Home Featured Menggelegak di Warung Mi Abang Adek
0

Menggelegak di Warung Mi Abang Adek

218
0
Mi di warung mi ‘Abang Adek’. Foto-foto: Ester Pandiangan.

“Pokoknya, pedasnya melebihi rasa pedas dipoligami”.

Begitulah ungkapan teman saya untuk menggambarkan bagaimana cita rasa mi di warung ‘Abang Adek’. Awalnya saya tak begitu percaya. Sudah sering kali saya mendengar omongan orang yang menggembar-gemborkan menu makanan pedas, namun setelah mencoba hanya berujung kecewa karena rasanya tak seperti yang saya bayangkan.

Tapi promosi bergaya hiperbola seperti itu membuat saya tertarik. Seperti apa rasa yang lebih pedas daripada dipoligami? Dan ketika saya mencari tahu ihwal warung mi ‘Abang Adek’ itu melalui internet, ada yang juga menarik. Di salah satu blog disebutkan bahwa menu di warung itu bermula dari keisengan si Adek yang memasak mi untuk abangnya. Dan mi itu sengaja dibuat super pedas.

Ketika saya meluncur ke kawasan Tomang, Jakarta Barat, tempat makanan itu berada, ternyata informasi itu hanya semacam canda. Menurut si adek yang saya tanya, Simus (41), tak ada skenario mengerjai si abang, H. Sartono (46). Keduanya hanya perantau dari Kebumen, Jawa Tengah, di Jakarta dengan usaha makanan.

Penjaga Kos
Sekitar tahun 1994 – 1995, rumah di Jalan Mandala Utara No. 8—tepatnya di belakang Roxy Square—ini adalah tempat kos biasa yang dijaga Simus dan H. Sartono. Bermaksud mencari penghasilan tambahan, atas izin pemilik kos, keduanya mendirikan warung kecil untuk menjual mi.

Menggerus cabai.

Tapi mereka sadar, apa yang mereka jual sama saja dengan orang lain. Warung mi macam ini sudah menjamur di pinggir-pinggir jalan. Karena itu, keduanya punya ide untukmembuat sebuah konsep yang berbeda, yakni menjual mi bercita rasa pedas.

Kalau biasanya mi disantap dengan saos atau irisan cabai rawit, abang adik ini menjanjikan pengalaman makan mie dengan level kepedasan berbeda-beda: ‘sedang’, ‘pedas’, ‘pedas garuk’, ‘pedas gila’, dan ‘pedas mampus’. Penamaan level pedas macam itu bagaikan jaminan yang membuat keringat bisa-bisa sudah keluar duluan.

Menurut cerita, tingkat ‘sedang’ menggunakan tujuh cabai, ‘pedas’ 25 cabai, ‘pedas garuk’ 60 cabai, ‘pedas gila’ 80 cabai, dan ‘pedas mampus’ 180 cabai. Tapi, apakah memang benar dihitung tepat? Tentunya membedakan tingkat kepedasan satu dengan lainnya tidaklah benar-benar dapat dihitung 80 atau 180 cabai. Jumlah cabainya dikira-kira saja.

Mi pedas ini kenyataannya mendapat respon yang baik. Kekuatan mulut ke mulut membuat warung mi ‘Abang Adek’ ini ramai dikunjungi pelanggan. Akhirnya, dua bersaudara ini pun diakui sebagai wirausahawan sukses. Mereka memperoleh penghargaan sebagai “Pengusaha Teladan se-Jakarta Barat 2011”.

Sekarang omzet warungnya mencapai Rp. 60-70 juta per bulan. Dengan waktu buka mulai pukul 16.00 – 03.00 WIB, rata-rata perhari bisa menghabiskan 22 kardus mie instan. Jika dulunya tidak ada karyawan, kini mereka mempekerjakan 15 karyawan. Hanya saja dua bersaudara ini tetap sederhana dan belum ada niat untuk membuka cabang.

“Masih cari-cari, soalnya pada mahal semua,” kata Simus.

Pedasnya Menggelegak
Sesuai slogan Simus dan H. Sartono “merakyat dan menjangkau masyarakat bawah”, harga mi di warungnya relatif nyaman di kantong. Mi level ‘pedas’ diganjar Rp. 13.000. Harga ini naik Rp. 1.000 untuk setiap level di atasnya.

Tempat mi Abang Adek.

Kalau soal rasa, karena cabainya diulek dan diaduk langsung di piring, pedasnya memang langsung “nancap”. Aroma panas cabai langsung menguar. Itupun masih yang levelnya ‘pedas’, belum ‘garuk’, ‘gila’, apalagi ‘mampus’.

Kenikmatan mengunyah mi pun masih terbaca. Tekstur minya yang kenyal, bumbunya yang wangi, dan tingkat gurihnya, masih terasa benar di lidah, walaupun sesekali air mata keluar dan hidung menyeruput ingus. Sekali lagi, itu masih level pedas, yang katanya 25 cabai—padahal faktanya saya hanya meminta digeruskan 10 cabai saja. Bagaimana lagi dengan level pedas garuk, gila, dan mampus?

Menurut yang sudah pernah mencoba level ‘pedas mampus’, rasanya memang benar-benar bikin mampus! Tak ada lagi enaknya. Yang ada cuma rasa pedas yang amat sangat. Macam menggelegak.  Badan lemas, perut panas, keringat mengucur, dan bisa saja diare usai menyantapnya. Toh tetap saja ada yang memesan. Entah karena penasaran, sekadar mencoba, atau ingin dianggap jagoan karena berhasil menaklukkan rasa pedasnya.

Akhir cerita, tiadak ada di antara yang berani mencoba mi level ‘pedas mampus’. Kawan saya bilang tak sanggup dengan pedasnya. Membayangkan jumlah cabainya saja sudah ngeri.

(218)

Ester Pandiangan Ester Pandiangan adalah seorang jurnalis yang lahir di Batuphat, Lhokseumawe, Aceh, pada 2 Juni 1986. Ia pernah bekerja di salah satu harian, pun majalah gaya hidup, di Medan. Sejak hijrah dari Medan ke Jakarta pada Maret 2012, ia menjadi jurnalis di salah satu majalah perempuan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *