tamparan-tamparan kecilnya di wajah saya. Anda rasakan saja sendiri ketika nanti berada di buritan kapal kecil ini.</p>
<p>Sore itu, kapal yang kami tumpangi tak dipenuhi oleh penumpang. Mungkin karena matahari sudah mulai semakin tenggelam. Alhasil, saya pun bisa memilih posisi tempat duduk sesuka hati. Mencari posisi yang bagus dan nyaman untuk kembali mengagumi Danau Toba.</p>
<p>Aroma solar yang menjadi bahan bakar kapal kecil ini cukup menusuk hidung. Jika tak mampu menguasai diri, mungkin saya sudah mual. Ditambah lagi dengan goyangan ombak yang membuai-buai kapal, meski tak sekuat ombak di laut lepas. Tapi bisa saja Anda “mabuk danau” jika tak mampu menghilangkannya dengan menatap sudut-sudut Danau Toba  yang semakin gelap.</p>
<p>Di belakang kami, kota kecil Parapat tampak semakin menjauh. Hotel-hotel berbaris rapi di sepanjang garis pinggir danau. Jauh di belakangnya lagi, bukit barisan menjadi benteng raksasa bagi danau kebanggaan orang Sumatera ini.</p>
<p>Jauh di depan kami, gurat-gurat kuning sisa sinar matahari tadi siang mulai membayang di ufuk barat, di garis batas antara permukaan danau dengan langit yang juga membiru, menandingi birunya Danau Toba. Lukisan emas dari angkasa yang bermetamorfosa di permukaan Danau Toba itu semakin membuat takjub. Sungguh, Saya tak mampu lagi mendeskripsikannya dengan kata-kata.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Kapal kecil yang kami tumpangi semakin merapat ke Pulau Samosir. Sebuah kapal kecil yang lain berseberang arah dengan kami, bergerak perlahan menuju Parapat. Juga tak penuh dengan penumpang. Mungkin karena senja di Danau Toba saat itu sudah semakin tersuruk. Hanya sinar lampu-lampu kecil dari rumah-rumah penduduk Samosir yang mulai menyala, menggantikan nuansa emas sisa sinar matahari yang membias di hamparan Danau Toba.</p>
<p>Kapal kami pun mulai merapat di dermaga kecil, Pelabuhan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Tomok. Banyak kapal lain yang juga berlabuh di sana. Mesin kapal mati. Para penumpang pun turun menuju dermaga. Perlahan, segala keindahannya pun sirna. Tapi jelas, ketakjuban itu belum juga hilang sampai saat ini.</p>
<p>Saya tak ingin berlama-lama di dermaga ini. Mencari penginapan adalah hal pertama yang harus segera dilakukan. Dan kemudian menikmati mimpi bersama deburan ombak-ombak kecil Danau Toba, di Desa Tomok malam ini. Tentu saja bersama iringan lirik lagu Nahum Situmorang yang terus terngiang di telinga. ”<em>O Tao Toba, raja ni sudena tao;</em> <em>tao na sumurung na lumobi ulimi</em>.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/senja-yang-tersuruk-di-danau-toba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“(LenteraTimur) Journey to Deli”</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/%e2%80%9clenteratimur-journey-to-deli%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/%e2%80%9clenteratimur-journey-to-deli%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 12:48:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Arif Budiman]]></category>
		<category><![CDATA[edi cholin naim]]></category>
		<category><![CDATA[intas timur sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[ken miryam vivekananda fadlil]]></category>
		<category><![CDATA[kosmopolitan medan]]></category>
		<category><![CDATA[martin aleida]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis untuk kesederajatan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah melayu]]></category>
		<category><![CDATA[rumah panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Soffa Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[tm. dhani iqbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=5401</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ditotal dari Jakarta, panjangnya mencapai sekitar 2400 kilometer, yang menyedot solar sekitar Rp. 700 ribu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5403" class="wp-caption alignleft" style="width: 320px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Martin-membaca-peta.jpg"><img class="size-full wp-image-5403" title="Martin membaca peta" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Martin-membaca-peta.jpg" alt="" width="310" height="232" /></a><p class="wp-caption-text">Martin Aleida sedang mencari jalur menuju Medan. Foto-foto: Redaksi LenteraTimur.com.</p></div>
<p>“Siapa yang mau menatar wartawan sejauh ini? Tiga puluh tahun saya jadi wartawan <em>bah</em>.., tak pernah melakukan perjalanan senekat ini. Ini perjalanan gila…”.</p>
<p>Martin Aleida berseloroh di jok tengah di dalam mobil yang sedang melaju membelah perkebunan demi perkebunan di jalur timur Sumatera. Saat itu, Tim LenteraTimur.com sedang mengarah ke Jakarta, usai melakukan pelatihan jurnalistik “<a href="http://www.lenteratimur.com/25-%E2%80%93-28-januari-2012-medan-%E2%80%93-pelatihan-jurnalistik-%E2%80%9Cmenulis-untuk-kesederajatan-i/" target="_blank">Menulis untuk Kesederajatan” (I)</a>,  Medan, 25-28 Januari 2012.</p>
<p>Ini memang perjalanan nekat. Tim pelatihan jurnalistik LenteraTimur.com, yang terdiri dari TM. Dhani Iqbal, Ken Miryam Vivekananda Fadlil, Arif Budiman, Edi Cholin Naim, dan Martin Aleida, berangkat dari Jakarta menuju Medan dengan menempuh jalan penderitaan. Naik mobil sendiri! Nyetir sendiri!</p>
<p>“Aku tak ikut kalian naik pesawatlah,” ujar Martin Aleida pada saat rapat perencanaan, beberapa minggu sebelum tenggat pelaksanaan pelatihan.</p>
<p>Redaktur senior LenteraTimur.com ini memang takut naik maskapai penerbangan Indonesia. Martin membayangkan, sebelum naik dirinya sudah gemetar membayangkan para penumpang yang jadi “teroris” dan mengancam penumpang dengan terus menyalakan <em>handphone</em>, meski pesawat sudah siap tinggal landas. Ketika pesawat belum berhenti, dan sinyal kencangkan ikat pinggang masih melotot di depan mata, para “teroris” tadi sudah bangkit, lantas mengobrak-abrik kabin, tanpa minta maaf. Tak peduli dengan kepala orang lain, yang jelas-jelas adalah manusia.</p>
<p>Semula Martin meminta berangkat lebih dulu dengan menumpang kapal laut. Pilihan ini tak pelak membuat yang muda-muda merasa tak enak. Ini soal kesetiakawanan!</p>
<p>“Eh, tapi Bang Martin betul juga. Tanpa pesawat, ongkos transportasi jadi lebih murah juga,” sahut Ken.</p>
<p>Kemudian tim membayangkan, jika naik kapal laut, tak bakal ada yang nampak di sepanjang perjalanan kecuali laut yang membosankan. Bikin muntah. Ketika tercetus ide menggunakan mobil, Martin pun langsung bangkit dari kursi dan teriak, “Setuju!”</p>
<p>Namun, Martin utarakan satu syarat. Pulangnya, tim harus melewati kota kecil bernama Tele di kepala Danau Toba, supaya bisa menikmati hamparan Sianjurmula-mula, lembah indah yang menakjubkan, di mana manusia Batak yang pertama diturunkan ke dunia. Ini akan menjadi sebuah perjalanan nostalgia baginya, barangkali.</p>
<p>Adapun Soffa Ihsan, redaktur LenteraTimur.com, seorang pemikir jebolan jurusan filsafat di Yogyakarta, bersikap “filosofis”. Dia memilih cinta dan kasih sayang, bukan petualangan darat dengan goncangan mobil yang pasti akan membuat dia sukar merenungkan kembali kesahihan pikiran orang Jerman macam Habermas atau orang Perancis macam Foucault.</p>
<p>“Kalau didengar orang, bukan Foucault (dibaca foko-red), tapi <em>pokak</em> (pekak),” ujar Martin kembali berseloroh.</p>
<p>Soffa memutuskan untuk tetap bertanggungjawab akan tugasnya sehari-hari: mengantar (kadang-kadang) dan menjemput (rutin) istri tercinta yang bekerja di sebuah bank internasional. Ini investasi yang tidak tanggung-tanggung. Alhasil, dia memilih terbang dengan pesawat Garuda, perjalanan yang hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Karena sayang padanya, maka anggota tim yang lain pun merelakan Soffa berangkat belakangan. Dan ketika isi perut Soffa memang sempat terjungkar melalui mulut, persis di depan hotel usai tim berkeliling Medan untuk menikmati kuliner bangsa-bangsa di Asia di kawasan Kampung Keling, maka tim pun kembali merelakan Soffa untuk pulang duluan.</p>
<p>Pada 20 Januari 2012, Iqbal, pemimpin redaksi yang menjadi pengemudi tunggal, sejak <em>start</em> selepas subuh dari markas LenteraTimur.com di Jalan Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, langsung menyetel odometer untuk mengukur jarak yang akan ditempuh. Ketika udara laut masih segar, Toyota Kijang Innova sewaan yang ditunggangi tim tiba di Merak, Banten, dan langsung membeli tiket kapal <em>ferry</em> untuk menyeberang ke Lampung. Tanpa halangan berarti, para penunggang pun langsung masuk dan parkir di perut kapal.</p>
<p>Tiba di Lampung, tim bergerak melintasi perkebunan karet dan sawit (termasuk yang terlibat sengketa), kampung, kota, masjid, gereja, vihara, dan jembatan pendek maupun panjang. Tim melangkahi Bakaheuni, Bandar Lampung, <a href="http://www.lenteratimur.com/ironi-di-musi/" target="_blank">Palembang</a>, Jambi, Pekanbaru, Dumai, Rantau Prapat, Simpang Kawat, Kisaran, Tebing Tinggi, Tanjung Morawa, dan Medan dengan kemulusan jalan yang, kira-kira, 98 persennya mengagumkan. Kalau ditotal dari Jakarta, panjangnya mencapai sekitar 2400 kilometer, yang menyedot solar sekitar Rp. 700 ribu.</p>
<p>Dahulu, tak lama setelah Jenderal Suharto dengan lihai tampil ke panggung kekuasaan Indonesia, ketika jalan Trans Sumatera belum digarap dengan sungguh-sungguh, seorang wartawan harian yang terpandang di Jakarta menjelajahi jarak itu dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Dia menghabiskan waktu sebulan! Kira-kira sama dengan truk dan bus yang terseok-seok merintis jalan lintas tersebut sejak mulai berkembangnya angan-angan tentang jalan yang menghubungkan ujung dan pangkal Pulau Sumatera.</p>
<div id="attachment_5405" class="wp-caption aligncenter" style="width: 649px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Rumah-Panggung-di-Sumatera.jpg"><img class="size-full wp-image-5405" title="Rumah Panggung di Sumatera" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Rumah-Panggung-di-Sumatera.jpg" alt="" width="639" height="437" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah-rumah panggung tersebar di seluruh Sumatera. Dalam caranya sendiri-sendiri, beberapa sudah berubah bentuk.</p></div>
<p>Sepanjang perjalanan ini, orang Jawa Tengah dan Jawa Timur terlihat dimana-mana. Mereka, <a href="http://www.lenteratimur.com/medan-dan-para-kuli-yang-datang-dari-jauh/" target="_blank">para imigran</a>, didatangkan oleh kekuasaan dan menempati banyak lahan. Di kedai-kedai atau tempat-tempat usaha yang mereka buat, tertulis kata-kata yang menegaskan keberadaannya: “Jawa Asli”, “Jawa Murni”, dan semacamnya. Selain orang-orang Jawa yang tersebar di sepanjang jalur timur Sumatera ini, orang Batak, orang Bali atau orang Sunda pun tak kalah dalam menegaskan pernyataan “kami ada” melalui tulisan-tulisan di berbagai plangnya. Tentu tak kalah jualah si orang Minang, dengan sebaran kedai nasinya yang sudah tersohor ke seantero planet, tanpa katrolan kekuasaan.</p>
<p>Sementara itu, Provinsi Jambi menawarkan perjalanan yang menyejukkan hati. Entah bagaimana, teduh terasa di sepanjang jalan. Warna hijau menghimpit suasana, menenangkan perasaan mereka yang sedang musafir. Memang, memandang ke kiri dan ke kanan bisa membosankan. Yang terlintas hanyalah belantara kelapa sawit atau karet. Dan entah kenapa, tak sekalipun tampak orang yang sedang bekerja di situ.</p>
<p>Hati pun terhibur kala melintasi jalan yang diapit rumah-rumah panggung, yang tersebar di seluruh daratan Sumatera, yang terbuat dari papan dan beratap seng atau terkadang rumbia. Dalam diam, anggota tim merasa seperti menyuruk di kolong-kolong rumah tersebut, yang membawa kenangan pada modernisasi di masa lalu.</p>
<p>Memasuki Riau, terasa betul kerlingan kapitalis internasional terhadap limpahan minyak yang dikandung negeri ini. Sayang, kekayaan itu tak tercermin di jalan-jalan yang menghampar di sini. Dari seluruh perjalanan, justru di sinilah beronjolan itu muncul. Kering kerontang.</p>
<p>Suasana menjadi tambah sumpek lantaran cuaca yang menyengat. Bahkan, di gulitanya malam, Iqbal sempat menyangka kabutlah yang menyelimuti pandangannya. Tapi ternyata itu bukan kabut. Itu asap yang berasal dari api yang menyambar-nyambar ke langit dari kilang-kilang minyak yang tersebar di seantero Riau.</p>
<p>Menjelang Duri di Riau, tim mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Seperti sebelumnya, rata-rata biaya makan per orang, sekali duduk, adalah Rp. 25 ribu, terdiri dari nasi (tambah) dan dua macam lauk-pauk, plus teh atau kopi. Di sini, ibu yang punya rumah makan langsung menggiring tim ke satu pojok tertentu. Padahal, semula anggota tim ingin duduk di deretan meja yang kelihatan ditata lebih rapi dan terkesan lebih sehat.</p>
<p>“Itu untuk supir,” kata tuan rumah dengan suara agak sengit, acuh tak acuh.</p>
<p>Iqbal tergelak. Tim ini mendadak menjadi seperti tamu tak diundang. Apalagi, pada tirai pemisah ke ruangan itu, terpampang pemberitahuan bertaraf internasional dengan kesalahan ejaan yang sangat lokal: “Onli for crew”. Hmm… “Y” rupanya dilarang masuk ke sini.</p>
<p>Nasib istilah ‘<em>only’</em> kurang lebih serupa dengan istilah ‘<em>shockbreaker</em>’ yang banyak dijumpai dimana-mana. Ia dieja dengan suka-suka dan terserah kemana larinya cat: ‘Sobleker’, ‘Sok bleker’, ‘Shokbeker’, atau &#8216;Shockleker’.</p>
<p>Ibu yang punya rumah makan tak mau tahu Iqbal adalah pengemudi yang tak bisa dilampaui sopir mana pun dalam hal membawa penumpang dengan tingkat keselamatan, yang menurut Martin, paling top. Di tiap tikungan tajam dia punya <em>feeling</em> yang tajam. Kalau sudah tak tahan kepingin merokok (hanya beberapa kali dia tak kuat pada godaan candu itu), dia minta izin dulu, dan merenggangkan kaca jendela. Pokoknya (bukannya mengharapkan yang bukan-bukan), kalau LenteraTimur.com suatu ketika, karena nasib sial, terpaksa gulung layar, maka agaknya Iqballah yang paling gampang mencari pekerjaan.</p>
<p>Dalam perjalanan ke Medan, tim dua kali menginap di hotel sederhana. Seluruh anggota tim tumplek di satu kamar, dengan tarif sekitar Rp. 200 ribu. Tapi, safari LenteraTimur.com ini sepantasnya berterima kasih kepada Pertamina. Sebab, tim bisa menghemat biaya karena sebetulnya ada dua malam lagi yang dilewatkan di stasiun pengisian bahan bakar milik negara ini. Beberapa kali, di tengah malam, tim memang tak menemukan adanya penginapan di kota-kota kecil yang dilalui. Lagipula, Iqbal tahu diri, lebih baik menyerah pada mata yang terus menggoda untuk diistirahatkan.</p>
<div id="attachment_5407" class="wp-caption aligncenter" style="width: 612px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Siak.jpg"><img class="size-full wp-image-5407" title="Jembatan Siak" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Jembatan-Siak.jpg" alt="" width="602" height="362" /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan Siak di Riau.</p></div>
<p>Setelah menambah bahan bakar solar, beberapa kali mobil merapat dan parkir di tepi, diapit truk sebesar-besar rumah. Candu rokok dan kafein kopi kerap tak mempan mengusir kantuk dan kelelahan. Semua tunduk pada kemauan mata yang ingin dipejamkan. Beberapa anggota tim tidur di dalam mobil. Yang lain pura-pura melonjorkan kaki di emper sebelum terbenam dalam dengkur. Martin sendiri tergeletak dengan buku dan kacamata di sisi tubuhnya. Yang lain lagi berupaya menyegarkan ujung-ujung anggota tubuhnya dengan air wudhu di musola. Setelah salat, dia berdoa sambil berbaring, dan aman dalam penjagaan malaikat yang baik hati sampai datangnya salat subuh.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, tim LenteraTimur.com terkadang bisa melaju seperti melayang-layang membelah kebun karet dan sawit. Sesekali mobil harus merangkak seperti kura-kura yang kehausan, dan terbanting-banting di malam yang gulita menghindari lubang yang menganga seperti anak kawah gunung. Empat hari empat malam baru mencapai Medan, kota kelahiran Iqbal, yang masih diingat banyak orang sebagai ibukota Deli, gudangnya tukang bual. (Ya, tukang bual, tapi bukan tukang tipu!)</p>
<p>Dulu, Pulau Sumatera dibagi dalam tiga zona waktu: Utara, Tengah, Selatan. Sekarang tidak. Namun, perbedaan adat selalu nyata. Ia muncul dalam perbendaharaan kata maupun ungkapan. Kata-kata ‘cuci mobil’ yang dipergunakan di beberapa wilayah, misalnya, lenyap begitu tim memasuki Riau. Sejarah tak mudah dilupakan di sini, terutama Belanda yang pernah berurusan dengannya. ‘Cuci mobil’ berubah menjadi ‘door smeer’.</p>
<p>Kata-kata ini berkibar sampai ke Aceh, atau dari perspektif lain, dari Aceh sampai Riau. Memasuki wilayah Sumatera Utara, istilah ‘tambal ban’ pun tergusur, diganti dengan ‘tempel ban’, yang juga bisa berarti istilah ‘tempel ban’ yang tergusur dengan ‘tambal ban’.</p>
<p>Memasuki Medan, hawa kosmopolit kental terendus. Ini wilayah yang dihuni oleh berbagai ras: Melayu, Cina, India, atau Eropa. Dan itu belum menghitung keberadaan etnis yang amat banyak. Semuanya berkumpul dalam satu wilayah dengan bahasanya, termasuk kulinernya, masing-masing. Untuk dapat berkomunikasi, tiap-tiap yang berbeda itu menggunakan bahasa bumiputra sebagai alat berkomunikasi: Melayu. Melayu itu pun dituturkan dengan dialeknya sendiri-sendiri.</p>
<p>Selain itu, Medan juga nampak sebagai kota yang penuh gaya. Tukang becaknya pakai celana panjang, jaket, dan kacamata. Soalnya, jenis angkutan yang mereka kendalikan melaju dengan menggunakan tenaga mesin. Penumpang terasa dilindungi karena tempat duduknya terletak di samping pengemudi. Sambil menunggu penumpang, tak jarang mereka terlihat mengisi waktu dengan membaca koran. Tak jauh dari Medan, ojeg tak dikenal. Di sini namanya RBT, singkatan dari Rakyat Banting Tulang.</p>
<p><strong>“Kucing <em>titun</em>”</strong><br />
Pulang dari Medan, tim tak jadi melongok Danau Toba, karena khawatir akan terlambat tiba di Jakarta, yang berarti akan kena denda karena mobil hanya disewa untuk dua minggu. Bagaimanapun, Martin tidak terlalu kecewa. Rindu pada kampung halamannya sudah terobati dengan tiga kali mampir ke kedai “Durian Ucok”. Tak lupa dia memesan dengan ungkapan yang khas: “Hai kawan, yang ‘kucing <em>titun</em>,’ ya…,” pesannya kepada Si Ucok. “Halak kita,” ujar yang punya kedai.</p>
<p>‘Kucing titun’ adalah ungkapan orang Tionghoa dengan bahasa yang kurang lurus. Bukan karena lidahnya yang jadi kelu karena lezatnya durian. Harfiah kata-kata itu maksudnya ‘kucing tidur&#8217;, untuk melukiskan isi durian yang tebal, teronggok seperti seekor kucing yang sedang lelap-lelapnya tidur.</p>
<div id="attachment_5409" class="wp-caption aligncenter" style="width: 629px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Mesuji-Bangkit.jpg"><img class="size-full wp-image-5409" title="Mesuji Bangkit" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Mesuji-Bangkit.jpg" alt="" width="619" height="415" /></a><p class="wp-caption-text">Tulisan &quot;Mesuji Bangkit&quot; dengan gambar Sukarno terpampang di sebuah truk asal Lampung.</p></div>
<p>Di kedai ini, durian yang dijual adalah durian jatuh, bukan yang dipetik. Ia kelihatan dari patahan tangkai buahnya yang kering. Dulu, orang tak berani mencari durian jatuh di pagi hari. Kecuali berani mati. Sebab, yang bersangkutan harus berebut dengan harimau! Dan, raja hutan adalah yang paling sempurna dalam menikmati buah yang kandungan isinya komplit itu. Lunas tempat daging buah itu tergolek benar-benar bersih dijilatinya. Orang lain mungkin mengatakan cerita itu cuma “bual orang Deli”. Tapi, percayalah, di sini durian yang sudah dikorek untuk dicicipi, kalau tak cocok, langsung dibuang. Tidak dipajang lagi. “Ini Medan, Kawan!”</p>
<p>Di dalam mobil, durian menjadi kawan setia selagi pulang dan pergi. Aroma khasnya tak pernah alpa berkelindan dengan alunan lagu-lagu Melayu dan Irlandia, yang entah kenapa terdengar serupa di telinga. Mendengarnya, imajinasi tiap-tiap anggota Lentera Timur pun melesat sepanjang jalur timur. Dan, gesekan biola <em>Journey to Deli</em> karya <a href="http://www.lenteratimur.com/menyoal-%E2%80%9Cmusik-melayu%E2%80%9D/" target="_blank">Tengku Ryo</a> kemudian terasa pas mengiringi Kijang bermesin itu menari di lekak lekuk Sumatera.</p>
<p><strong><br /><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2012/02/Journey-to-Deli.jpg" alt="media" /><br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Martin Aleida, TM. Dhani Iqbal, Ken Miryam Vivekananda Fadlil.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/%e2%80%9clenteratimur-journey-to-deli%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	<enclosure url="http://www.youtube.com/watch?v=-jJ5koTnhik" length="1" type="application/unknown"/>
	</item>
		<item>
		<title>Medan Setelah 17 Tahun</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/medan-setelah-17-tahun/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/medan-setelah-17-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 09:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setiadi R. Saleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa melayu]]></category>
		<category><![CDATA[etnis yang ada di medan]]></category>
		<category><![CDATA[istilah medan]]></category>
		<category><![CDATA[lenteratimur.com]]></category>
		<category><![CDATA[lingua franca]]></category>
		<category><![CDATA[Medan Setelah 17 Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[setiadi r saleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=5012</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda bayar ongkos dengan uang pas, supirnya terima. Tapi jika Anda bayar dengan uang lebih, kembaliannya bisa jadi tak pas. Ongkosnya bisa lebih mahal, naik seribu rupiah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5013" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/11/Medan-Bandung.jpg"><img class="size-full wp-image-5013" title="Medan-Bandung" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/11/Medan-Bandung.jpg" alt="" width="576" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Medan-Bandung-Medan. Gambar: Google Earth.</p></div>
<p>“Di langit tidak ada benar dan salah, tidak ada timur dan barat, selatan dan utara. Manusia bumi yang membuat batas, lalu membatasinya dan kemudian mempercayainya sebagai kebenaran.”</p>
<p>3 Oktober 2011. Perkataan Budha di atas terngiang kala saya, bersama keluarga, terbang dari Bandung, Jawa Barat, menuju Medan, Sumatera Utara. Dari udara, hanya gumpalan awan yang semata tampak. Terbang di atas gumpalan awan yang mengandung banyak air. Sementara, di bawah banyak perigi kering, sawah kering, hujan-kebanjiran, kemarau-kekeringan.</p>
<p>Tujuh belas tahun meninggalkan Medan. Rasanya laksana baru semalam saja. Keadaan kota ini berubah pesat. Seperti kota-kota besar di Indonesia lainnya, pemandangannya malah tampak seragam. Apartemen tinggi menjulang bagai ilalang, hotel bintang lima ada di mana-mana, perumahan mewah tumbuh seperti kerapu di tubir batu, dan restoran siap saji berserak di tiap persimpangan.</p>
<p>Rumah makan dari berbagai etnis, seperti Sunda, Batak, Minang, Mandailing, Aceh, atau Melayu, hadir menyemarakkan suasana kota. Di sini, restoran Sunda kelas VIP banyak diserbu peminat. Padahal, kita tahu, orang Medan tak suka makanan manis. Senangnya pedas. Tapi itu bisa dipahami mengingat rata-rata pejabat daerah Kota Medan atau karyawan instansi-instansi pemerintah biasanya disekolahkan di Bandung. Jadi, mencicipi masakan Sunda merupakan nostalgia tersendiri.</p>
<p>Bagi penduduk Medan, Bandung bukanlah kota yang asing, malah akrab sekali. Dan jika orang Medan berjumpa dengan orang luar kota, cenderung sudah terbayang bahwa yang bersangkutan datang dari Bandung. Lantaran populernya Kota Bandung, ada roti yang dinamakan roti Bandung, ada sekolah yang dinamakan sekolah Bandung, ada baju, celana, distro (<em>fashion</em>) yang dimereki Bandung, ada makanan cemilan wajid Bandung. Seolah-olah apa pun yang berasal dari Bandung laku dijual. Sekalipun itu diproduksi di Medan.</p>
<p>Akan tetapi, Sunda sendiri hanyalah salah satu etnis yang mendiami Medan. Dalam situs pemerintah Kota Medan, disebutkan adanya sejumlah etnis dominan lain. Etnis tersebut adalah Melayu, Karo, Mandailing, Batak, <a href="http://www.lenteratimur.com/mengendus-minang-di-tanah-deli/" target="_blank">Minang</a>, Tionghoa, India, Aceh, atau Jawa.</p>
<p>Soal makanan pun terjadi pergeseran selera. Dahulu, makannya mi so (bukan mi sop atau bakso), sate kerang, nasi goreng, kwitiaw, mie goreng. Tapi, sekarang kebanyakan bakso atau steak. Dan yang lagi digandrungi adalah semua yang serba penyet (pekprek, ditokok, ditumbuk). Mulai dari ayam penyet, sapi penyet, atau daging lembu penyet.</p>
<p><strong>Jalanan</strong><br />
Perubahan lain, dari kacamata saya yang baru pulang, adalah adanya satu jalan baru di Kota Medan. Namanya Ring Road-Gagak Hitam. Jalan ini menghubungkan banyak jalan yang dahulu tak pernah terhubung. Tiap Sabtu malam, jalan tersebut digunakan sebagai ajang balapan liar dan kongko anak muda-mudi, diantaranya geng motor.</p>
<p>Dalam hal perilaku berkendara, ada hal-hal yang barangkali sudah biasa bagi orang Medan namun bisa jadi mengejutkan bagi orang luar Medan. Jika Anda menggunakan kereta (sepeda motor), jangan heran jika sebentar-sebentar diklakson, entah oleh kereta lain, betor (becak motor), atau oleh motor (mobil). Entah apa maksudnya. Barangkali dikira jalan punya ayahandanya.</p>
<p>Di kota ini lalu lintas juga sangat padat. Betor tua, sepeda, kereta atau inang-inang pencari makanan ternak akan berselisih dengan Jaguar, Pajero, Sport, Fortuner, Alphard, Hummer, Ford, dan macam-macam jenis mobil mewah lainnya.</p>
<p>Masih di jalanan, ada hal unik lain yang bisa terjadi jika Anda kebetulan sedang naik angkutan kota (angkot). Jika Anda bayar ongkos dengan uang pas, supirnya terima. Tapi jika Anda bayar dengan uang lebih, kembaliannya bisa jadi tak pas. Ongkosnya bisa lebih mahal, naik seribu rupiah.</p>
<p>Pun, jangan kaget jika kecepatan rata-rata angkot adalah 80-100 kilometer per jam. Sesama angkot bisa saling pacu adu untuk mendapatkan <em>doku</em>. Terkait dengan pacu angkot ini, satu hal memang belum berubah: melanggar lampu merah adalah sudah biasa.</p>
<p><strong>Tak Berbudaya Tunggal</strong><br />
Medan sebenarnya tidak memiliki kultur budaya yang tunggal. Jika ada yang berkata Medan adalah identik dengan Batak, itu salah besar. Parahnya lagi, dalam tayangan-tayangan media dari tanah yang jauh, baik dalam liputan feature berita maupun sinetron, stereotip Medan adalah Batak dan Batak adalah Medan terus diulang-ulang. Ini adalah kedunguan yang dipelihara. Oknum yang membuat skrip berita atau skrip sinetron pastilah bukan orang yang berwawasan, atau mengenal kota Medan dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.</p>
<p>Di Medan, yang menjadi <em>lingua franca</em> adalah <a title="Perjalanan Pengajaran Bahasa Melayu" href="http://www.lenteratimur.com/perjalanan-pengajaran-bahasa-melayu/" target="_blank">bahasa Indonesia/Melayu</a>. Orang India menggunakan bahasa India, orang Tionghoa menggunakan bahasa Tionghoa dialek Mandarin dan Hokkian, begitu pula dengan suku Batak, Aceh, Karo, Mandailing, atau Jawa. Lantaran pergaulan yang plural, di Medan rata-rata orang bisa berbahasa daerah lebih dari satu.</p>
<p>Lalu apa yang menyatukan semua perbedaan tersebut? Jawabnya tak lain azas saling membutuhkan sesama makhluk hidup. Orang Tionghoa butuh orang Melayu, orang Batak butuh orang Jawa, dan seterusnya.</p>
<p><strong>&#8220;Peringatan Dini&#8221;</strong><br />
Tingkat kriminalitas di Medan cukup tinggi, utamanya pencurian. Macam-macam bisa dicuri, termasuk besi tangki penampungan bak sampah di sebuah perumahan penduduk. Besi itu <em>didedel</em>, yakni dicuri dengan cara dibelah sedikit demi sedikit.</p>
<p>Perilaku orang di Medan pun bawaannya curiga. Jika Anda pernah tinggal di Bandung, masuk mini market, supermarket, mal, atau bank dengan menggunakan celana pendek atau pakaian seadanya, orang tak ada soal. Tapi di Medan lain. Jika Anda menggunakan pakaian seperti di atas, Anda bisa didekati petugas. Tak peduli Anda berlagak macam orang kaya sekalipun. Sebagai pembeli, Anda bisa jengah. Namanya saja swalayan, yang bearti melayani sendiri.</p>
<p>Suatu kali, saya mengalami satu hal menggelikan ketika hendak mengambil uang tunai di bank. Bukan soal pakaian, tetapi foto. Karena rekening saya berasal dari cabang Bandung, maka petugas menanyakan kartu identitas lain. Penulis menyerahkan SIM C. Tapi, rambut saya masih botak di foto di SIM itu, sedangkan kini sudah panjang sebahu alias gondrong.</p>
<p>Tak puas, petugas bank tadi menanyakan lagi kartu identitas lain. Saya menunjukkan KTP Bandung. Di KTP, pas fotonya berambut pendek. Dan si petugas bank masih bingung.</p>
<p>&#8220;Peringatan dini&#8221; lainnya adalah dalam soal berbisnis. Orang Medan rata-rata jago ngomong dan ngoceh soal bisnis. Tapi, begitu diajak kerja-sama belum tentu mau. Di Medan, orang yang lihai berbicara disebutnya ‘ular’.</p>
<p><strong>Kota Religius</strong><br />
Medan adalah kota besar kedua setelah Surabaya. Di sini, kegiatan keagamaan sering diadakan. Yang muslim rajin mengadakan tabligh akbar, bergilir antar masjid. Yang nasrani sering menggelar pelayanan rohani gereja, pengabaran Injil. Begitu pula dengan agama lainnya, seperti Budha, Konghucu, atau Hindu.</p>
<p>Pemandangan ini lazim kalau Anda berada di Medan. Dan ini ditunjang dengan sekolah-sekolah umum yang secara jelas memakai kata agama untuk menunjukkan eksistensinya. Sebut saja sekolah Kristen A, sekolah Islam B, atau sekolah Budha C.</p>
<p>Selain itu, di Medan juga bisa didapati vihara dan kelenteng yang megah, setara dengan dengan masjid-masjid raya umat muslim. Dan barangkali hanya di Medan pula terdapat gereja yang khusus berbahasa Tionghoa.</p>
<p><strong>Secuil Istilah Medan</strong><br />
Pasar = Jalan<br />
Pasar hitam = Jalan Raya<br />
Pajak = Pasar<br />
Nokoh = Nipu<br />
Pauk = Bodoh<br />
Pigi = Pergi<br />
Cemana = Bagaimana<br />
Limpul = Lima puluh<br />
Mencong = Kurang lurus<br />
Mereng = Miring<br />
Orang rumah = Istri<br />
Kereta = Sepeda motor<br />
Motor = Mobil<br />
Martil = Palu<br />
Mentel = Genit<br />
Mentiko = Berlagak<br />
Merepet = Marah-marah/ngomel<br />
Karton = Kardus<br />
Nelap = Mencuri dengan cara diam-diam<br />
Bos = Orangtua<br />
Kombur = Cerita bohong<br />
Kera = Hitung<br />
Semalam = Kemarin<br />
Enceng = Selesai/tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/medan-setelah-17-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alam dan Kosmologi Baduy</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/alam-dan-kosmologi-baduy/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/alam-dan-kosmologi-baduy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 21:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ferry Fathurokhman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[agama baduy]]></category>
		<category><![CDATA[alam dan baduy]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Kanekes]]></category>
		<category><![CDATA[dosen untirta]]></category>
		<category><![CDATA[ferry fathurokhman]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi baduy]]></category>
		<category><![CDATA[institute banten]]></category>
		<category><![CDATA[jaro]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lebak]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Leuwidamar]]></category>
		<category><![CDATA[kepala adat baduy]]></category>
		<category><![CDATA[kosmologi baduy]]></category>
		<category><![CDATA[lenteratimur.com]]></category>
		<category><![CDATA[lojor teu meunang dipotong]]></category>
		<category><![CDATA[pondok teu meunang disambung]]></category>
		<category><![CDATA[sunda wiwitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=4198</guid>
		<description><![CDATA[Dalam membangun rumah, bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4199" class="wp-caption alignright" style="width: 342px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Pesan-dari-Baduy.jpg"><img class="size-full wp-image-4199" title="Pesan dari Baduy" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Pesan-dari-Baduy.jpg" alt="" width="332" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">Pesan dari Baduy. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.</p></div>
<p>Hari itu, tas ransel hitam saya penuh beban. Empat kilogram beras, satu kilogram ikan asin, tujuh bungkus mi instan, bekal makan siang dari istri, empat buku tentang Baduy, dan sebuah buku catatan. Semua itu saya bawa ke Cibeo, sebuah Kampung Baduy Dalam di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten. Saya akan menulis tesis mengenai hukum pidana adat Baduy.</p>
<p>Tema tesis ini saya peroleh setelah berdiskusi dengan seorang kawan, Abdul Hamid, di sebuah hotel di Semarang, Jawa Tengah. Pemantiknya, ada kasus pembunuhan yang melibatkan warga Baduy dan luar Baduy. Dan bersegeralah saya mengumpulkan dan mempelajari bahan bacaan mengenai segala sesuatu yang terkait Baduy.</p>
<p>Dari semua bahan bacaan itu, hampir semua penulis Baduy selalu mencantumkan filosofi Baduy: “<em>lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung</em>”, yang artinya panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung. Filosofi ini memberikan pedoman bagi masyarakat Baduy dalam berinteraksi dengan tata kosmos, alam semesta. Saya menutup sebuah buku Baduy dan bergumam “Ada hubungan apa antara Baduy dengan alam?”</p>
<p><strong>Desa Kanekes</strong><br />
Kanekes adalah nama sebuah desa dimana komunitas masyarakat Baduy berada. Ibukota Desa Kanekes adalah Kampung Kadu Ketug III, atau dikenal juga dengan nama Babakan Cigoel yang menjadi tempat Jaro Dainah berada. Dalam struktur adat Baduy, Jaro Dainah menjabat sebagai Jaro <em>Pamarentahan</em> yang bertugas, antara lain, sebagai penghubung antara masyarakat Baduy dengan pemerintahan dan lingkungan di luar Baduy. Jaro Dainah berambut ikal dengan alis yang tebal. Berkumis, kulitnya sawo matang seperti kebanyakan orang Indonesia. Kita akan menemukan kesan yang tidak ramah jika baru pertamakali bertemu dan belum akrab. Namun, jika telah beberapa kali bertemu dan mengetahui maksud baik kita, maka obrolan tentang Baduy mengalir lancar dari mulutnya. Bahkan, ia tak sungkan memberikan data tertulis.</p>
<p>Desa Kanekes terdiri dari 59 kampung yang dibagi ke dalam tiga bagian: tiga kampung Baduy Dalam, 55 kampung Baduy Luar, dan satu kampung luar Baduy. Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik merupakan Kampung Baduy Dalam yang jumlahnya tidak akan berkurang atau bertambah. Selalu tiga kampung. Sementara, Kampung Baduy Luar dapat bertambah jumlah kampungnya seiring pertambahan penduduk dan pemekaran daerah. Satu kampung luar Baduy yang disebut Jaro Dainah adalah Cicakal Girang. Berbeda dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar yang memeluk agama Sunda Wiwitan, seluruh warga Cicakal Girang merupakan pemeluk agama Islam.</p>
<p>Jadi, seluruh masyarakat Baduy tinggal di Desa Kanekes yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Jaraknya sekitar lima puluh kilometer dari Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak. Desa yang teksturnya berbukit-bukit ini berada di kawasan Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 500 – 1.200 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas 5.101,85 hektar. Lembah-lembah di sana merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung, yang oleh masyarakat Baduy sering disebut hutan <em>tutupan </em>atau hutan <em>larangan</em>.</p>
<p>Adapun jumlah penduduk Baduy mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 1888, orang Baduy berjumlah 291 jiwa dan menghuni sepuluh kampung. Di tahun berikutnya, ia meningkat menjadi 1.407 orang dan tinggal di 26 kampung (Jacobs, Meijer, 1891; Pennings, 1902). Pada 1928, jumlahnya meningkat lagi menjadi 1.521 orang (Tricht, 1929), dan pada 1966 menjadi 3.935 orang. Awal 1980, penduduk Desa Kanekes menjadi 4.057 orang, dan sepuluh tahun kemudian berjumlah 5.600 orang. Sedangkan pada 1999 menjadi tujuh ribuan orang (Kartawinata, 2000). (Ade Makmur, “Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif Kekerabatan Pamarentahan Baduy in Kanekes: Kinship Perspective”, diunduh dari http://www.geocities.com/puslitmasbud_unpad/artikel_pamarentahan_Baduy.htm).</p>
<p>Data kekinian tentang jumlah kampung kemudian saya temukan dalam buku <em>Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah</em>, yang ditulis Suhada, bahwa jumlah kampung di Desa Kanekes pada 1985 sebanyak 30. Pada 1996, meningkat menjadi 49 kampung, lalu pada 2000 meningkat lagi menjadi 52 kampung. Kini, menurut Jaro Dainah, jumlah kampung telah menjadi 59, dengan jumlah penduduk sebanyak 11.150 Jiwa.</p>
<p>Untuk mencapai masyarakat Baduy, aksesnya tidaklah sulit. Terminal pertama yang harus dituju adalah Terminal Bis Rangkas Bitung. Banyak bis yang menuju ke terminal ini; bisa dari terminal Pakupatan Serang atau langsung dari Jakarta. Sesampai di Terminal Rangkas Bitung, carilah <em>PS</em> atau <em>Elf</em> yang menuju Terminal Ciboleger. <em>PS</em> atau <em>Elf</em> adalah angkutan umum kategori mini bus yang bermesin truk<em> PS</em>. Atau, bisa juga menaiki angkutan umum menuju terminal kecil Aweh. Dari Terminal Aweh, baru kemudian naik <em>PS</em> menuju Ciboleger.</p>
<p>Ciboleger adalah desa terakhir yang bisa dimasuki kendaraan dan berbatasan dengan Desa Kanekes. Desa Kanekes hanya berjarak sekitar seratus meter dari Ciboleger. Jika sudah berada di Kanekes, itu artinya kita sudah berada di salah satu kampung Baduy Luar yang terluar, Babakan Cigoel, atau dikenal juga sebagai Kampung Kadu Ketug III.</p>
<p>Siang di Babakan Cigoel pada penghujung 2010, Jaro Dainah mempersilahkan saya salat di rumah singgah dengan diantar Saidam, warga setempat. Saya mendapat kabar dari Asep Bule, warga Ciboleger, bahwa rumah singgah adalah rumah yang disediakan hasil kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Lebak dan Haji Kasmin, warga Baduy Luar yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Banten dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Partai Golkar Lebak. Desain rumah singgah disamakan dengan rumah warga Baduy Dalam pada umumnya: rumah panggung, tiang kayu, anyaman bambu sebagai dinding dan <em>hateup</em> (atap) yang terbuat dari anyaman daun aren. Yang membedakan, pada rumah singgah telah dilengkapi dengan kamar mandi dan <em>water closet </em>(WC).</p>
<p>Ditemani Saidam, saya menuju rumah Ayah Mursyid di Cibeo. Beberapa bulan lalu, saya memang telah membuat janji untuk bertemu dengannya. Ayah Mursyid adalah wakil Jaro Cibeo, putra dari Puun Jandol. Perjalanan ke Cibeo cukup melelahkan. 2,5 jam perjalanan kaki. Naik turun bukit. Tiba di Cibeo, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Saidam membawa saya ke jalan setapak yang biasa dipakai warga Baduy sehingga bisa lebih cepat sampai.</p>
<p><strong>Alam Baduy</strong><br />
Memasuki Kampung Baduy Dalam Cibeo seperti mendapatkan sensasi tersendiri. Seperti menerobos dimensi waktu. Tak ada listrik dan bangunan tembok. Asri, alami, hening, dan gemericik air sungai mendominasi suasana. Jembatan bambu melintasi sungai menjadi tanda sudah memasuki Cibeo. Saya terpaku saat melihat seekor elang terbang berputar-putar di atas kepala saya, dekat, di atas rumah warga Cibeo.</p>
<p>Di sini, manusia dan alam hidup berdampingan. Bersahabat. Meski ada banyak yang dapat dituliskan mengenai Baduy, namun bagi saya yang paling menarik adalah bagaimana interaksi masyarakat adat Baduy yang dapat hidup berdampingan dengan alam selama ratusan tahun. Sungai yang baru saja saya lewati adalah sungai yang sama saat dua belas tahun lalu saya mengunjungi Cibeo. Tidak ada yang berubah. Tetap jernih, segar, dan tak ada secuilpun sampah plastik yang mengotorinya. Di Cibeo, saya menginap di rumah Ayah Mursyid. Makan, bicara, mendengarkan hingga larut malam, dan mengoreksi kekeliruan beberapa buku tentang Baduy. Saya juga mewawancarai Jaro Sami, Jaro Cibeo, keesokan harinya.</p>
<p>Masyarakat Baduy percaya bahwa alam adalah salah satu titipan yang maha kuasa untuk dilestarikan. Amanah dan kewajiban melestarikan alam jatuh pada Masyarakat Baduy. Oleh karenanya, semua sistem kehidupan Masyarakat Baduy berpedoman pada filosofi “<em>lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”</em>, tidak terkecuali sistem hukum adat Baduy.</p>
<p>Resapan filosofi Baduy dapat dilihat di seluruh Kampung Baduy, khususnya pada Kampung Baduy Dalam seperti Cibeo. Cibeo terletak di pinggiran sungai. Di sungai inilah seluruh kebutuhan air warga Cibeo terpenuhi: mandi, minum dan semuanya. Airnya jernih tak berbuih. Warga Baduy Dalam tak diperkenankan menggunakan peralatan mandi semisal sabun, odol, dan sampo. Aturan ini juga tertuju pada para tetamu yang mengunjungi Cibeo. Dan inilah sebabnya mengapa selama ratusan tahun sungai di pinggiran Cibeo tetap sanggup menopang kehidupan warga Cibeo. Airnya tetap jernih, dingin, dan berhasil mengembalikan kesegaran tubuh kala saya mandi sore itu.</p>
<p>Sama halnya dengan makanan pokok orang Indonesia pada umumnya, makanan utama masyarakat Baduy adalah nasi. Namun, masyarakat Baduy tak menamam padi dengan bersawah. Mereka menanam padi huma – padi yang ditanam di tanah kebun, bukan sawah. Bagi masyarakat Baduy, kegiatan bersawah dan membajak tanah adalah terlarang. Ayah Mursyid menjelaskan ketentuan tersebut semata untuk menjaga keseimbangan alam.</p>
<p>Saya ingat, Suhada, salah satu penulis Baduy, pernah menjelaskan pada saya bahwa ada penelitian yang menunjukan pengolahan tanah menjadi sawah akan mengurangi kesuburan tanah dalam jangka panjang.</p>
<p>Masyarakat Baduy menyimpan hasil panen padi huma di sebuah <em>leuit, </em>lumbung padi. <em>Leuit</em> biasanya dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap keluarga memiliki <em>leuit </em>masing-masing. <em>Leuit</em> menyiratkan konsep ketahanan pangan masyarakat Baduy. Dan saya belum pernah mendengar warga Baduy kekurangan stok bahan pangan.</p>
<p>Sementara itu, selain semua rumah di Cibeo memiliki bentuknya yang sama, semua bahan yang digunakanpun berasal dari alam: batu, kayu, bambu, ijuk. Tak satupun bahan modern macam paku, batu bata, dan semen diperkenankan di Cibeo (Hal yang sama juga berlaku pada kampung Baduy Dalam lainnya). Dan meskipun bahan bangunan didapatkan dari alam sekitar, tak nampak adanya kerusakan hutan di Baduy. Masyarakat Baduy tidak mengeksploitasi alam; mereka hanya menggunakan seperlunya yang selalu dibarengi dengan pelestariannya.</p>
<p>Saya menyaksikan perwujudan keseimbangan itu. Di suatu pagi, saya melihat rombongan anak-anak dan beberapa ibu-ibu Cibeo sedang membawa kayu dari hutan menuju Cibeo. Rupanya, ada sebuah hajatan hari itu sehingga pemangku hajat membutuhkan kayu bakar untuk keperluan memasak. Kayu yang mereka bawa adalah kayu yang telah kering dan tua. Saidam menjelaskan bahwa kayu bakar tersebut didapat dari pohon yang sudah dimakan rayap atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Mereka tidak menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan di sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.</p>
<div id="attachment_4202" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Perkampungan-Baduy-di-tengah-hutan.jpg"><img class="size-full wp-image-4202" title="Perkampungan Baduy" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Perkampungan-Baduy-di-tengah-hutan.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a><p class="wp-caption-text">Perkampungan Baduy di tengah hutan.</p></div>
<p>Saya merasa bahwa hutan Pegunungan Kendeng di sekitar sini memang telah memilih masyarakat Baduy sebagai penghuninya. Keduanya berjodoh. Keduanya berusaha untuk tidak saling menyakiti. Hingga saat ini, saya tak pernah mendengar ada banjir yang melanda perkampungan Baduy. Menurut Jaro Sami, alam adalah salah satu yang dititipkan oleh yang maha kuasa pada masyarakat Baduy untuk dilestarikan. Pemahaman ini merata di masyarakat. Jaro Dainah juga pernah mengatakan hal yang sama.</p>
<p>Salah satu kewajiban masyarakat Baduy memang adalah melestarikan alam. Masyarakat Baduy bersekolah pada alam. Mereka belajar dan hidup dengan alam. Oleh karenanya, kita takkan menemukan seorang warga Baduy yang bersekolah formal. Sekolah adalah salah satu hal yang dilarang dalam kehidupan Baduy.</p>
<p>Praktik menyesuaikan diri dengan alam juga terlihat dari cara membangun rumah. Bagian paling bawah dari rumah adalah batu sebagai penopang tiang-tiang utama rumah yang terbuat dari kayu. Tetapi, tidak seperti rumah pada umumnya, masyarakat Baduy tidak menggali tanah untuk pondasi. Batu hanya diletakan di atas tanah. Jika kontur tanah tidak rata, maka bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan. Jadi, panjang pendeknya batu mengikuti kontur tanah.</p>
<p>Sekalipun masyarakat adat Baduy tinggal di tengah perbukitan yang dikelilingi hutan, namun tidak ada kerusakan hutan yang terjadi. Masyarakat adat Baduy dapat hidup harmonis berdampingan dengan lingkungan selama ratusan tahun tanpa merusak hutan. Padahal, mereka memanfaatkan hasil hutan tersebut dalam kesehariannya. Hal ini telah berlangsung lama meskipun masyarakat adat Baduy tidak mengenal konsep pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>Masyarakat adat Baduy memang dikenal sangat patuh dan taat pada hukum adatnya. Ada banyak larangan dalam hukum adat Baduy, misalnya tidak boleh difoto (di dalam wilayah Baduy Dalam), naik kendaraan, atau memakai alas kaki. Jika bepergian ke Jakarta, Bogor atau Bandung dengan maksud memenuhi undangan ataupun mengunjungi tamu yang pernah datang ke Baduy, orang Baduy Dalam selalu berjalan tanpa alas kaki. Jika diketahui menggunakan kendaraan, maka ia akan dikenai sanksi adat hingga dikeluarkan dari Baduy Dalam menjadi Baduy Luar – Baduy Luar memiliki aturan yang lebih longgar dan berinteraksi lebih dengan dunia modern. Jika ditanyakan alasan kenapa tidak boleh ini dan itu, maka mereka akan menjawab dengan singkat “<em>teu meunang ku adat</em>” (tidak boleh oleh adat).</p>
<p><strong>Pengakuan atas Masyarakat Adat dan Hutannya</strong><br />
Menurut Jaro Dainah, perwakilan masyarakat adat se-Indonesia pernah dikumpulkan dalam sebuah acara di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bagian terpenting dari pertemuan tersebut adalah dijanjikannya sebuah undang-undang yang menjamin tentang keberadaan masyarakat adat beserta tanah yang melingkupinya. Undang-undang tersebut menurut Jaro Dainah hingga saat ini belum ada.</p>
<p>Meski demikian, dalam catatan saya, sebenarnya keberadaan masyarakat adat Baduy telah diakui dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 32 Tahun 2001 tentang perlindungan hak ulayat masyarakat Baduy di wilayah Banten (www.hukumonline.com/berita/Berdayakan Masyarakat Hukum Adat untuk Perlindungan Lingkungan, 3/8/06). Bahkan, secara umum, masyarakat adat di Indonesia juga sudah diakui keberadaannya. Berbagai peraturan telah mempertegas eksistensi masyarakat adat. Dalam Undang-undang Dasar 1945, pengakuan tersebut dicantumkan dalam pasal 18B ayat 2 dan 18I ayat 3.</p>
<p><strong>Pasal 18B ayat (2)</strong><br />
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.</p>
<p><strong>Pasal 28I ayat (3)</strong><br />
Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.</p>
<p>Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan (yang mengalami perubahan dengan adanya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 tahun 2004) juga mengakui hak dari masyarakat hukum adat sebagaimana tercantum dalam pasal 67.</p>
<p><strong>Pasal 67</strong><br />
(1) Masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak:<br />
a. melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan;<br />
b. melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang; dan<br />
c. mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.<br />
(2) Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.</p>
<p>Selain itu, keberadaan hutan adat juga telah diakui oleh undang-undang ini dalam pasal 1, 4, dan 37.</p>
<p><strong>Pasal 1</strong><br />
(6) Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.</p>
<p><strong>Pasal 4</strong><br />
(3) Penguasaan hutan oleh negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.</p>
<p><strong>Pasal 37</strong><br />
(1) Pemanfaatan hutan adat dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan, sesuai dengan fungsinya.<br />
(2) Pemanfaatan hutan adat yang berfungsi lindung dan konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.</p>
<p>Masyarakat Baduy dan hutan memang telah lama hidup secara harmonis. Tidak ada penebangan kayu secara masif, tidak ada pencemaran air, tidak ada hutan yang gundul. Hal tersebut dikarenakan kultur masyarakat Baduy yang menyatu dengan alam.</p>
<p><strong>Kerusakan Hutan di Baduy </strong><br />
Keharmonisan antara masyarakat Baduy dan hutan di sekitarnya tak selamanya langgeng. Kemesraan keduanya mulai terusik. Hutan adat mulai dirambah orang luar Baduy; menebang pohon tanpa kearifan. Penyerobotan tanah ulayat masyarakat Baduy semakin sulit dikendalikan. Penyerobotan itu dilakukan warga luar Baduy dengan cara menebang hutan, mengerjakan ladang, dan membiarkan hewan ternak berkeliaran di tanah adat dalam kawasan hutan adat (www.kompas.com, Senin, 24 Mei 2004).</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, saya menemukan jejak ternak berkaki empat. Saidam menjelaskan bahwa ternak semisal kerbau tersebut merupakan milik warga luar Baduy. Warga Baduy telah sering melaporkan persoalan ini ke Pemerintah Provinsi Banten melalui <em>Seba</em>. <em>Seba</em> adalah adat tiap tahun untuk mengunjungi pemerintah yang berkuasa sebagai ajang silaturahmi.  Pada masa Banten masih di dalam wilayah Jawa Barat, <em>Seba</em> dilakukan dengan mengunjungi gubernur Jawa Barat, juga kabupaten-kabupaten di Banten, umumnya ke Lebak atau Serang.</p>
<p>Masyarakat Baduy juga sudah melakukan sosialisasi pada warga luar Baduy agar tidak menebang pohon di hutan adat. Bahkan, pelanggaran atas prinsip tersebut juga sudah dilaporkan ke kepolisian. Dalam Peraturan Daerah Banten Nomor 8 Tahun 2001 tentang hak ulayat Suku Baduy, ditetapkan bahwa wilayahnya seluas enam ribu hektar. Namun, kenyataannya wilayah ini kerap diserobot orang, termasuk pada kasus tanah seluas 9.500 hektar persegi yang telah disertifikatkan oleh Nyonya Mariam, anak mantan Kepala Desa Bojongmanik (Situs koran Sinar Harapan). Menurut Jaro Dainah, meski tanah ulayat Baduy sudah dilindungi peraturan daerah, pada praktiknya aturan tersebut tidak berjalan akibat lemahnya penegakan hukum oleh aparat (www.kompas.com, Senin, 24 Mei 2004).</p>
<p>Pada akhirnya, faktor ekonomi menjadi faktor paling utama dalam menyumbang kerusakan hutan di Baduy (lebih lanjut lihat Arif Hidayat dan FX Adji Samekto, <em>Kajian Kritis Penegakan Hukum Lingkungan di Era Otonomi Daerah</em>, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2007). Pemerintah belum memiliki komitmen yang kuat dalam melestarikan lingkungan, tidak hanya dalam tataran kebijakan, tetapi juga upaya kuat mendorong penegakan hukum dengan tak berpihak pada kekuatan ekonomi. Sementara, pihak perusahaan maupun perseorangan juga belum memiliki kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan. Padahal, kesadaran tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara, mulai dari penyuluhan hingga penegakan hukum sebagai upaya untuk menghasilkan efek pencegahan<em> </em>(<em>deterrence effect</em>).</p>
<p>Keharmonisan yang telah berlangsung lama antara masyarakat adat Baduy dan alam akhirnya terusik justru karena faktor di luar mereka. Sedikit demi sedikit, modernisasi mulai menjamah keharmonisan hubungan alam dan manusia. Kondisi ini sebenarnya menjadi “bom waktu” jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tegas. Konflik horizontal pada akhirnya berpotensi terjadi antara masyarakat adat Baduy dengan masyakarat luar Baduy.</p>
<div id="attachment_4204" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Jembatan-Gajeboh-Baduy.jpg"><img class="size-full wp-image-4204" title="Jembatan Gajeboh Baduy" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Jembatan-Gajeboh-Baduy.jpg" alt="" width="500" height="373" /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan Gajeboh Baduy.</p></div>
<p><strong>Pelajaran </strong><strong>dari Baduy</strong><br />
Ayah Mursyid menjelaskan konsep kehidupan masyarakat Baduy hingga larut malam. Lewat temaram lilin, ia lalu menyadari saya mulai mengantuk. Dua buah bantal empuk bersarung putih ia berikan kepada saya. Saya tidur beralas tikar pandan karena memang tak ada kasur di Cibeo.</p>
<p>Banyak pelajaran yang saya dapat dari Baduy, diantaranya prinsip hidup masyarakat adat Baduy yang  tercermin dari <em>petatah-petitih</em> adat Baduy.</p>
<p><em>Gunung tak diperkenankan dilebur<br />
Lembah tak diperkenankan</em><em> </em><em>dirusak<br />
Larangan tak boleh di rubah<br />
Panjang tak boleh dipotong</em><em></em><br />
<em>Pendek tak boleh disambung</em><em></em><br />
<em>Y</em><em>ang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang yang benar haruslah dibenarkan</em>.</p>
<p>Kandungan penting dari aturan adat tersebut adalah konsep &#8220;tanpa perubahan apapun&#8221;, atau perubahan sesedikit mungkin. Saya kurang tahu, apakah dua belas tahun mendatang masyarakat adat Baduy masih dapat mempertahankan keharmonisannya dengan alam sebagaimana dua belas tahun yang lalu saat saya menginap di kampung ini, Cibeo, Baduy Dalam.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/alam-dan-kosmologi-baduy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suku Komodo, Sunyi di Tengah Ingar-Bingar</title>
		<link>http://www.lenteratimur.com/suku-komodo-sunyi-di-tengah-ingar-bingar/</link>
		<comments>http://www.lenteratimur.com/suku-komodo-sunyi-di-tengah-ingar-bingar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 22:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuran Wibisono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[flores]]></category>
		<category><![CDATA[labuan bajo]]></category>
		<category><![CDATA[lenteratimur.com]]></category>
		<category><![CDATA[New 7 Wonders of Nature]]></category>
		<category><![CDATA[Nuran Wibisono]]></category>
		<category><![CDATA[pnduduk pulau komodo]]></category>
		<category><![CDATA[rute ke pulau komodo]]></category>
		<category><![CDATA[Sabalong Samalewa]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah komodo]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pulau Komodo]]></category>
		<category><![CDATA[suku komodo]]></category>
		<category><![CDATA[suku komodo sunyi ditengah ingar-bingar]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi pulau komodo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenteratimur.com/?p=4145</guid>
		<description><![CDATA[“Kami bukan orang Manggarai, kami adalah Suku Komodo”.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4159" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Matahari-Terbit.jpg"><img class="size-full wp-image-4159" title="Matahari Terbit" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Matahari-Terbit.jpg" alt="" width="240" height="317" /></a><p class="wp-caption-text">Matahari terbit. Foto-foto: Nuran Wibisono.</p></div>
<p>&#8220;Kami bukan orang Manggarai, kami adalah Suku Komodo&#8221;.</p>
<p>Muchdar, pemuda berumur kisaran seperempat abad, menegaskan hal tersebut di Pulau Komodo ketika saya bertanya-tanya mengenai Suku Komodo. Ia menegaskan perbedaan sukunya dengan suku-suku yang mendiami Flores, Nusa Tenggara Timur, entah itu Manggarai, Flores, Bugis, atau Bima.</p>
<p>Secara fisik, masyarakat Suku Komodo memang berkulit lebih cerah ketimbang masyarakat Flores yang berkulit lebih gelap. Bahasa yang mereka gunakan pun berbeda, baik secara logat hingga perbendaharaan kata. Padahal, secara teritorial, mereka berada dalam satu daerah administrasi yang sama.</p>
<p>Di Desa Komodo, masyarakat Suku Komodo merupakan mayoritas, sedang sisanya adalah peranakan Bugis atau Bima. Penduduk di sini rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Sebagian kecil bekerja sebagai pembuat dan penjual suvenir khas pulau Komodo. Ada pula beberapa anak muda yang bekerja di restoran di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Hal ihwal mengenai Suku Komodo yang memiliki populasi sekitar dua ribu orang memang luput dari perhatian masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Meskipun belakangan ada hajatan seperti “New 7 Wonders of Nature” yang memasukkan binatang purba komodo (<em>varanus komodoensis</em>) yang ada di sana sebagai nominator, nasib dan kehidupan komunitas tradisi yang mendiami kawasan tersebut jarang terbahaskan.</p>
<p>Asal usul nama Suku Komodo sendiri sebetulnya merujuk pada seorang perempuan. Syahdan, dalam sebuah cerita rakyat (<em>folklore</em>)suku Komodo, ada seorang putri dari dunia mistis yang tinggal di Pulau Komodo. Putri tersebut dipanggil dengan sebutan Putri Naga. Putri itu menikah dengan seorang manusia bernama Majo. Dari pasangan itu, lahirlah sepasang bayi kembar, lelaki dan perempuan.</p>
<p>Bayi lelaki yang berwujud manusia diberi nama Gerong, dan dibesarkan diantara manusia lain. Sedangkan bayi perempuan yang berbentuk komodo diberi nama Orah. Orah dilepaskan dan tumbuh besar di hutan. Tapi, kedua anak itu sama-sama tak tahu kalau mereka memiliki saudara.</p>
<div id="attachment_4151" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Pagi-Hari-Di-Komodo.jpg"><img class="size-full wp-image-4151" title="Suasana Pagi" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Pagi-Hari-Di-Komodo.jpg" alt="" width="585" height="437" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana pagi yang memikat.</p></div>
<p>Suatu hari, Gerong sedang berburu rusa di hutan. Ketika akan mengambil rusa buruannya, seekor kadal besar muncul dari semak-semak dan menyantap rusa hasil buruan Gerong. Gerong yang terkejut segera mengambil tombaknya dengan maksud membunuh kadal besar itu.</p>
<p>Tiba-tiba saja sang ibu muncul.</p>
<p>&#8220;Jangan membunuh binatang itu. Dia adalah Orah, saudara perempuanmu. Aku melahirkan kalian bersamaan. Anggaplah dia sebagai sesamamu, karena aku melahirkan kalian&#8221; kata sang Putri Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, manusia Suku Komodo keturunan Gerong hidup rukun dengan para komodo keturunan Orah. Karena itu pula, para penjaga hutan di Taman Nasional Pulau Komodo adalah masyarakat Suku Komodo. Suku Komodo dipercaya bisa berkomunikasi dengan komodo</p>
<p>Saat ini, cerita rakyat mengenai asal usul Suku Komodo seperti menguap. Kisah-kisahnya seperti berada di titik nadir dalam ingatan masyarakat. Malam itu, di rumah Kasim, 45 tahun, salah seorang tetua Suku Komodo, kami, bersama Muchdar, memakan cumi bakar dan ikan bakar sembari membincangkan kebudayaan Suku Komodo.</p>
<p>“Sampai saat ini masih belum ada yang mendokumentasikan kebudayaan Suku Komodo” ujar Muchdar.</p>
<p>Menurut pria muda ini, kisah-kisah mengenai Suku Komodo sudah hampir punah. Jarang ada yang ingat dengan cerita asal usul tersebut. Untuk mengantisipasi kepunahan, ia pernah mencatat dengan tulisan tangan hampir seluruh cerita rakyat Suku Komodo. Sayangnya, catatan di buku tulis itu sudah hilang dan ia tak pernah menuliskannya lagi.</p>
<div id="attachment_4155" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Para-Generasi-Baru.jpg"><img class="size-medium wp-image-4155" title="Generasi Baru" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Para-Generasi-Baru-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Generasi baru Suku Komodo.</p></div>
<p>Ancaman kepunahan kisah mengenai Suku Komodo juga dibenarkan oleh Kasim yang rumahnya menjadi tempat saya menginap selama berada di Pulau Komodo. Pria berkumis tebal bersuara berat yang tampak bijaksana ini mengatakan bahwa tak ada orang Indonesia yang pernah mendokumentasikan tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat Suku Komodo. Alih-alih orang Indonesia, yang melakukan pendokumentasian tersebut justru beberapa turis dari Amerika Serikat dan Jepang.</p>
<p>Nasib kebudayaan Suku Komodo yang dahulu bagian dari teritori Kerajaan Bima ini juga semakin terbayang ketika anak-anak kecil Suku Komodo sudah mulai jarang menggunakan bahasa ibunya. Mereka sekarang lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Belum lagi para remajanya yang bekerja di Labuan Bajo. Mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk bercakap. Identitas yang berubah juga tampak dari beberapa remajanya yang menggunakan anting di telinga kiri, pakaian ala distro, celana ketat, rambut, rambut tegak di tengah, dan selera musik.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Untuk mencapai Pulau Komodo pada pertengahan 2010, dari Bima, Nusa Tenggara Barat, saya menumpang sebuah truk hingga ke Labuan Bajo. Labuan Bajo adalah sebuah kota pelabuhan di Flores yang sekilas Nampak seperti Marrakesh, yang juga sebuah kota pelabuhan di negeri Maroko. Di sini, saya bermalam di sebuah masjid.</p>
<p>Memilih pergi ke Pulau Komodo dengan cara yang murah meriah memang cukup mengasyikkan. Apalagi, untuk seorang pelancong seperti saya, paket-paket wisata yang ditawarkan harganya cukup mahal. Rata-rata, pihak travel itu mematok harga Rp. 400 ribu sampai Rp. 1 juta rupiah untuk perjalanan pulang pergi Labuan Bajo – Pulau Komodo. Sementara, untuk menyeberang dengan kapal milik penduduk, saya yang masih muda dan membawa barang-barang banyak dihitung sebagai pelajar dengan tarif Rp. 20 ribu. Kalau penumpang umum, tarifnya adalah Rp. 40 ribu.</p>
<p>Usai fajar subuh, sendiri saya berjalan ke pelabuhan. Di sana saya mencari kopi dan teman untuk mengobrol. Saya berkenalan dengan Om Gendut, seorang penjual mainan yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Dari info yang ia berikan, saya tahu bahwa setiap hari ada sebuah kapal milik penduduk Desa Komodo yang mengantarkan penduduk Desa Komodo ke Labuan Bajo. Biasanya kapal itu sudah merapat di Labuan Bajo pada pukul 8 WIT. Setelah itu, kapal akan kembali ke Desa Komodo pada pukul 12 WIT.</p>
<div id="attachment_4147" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Senja-di-Desa-Komodo.jpg"><img class="size-full wp-image-4147" title="Senja" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Senja-di-Desa-Komodo.jpg" alt="" width="585" height="438" /></a><p class="wp-caption-text">Senja di Desa Komodo.</p></div>
<p>Waktu tempuh Labuan Bajo – Pulau Komodo adalah sekitar empat jam. Selama perjalanan, kegiatan yang paling mengasyikkan tentu saja mengobrol dengan penduduk Desa Komodo. Mereka ramah dan suka bercerita. Di sinilah saya bertemu dengan Kasim yang menawari saya menginap di rumahnya.</p>
<p>Menjelang petang, perahu yang saya tumpangi merapat ke dermaga Desa Komodo. Saya melihat, Desa Komodo hampir mirip dengan desa nelayan yang pernah saya kunjungi. Tak jauh beda dengan, katakanlah, kampung nelayan di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, atau di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat.</p>
<p>Anak-anak Desa Komodo yang tampaknya tak biasa melihat turis langsung mengerubungi saya dan minta dipotret. Saya merasa betapa lucu dan polosnya mereka. Mungkin mereka jarang melihat ada orang asing memasuki kawasan mereka. Sebab, para wisatawan yang mulai membanjiri Pulau Komodo sejak dinominasikan sebagai salah satu “New 7 Wonders of Nature” lebih banyak tinggal di <em>resort</em> atau menginap di kapal yang lepas sauh di tengah laut. Dan setelah menghabiskan beberapa menit untuk sesi foto, saya langsung menuju rumah Kasim.</p>
<p>Di rumah Kasim, saya mendapatkan satu kamar kosong dengan dua buah kasur. Rumahnya berbentuk rumah panggung bertingkat dua dengan kayu sebagai bahan utama. Lantai bawah digunakan sebagai ruang bersantai dan ruang makan. Sementara, ruang atas adalah ruang tamu dan kamar &#8211; yang saya tempati.</p>
<div id="attachment_4149" class="wp-caption aligncenter" style="width: 587px"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Desa-Komodo-Yang-Tenang.jpg"><img class="size-full wp-image-4149" title="Suasana Desa" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/02/Desa-Komodo-Yang-Tenang.jpg" alt="" width="577" height="432" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Desa komodo yang tenang.</p></div>
<p>Bentuk rumah Kasim memang menjadi tipikal di Pulau Komodo. Di sini, hampir semua rumahnya bertingkat dengan pola rumah panggung khas Bugis dan atap yang bersilang khas Bima. Namun demikian, bangunan rumah ini bukan sekedar bangunan. Ada filosofi yang terkandung di dalamnya, yakni <em>Sabalong Samalewa</em>, yang artinya adalah sama tinggi sama rata. Sebagaimana model rumah-rumah panggung yang tersebar di seantero Indonesia, rumah panggung Suku Komodo berfungsi untuk menghindari kemungkinan masuknya komodo ke dalam rumah.</p>
<p>Di sini, parabola menjadi pemandangan yang lumrah di rumah-rumah penduduk. Sebab, tanpa teknologi itu, memang tak ada siaran televisi yang bisa tertangkap. Meski demikian, setiap hari listrik baru menyala dari generator setelah pukul 18 WIT.</p>
<p>Berpetualang ke Pulau Komodo menjadi pengalaman yang mengesankan buat saya. Tak hanya keindahan alam atau binatang purbanya yang menarik perhatian, tetapi juga kebudayaan dari suku yang absen dalam kebisingan tentang pulau milik mereka sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenteratimur.com/suku-komodo-sunyi-di-tengah-ingar-bingar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
