Home Sastra Tak Ada Kucing Melintas di Jalan Ini
0

Tak Ada Kucing Melintas di Jalan Ini

8
0
Yanto Le Honzo

Tidak ada keistimewaan dari Jalan X ini, sebenarnya. Wajah gelap dan muram jika malam, sungguh melebihi kebekuan irama burung blekok yang mampu mengiris wangi kamboja di kepekatan kuburan. Merkuri yang berbaris sepanjang trotoar cuma satu dua menyala, padahal Jalan X termasuk jalan vital. Terlebih dari itu: bersejarah.

Sejarah keluargaku yang apa adanya menyebabkan aku meletakkan pilihan untuk bekerja di kota ini. Masa-masa sulit dan memuakkan: kota ini sungguh tak berwajah. Tapi, naluri untuk mempertahankan hidup memang selalu lebih besar dalam jiwa para perantau. Dan sebagai orang yang merasa merantau, syukur pada Tuhan, aku pun akhirnya mampu berteduh di sebuah perusahaan asuransi jiwa.

Awalnya semua terlihat mudah. Rutinitas biasa yang dilakukan banyak orang: datang pagi pulang sore. Sesekali lembur. Kota mulai terlihat sedikit ramah dan bersahabat. Diberinya aku wajah-wajah yang sebelumnya begitu asing dan jauh. Sampai kemudian, di luar rencana masa depanku, aku mulai mengenal wajah yang bernama kesenian.

Begini. Perkenalan itu terjadi ketika setiap pulang kantor aku membunuh waktu ke taman budaya yang kebetulan hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat kerja. Semula, untuk menghindari kemacetan jam padat dengan melihat-lihat pameran lukisan, kadang melihat orang-orang yang sedang latihan teater, atau sekedar ngoborol dengan orang-orang yang kemudian aku kenal. Perlahan semua berjalan tanpa isyarat. Berawal dari sekedar melihat, iseng ikut latihan dengan pura-pura serius, aku jadi mabuk dan serius ikut berteater.

Sebuah dunia baru muncul dalam hidupku; sebuah dunia yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya (buat orang-orang seperti aku, kemanfaatan hidup adalah bagaimana orang—selepas sekolah—harus bekerja secara konkrit menurut pandangan umum. Meniti karir, sukses, lalu menikah dan memiliki keluarga. Dan akhirnya menikmati hari tua dengan pensiunan atau dengan bunga deposito).

Aku mulai mengenal orang-orang yang kata orang penyair terkenal, orang-orang yang kata orang pelukis ternama. Aku pun jadi penikmat “titik-titik terang”. Parahnya, gajiku jadi terasa sangat kecil dan jauh berkurang. Tiba-tiba kamar kontrakan tampak lebih sempit, penuh dengan buku filsafat, sastra, agama, politik, dan bermacam lainnya. Bahkan sikapku di tempat kerja juga ikut berubah: cerewet seperti kakek-kakek dan sok kritis, kata mereka.

“Bukan masalah cerewet atau sok kritis,” bantahku pada teman seruangan. “Ini masalah tanggung jawab, sense of belonging pada perusahaan. Kalau tiap orang merasa ikut memiliki dan jujur pada tugasnya masing-masing, tidak mungkin muncul ketidakberesan seperti sekarang. Tapi, waktu itu saya masih menjaga perasaan beberapa orang di sini, meski secara psikologis hal itu mengganggu ritme kerja saya. Kurangnya etika kerja, yang menurut buku…” akhirnya aku mendapat SP3 (surat peringatan ketiga) dari perusahaan.

Aku sok tahu, kata orang-orang di direksi perusahaan.

Salah pergaulan, kata teman-teman sekerja.

Omong kosong kalian, batinku.

Ya, memang! Seorang lulusan sekolah lanjutan dengan dua lembar ijazah kursus seperti aku, yang bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama, sebetulnya sebuah keberuntungan. Aku dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, nantinya. Jejang karirku dapat diramalkan. Dan aku sudah merintis sejak dua tahun lalu. Aku tahu teman yang mengajakku kerja dulu itu kecewa dan menyesal. Aku baca dari matanya. Aku sendiri tidak kecewa, apalagi menyesal. Sungguh!

Sejak itu, aku lebih sering terlihat di taman budaya. Tidak jarang tidur di sana. Aku biarkan rambutku beriap menutupi bahu.Pakaian pun hanya ganti kalau ingin.Tidak ada lagi wajah klimis, rambut cepak berkilat, baju putih licin lengan panjang. Aku bermetamorfosis.

Lambat-laun banyak orang akhirnya tahu aku adalah bagian dari komunitas taman budaya. Ada rasa senang dan bangga kalau ada yang mengatakan aku seniman, toh aku pernah pentas teater walau baru sekali, mengisi acara malam hak asasi manusia yang diadakan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Kesenimanan seseorang tidak dapat diukur dari berapa banyaknya dia pernah berpentas. Itu hanya sebagian dari proses. Terlalu banyak orang yang mengaku sering berpentas, tapi masih sedikit yang mampu berkarya, kata guru teaterku. Harus banyak-banyak melakukan perenungan. Kontemplasi. Menyerap semua energi kehidupan. Itu sebabnya jika sudah di kamar, aku betah berjam-jam menulis hingga subuh mengetuk pintu.

Sering karena seriusnya berteater, aku kemalaman. Padahal, kalau sudah di atas jam sebelas malam, tidak ada bis kota yang lewat di depan taman budaya. Aku harus jalan dahulu ke terminal yang lumayan jauh, kemudian naik omprengan ke tempatku. Karena itu, mau tidak mau, aku harus melewati Jalan X.

Awalnya memang gamang kalau harus melewati Jalan X, seruas jalan yang berbeda wajah antara siang dan malam. Sejak matahari mulai meninggalkan pagi, jalanan ini sudah harus menanggung keberjubelan segala merek kendaraan. Sama seperti halnya jalanan lain di kota ini yang membuat orang heran kalau tidak macet, Jalan X pun harus merelakan barisan knalpot melaburkan warna kelabu di atasnya. Mahoni di kiri-kanan jalan seakan tidak sanggup melahap semua karbondioksida yang menyendawan di udara. Tapi, jika malam telah memeluk kota, dan gelap merasuki hari, Jalan X jadi sunyi membatu. Dingin. Pohon dan aspal menjelma satu warna. Barisan gedung tua yang merana sepanjang tepian jalan menjadi gugusan purba masa lalu yang kian keriput oleh lumut dan waktu.

Konon, jalanan ini menyimpan banyak cerita tentang kepahlawanan dan dongeng revolusi. Dari buku aku tahu, di salah satu sisi jalan, pernah ada bangunan di mana deklarasi kemerdekaan dikumandangkan. Dan untuk menghormatinya, bangunan itu kini diubah menjadi monumen besar plus taman, hanya menyisakan setonggak tugu batu kecil yang terlihat mungil di banding monumen itu.

Tidak ada jalan terdekat menuju terminal selain Jalan X, tempat kriminal menunggu mangsa. Saat itu, aku menyaksikan pertunjukan Nucleodanza dari negerinya Evita Peron. Sebuah keindahan yang tak luntur sejak yang mereka tunjukan di film “Tangos, El Exilio De Gardel”, beberapa tahun lalu. Seusai pertunjukan memabukkan itu, seperti biasa aku menunggu bis kota di depan kompleks. Dua jam menanti. Tak ada tanda-tanda. Sekitar bertambah sepi, langit sedikit bermendung. Beberapa taksi sedang mangkal, menghangati supir-supir yang tiduran bak ayam kelelahan. Warung-warung rokok lengang tanpa pembeli. Lamat-lamat suara Ida Laila merayap dari radio yang ada di salah satu warung.

Ah! Akhirnya aku harus melewati Jalan X juga. Di kepalaku sudah penuh dengan bayangan tubuh bertato menggenggam pisau, atau golok, atau pistol, yang tak peduli betapa berharganya nyawa.

Sesaat memasuki Jalan X, aku mulai membuka resleting tas. Cutter aku siapkan. Jujur, aku lebih mewaspadai orang dari pada setan. Orang berani menikam dari belakang. Dengan mantap, kupercepat langkah yang tiba-tiba terasa memberat. Menghibur diri dengan menyanyi lagu apa saja yang teringat. Sesekali melirik kiri-kanan, menengok ke belakang.

Malam itu angin tak kuasa menghentikan kucuran keringat panas yang menderas dari seluruh pori kulit. Semoga saja ada mobil melintas agar jalanan sedikit lebih terang. Sungguh gelap cahaya merkuri. Atau tiba-tiba lewat serombongan karnaval anak-anak dengan pakaian adat itu, aku bisa langsung masuk ke sela-selanya dan ikut bergandengan tangan dan bernyanyi. Tapi sia-sia. Kesunyian Jalan X tak akan berubah hanya karena aku sedang berjalan sendiri memburu-buru. Setelah serasa berabad-abad berjalan, setelah semua ketercekaman muntah, akhirnya sampai juga ke terminal. Seperti baru terlepas dari hamparan ladang pembantaian. Malam membawa sejuk.

Tapi di Jalan X, malam selalu menggigil setiap kita melewatinya.

Perlahan ketakutan itu pergi juga bersama waktu, seperti kepergian kabut karena rembang pagi. Tiba-tiba ada kerinduan jika tidak melewati Jalan X, serindu hati pada kampung halaman. Aku mulai hapal setiap jengkal yang ada di jalanan ini. Berapa hasta panjang jalan ini, aku tahu. Jam berapa biasanya mobil pengangkut sampah lewat, bisa kutebak. Dari posisi bulan yang biasa tampak di atas mahoni, aku mampu mengira-ngira jam berapa saat itu.

Sesekali, sambil jalan, aku menyanyi sekeras-kerasnya tanpa kuatir didengar orang, berputar dan berjoget. Bahkan kalau pun ada mobil lewat, dan penghuninya memperlambat lajunya demi melihat tingkahku dengan heran, aku tidak peduli. Tak perlu memberikan alasan pada orang yang tidak kukenal. Kadang, jika jalanan sepi sendiri, hanya ada bayangan malam, aku tegak diam di tengah jalan segagah Suma Han.

Kutinggalkan Pulau Es setelah berlaksa musim di pertapaan yang sunyi membeku jauh dari dunia luar. Aku, pewaris ilmu Bu Kek Siansu. Angin mengibarkan rambut putih perakku yang berurai di punggung. Di hadapanku mengepung puluhan penghuni Pulau Neraka dari segala penjuru, dengan seringai yang menambah kengerian wajah beracun mereka. Bau amis memenuhi udara. Ketegangan memacu aliran darah. Jangan ada yang ikut campur. Ini urusan dua keluarga turun-temurun. Dendam darah sepanas gurun.

Dengan sebuah lompatan tinggi di udara, aku mulai pertempuran. Gelap memecah. Puluhan ilmu saling kami tancapkan. Ratusan jurus saling kami lemparkan. Angin berpusing gasing akibat tangan dan kaki yang saling menangkis dan menendang, berkelebatan di antara bermacam tajam senjata. Teriakan-teriakan menusuk jantung. Tenaga sakti bersiutan memekakkan gendang telinga siapa saja yang masih rendah ilmunya. Udara yang anyir kian mengental karena jurus-jurus beracun mereka.

Sampai kemudian, untuk segera menyelesaikan pertempuran, kuhimpun ilmu Tenaga Inti Pulau Es sebagai jurus pamungkas. Tangan kiriku sebatas lengan mulai merah membara. Kristal-kristal es membungkus sekujur tangan kanan.

Terimalah kematian kalian!

Kuhantamkan tenaga panas dan dingin yang keluar bergantian. Malam terbelah berkepingan. Kekuatan Im dan Yang melontarkan mereka seperti daun kering. Ada yang hangus menghitam. Yang lain kaku membeku. Mereka terlanjur mati sebelum menyadarinya. Sebagian lari kocar-kacir dengan teriakan melolong penuh sumpah serapah, semburat tunggang-langgang menyelamatkan diri masing-masing dengan segala luka di sekujur tubuh. Tinggal aku sendiri di tengah jalan yang kembali sunyi. Butiran keringat berhamburan jatuh di aspal yang hangat. Angin membelai mengucap selamat. Sesampai di rumah, aku pun nyenyak terkulai bersama mimpi meninggalkan malam.

Suatu ketika, saat menyusuri Jalan X sambil menghitung berapa panjang mimpi sudah berserakan di kota ini—di jalanan yang malang-melintang disekujur tubuh kota. Dari arah depan sana melaju sebuah mobil Katana putih dengan kecepatan tinggi memasuki jalan. Tanpa sebab tanpa apa, tiba-tiba mobil itu mengoleng ke kiri lalu ke kanan. Dan ketika belum sempat roda depannya mengatur keseimbangannya kembali ke kiri, mobil itu langsung naik ke trotoar dan berhenti sesudah menabrak pot yang ada di situ sampai berantakan. Batu-bata dan tanahnya berhamburan. Mobil itu terguling miring di samping pecahan pot, berjejer dengan flamboyan yang patah di antara serakan tanah, sekitar sepuluh meter di depanku. Aku terkesima. Sejenak sepi.

Suara benturan keras, suara serak perempuan yang menjerit di dalam mobil cukup kuat memanggil orang-orang dari dalam gang yang ada di sekitar Jalan X. Seorang lelaki muda mengerang di belakang setir. Kepalanya yang berambut mohawk terkulai berdarah. Di sampingnya, seorang gadis yang cukup manis dengan rambut mengombak kusut, penuh kegugupan menggoyang-goyang badan lelaki muda yang setengah pingsan itu. Beramai-ramai kami berusaha mendorong mobil itu kembali. Dengan perlahan salah seorang mengeluarkan lelaki muda setengah pingsan itu. Yang lain berusaha bertanya pada gadis manis berambut ombak itu, apa yang terjadi.

“Kami menghindari kucing yang melintas di jalan, tadi,” kata gadis itu di antara isak menyengalnya. Aku tercengang. Tak kulihat ada kucing melintasi jalan. Atau mungkin mereka salah lihat?

Terkadang aku memasuki taman di mana monumen itu direndam sunyi. Duduk di undakan pelatarannya yang berkeramik coklat. Aku bukan penganut fetisisme, tapi tidak tahu kenapa aku jadi terbiasa menceritakan segala resah dan mimpiku pada bangunan mati itu seakan pada seorang sahabat yang mau mendengarkan dan menyimpannya sebagai rahasia, seperti sudah disimpannya semua rahasia masa lalu yang terjadi di jalan ini.

Semenjak itu secara tak sengaja dan diam-diam, tulisan-tulisanku mulai berserakan di bermacam media massa seperti jamur di musim hujan. Tiba-tiba aku dianggap sebagai penulis muda penuh talenta yang mampu mempengaruhi cara ungkap berbahasa. Menjadi tema pembicaraan dan bisik-bisik ringan di kalangan kecil para penggumul sastra.Menjadi semacam simbol bagi angkatan muda pembaru sastra. Juga menjadi ladang baru bagi para peresensi dan kritikus yang sering kekeringan tema bahasan.

Kebiasaanku berjalan di Jalan X tidak berubah. Pun tidak ada yang berubah dari Jalan X. Selalu dengan kemacetan di siang hari. Sepi mengungut di malam hari. Merkuri hanya sekedar hiasan di antara mahoni dan flamboyan yang berbaris kering sepanjang trotoar. Dari jalan ini limpahan inspirasi menderas bagi tulisan-tulisanku yang menghenyakkan itu.

Sampai kemudian aku mendapat kabar bahwa salah satu novelku, “Asap Di Tengah Kebun”, terpilih sebagai karya sastra terbaik dari Pram’s Literary Awards; sekaligus sebagai satu-satunya buku sastra yang dibaca oleh lebih banyak orang di negeri ini, negeri yang penghuninya tidak tahu apa yang harus dibaca. Sebanding dengan kegelisahan yang mengusik para penulisnya sebab tidak tahu apa yang harus ditulis.

Akhirnya malam terbesar dalam hidupku itu pun tiba. Taman budaya menjadi milikku sepenuhnya. Di lobi gedung aku lenyap dalam gelombang ucapan selamat dari berbagai orang. Bapak menteri kebudayaan menghampiri dengan keakraban yang justru membuatku merinding, ingin menghindar. Wajahnya seperti arca rajapala yang menjamur.

“Wah! Anda ternyata lebih muda dari yang saya bayangkan, ya. Sungguh!” katanya sambil menjabat erat tanganku dan merangkul pundakku. Serasa pingsan dibuatnya.

Di dalam gedung, dalam sambutan tertulisnya, menteri itu mengatakan bahwa penghargaan seperti ini memang patut dan pantas diberikan kepada orang yang mampu menggugah perasaan dan kesadaran orang lain tentang kemanusiaan, meski fiksi, lewat cerita yang aku hidupkan dalam novel itu: cerita tentang seorang lelaki tua yang hobinya membakar sampah.

Dari tempatku duduk kurasakan desir yang dengan cepat membabati seluruh tubuh. Detak jantung mendegup kencang. Dengan berbalut segala mimpi yang bertunas, aku melangkah menapaki satu persatu anak tangga panggung. Dari keluasan tempat itu, aku terhanyut oleh derasnya cahaya blitz yang berkilat menikam dari segala penjuru. Gemuruh dalam gedung beradu dengan pusaran guruh di dada.

Inilah akhirnya, puncak pencarian tak terkata. Waktu yang terjal dan mimpi yang mendendam musnahlah sudah. Telah terangkai musim menjadi sebuah rumah mungil di antara belantara jiwa yang gulana.

Setelah usai acara anugerah itu, aku menyelinap kabur meninggalkan taman budaya. Setelah  kutitipkan jejak namaku.

Malam itu bulan entah ke mana. Sesekali bintang mengerjap di antara arakan awan. Dari ujung Jalan X, semua tampak begitu indah. Beberapa merkuri memendarkan temaram kuningnya. Mencipta bayangan pohon pada aspal. Tangan angin menggugurkan daunan kering, sebentar melayang, lalu rebah di seluruh ruas jalan. Gerimis selintas lewat, menebarkan aroma tanah. Telah mulai pergantian musim.

Dengan ringan aku melintasinya. Monumen itu tetap sendiri bersaput kuning merkuri. Sebuah Katana putih melaju oleng memecah sunyi dari arah depan. Sebentar ke kiri, lalu ke kanan. Mobil itu berhenti setelah menyentuh tubuhku, sebelum sempat memutar rodanya ke kiri. Tubuhku terpelanting melabrak pot bunga di trotoar, mematahkan flamboyan kering, lalu diam terjerembab di sisinya, berjejer dengan flamboyan dan serpihan tanah.

Aku melayang ringan, terbang di antara daunan kering yang berguguran. Segala tampak sempurna, gaun putih cahaya. Dari balik kemilaunya, muncul melambai sesosok yang sama parasnya denganku. Dia mendekat dan dikembangkannya senyum seperti yang kulihat di cermin. Tangannya lembut meraih telapakku.

“Selamat datang, Mas. Sudah lama kunantikan saat malam ini,” sapanya merdu. Dibawanya aku ke sebuah mahoni besar sebelah kiri monumen.

Aku menitikkan air mata entah untuk apa.

“Jangan menangis. Inilah rumahmu, rumah kita bersama. Kita takkan berpisah lagi sebagai kakak-beradik. Akan kita jaga semua yang terjadi di jalan ini sebagai rahasia, seperti seluruh rahasia yang telah ditanggung monumen itu menjadi sejarah abadi.”

Di bawah sana, orang-orang berlarian dari segala sudut. Ada yang menggotong tubuhku. Sebagian mendekati mobil itu dan menyuruh pengemudinya—seorang gadis—keluar dari mobil.

Dengan raut membelalak gugup, gadis yang cukup manis dengan rambut mengombak kusut itu digiring mendekati tubuhku. Pandangannya kelam nanar menatap tubuhku yang berselimut darah.

“Apa yang terjadi?”

“Coba jelaskan dari awal.”

“Oh! Saya… saya… tidak tahu. Saya hanya berusaha menghindari kucing yang melintasi jalan,” kata gadis itu hampa.

(8)

Yanto Le Honzo Yanto Le Honzo, lahir di Surabaya, Jawa Timur, bergiat di Federasi Teater Indonesia dan komunitas mejabudaya, Jakarta. Dia juga aktif menulis cerita pendek dan esai teater.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *