Home Featured Malam Jahanam di Bulungan

Malam Jahanam di Bulungan

3.45K
19
Museum Kesultanan Bulungan. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.
Museum Kesultanan Bulungan. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

 

Ibrahim berdiri terpaku menatap istana yang hancur lebur. Ia menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras sedari tadi. Di depan mata bocah sepuluh tahun itu tersaji sebuah pemandangan bengis: segerombolan orang berpakaian loreng dan bersenjata lengkap membakar mahligai negara Kesultanan Bulungan. Api berkobar menjilati tiang-tiang istana.

Dari arah utara, suara teriakan perempuan terdengar keras.

”Ibrahim…! Lari… lari!”

Perempuan itu meminta Ibrahim segera meninggalkan istana yang sudah menjadi puing. Namun dia tetap tegak bak pohon yang tak goyang. Angin malam Sungai Kayan tak membuat langkahnya mundur. Tajam matanya yang masih dilintasi air yang turun dari kelopak, tetap tertuju pada reruntuhan istana. Otaknya merekam peristiwa malam itu lekat-lekat.

Lalu, perempuan itu keluar dari persembunyiannya dan berlari ke arah Ibrahim. Sekejap, tangannya menangkap tubuh Ibrahim yang masih berdiri tegap dan membawanya menjauh dari kobaran api. Perempuan itu tak lain adalah ibu kandung Ibrahim sendiri, yang selamat dari pembantaian.

Setelah puas membakar, membunuh petinggi negara Kesultanan Bulungan, dan merampas harta benda istana, para tentara itu lalu menculik Datu Mukemat bergelar Raja Muda. Sampai sekarang, Raja Muda yang juga sepupu Ibrahim itu, tak diketahui nasibnya.

Sabtu, 18 Juli 1964, di malam penuh kebengisan itu, semua hancur lebur. Peradaban panjang terbujur. Ibrahim menjadi saksi betapa kejinya sekelompok tentara yang telah membunuh dan menculik kerabat istana hingga membakar dan menghancurkan istana dan rumah adat. Tak puas membakar, para tentara juga merampas harta benda milik kesultanan.

Replika singgasana kesultanan di Museum Kesultanan Bulungan.
Replika singgasana kesultanan di Museum Kesultanan Bulungan.

”Waktu itu saya masih kecil, baru berumur sepuluh tahun. Saya melihat dengan mata kepala sendiri pembakaran itu. Tentara menculik dan membunuh kerabat istana. Raja Muda hilang. Sampai sekarang tidak jelas keberadaannya,” kata Ibrahim yang bergelar Datu Ibrahim Bin Datu Bendahara, kepada LenteraTimur.com, Selasa (19/6), di Museum Kesultanan Bulungan, Tanjung Palas, Kalimantan Timur.

Mata Ibrahim berkaca-kaca menceritakan peristiwa itu. Suaranya berat. Tangannya menunjuk foto Raja Muda bersama istrinya yang terpajang di salah satu dinding di dalam museum Kesultanan Bulungan. Museum itu dibangun ulang untuk mengangkat kembali kejayaan Kesultanan Bulungan. Bersama istri dan anaknya, Ibrahim tinggal tak jauh dari museum, yang dulunya adalah istana.

Ibrahim yang kini berusia 58 tahun itu bercerita, sebelum 18 Juli 1964, sudah terjadi penangkapan dan pembunuhan petinggi-petinggi Bulungan oleh tentara atas perintah Brigadir Jenderal Suhario, yang ketika itu menjabat sebagai Pangdam IX Mulawarman. Namun, yang melakukan eksekusi di lapangan adalah kaki tangannya, antara lain Letnan B. Simatupang.

Berdasarkan informasi dari Kesultanan Bulungan, pelaku pembantaian ini juga memiliki keterkaitan dengan kaum komunis. Dan di banyak sumber, Suhario disebut-sebut memang dekat dengan kelompok tersebut.

”Kerabat kami satu per satu diculik. Ada yang dibunuh. Setidaknya ada 58 orang korban keganasan tentara,” kata Ibrahim.

Petaka 18 Juli 1964 itu kemudian dikenal dengan nama tragedi Bultiken. Bultiken merupakan akronim dari Bulungan, Tidung, dan Kenyah. Ketiganya berasal dari keturunan proto-melayu yang dalam perjalanan masa dikenal dengan nama suku Dayak Kenyah atau Dayak Kayan. Sementara, mereka yang hijrah ke wilayah pantai melalui percampuran darah dan perkawinan dengan penduduk pendatang dari daerah atau negeri lain menjelma menjadi dua rumpun besar, yaitu Suku Tidung dan Suku Bulungan.

”Kami dituduh makar, melawan pemerintahan yang sah,” kata Ibrahim. ”Akibatnya banyak kerabat kami yang lari ke Malaysia dan memilih menjadi warga negara Malaysia ketimbang Indonesia.”

Menurut Ali Amin Bilfaqih, dalam bukunya “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”, kejadian itu bermula pada Kamis, 2 Juli 1964. Selepas salat Magrib hingga larut malam, Kapten Buntaran dan Letnan B. Simatupang bertamu ke kediaman Raja Muda di istana Kesultanan Bulungan. Mereka tampak asyik bercerita hingga diselingi tawa dan canda. Namun, di ruangan terpisah, dua anak Raja Muda yang masih balita, Masnun dan Khaharudin, sangat rewel. Mereka menangis terus sejak magrib hingga larut malam. Tangisan itu ditafsirkan sebagai pertanda akan datangnya sesuatu yang buruk.

Bisa jadi firasat itu benar. Selepas Kapten Buntaran dan Letnan B. Simatupang pamit tengah malam dan diantar Raja Muda hingga tangga istana, ternyata keduanya kembali lagi pada subuh dini hari, Jumat, 3 Juli 1964. Kali ini mereka membawa sepasukan tentara dari satuan tempur Brawijaya 517 untuk mengepung istana Kesultanan Bulungan.

Beranda Museum Kesultanan Bulungan.
Beranda Museum Kesultanan Bulungan.

Masyarakat yang kala itu sedang mengambil air wudhu di Sungai Kayan untuk salat subuh kaget melihat begitu banyaknya tentara. Dan sekitar pukul enam pagi, seluruh masyarakat di Tanjung Palas dikumpulkan di depan istana.

Lalu, Mayor Sumina Husain, Komandan Kodim 0903 Bulungan di Tanjung Selor, berpidato.

”Para bangsawan Bulungan ingin memberontak terhadap pemerintah Republik Indonesia yang sah, dengan gerakan subversif Bultiken.”

Pernyataan itu kemudian diulangi lagi oleh Letnan B. Simatupang. Namun, Datu Taruna, bangsawan Bulungan, menyanggahnya.

”Itu tidak mungkin, sebab Kapten Buntaran dan Letnan B. Simatupang ngobrol hingga larut malam dengan Raja Muda di istana.”

Letnan B. Simatupang marah, lalu memerintahkan kepada seorang polisi M. Ramli untuk menembak Datu Taruna. Datu Taruna pun akhirnya terjungkal dan rebah bersimbah darah.

Sejak peristiwa itu, tentara menutup istana dan harta benda dijarah. Satu per satu bangsawan Bulungan hilang tanpa status. Sisanya ditangkap dan ada yang dibunuh. Tercatat pada 3, 4, dan 6 Juli 1964 sering terjadi penculikan dan penangkapan. Kemudian Sabtu malam, 18 Juli 1964, istana Raja Muda pun dibakar.

Kekejaman itu lalu terus memburu. Pada hari Kamis-Jumat, 23-24 Juli 1964, penyerangan dan pembakaran masih terus dilakukan. Istana Bulungan bertingkat dua itu dibakar selama dua hari dua malam hingga rata dengan tanah. Masyarakat yang tidak ikut membakar istana, dianggap pengikut Raja Muda yang memberontak.

”Peristiwa itu tidak akan kami lupakan. Saya masih dendam hari ini,” kata Ibrahim. Suaranya berat. Ia terdiam sejenak. Matanya sedikit berkabut.

”Tuhan yang akan membalasnya,” suara Ibrahim lirih.

Bergabung dengan Indonesia

Kapal Bulungan Nederland.
Kapal Bulungan Nederland.

 

Istana Kesultanan Bulungan terletak di Tanjang Palas. Untuk mencapainya, orang harus menyeberangi Sungai Kayan dari Tanjung Selor. Tak butuh waktu lama, cukup sekitar lima menit berperahu kolotok saja, kita akan sampai di Istana Kesultanan Bulungan, Kalimantan Timur.

Untuk mengingat lagi masa kejayaan Bulungan, karena istana itu telah dibumihanguskan oleh tentara, maka dibuatlah Museum Kesultanan Bulungan. Di halaman dan teras istana, terdapat meriam-meriam tua yang tepat berhadapan ke arah Sungai Kayan.

Di dalam museum, masih terdapat sebagian kecil saja sisa-sisa harta benda Kesultanan Bulungan yang selamat dari jarahan tentara. Semua ornamen-ornamennya didominasi oleh warna kuning. Antara lain keris – senjata khas Melayu, tempat tidur raja, guci, singgasana raja, dan juga foto-foto yang terbingkai rapi. Salah satu fotonya adalah sebuah kapal yang sedang berlabuh di Sungai Kayan. Di badan kapal itu tertulis Boelongan Nederland.

”Bulungan dan Belanda itu bersahabat. Kami tidak berperang melawan Belanda,” ujar Jimmy Nasroen, seorang pengajar di Universitas Kalimantan Utara yang juga tokoh pemuda Bulungan pada LenteraTimur.com, Selasa (19/6), di Bulungan.

Kapal Kesultanan Bulungan untuk meminang putri Langkat di Sumatera Timur.
Kapal Kesultanan Bulungan untuk meminang putri Langkat di Sumatera Timur.

 

Selain itu, ada juga foto pernikahan Sultan Bulungan, Datuk Ahmad Sulaiman, dengan putri Sultan Langkat (Sumatera), Tengku Lailan Syafinah (pada foto Lailan Supimah) binti almarhum Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad pada 1926. Oleh rakyat Langkat, Sultan Bulungan dikenal dengan nama Sri Sultan Maulana Ahmad Sulaiman Ud-din. Jarak antara Bulungan dan Langkat tak terkira jauhnya, yang jika ditarik garis lurus mencapai sekitar 2.200 kilometer. Sebuah situs Belanda juga mencatat sejumlah foto pernikahan keduanya di Tanjungpura, Langkat, yang juga dirayakan dengan tarian Karo (lihat di sini).

Kesultanan Bulungan saat itu adalah sebuah wilayah yang berdaulat: memiliki pemerintahan, teritori, dan rakyat. Wilayah kekuasaannya mencapai Malinau, Nunukan, Tana Tidung, Tarakan, Sebatik, bahkan hingga ke Sipadan dan Ligitan. Untuk Pulau Sipadan, mereka mengenalnya dengan sebutan Pulau Sepot, yang artinya batas. Kemudian hari pulau tersebut dinamakan Sipadan, yang kini masuk dalam wilayah Malaysia.

Wajah Bulungan kini.
Wajah Bulungan kini.

 

Motor di Sungai Kayan.
Senja di Sungai Kayan.

 

”Tak ada nasionalisme di sini. Kami makan dan belanja barang-barang yang hampir semuanya dari Malaysia,” kata Jimmy.

Menurut Jimmy, Kesultanan Bulungan bergabung dengan Indonesia pada 1949, yakni pada negara Republik Indonesia Serikat. Sejak saat itulah wilayah Kesultanan Bulungan, di dalam Federasi Kalimantan Timur, menjadi Daerah Istimewa.

”Jadi ada tiga daerah istimewa di Indonesia sebenarnya. Selain Aceh dan Yogyakarta, Bulungan juga merupakan Daerah Istimewa. Namun, status keistimewaan itu dicabut pada tahun 1964, seiring terjadinya Tragedi Bultiken yang dituduhkan tentara,” ujar Jimmy.

Pemerintahan Kesultanan Bulungan berakhir pada tahun 1958, yang pada saat itu dijabat oleh Datu Tira atau yang bergelar Sultan Maulana Muhammad Djalaludin.

”Ekonomi masyarakat di Bulungan sangat maju saat itu. Jika tidak bergabung dengan Indonesia, kami sama sejahteranya seperti Singapura,” kata Ibrahim.

 

(3451)

Christopel Paino Christopel Paino adalah seorang jurnalis kelahiran Gorontalo. Kini ia menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta dan anggota Divisi Media Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(19)

  1. Peristiwa ini seharusnya diusut tuntas, karena merupakan kejahatan kemanusiaan, kalo memang ada indikasi makar, oknumnya saja yang ditangkap, bukan membumi hanguskan istana apalagi disertai penjarahan harta kerajaan, sungguh biadab, harus ada yang bertanggungjawab,

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Saya lahir di sabah jd wrga mlaysia..berdarah kturunan kerabat ksultanan bulungan melalui datuk saya yg mlarikan diri ke sabah akibat tragedi bultiken dari cerita asal datuk saya berjaya melarikan diri ke sabah dn mngahwini gadis tmptan..nama datuk jugk telah ditukar kerana pristwa ganyang malaysia brlaku pda msa tersbut..saya brminat untuk mngenali kerabat-kerabat sya yg brada d mlaysia atau d klimantan..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +3 (from 3 votes)
  3. Tragedi yg tak akan bisa terlupakan
    membekas sampai ke anak cucu hingga generasi seterusnya sejarah sudah tercatat

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Setiap peristiwa yg terjadi Atau kala itu dialami semestinya ada sebab sebelumnya Juga yg terjadi pada sejarah itu, ntah ia terkubur. Terselubung atau sengaja dipendam karna fakta itu bisa saja akan menyadur opini lain dari setiap asumsi asumsi sejarah kala ini.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. jangankan Bulungan yang jauh dari Jakarta, di Ngawi Madiun PKI membunuh gubernur Jawa Timur di tahun 1948, dan membunuhi para ulama di Jawa tahun 1960-an. Selama ada setan, PKI atau sejenisnya selalu ada untuk mengganggu ketenangan manusia. Alhamdulillah Allah membantu ulama, TNI non PKI, dan nasionalis menumpas PKI tahun 1965. Mungkin itu balasan atas 20 tahun kezaliman PKI yang telah membantai kesultanan Langkat dan kesultanan lain di Sumatra Timur serta Bulungan di Kalimantan Utara.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. politik itu bisa kejam seperti bom atom

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  7. mantap artikelnya.. sekarang BULUNGAN menorehkan sejarah baru.. wilayah provinsi KALTARA sekarang, sebelumnya adalah wilayah kabupaten BELUNGON.. BAGI PERNAH KELISAU MENGKA SEJARAH BELUNGON.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  8. istriku keturunan kerajaan Bulungan – istriku Gusti Raden Prasetiningtias. Saran saya, Jangan melupakan sejarah.
    Saat ini, tetaplah lestarikan budaya dan tetap pertahankan kebudayaan keraton Bulungan atau kerajaan Bulungan ..

    Kelauarga kerajaan/keraton mengharapkan dukungan dari semua rakyat Bulungan ..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  9. Menurut saya,tentara pasti punya alasan membakar istana. Yaitu karena pada masa itu sedang ramai2nya Ganyang Malaysia,tapi pihak kesultanan Bulungan tidak pro aktif mendukung TNI.Juga akibat revolusi.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Karena peristiwa itu, aku kehilangan sosok kai’yang sampai saat ini kami gak tau dimana keberadaannya / makamnya. Hanya doa yang kami panjatkan untuk beliau (DT. MAHKOTA / Putra dari sultan M.M.Djalaludin)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. kok. mirip yaaa,yang di cerita mama. walaupun mama saya dayak kenyah. waktu kecil dia, pas adadi tanjung selor, mama pernah cerita kakek pernah di undang ke istana bulungan, raja bulungan. orangnya baik

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 2 votes)
  12. Saya sampai saat ini masih mencari silsilah keluarga dari Orangtua saya yg konon dahulu kala menjabat sebagai patih dibulungan.
    namun sampai saat ini saya tidak menemukan titik terang,.
    mungkin diantara pembaca ada yang tau tentang Patih Gusti Ahmad. yang saya tau dari kabar terakhir dari saudara-saudara saya makam Patih Gusti Ahmad ada di dekat Istana kesultanan bulungan.
    untuk informasi lebih lengkap sangat saya harapkan. & bisa shere ke facebook gustiahmadirahman@yahoo.com / Tweet @Ndet_Gusti

    Salam Hangat

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  13. Saya orang sunda ; saya dukung tegakkan kembali Daerah Istimewa Bulungan, saya kira tentara waktu itu dihasut+ disusupi komunis. andai divisi siliwangi yg bertugas disana waktu itu ga akan mungkin terjadi peristiwa tragedi itu

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 3.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
    1. Bagi yang tau info lengkap ttg keluarga patih gusti ahmad info ke gustigood@gmail.com
      Saya sangat berharap ada teman / saudara2 yg masih tersisa di bulungan yg bisa beri info ttg Patih Gusti Ahmad

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  14. Insya Allah dengan sifat keadilanNya tidak lama waktunya YM.Sultan Maulana Muhamad Ma”mun Ibni Maulana Muhamad Jalaluddin akan kembali ke Tanah Kelahiranya di Tanjung Palas,Perjuangan YM dipengasingan berpuluh-puluh Tahun tidak berdiam diri,namun akan membuktikan kepada Pemerintah bahwa semua yang dituduhkan hingga saat ini tidak ada buktinya,Pemerintah harus bertanggungjawab dengan cara yang bermartabat

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  15. saya cucu pangeran ali hanafia walau pun sy warga malaysia tp asal usul sy takkan d lupakan klu ada rezki nak juga dtg bulongan utk lihat lagi dekat suasana istana datu . Nenek moyang sy d sana…..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  16. Inilah sejarah panjang yg Nyata namun sengaja ditutupi untuk dilupakan……. Pelanggaran HAM berat, serta kekejaman yg dipolitisir untuk membenamkan suatu Kejayaan dgn dalih “pemberontak”…..
    Sy jg mengenal baik slh seorang kerabat Kesultanan Bulungan brnama Datu Haji Oemar, beliau brdomisili di Kota sy. Beliau jg sering brcerita kpd sy yg slalu diiringi derai air matanya, beliaupun sdh keliling 27 negara tuk mnyelamatkan diri dr kejaran para penjahat itu…. Smga anak cucu keturunan Kesultanan Bulungan bisa mengembalikan & meneruskan kejayaan Leluhurnya….

    “Salam Orang Muda Dayak”

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  17. Resam Melayu yang terenggut !

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  18. inilah tempat asal-usul arwah ayah ku..biarpun aku kini merupakan warganegara Malaysia tapi kalau ada kesempatan dan rezeki teringin juga aku melawat tanah tumpah darah arwah ayah..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *