Home » Author Archive
Stories written by Ken Miryam Vivekananda Fadlil
Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Jurnalisme, Menyuarakan yang Tak Bersuara

“Selama ekspedisi ini, kami tidak pernah menemui satu orang pejabat pun. Menurut kami, petani dan nelayan adalah sumber berita, bukan pejabat… Ruh perjalanan ini adalah jurnalisme, to give voice to the voiceless.”

Indonesia “Menjual Cincin Kawin”

“Dari dulu, tanah Maluku kaya karena rempah-rempah… tak pernah kaya karena tambang. Tapi mengapa tanah kami harus ditambang?”

Sang Pangeran yang Selalu Berada di Tengah (100 Tahun Tengku Amir Hamzah)

“… lambang sedih tentang betapa tak bisa dipertemukannya masa lampau Melayu dengan masa depan Indonesia.”

Mencairkan Bekunya Keistimewaan Surakarta

Dialog antara KRMH Woerjaningrat dengan Perdana Menteri Syahrir menghasilkan pengambilalihan pemerintahan Daerah Istimewa Surakarta untuk sementara oleh pemerintah pusat. Jika situasi sudah aman, pemerintahan akan dikembalikan lagi ke tangan kerajaan.

Lumpur Lapindo untuk Jakarta Yang Lupa

“Kita lupa, warga Sidoarjo lupa, bahkan Presiden pun ikut lupa. Semoga ke depan, kita mendapatkan pemimpin yang tidak mudah lupa dengan penderitaan rakyat,” kata Sholahudin Wahid.

53 Tahun Deklarasi Djuanda, Laut Masih Menjadi Pemisah

Bagaimana cara supaya orang Indonesia tak jadi pelaut lagi? Jadikan dia petani. Suruh dia menanam tanaman yang bisa dijual penjajah di Eropa. Jadi yang menjajah mereka, yang menanam kita, tapi yang menguasai laut mereka.

Menanti di Balik Pintu Panti

“Jika memang benar di lokasi tersebut ada anak-anak yatim piatu, serahkan saja kepada FPI. Kami sangat-sangat siap untuk menerimanya. Kami akan membina mereka agar kembali ke jalan Allah.”

Ketika Negara Mengunci Panti Asuhan

Sebuah panti asuhan di Tasikmalaya, Jawa Barat, dikunci dari luar secara paksa oleh aparatur negara. Di dalamnya ada anak-anak yatim piatu tak mampu. Setelah dikunci, panti tersebut juga hendak dibakar oleh kelompok Front Pembela Islam.

Polisi Manggarai Dinilai Seperti Satpam Perusahaan

Pembongkaran yang dilakukan polisi tersebut dimaksudkan agar hasil tambang berupa mangan sebanyak 20 ribu ton dapat kembali dikirim ke luar negeri melalui kapal laut.

Saat Tambang Menjerat Adat

Kini merebak konflik pertanahan secara terbuka karena perilaku “anggom le anggom lau”, yang berarti ‘ambil sana-sini’.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.