Home Featured Api Tambora di Jakarta
0

Api Tambora di Jakarta

65
0
Pemukiman penduduk di Duri Selatan berada di pesisir sungai. Jika di banyak tempat sungai menjadi halaman depan rumah, di sini sungai menjadi halaman belakang. Foto-foto: LenteraTimur.com/Fajar Riadi.

 

Di kanan kiri jalan sempit itu rumah-rumah sepetak berderet-deret. Setiap petak luasnya kira-kira dua meter persegi. Di jalanan, ibu-ibu tampak memasak, menjahit, dan sekerumun lelaki bermain kartu. Sementara, di ujung jalan yang sama, rumah-rumah itu kosong melompong dan tak beratap lagi. Yang ada tinggal puing-puing bangunan bercampur abu. Tembok dan kayu terlihat hangus.

7 Februari 2013 lalu, saat sore menjelang magrib, rumah yang berderet-deret di Rukun Tetangga (RT) 10 Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Duri Selatan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, ludes terbakar. Sekurang-kurangnya dua puluh petak rumah habis dan nyaris tak bersisa. Tak kurang dari seratus orang pun kehilangan tempat tinggal.

“Apinya cepet banget nyambernya, kagak pakai bilang-bilang,” ujar Agus, 44 tahun, berkelakar.

Agus adalah salah seorang warga yang rumahnya ikut terbakar. Saat itu, bersama rekan-rekan prianya, dia tampak memimpin pembenahan rumah-rumah yang terlalap api. Mereka sibuk menggergaji kayu, memasang tiang, dan memasang atap asbes.

“Sementara Pak RT (Rukun Tetangga-red) enggak tugas dulu, koordinasi warga saya ambil alih,” ujarnya. Lalu dia berbisik, “Pak RT trauma, enggak bisa diajak ngomong dulu. Sudah tiga kali rumahnya ikut terbakar.”

Agus mengaku orang asli Duri Selatan. Sejak kecil dia telah melihat setidaknya empat kali kebakaran yang menghabiskan puluhan rumah di lingkungannya.

“Cuma kalau rumah sendiri baru dua kali kebakar,” terang Agus.

Sunar, tetangga Agus, adalah pria asal Semarang, Jawa Tengah. Sejak 1972, dia merantau ke Jakarta dan mengontrak rumah di Duri Selatan. Rumahnya sempit seperti kebanyakan rumah petak milik tetangga-tetangganya. Sama seperti Agus, rumahnya pun pernah terbakar dua kali. Akan tetapi, peristiwa kebakaran yang terakhir tak sampai menyambar rumahnya.

“Tapi ya tetap ikut bantu-bantu di mari. Namanya juga tetanggaan (bertetangga),” kata Sunar.

“Kalau di sini semua kompak. Ada yang kena musibah pasti dibantu. Mau dia asli sini mau yang bukan, kompak. Kalau entar ada kebakaran lagi memang siapa mau bantu kalau bukan tetangga sendiri?” Agus menyahut.

Di Tambora, kebakaran serupa bukan terjadi sekali dua, tapi amat sering.

“Ibarat arisanlah kalau di Tambora. Minggu ini kebakaran di kelurahan A, nanti beberapa minggu lagi kejadian di kelurahan B,” ucap Kardi, salah seorang staf penghubung pada Suku Dinas Pemadam Kebakaran Kota Jakarta Barat.

Pada kebakaran terakhir di Duri Selatan, kantor Kardi sampai menurunkan lima belas armada. Ini jumlah yang cukup besar untuk sebuah kebakaran.

“Sebenarnya dibilang besar juga enggak kalau cepat-cepat dipadamkan. Cuma itu, kan pemukimannya padat. Mobil enggak bisa masuk, air mampet. Makanya, begitu api padam, yang kebakar sudah banyak,” kata Kurdi.

 

(65)

1

Pada 2012, menurut data yang dihimpun oleh Dinas Pemadam Kebakaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah bencana kebakaran di Jakarta adalah sebanyak 1.008 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun 2011 yang berjumlah 963 kasus. Sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta disebut-sebut disebabkan oleh sambungan arus pendek. Dan dari semua kasus tersebut, Kecamatan Tambora menyumbang jumlah kasus kebakaran tertinggi di antara kecamatan-kecamatan lainnya.

“Sedikit saja ada kasus, misalnya kompor meledak, orang-orang damkar (pemadam kebakaran-red) sudah bingung. Turun banyak armada,” ujar Camat Tambora, Isnawa Adji, 40 tahun.

Isnawa mengakui Tambora masuk dalam daftar merah soal kebakaran. Baginya, penduduk di wilayahnya kerap tidak tertib dalam mempergunakan listrik. Sering kali dia menginspeksi dan sering kali pula dia menemukan banyak pelanggaran penggunaan listrik, termasuk pencurian listrik.

“Sudah sejak 2008 inspeksi dilakukan. Banyak temuan kecurangan. Tapi sampai sekarang kalau mau dicek lagi pasti juga masih banyak,” keluh Isnawa.

Akan tetapi, Agus menerangkan hal berbeda. Menurutnya, kasus pencurian listrik memang ada di lingkungannya. Dan dia sebagai warga susah untuk mencegah hal tersebut. Tapi, dia mengatakan bahwa persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya kecurangan. Persoalan yang lebih substansial adalah harus ada aturan supaya pemukiman yang sudah sepadat ini tidak ditambah dengan pendatang baru. Apalagi, dia tak yakin pemerintah mampu menyediakan rumah-rumah yang nyaman untuk dijadikan hunian.

“Saya lihat setiap kali ada kebakaran bantuannya makanan, mi instan. Tapi sampai kapan kebakaran diselesaikan pakai cara-cara begituan? Nanti juga kebakaran lagi, kok!”

Peta dan Data Umum Kelurahan Kalianyar.

 

Terpadat Di Asia Tenggara
Selain Kelurahan Duri Selatan, ada kelurahan lain yang bernama Kalianyar. Keduanya merupakan bagian dari sebelas kelurahan yang ada di Kecamatan Tambora. Bedanya, Kalianyar jauh lebih padat dan sesak.

Jalanan di Kelurahan Kalianyar tak pernah sepi. Meskipun jalannya sempit dan sebagian becek, orang-orang nyaris tak berhenti berlalu lalang. Ramai orang berjalan kaki, bermotor (motorcycle), dan mengendarai mobil. Jika berpapasan, karena sempitnya jalan, sesekali pengemudi motor dan mobil mesti berhenti untuk mempersilakan salah satunya bergerak duluan.

Di kanan kiri jalan, nampak deretan rumah yang berhimpit-himpit di dalam gang-gang gelap yang sebagian nyaris tak tersentuh cahaya matahari. Di sekitarnya parit-parit sempit mampet airnya.

Situasi dan kondisinya yang sesak membuat Kalianyar disebut-sebut sebagai kelurahan terpadat, bukan hanya di Jakarta, tetapi di Asia Tenggara.

 

(65)

Fajar Riadi Fajar Riadi lahir di Madiun, Jawa Timur. Kini dia bekerja sebagai staf redaksi di LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *