Home » Author Archive
Stories written by Ken Miryam Vivekananda Fadlil
Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

“Siapa Makan Daging, Siapa Berebut Tulang”

Presiden ganti presiden, kondisi rakyat tetap sama. Saya pikir, kita harus berani memandang lebih jauh. Barangkali masalah mendasar bukan sekedar ganti supir.

Federasi, Jalan Ketiga Indonesia – Papua?

“Siapa yang bisa jamin Papua akan merdeka atau Indonesia ini masih akan ada dua puluh tahun ke depan? Jadi mari, kita dialog dulu.”

Ketika Televisi Lokal Jakarta Bersiaran Nasional

Kepentingan nasib ribuan kerani industri televisi bersiaran nasional beserta pengusahanya atau penguatan dan keadilan bagi identitas-identitas yang menyangga sebuah negeri raksasa bernama Indonesia?

Surat Terbuka untuk Presiden Indonesia tentang Penyiaran

Surat terbuka Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP) kepada Presiden Republik Indonesia.

Ku Busu yang Bukan Peragu

Status sosial yang tinggi akan selalu diiringi oleh kewajiban dengan konsekuensi risiko yang tak kalah tinggi.

Serdadu Kumbang, Sengatan dari Tana Samawa

“Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan? Saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati.”

Melindungi Anak dengan Kebudayaan

Kebudayaan lokal adalah basis solusi penanganan konflik untuk melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan.

Hanya Malaikat yang Belum Mampir ke Perbatasan

Peta perbatasan yang ada merupakan gambaran atas simplifikasi ruang. Peta tersebut sama sekali tidak mencerminkan dinamika sosial masyarakat perbatasan. Bahkan ia terlihat dibuat serampangan oleh kolonial.

Telisik Tradisi di Balik Tragedi Pidie

“Harapan saya, hak mukim dikembalikan kepada mukim sebelum mukim merampas. Jangan tunggu mereka mencapai titik didih.”

Jurnalisme, Menyuarakan yang Tak Bersuara

“Selama ekspedisi ini, kami tidak pernah menemui satu orang pejabat pun. Menurut kami, petani dan nelayan adalah sumber berita, bukan pejabat… Ruh perjalanan ini adalah jurnalisme, to give voice to the voiceless.”

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Lentera Timur.