Home Bernala Ketika di Atas Duka Kau Sebut “Wow Indah Ya”
1

Ketika di Atas Duka Kau Sebut “Wow Indah Ya”

20
1
Arman Dhani

Salman Rushdie memulai novel masyhurnya, Satanic Verses, dengan sebuah pernyataan filosofis yang menggetarkan. “To be born again,” kata malaikat Gibreel Farishta menggema dari surga, “first you have to die.” Saya kira Rushdie hendak menyampaikan sebuah pesan, bahwa untuk menemukan sesuatu, kita mesti kehilangan yang lain. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa didapat hanya dengan berdiam diri dan terlena pada satu keadaan.

Pernah dalam suatu masa saya merasa jenuh dengan kehidupan yang monoton. Kuliah, berorganisasi, pacaran, lalu pulang tidur di tempat kos. Rutinitas yang awalnya menyenangkan ini pelan-pelan menjadi semacam penjara. Semua yang dahulu adalah kegiatan yang saya inginkan, berubah menjadi kebiasaan yang menjemukan. Tidak ada pemantik yang membakar semangat hidup. Seringkali dalam diam pertanyaan datang dengan cara yang menyebalkan. “Apa ada yang salah dalam hidup saya?”

Pada akhir 2007, saya berkenalan dengan seorang kawan yang gemar melakukan perjalanan. Dia mengaku dirinya sebagai petualang. Terinspirasi dari sebuah novel karangan Gola Gong tentang petualangan, kawan ini pun muncul dengan tampilan gembel. Kerap dalam diskusi kami yang diselangi makian itu, dia bercerita, bahwa di luar sana, di Indonesia, ada jutaan tempat yang menunggu dijamah, menunggu ditemukan, menanti untuk diceritakan. Tanpa sadar dia membakar semangat baru dalam hidup saya. Semangat petualangan.

Saya bukan seorang pemberani. Seringkali dalam hidup saya lebih memilih berjalan di pinggiran daripada berdiri tegak menghadapi masalah. Pengecut yang ragu-ragu lebih tepatnya. Tapi rupanya kawan ini punya cara jitu untuk menyebarkan laku perjalanan, atau traveling, sebagai sebuah gairah hidup. Dia tidak mencemooh gaya hidup aman yang selama ini saya inginkan. Lulus cepat, jadi pegawai negeri sipil atau karyawan bank, menikah, beranak, lantas mati. Dia hanya bertanya. “Apa yang didapat dari hidup semacam itu?”

Saya kira hidup bukan perihal mendapat gaji lalu beranak. Manusia lebih hebat dari itu.

Pelan-pelan saya memacu diri untuk berani melakukan perjalanan. Awalnya beramai-ramai dengan beberapa kawan pergi ke Yogyakarta, lantas berjalan sendiri. Kota ini adalah kota pertama yang mungkin akan selalu membuat saya menyemai rindu. Ia adalah segala yang bernama kepulangan, sahabat, dan juga getir. Getir? Ah, sudahlah, suatu saat saya akan ceritakan. Tapi di sini saya bertemu dengan kawan-kawan lain yang juga menyadari arti penting sebuah petualangan. Perpindahan manusia kerap kali melahirkan gagasan, kawan, dan juga pencerahan yang baru.

Tapi, bagaimana sebuah perjalanan mesti dimaknai? Saya kira setiap manusia pernah melakukan perjalanan, petualangan, dan ziarah. Tiap-tiap dari perpindahan tersebut memiliki arti sendiri. Sebuah perjalanan tidak selalu linier dengan keinginan kita. Artinya, dalam beberapa kasus, perjalanan bisa menjadi sebuah neraka atau surga tergantung bagaimana kita melakukannya. Perjalanan, seperti juga hidup, semestinya memiliki tujuan normatif. Tidak melulu datang, foto-foto, menulis, lalu melupakan begitu saja. Perjalanan yang semacam ini, buat saya, adalah perjalanan yang dangkal.

Mau tidak mau saya ingin bersepakat dengan Jack Kerouac dalam cara menikmati sebuah perjalanan. Melalui magnum opusnya, On the Road, Kerouac bercerita bahwa perjalanan semestinya dimaknai seperti membaca buku. Dia, bersama Dean Moriarty, menjelajahi Amerika Serikat seperti membaca sebuah puisi. “I preferred reading the American landscape as we went along.” Katanya, “Every bump, rise, and stretch in it mystified my longing.” Saya kira dia punya cara yang asik dalam bersenang-senang.

Apakah perjalanan juga harus dilakukan pada sebuah lokasi yang terpencil? Melulu indah dan eksotis? Saya kira tidak. Saya belajar dari Orhan Pamuk, novelis Turki, yang menyusun Istanbul, Turki, dengan jeli. Perjalanan semestinya proses yang mencerahkan. Seperti saat pertama kali saya melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Saya terpesona akan segala yang dimiliki kota itu. Para penduduknya, toko bukunya, stasiun keretanya, dan juga makanannya. Yogya seperti ibu lain yang selalu membuat saya betah berlama-lama menikmati peraduan yang ia sediakan.

Setiap kota, bagi saya, selalu menawarkan satu sudut baru untuk diceritakan, satu sosok baru untuk dikenali dan satu jalan baru untuk dijalani. Untuk itu, dalam setiap perjalanan, dimanapun destinasinya, saya selalu memperlakukan mereka sebagai sebuah tempat asing yang pertama kali dijamah. Sehingga, meski satu tempat telah berkali-kali dijamah, dikunjungi, atau diceritakan, ia pasti memiliki sudut lain yang lalai dijelaskan. Perjalanan, bagi saya, bisa jadi merupakan sinonim dari sebuah pencarian.

Beberapa saat lalu seorang kawan, Farchan Noor Rachman, menuliskan suatu yang bernas yang berjudul “What are you traveling for?” Si manis berkaca mata hitam ini berkata, “Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana menikmati perjalanan dengan apapun, kemanapun, dan dengan ongkos berapapun”. Awalnya saya hendak setuju dengan pernyataan ini, kalimat itu benar sebagai sebuah jargon. Namun, sebagai pribadi yang pernah mengenyam 30 episode Wiro Sableng dan 42 jilid kitab Dragon Ball, saya diajarkan untuk menjadi kritis.

Farchan alpa pada apa yang telah dia dan kawan-kawan traveler-nya lakukan. Mereka telah menyebarkan demam perjalanan sebagai sebuah gaya hidup baru, tanpa mempersiapkan pribadi-pribadi lain yang akan terjun dalam petualangan itu. Seperti juga cinta, melancong adalah sebuah virus yang bisa menjangkiti siapapun. Sayangnya, tak semua orang bisa memperlakukan perjalanan dengan bijaksana. Beberapa, meminjam bahasa Farchan, “dunia traveling sudah terlalu riuh, terjadi kekosongan, terjadi upaya sombong-sombongan”.

Saya ingin berdialog dengan Farchan, juga situs semacam hifatlobrain atau yang lainnya, perihal kode etik seorang pejalan. Sebenarnya, apa esensi sederhana dari sebuah perjalanan? Kerapkali situs traveling atau travel writer gagal menyampaikan pesan tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya stimulan, perayu yang mengiming-imingi orang lain untuk melakukan perjalanan, tanpa memberikan sebuah cagar batas apa tujuan dari sebuah perjalanan. Katakanlah tujuan setiap manusia dalam melakukan perjalanan berbeda satu sama lainnya. Tapi bukan berarti tak ada batasan bagaimana sebuah perjalanan dilakukan, bukan?

Apakah mereka salah? Tidak. Saya hanya khawatir perjalanan tersebut hanya menjadi sebuah vakansi kosong. Sebuah ziarah semu atas ego kita untuk menaklukan sebuah destinasi. Saya ingat perjalanan saya ke Toraja pada 2009 silam. Di balik riuh promosi dan hiperbola keindahan tanah kematian tersebut, rupanya ada duka yang tersimpan. Kita boleh jadi melihat sebuah perayaan kematian yang luar biasa, puluhan kerbau dibantai, atau babi disembelih untuk sebuah pemandangan. Tapi sedikit sekali kemudian yang menyigi bahwa dalam ritus itu beberapa keluarga jatuh bangkrut dan sebuah negeri pernah dan tengah melata. Pernahkah petualang peduli?

David Chaney, seorang pemikir kajian budaya populer, mengatakan adanya fenomena illusory surface. Penampakan luar yang indah namun membusuk di dalam. Saya mengakui begitu menikmati ratusan foto indah yang dipamerkan dengan tagar #indonesia atau #traveling. Tapi, keindahan itu buat saya menjadi ironis, kerap kali menusuk, jika kemudian kita gagal memahami realitas sosial yang ada dibalik foto tersebut. Melulu kita memamerkan sebuah surga tapi lupa, barangkali para penghuni surga tersebut sebagian besar putus sekolah atau bahkan mal nutrisi.

Meminjam istilah Pink Floyd, “we just two lost soul in the fish bowl”. Orang asing yang datang ke destinasi asing.

Saya pikir, kita perlu bertanya dalam diri kita sendiri. Perlukah perjalanan hanya perihal destinasi tanpa serta berupaya memberikan sesuatu kembali?

Di Bromo, beberapa waktu lalu, saya kembali dihadapkan pada situasi yang pelik. Dalam khusyuk upacara kasada, para pencari berkah berkumpul di dalam kawah, menanti sesaji yang dilempar untuk kemudian dikumpulkan. Siapakah mereka ini? Seorang kawan berkata bahwa mereka adalah para penduduk Bromo yang miskin. Mengumpulkan sesaji bertaruh nyawa hanya untuk mengumpukan renik. Hati saya nyeri.

Ada juga beberapa pelancong yang abai dengan kondisi lingkungan sekitar dimana dia berkunjung. Permasalahan Cagar Alam sebagai lokasi perlindungan telah banyak dicabuli oleh pelancong yang enggan mengerti. Ambil contoh Cagar Alam Pulau Sempu dan Cagar Alam Pulau Nusa Barong. Sila anda cari di Google foto kedua lokasi tersebut. Puluhan atau mungkin ratusan foto akan muncul memamerkan keindahan pantainya. Tapi, apakah mereka sadar jika lokasi tersebut adalah daerah konservasi alam?

Vidiadhar Surajprasad Naipaul, penulis dan peraih nobel asal India, pernah menulis sebuah catatan perjalanan yang bernas. Dia tak melulu bicara soal keindahan atau pesona alam. Lebih jauh dari itu, dia bicara soal kemanusiaan, soal realitas sosial yang terjadi di India. Dia bicara tentang kemiskinan yang kejam, konflik ras dan agama yang keji, juga polemik Khasmir antara Pakistan dan India. Adakah dari para pejalan tadi berani atau mampu menuliskan itu semua? Menuliskan perjalanan sebagai apa adanya, bukan sekedar surga, indah, mengagumkan, dan “wow indah ya” semata.

Sejauh ini pula, belum pernah saya membaca travel writer yang berani menulis perihal Papua atau wilayah lain dalam perspektif humanisme. Deskripsi yang muncul selalu saja pantai yang indah, penduduk yang disebut unik, hutan yang memukau, petunjuk mencapai lokasi beserta tariff-tarifnya, “wow indah ya” lagi, dan sederet eufimisme lain. Padahal, dari catatan Human Rights Watch, hampir setiap hari terjadi pembunuhan di Papua. Kekerasan atas nama rasialisme dan juga konflik tanah adat. Pernahkah para pejalan tadi berani dan sensitif untuk mengeksplorasi kisah ini dalam ceritanya? Saya ragu.

Dalam An Area of Darkness, V.S Naipul juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Dia bicara soal kehidupan sosial di India yang disebutnya sebagai sebuah tragedi. Kebanyakan dari kita mungkin berpikir jika India adalah Bollywood yang indah, atau dalam bahasa Naipul “All the extravagantly coloured women with big breast and big hips”. Lalu, lanjut dia dengan kalimat lebih nyinyir, “a descendant of those figures of old indian sculpture which, until separated from the people who created them, like a tragic folk longing”.

Saya kira, kita perlu belajar mengambil jarak pada sebuah keindahan.

Entah mengapa, sebuah perjalanan di Indonesia kehilangan kaidah-kaidah kemanusiaan. Apakah petualangan di Indonesia tak memiliki semacam norma atau kode etik? Semacam tapal batas, bahwa saat kau melakukan sebuah perjalanan ke satu destinasi, tentukan tujuanmu ke sana. Apakah hanya sekedar hura-hura, pelarian, menyelami kebudayaan mereka, atau sekedar mampir. Lantas, apa yang bisa kau berikan pada destinasi tersebut? Pajak lewat penginapan? Kabar perihal problema sosial di sana? Atau menutup mata dan berkata dengan logat daerah Jakarta, pusat kekuasaan yang kaya raya sekaligus angkuh, “Wow, lokasinya indah, lo mesti ke sana deh”.

Farchan, juga beberapa kawan di situs Hifatlobrain, saya kira perlu menalar lagi tujuan mereka dalam melakukan perjalanan. Atau, dalam kasus Hifatlobrain, mempromosikan lokasi wisata. Perlukah kita mengajak orang datang ke satu destinasi hanya sekedar untuk menikmati keindahannya tanpa berpartisipasi dalam pengembangan manusia yang tinggal di sana? Atau Hifatlobrain berhenti pada wacana travel experience? Tapi, experience yang mana? Yang foto-foto narsiskah? Yang murah-murahankah? Atau yang eksotis-eksotiskah? Sekali lagi, pengalaman menjadi personal bagi masing-masing manusia.

Farchan pantas khawatir jika perjalanan yang dilakukannya kini menjadi impulsif. Saya kira dia takut bahwa apa yang dia cintai, perjalanan itu, menjadikan dia pribadi yang congkak, sombong lagi naif. Perjalanan, seperti juga ziarah, bukan perihal berapa destinasi yang telah kita lalui, atau berapa negara yang telah kita singgahi. Kalian, seperti juga saya, para manusia, lebih dari itu. Perjalanan semestinya momen untuk menyadari kedaifan diri. Berbagi kisah pada sesama untuk bahan renungan, pelajaran, atau mungkin pencerahan.

Samuel Clemens, atau yang biasa kita kenal sebagai Mark Twain, dalam salah satu karyanya yang tak terkenal, The Innocents Abroad, berkata bahwa “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts”. Sebuah perjalanan yang diawali dari prasangka hanya akan berujung sia-sia. Lebih dari itu dia melanjutkan, “Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one’s lifetime”.

Satu kehidupan tak akan pernah cukup membuat kita mengelilingi bumi. Apalagi belajar dari setiap destinasi yang ada. Pilihan wajarnya adalah menikmati perjalanan tersebut, belajar darinya, sensitif, lantas memberikan timbal balik pada lingkungan dimana kita tuju. Itu saja. Saya belum banyak melakukan perjalanan, belum banyak pelajaran juga pengalaman yang bisa saya bagi.

(20)

Arman Dhani Penulis lepas dan jurnalis di Jember, Jawa Timur. Ia adalah pengasuh blog terumbukarya.blogspot.com yang mencintai indonesia dengan cara yang paling tersembunyi.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Saya peragu, ingin seberani dan selugas Anda. Tapi saya masih tidak tahu bagaimana memulainya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *