Home Sastra Sajak-Sajak Ishak Sambayang
0

Sajak-Sajak Ishak Sambayang

19
0
Ishak Sambayang

ayah kepada tebu

Udara menusuk istriku: udara sungai cokelat terjelih dari akar tebu, akar para ibu.

Ibu yang tak perlu tahu arus politik atau alasan mengapa harus terbujuk menjual tanah kepada pabrik-pabrik. Di kejauhan pipit lupa padi belajar menanak batu tanpa harus tahu entah pohon atau api yang terbentang serupa jeladri jumpalitan kian kesini. Air berukuran satu kali satu inchi mampat menjadi anak yang bernyanyi.Tapi istri, tidak pernah berhenti menggali lubang di dada. Dada. Dada tanpa pendingin udara dan perlengkapan mandi juga televisi yang berjanji akan kembali –setelah pesan-pesan-berikut ini: masih saja menjadi celah paling berbunyi kecambah paling api. Istri adalah bola-bola minyak pukul tujuh pagi adalah buruh tani memijak tanah sendiri adalah puisi di kantin yang sepi adalah rejeki sebelum matari. Dan ketika anak bertanya ke mana ibu pergi, aku diam. Lalu diam. Ibu pergi. Sebelum sempat kunikahi.

18/11/2011

 

hampir ibu

beat 3:

jam dinding yang telat tiga puluh menit meneriaki sekolah untuk tidak tidur lagi sebab jam tujuh pagi sudah telat tiga puluh mengajak menit untuk pergi ke muridmurid. pasir dalam sepatu anakanak itu tidak pernah seperti pantai yang bersemangat. hanya menjadi jam dinding yang telat tiga puluh menit. di bangku sekolah mereka duduk berpasangan. berpasangan. sampai ke belakang sekolah jika malam. kawin. lewat hape jam dinding menerima pesan dari bidan. bidanbidanan. jam tiga telat tiga puluh menit. sejak itu, bulan tak kunjung berkunjung kepadaku,

lalu malam pun mengajakmu pindah ke garba.

terjungkal.

hampir jadi ibu.

 

beat 1:

aku membetulkan menit yang ketinggalan di sebuah jembatan kayu, tempat kau dan aku suka melintasinya setiap pulang sekolah tiga puluh menit lebih telat di banding jam dinding. sebelum jalanan dirubung hujan begini, kau dan aku memang telah lama jengah bersekolah. kalau cuma buku, guru dan cium yang tertulis di batangbatang jari, tidak cukup membawamu menyeberang nusa. menjadi pabrik. kau dan aku hanya mencintai sekolah karena sekolah adalah satusatunya tempat dimana ada ibu guru yang tidak pernah alpa dari absen bapak guru.

bukan kau, bukan aku.

 

beat 2:

sebelum kawin. anakanak serupa danau, menguapkan bau ke dapur di pagi hari. anakanak bukan kelamin. anakanak seperti sekolah. seperti jam dinding telat tiga puluh menit. anakanak adalah pasir dalam sepatu yang bersemangat menusuk kaki. anakanak adalah bangku sekolah yang duduk berpasangan di sudut belakang, merobek dara. anakanak cuma tersimpan dalam rumah sakit  yang sekarang kusimpan di lubang sepuluh kali duapuluh senti.

anakanak adalah kau.

karena telat tiga puluh menit di waktu lampau, sehabis sekolah,

aku lupa membetulkanmu tepat di bawah sebuah jembatan kayu,

tempat aku ingin sekali melahirkanmu.

 

22/02/12

 

kantata kucing tua

mari menghitung batuan angkasa

ananda sayang.

disana ada juga wajahmu, otoluwa di kiri, tutupito di kanan, ujungnya ada ta:da:ta, malu’o menyusul dari belakang, di posisi terakhir ada penyakit hinggaphinggapan di kutil tiga biji batu nyala bersebut toto’ia. kamar sempit mengukir wajah desa jadi kotakkotak hitamputih yang bukan kucing seperti kita, ladang jagung bertukar rupa. mesin mengiau. mesin mengiau, tuntas segala sarang ular, puyuh, kelabang. tunggang langgang. nusa lalang tempat berhinggap harapan jadi percikpercik arang. sampai kapanpun kita akan menunggu, itu tidaklah mudah. mari bernyanyi lagu petani,

              sungaiku hijau terhampar panas-sawah tertikam tebu-

              ternakku mati-

              kami tegak menari-

              riang gembira kian kemari-

sampai usai kantuk menghantam bendungan di kelopak mata kita. kelopak lambung merindu tulang kotak sampah. kotak sampah.

abrakadabra,

jadilah kita ruh dibuang ke tubuh dekil asam arang berkepul dari utara. dari utara muncul panenpanen gula yang baunya tak semanis dalam dongengdongeng televisi, ananda sayang.

setidaknya benar, hidup dimulai dari hitunghitungan, yang jika lengah, kita lelap dalam dengkur yang khas atau melipatlipat jari menghitung sedari mula. pagi yang belum tiba. belum tiba saatnya tirai membocorkan dena di balik jendela. jendela adalah ruang perupa, meranyau sepanjang adegan drama persebadanan makhluk liar mirip manusia. seperti bukan kucing kau bertanya, kapan sarapan akan tiba. yang tidak lain hanyalah remah yang lupa nemu kotaknya, makan malam yang kita tunda.

biar melompong, lampau saja jilatmu ke puting yang ‘lapan. menemu darah, bertemu nanah, nikmat tanah.

lalu,

mari igaukan batuan angkasa.

di langit gelap menyala bunyi ngiau manusia yang

tibatiba meniru kita tapi menipu lewat doa.

aku pun menciummu. cium yang purna. purba. sebelum lembah dan

ladang tersemai benih paita.

kita pun lalu tersesat. berjebai mengais manis di truk pengangkut tebu yang entah nikmat atau petaka, kita lena

lalu menyebutnya cinta.

20/11/2011

 

menjadisepertitebulagi

paguyaman adalah foto keluarga yang kucel

ramarama yang lagu juga kelambu, teman sebelum tidur. rerimbun semak yang menimbun kepala para petani.

kemana ternak pergi, di situ gembala mengasah telapak kaki.

berjajarlah gununggunung seperti gigi perawan.

lalu terbitlah bianglala tepat di mata ayah juga bocahbocah.

 

paguyaman juga ikan teri pelengkap santap malam.

ataukapuk yang hampir tertelan sepasang pengantin.

juga celana baru dirajut ibuibu baru di pesanggerahan daun rumbia. pergi sekolah.

sorak sorai bergembira

bergembirasemua,

sudahbebasnegerikita...

murid-murid tadah ceramahlagi asyik melukis kelinci di tubuh awan.

lalu malam.

 

paguyaman, kepala botak pak guru.

makan siang jam lima sore. sapi betina nakal

mencuri perhatian pejantan kampung sebelah. es krim duapuluhlima rupiah,

film impor bajakan yang dimakan saban malam. kulepaskan celana menuju angkasa,

lalu tubuhku menjadi kepiting menyulam buih sungai.

adalah setangkup pesanpesan ibu merapikan rambut,

kemeja juga dasi. langitlangit bilah bambu. nyenyak. dalam sekali.

 

paguyamansepertipestanikah.

mataairadalahgadis, bebatuanadalahperjaka.

lengkapdenganriasan di pagihari. bidankampungmelengkapikelahiran

beriringupacaraupacara. kemudianibu. menangismengingattelenovelamexico

terlewatpercuma. ataumalahtakzimmelihatsuamitakfasihadzan.

 

paguyaman, kampungliliput.

menyiapkanpersediaanmakanankesebuahlumbungbernamakotaksuara.

kalausudahfajar, madudibawaparatetangga. diselipkankelubangpintu. ibumembukanya. Mengepullahruparupa aroma di dapur, pagiharinya.

 

paguyaman, sungaimatisawahmati.

danpuisi. menjadisepertitebulagi.

03/12/2011

 

penuh miyang

           penggalan malam njelma                                                     tiang gantungan

tali temali ini teranyam dari liur-runyam.                              liur-runyam

            setelah ditebas habis olehku,                                                        bibirmu memutus nadi

 

ladang bawang lampau busuk di lukisan

terkait kail masuk corong langit, terperosok ke udara

petani           beternak          cangkul          menempa          lembu

nggembalakan dapur                          mencegah         makan                            masuk

pabrik                                     supaya              anak                               jadi                    ribut

oleh                   miyang             penuh                dusun

 

penggalan malam njelma                                                                              tiang gantungan

tali temali ini teranyam dari luar runyam.                                                            liur-runyam

setelah ditebas habis olehku,                                                                     bibirmu masih memutus

nadi

sudah saatnya ngangkat sauh lari sejauhjauh labuh

biar para istri masih bisa berdongeng di awal petang dengan semangkuk teh hangat menunggu suamisuami berbahu legam yang pulang membawa pinggang luka di pucuk malam. ladangladang tebu ngirim arang ke bintikbintik awan hujan tibatiba sebelum matari mundur ke sembilan-lapan. mundur ke sembilan-lapan. sembilan-lapan.

ladang bawang lampau busuk di lukisan

kaitmengait mendongak ke corong langit, menadah lembar seratusribuan menambal sawah yang terbelah empat tahun kemarau memupuknya dengan butirbutir gula siap ekspor

dusun ini

petani menempa cangkul ke batu, melatih lembu menggembala air, mencegah anak meranyau lapar. pabrik masuk. dusun jadi ribut. penuh miyang.

 

penggalan malam njelma                                                                                 tiang gantungan

dari balik kelambu jari jemari merupa runyam.                                                  liur-runyam

setelah ditebas habis olehku,                                                                                   bibirmu mengelus

nadi

para istri tak lagi bisa berdongeng di awal petang sebab suamisuami legam ditandu pulang membawa pinggang luka di pucuk malam. tidak patut kami dituduh berlakulajak oleh sebab kami tak mau terasing di rumah sendiri. ladangladang tebu ngirim arang ke bintikbintik awan. tibatiba hujan menjadi asin waktu matari mundur ke sembilan-lapan. mundur ke sembilan-lapan. sembilan-lapan.

pabrik masuk. dusun jadi ribut

ladang bawang lampau busuk di lukisan

penuh miyang

07/10/2011

 

tapi

aku punya uang, punya sawah tadah hujan. tidak punya ayah.

temanku. tidak punya uang, cuma punya ladang jagung, punya ayah.

pagi. jagung mencumbu ayahnya. menanam. temanku pantang senang,

ingin sarapan pake motor bersama pacar kelilingkeliling ladang.

 

bau tebu menimpa desa kami, mewabah ke segala penjuru.

jagung terkurung, ladang berkabung.

tebu.

ayah setubuh tebu.

temanku senang bukan kepalang.

 

aku punya uang,

tidak suka tebu, tidak punya ayah.

suatu kali temanku mulai punya uang,

suka tebu, seperti punya ayah.

di suatu sarapan bersama pacarnya, temanku penuh motor menjadi miyang, kelilingkeliling uang.

 

ladang menjadi arang, gunung menjadi ladang,

seperti jagung ayahnya pantang senang dan hanya diam saja dalam nampan.

 

aku tidak tahu uang, mencintai sawah karena hujan, ingin seperti ayah.

temanku menikahi uang, menjadi miyang dan sudah bisa menaiki pacar kelilingkeliling tebu.

 

ayahnya mulai basi di ladang, berceceran di gunung. ingin kubeli ayahnya.

tapi….

16/02/2012

(19)

Ishak Sambayang Ishak Sambayang lahir di Tangkobu, Paguyaman, Gorontalo, 22 tahun lalu. Kini dia duduk sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan Tanggomo, Gorontalo. Sejak kanak-kanak bercita-cita jadi petani. Namun, saat kuliah dia memilih jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo. Dia juga anggota aktif Teater Peneti dan Komunitas Sastra Tanpa Nama Gorontalo.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *