Home Featured Sayupnya Raung Harimau Sumatera

Sayupnya Raung Harimau Sumatera

884
0
Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae). Foto: Monika Betley melalui Wikipedia.org.
Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae). Foto: Monika Betley melalui Wikipedia.org.

Harimau Sumatera [panthera tigris sumatrae] kini lebih terdengar sebagai legenda daripada fakta sejarah yang hidup. Seolah harimau itu tidak pernah ada di Sumatera, hanya cerita dongeng. Padahal, harimau Sumatera adalah bagian dari cerita rakyat; nyata dan benar-benar ada. Cerita-cerita tersebut pada umumnya disampaikan oleh tukang kaba, didong, marturi melalui tradisi lisan . Gunanya untuk “menghormati” keberadaan harimau dan hubungannya dengan manusia.

Hubungan yang dimaksud di sini adalah kepercayaan yang meyakini bahwa leluhur manusia berasal dari harimau. Agak sulit menerangkan bagian ini secara logis dan rasional. Sebab, tentu saja, kepercayaan terkadang dibangun dari mitos. Ada satu kepercayaan yang menyebutkan, dalam tradisi keislaman, bahwa macan dan buaya sama-sama keturunan Sayyidina Ali. Lebih dalam dikatakan, siapa yang bisa menyatukan kekuatan macan bisa untuk melindungi diri dan memiliki daya sembuh. Penyembuhannya dengan cara memanggil ruh Imam Ali. Tentu untuk melakukan hal ini harus melalui tirakat tapa dan puasa.

Salah satu bagian Sumatera yang mempercayai bahwa manusia adalah memiliki pertalian yang rapat, erat, dan dekat dengan batin harimau adalah Kerinci-Jambi. Sebagian masyarakat Kerinci percaya, nenek moyang mereka berasal dari harimau. Cerita ini, bagi yang tak menghendakinya, tentu saja tidak dapat ditempatkan dalam posisi salah atau benar.

Dalam tradisi masyarakat Kerinci, ada kepercayaan tentang adanya manusia harimau yang disebut cindaku. Dan Kerinci tak sendiri. Sebagian masyarakat Bengkulu juga percaya adanya manusia harimau yang dinamakan setuo. Demikian pula halnya di Payakumbuh Lembah Harau, Sumatera Barat, dimana diyakini ada manusia yang bisa menjadi inyiak (harimau), yang menguasai lembah Harau dan gunung Singgalang. Dan di Sumatera Barat dan Jambi, harimau disebut datuk atau inyiak belang. Sementara di tanah Batak, harimau disebut dengan opung, panggilan kehormatan untuk orang yang dituakan.

Di hutan Sumatera, khususnya di Rimbo Larangan Nagari Paru Payakumbuh, ada keyakinan tersendiri terkait harimau. Disebutkan bahwa jika panter, yang masih satu spesies dengan harimau, yang biasa disebut juga dengan harimau hitam, datang ke suatu kampung, maka Monti Dulu Balang (tetua adat) bisa membaca sedang ada ketidakberesan di wilayahnya.

Bisa jadi, penduduk desa ada yang berbuat zalim kepada hutan atau kepada sesama saudara sendiri. Tempat yang dihuni harimau hitam, di antaranya, berada di daerah Mudik Mandi Angin, Hulu Mudik Paru, dan Gunung Tunggal. Di tempat ini pulalah terdapat sebuah Ngalau (gua) tempat atau rumahnya orang bunian (makhluk halus).

Tetapi, kepercayaan yang menempatkan harimau dalam posisi istimewa tidak hanya hidup di masyarakat Sumatera, tetapi juga negeri-negeri lain. Sebut saja Cirebon, dimana benderanya bergambar macan yang menjadi cerminan dari macan Imam Ali. Film tentang manusia harimau juga sempat beredar dengan berbagai versi. Satu di antaranya adalah 7 Manusia Harimau (1986) yang dibintangi El Manik.

Meski cerita-kepercayaan semacam ini beredar luas, belum diketahui pasti bagaimana pola-rupanya.  Apakah yang dimaksud manusia harimau itu adalah manusia yang berganti wujud menjadi harimau, berganti cangkang-rupa, bermetamorfosa seperti halnya transformer, atau bentuknya manusia sifatnya harimau?

Peter Boomgaard, dalam bukunya Frontiers of Fear, Tigers and People in the Malay, 1600-1950 (2001), mengatakan bahwa keyakinan harimau sebagai leluhur manusia menjelaskan kenapa masyarakat enggan membunuh harimau. Menurut Peter, “masyarakat enggan membunuh harimau karena ada kepercayaan bahwa harimau adalah nenek moyang mereka dan melindungi mereka”.

Keberadaan Harimau Sumatera
Barangkali tidak banyak yang tahu atau tidak dapat menjawab, bahkan mungkin orang Sumatera sendiri, tentang di mana dan dari mana asal-usul Harimau Sumatera itu tepatnya? Apakah di Sumatera Timur (Utara), Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Jambi, atau merengkuh seluruh prefektur Sumatera, termasuk Aceh, Nias, Bangka, Belitung?

Pun, apakah harimau Sumatera sama dengan harimau yang ada di pulau-pulau lainnya di Indonesia? Apakah lantaran ia ada di Sumatera maka dinamakan harimau Sumatera? Menurut buku The Natural History of Wild Cats, asal-usul harimau sudah ada sejak zaman yang disebut purba. Sedangkan harimau Sumatera populasinya disebut masih dapat ditemukan di wilayah Jambi, Tanjung Jabung Timur, kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat [TNKS] yang membentang sepanjang Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu, dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Riau-Jambi.

Direktur Komunitas Konservasi Indonesia [KKI] Warsi Jambi, Rakhmad Hidayat mengatakan bahwa jumlah populasi harimau Sumatera di Jambi diperkirakan antara 250-300 ekor. Kemudian disebutkan juga bahwa harimau dapat ditemukan di wilayah Bayung Lincir, Taman Nasional Berbak [TNB]. Selain di Jambi, harimau Sumatera terdapat pula di Bengkulu, tepatnya Desa Talang Sebaris, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma.

Keberadaan harimau juga diidentifikasi berada di tempat lain, yakni di hutan Sei Senepis-Buluhala di Kota Dumai yang terdapat dalam wilayah Tiger Conservation Unit (TCU), Hutan Penyangga Bukit Tigapuluh di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Jambi), Kabupaten Tebo (Jambi), Kabupaten Indragiri Hilir (Riau), Kabupaten Kuantan Singingi (Riau), lalu di Kelompok Hutan Sungai Kampar yang terletak di Kabupaten Pelalawan (Riau).

Berdasarkan catatan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1978, populasi harimau Sumatera berjumlah sekitar seribu ekor. Saat ini, populasi harimau Sumatera diperkirakan kurang dari 400 ekor. Lebih dari setengah populasinya ditemukan di Kerinci Seblat – Bukit Barisan lanskap selatan yang membentang dari Tesso Nilo di Riau untuk Bukit Tigapuluh, dan kemudian dari Kerinci Seblat untuk Bukit Barisan Selatan. Harimau Sumatera terdapat pula di Taman Nasional Gunung Leuser.

Bentuk, Pola Hidup, dan Perilaku Harimau Sumatera
Dari ciri fisiknya, harimau Sumatera dapat dikenali dari garis-garis loreng yang rapat dan berdekatan di tubuhnya. Hal ini disebut untuk membuat mangsanya tertipu di antara semak-semak dan belukar. Selain itu, harimau Sumatera memiliki bintik putih di telinga dengan bulu-bulu yang berwarna oranye-merah dengan garis-garis hitam. Menariknya, setiap belang harimau satu dengan dengan lainnya tidak ada yang serupa – persis seperti sidik jari manusia.

Pada umumnya, apabila sesama harimau Sumatera berinteraksi dan berkomunikasi, mereka saling menggosokkan wajah dan mencium aroma dengan suara geraman serta auman. Kibasan ekor harimau memperlihatkan ekspresi harimau.

Dari segi panjang tubuh, rata-rata harimau Sumatera jantan mencapai sekitar 2,3 meter dengan berat sekitar 120 kilogram. Sedangkan panjang betinanya mencapai sekitar 2,1 meter dengan berat 90 kilogram. Dari segi ukuran, harimau Sumatera lebih kecil dibandingkan harimau lain di seluruh dunia.

Dari usia, harimau Sumatera dapat hidup sampai sekitar 15-20 tahun. Jika dibandingkan dengan percepatan kepunahannya, ini sungguh usia yang sangat pendek. Dan masa hidupnya ini sebagian besar dilewati dengan menyendiri dalam menjelajahi rimba. Akan tetapi, hal ini dapat dikecualikan pada saat musim kawin dan membesarkan anak.

Pada harimau betina, tingkat kematangan untuk melakukan perkawinan dengan harimau jantan terjadi pada usia sekitar 3-4 tahun. Masa kehamilan harimau betina adalah sekitar 103 hari. Ia bisa melahirkan 2-3 anak sekaligus. Ketika melahirkan, bulunya berubah menjadi hijau gelap.

Harimau sumatera terbilang satwa yang sangat cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Ia dapat hidup di banyak tempat, seperti hutan hujan, hutan gambut, dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan, savana, hutan terbuka, hutan pantai, hutan tebangan, pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, pantai air tawar, padang rumput, sepanjang aliran sungai, perkebunan, dan tanah pertanian.

Selain itu, harimau Sumatera juga pintar dan suka berenang, pun memanjat pohon. Terdapat selaput di sela-sela jari yang menjadikan harimau mampu berenang cepat dan memanjat. Di sinilah dapat ketahui perbedaan dari macan, harimau, singa, jaguar, dan kucing. Singa (panthera leo) merupakan hewan yang hidup berkelompok. Singa betina berburu, singa jantan bersikap menunggu. Sekalipun singa disebut raja hutan, singa tidak dapat memanjat pohon. Macan [panthera pardus] termasuk keluarga Felidae yang terkecil dari empat jenis kucing besar (big cat), seperti harimau, singa, dan jaguar.

Jejak perjalanan harimau ini juga dapat dijadikan penunjuk jalan bagi manusia. Sejak zaman dahulu dan sampai sekarang, apabila para pendaki, polisi hutan, atau siapa pun, tersesat di hutan, ia dapat menemukan jalan pulang dengan cara menandai jejak harimau. Harimau menandai suatu lokasi dengan feses (kotoran dan kencing), juga dengan cakarnya. Mengikuti jejak harimau untuk menemukan jalan pulang juga bisa dengan melihat patahan ranting-ranting kayu.

Harimau adalah hewan pemakan daging (karnivora). Sekali makan, ia membutuhkan daging kurang lebih sebanyak delapan kilogram. Ia juga merupakan predator utama dalam mata rantai makanan. Hampir semua buruannya tak ada yang pernah lolos. Dan ini dikarenakan kemampuan indera penglihatan dan pendengarannya yang amat tajam. Harimau mampu bersabar untuk menunggu kapan saat yang tepat untuk memangsa dan berburu. Dan penjelajahan buruan harimau Sumatera dapat mencapai lebih dari 20 kilometer.

Setelah mendapatkan mangsa, harimau Sumatera biasanya tidak langsung melahapnya. Ia akan menariknya terlebih dahulu ke dekat sumber air, terutama sungai. Adapun makanan harimau Sumatera, di antaranya, adalah rusa sambar, babi hutan, kera, celeng babi hutan liar, kijang, kancil, kerbau liar, tapir, kera, langur, landak, trenggiling, beruang madu, jenis reptil seperti kura-kura, ular, biawak, berbagai jenis burung, unggas, dan ikan.

Sedangkan hewan peliharaaan atau ternak manusia yang sering menjadi incaran harimau adalah kerbau, kambing, domba, sapi, anjing, dan ayam. Jika ada ternak yang dihabisi, itu menandakan harimau Sumatera sudah tidak lagi menemukan makanan di hutan. Meski demikian, tak setiap hari harimau Sumatera melakukan perburuan. Pada umumnya, harimau Sumatera mencari mangsa sekitar 3-6 hari sekali.

Pola perburuan harimau ini kemudian melahirkan idiom “rezeki harimau”. Rezeki harimau adalah istilah orang Sumatera untuk menyebutkan rezeki atau penghasilan yang tidak selalu dapat diperoleh setiap hari. Sekali dapat, “rezeki harimau” bisa cukup untuk bertahan hidup sekian waktu.

Sementara itu, harimau Sumatera disebut sangat menyukai buah durian. Ia lebih pintar memilih durian daripada manusia, dan umumnya memakan buah itu dengan sangat rapi. Ia mulai dengan mengumpulkan buahnya, kemudian mengumpulkan kulitnya, dan biji-biji durian tidak ada yang tergores oleh cakar-cakar harimau. Ketajaman mata dan penciuman harimau membuatnya mudah mencari durian yang jatuh sekalipun malam gulita.

Bisa kita bayangkan, bagaimana nikmatnya memakan durian yang jatuh dari pohonnya langsung. Dan harimau tahu itu.

Kepunahan Harimau Sumatera
Harimau Sumatera adalah jenis satwa liar yang dilindungi yang saat ini justru terancam punah. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya populasi harimau Sumatera. Di antaranya karena tidak tersedianya informasi memadai bagi masyarakat tentang bagaimana sebenarnya menangani ancaman harimau Sumatera apabila memasuki kawasan lahan dan perumahan penduduk. Jika melihat harimau, masyarakat seketika pasti sudah takut dan berniat untuk membunuhnya.

Penyebab lain dari ancaman kepunahan harimau Sumatera adalah karena terjadinya konversi hutan menjadi lahan, kebakaran hutan dan pembakaran hutan, eksploitasi hutan besar-besaran, penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan pohon rindang menjadi pokok-pokok sawit, karet, dan jarak. Sekalipun banyak seruan untuk menanam pohon, yang banyak terjadi justru adalah penanaman sawit. Pohon sawit tidak dapat menyerap air hujan. Ini berbeda dengan hutan sebagaimana pada umumnya. Padahal, makhluk hidup sangat membutuhkan air.

Selain itu, harimau Sumatera juga diburu untuk kepentingan yang sebenarnya tidak penting. Misalkan atas nama seni, dimana kemudian kulit harimau dan taring giginya dipajang. Belum lagi digunakan untuk pengobatan yang bersandar pada mitos. Tidak ada upaya penegakan hukum terhadap wildlife crime.

Berdasarkan pantauan International Fund for Animal Welfare(IFAW) sampai 2009, perdagangan bagian tubuh, kulit, cakar, dan badan utuh harimau di Indonesia semakin memprihatinkan. Harga tubuh harimau dijual mulai dari lima sampai puluhan juta rupiah. Kebanyakan tubuh harimau dijual art shop. Sejauh ini paling banyak ditemukan kasusnya di Lampung.

Penyelamatan dan Perlindungan Harimau Sumatera
Dalam upaya menyelamatkan dan melindungi harimau Sumatera, Indonesia melakukan pengelolaan dengan mendirikan Pusat Penangkaran Harimau Sumatera sebagai tempat penyimpanan sperma ((genome rescue bank) harimau Sumatera. Tempatnya bukan di Sumatera, tetapi di Jawa, tepatnya di Taman Safari Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Program penanganan harimau Sumatera ini merupakan hasil kerjasama antara Departemen Kehutanan Indonesia dengan The Tiger Foundation Canada dan Sumatran Tiger Trust, Inggris.

Secara hukum, perlindungan harimau sudah termaktub dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pada pasal 21 (d) tertulis bahwa “setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.” Ada sanksi bagi pelanggaran ini, yakni pidana berupa hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda maksimum seratus juta rupiah.

Harimau Sumatera dalam Bingkai Budaya
Kebudayaan Melayu, khususnya yang ada di Sumatera, terbentang dari ujung hingga ujung, dari lubuk sampai ufuk. Karena itu, taklah heran jika tariannya umumnya mempunyai gerak alam yang serupa laksana gerakan laut yang lentur, dinamis, tak berbatas tepi.

Gerak alam itu tak hanya merujuk pada gerakan laut, tetapi juga merupakan personifikasi dari hewan, seperti ikan, burung, ular, dan harimau. Ia dicirikan dengan kain selampit selendang bahu, gelang bajang, dan dukoh rantai. Warna dominannya adalah kuning, hijau, merah. Akan tetapi, di sisi lain, tarian Melayu dapat dikatakan tak memiliki nuansa ritual klenik. Umumnya tarian ini digunakan untuk menjamu tamu, bersuka ria, syukuran atas berakhirnya sebuah kesusahan atau duka lara.

“Tarian alam” ini kadangkala berpadu dengan seni beladiri Melayu, yakni silat. Dalam tradisi Masyarakat Minangkabau, misalnya, harimau merupakan inti dari seni beladiri silat. Dan di sana terdapat jenis beladiri yang disebut ‘silat harimau’. Datuk Edwel, yang termasuk keturunan bangsawan Minangkabau, disebut memiliki ilmu telepati yang dapat berkomunikasi dengan harimau. Inti ilmu telepati adalah rasa saling menjaga. Katanya, “Kami menjaga harimau di hutannya, mereka juga menjaga kampung kami dari segala bahaya seperti hewan liar.”

Silat harimau adalah beladiri khas yang langsung diajarkan oleh harimau. Dahulu, silat ini umumnya diajarkan di bawah kolong rumah panggung pada malam hari selepas salat Isya. Inyiak angguik yang memiliki ilmu ini adalah orangtua dari Datuk Edwel. Silat asli Minang dinamakan pula dengan Silok Tuo (silat tua). Silat inilah yang mula-mula sekali digunakan oleh Datuk Parapatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguanggan. Di Minang sendiri banyak aliran silat dan pecahannya, termasuk silat Kisamandi yang dibawa Tuanku Nan Renceh Pahlawan Perang Kamang.

Sebelum belajar silat harimau, ada beberapa persiapan yang dilakukan. Di antaranya harus disediakan beras, pinjaik perlengkapan jahit, pisau, kain kafan. Persyaratan ini sebagai simbol bahwa manusia hidup tidak boleh mencari musuh. Jika musuh menantang, pantang untuk menghilang (mengelak-menghindar). Sebelumnya guru silat menyediakan nasi kunyit untuk memanggil harimau. Latihan silat dibuka dengan ‘mambukak langkah’.

Keistimewaan silat harimau ada pada pola pembelajaran fisik yang disebut garik dan pola  pembelajaran insting-naluri yang disebut garak. Perpaduan keduanya menghasilkan garak jo garik (gerak-gerik). Jadi, bukan hanya mengandalkan gerakan semata.

Harimau Sumatera dan hubungannya dengan masyarakat Sumatera tambah lengkap dengan adanya ‘Gua Harimau’ di Sumatera. Gua harimau terdapat di Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Menurut masyarakat setempat, gua ini pernah menjadi tempat harimau berdiam. Selain tempatnya yang bagus untuk harimau, lokasinya juga tersembunyi di lereng perbukitan karst, tertutup semak belukar. Di bawahnya terdapat sungai kecil yang dinamakan Aek Kaman Basah. Alirannya bermuara sampai ke Sungai Ogan. Dibandingkan dengan gua-gua lain, keistimewaan gua ini terdapat pada keberadaan lukisan prasejarah pada dinding-dinding guanya. Ini menandakan manusia purba pernah hidup di dalam gua harimau.

Saat berperang dengan Belanda, Aceh juga dikenal dekat dengan harimau. Di Aceh, disebutkan suatu kepercayaan bahwa dalam sejarahnya pasukan-pasukan Aceh, dalam keadaan sangat terdesak, akan memakan hati harimau. Keyakinan ini dipercaya dapat menambah daya kekuatan dengen ceubeuh (garang, berani, buas, ganas). Pawang harimau dalam bahasa Aceh disebut pawang rimueng. Sejak kecil, pawang rimeung sudah berlatih sifat-sifat harimau. Seperti halnya sifat harimau, pawang rimeung pun jarang bertemu manusia. Ia juga menjaga kampung dari ancaman hewan liar.

Menurut H. C. Zengraaf dalam bukunya, Atjeh, yang terbit pada 1930-an, harimau hitam dan harimau putih adalah penjaga kuburan keramat. Seperti Teungku Cot Bada di Geulumpang Payong, dimana disebutkan bahwa harimau dapat dilihat sesekali menjelang magrib.

Gambaran mengenai harimau masih kuat mengakar dalam tradisi lisan masyarakat Sumatera pada umumnya. Bahkan sampai sekarang, masih dapat kita jumpai orang yang mengaku memiliki empat saudara dalam satu kelahiran: harimau, ular, manusia, dan makhluk bunian (orang halus).

 

(884)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *