Institut Peradaban Aceh: Hapuskan Hari Kartini
Featured, Kasatmata Sunday, April 21st, 2013Institut Peradaban Aceh meminta pemerintah pusat untuk menghapus atau mencabut Hari Kartini secara nasional karena melanggar prinsip keberagaman.
Institut Peradaban Aceh meminta pemerintah pusat untuk menghapus atau mencabut Hari Kartini secara nasional karena melanggar prinsip keberagaman.
Bisa dipahami mengapa semboyan ‘persatuan dan kesatuan’, dua konsep yang menurutnya berbeda, semakin nyaring dikumandangkan. Dan konsep Bhinneka Tunggal Ika kian tinggal menjadi hiasan di lambang Garuda Pancasila.
”Yang ingin kita dorong adalah kekhususan Aceh harus dipenuhi. Sebaiknya sebelum SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) turun dari presiden.”
“Sekarang saya takut air. Selama tiga hari tiga malam, tanpa air dan makanan. Kami terus-menerus memanjat ke tempat lebih tinggi saat pelan-pelan perahu tenggelam.”
“Tugas kapal perang yang seharusnya menjaga dan mengawasi perairan laut Indonesia, justru beralih menjadi perusahaan transportasi laut.”
“Ini semacam kritik kepada negara, yang tidak pernah punya daftar pangan lokal dan masih mengendepankan beras sentris sebagai kebijakan pertaniannya. Selalu ada pilihan di atas permukaan bumi ini.”
“Paling banyak itu dari Jawa Timur dan Solo… maksudnya Solowesi.”
Satu ideologi, bagaimanapun, adalah satu pihak, satu golongan.
Hari Anti Tambang menyerukan penghentian seluruh operasi tambang di dunia takat sektor-sektor publik menjamin keselamatan dan keamanan rakyat, produktivitas dan daya pulih rakyat, serta keberlanjutan fungsi-fungsi layanan alam.
Mengapa mereka tidak berperang dengan orang-orang Belanda dan Inggris, seperti yang terjadi di Jawa? Orang-orang telah menantikan hal ini dari mereka dan tidak mengerti mengapa hal itu tidak terjadi.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.
Lentera Timur.