Home Bernala Benturan Kebudayaan dan Iman, Pelajaran dari Purwakarta
0

Benturan Kebudayaan dan Iman, Pelajaran dari Purwakarta

36
0
Soffa Ihsan

Patung-patung yang terpajang di sejumlah ruas jalan di kota Purwakarta, Jawa Barat, roboh pada pertengahan September 2011. Bukan karena badai, tetapi karena tindakan suatu kelompok. Patung-patung pewayangan seperti Bima, Semar, Dharma Kusumah, dan Gatotkaca ambruk berantakan. Apakah semata karena patung? Tentu bukan. Ada “identitas pagan” yang ditabrakkan dengan “identitas wahyu”. Dan itu menunjukkan bahwa gesekan antara agama dan kebudayaan tampaknya belum selesai.

Betapapun tidak mudah memerikan budaya Islam secara komprehensif, namun kekuatan-kekuatan pengaruhnya sudah bisa kita saksikan hampir jamak di berbagai belahan dunia. Kehadiran Islam sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaurrasyidin, sampai renaissance di Cordoba, Spanyol, sebenarnya telah mengembangkan suatu khazanah kebudayaan yang kaya dan beragam.

Refleksi sejarah Islam sebagai kekuatan budaya telah memunculkan dalam apa yang disebut oleh Gustave Von Grunebaum (1955), orientalis Austria, sebagai “Unity and variety“. Kekuatan budaya Islam telah melakukan suatu “sintesa” yang kaya dan adaptif dengan unit-unit kebudayaan lokal, dimana Islam dapat merambah masuk.

Sebagai realitas kebudayaan, Islam selalu diklaim berdimensi universal dan melakukan berbagai adaptasi. Bahkan, dalam perkembangan sejarahnya, Islam sering melakukan persentuhan yang terbuka dengan berbagai wilayah budaya lokal yang menjadi sasaran syiarnya. Demikianlah, kerapkali  Islam  sangat toleran terhadap budaya-budaya lokal yang didatanginya.

Dalam pandangan lokal di Jawa, tak mengherankan, bagaimana Islam sebagai pandangan teologi bersenyawa dengan paham sinkretisme Jawa dan Hindu yang sudah ratusan tahun saling mempengaruhi. Islam sebagai kebudayaan memberi sentuhan yang “indah” terhadap nilai-nilai budaya lokal yang dianut oleh suatu suku, bangsa, atau negara. Kalau demikian, apakah Islam bisa kita anggap sebagai tata nilai yang dapat direkatkan pada satu situasi dan lingkungan manapun? Pertanyaan ini, dengan sendirinya sudah akan menjawab bagaimana Islam sebagai realitas budaya menampilkan dirinya.

Dalam buku al-Turats wa al-Tajdid (1981), Hasan Hanafi menyebutkan adanya turats (warisan budaya) berbentuk material dan turats yang bersifat imaterial, yang berupa warisan kejiwaan, kebudayaan, serta adat istiadat yang tertanam dalam jiwa masyarakat.

Permasalahan yang lebih substantif dalam konteks ini adalah ihwal wilayah turats dan budaya yang lebih tinggi. Bukan lagi pada wilayah artefak budaya, melainkan sosiofak. Di sinilah kita berbicara nilai-nilai.

Sejauh yang dapat dipetakan, kebutaan turats dan budaya justru terjadi di dalam wilayah dasarnya, yakni berada pada dimensi psikologis-mental, sehingga aktualitas berbudaya kebanyakan orang Islam seringkali justru merugikan perkembangan kebudayaan. Islam diyakini sebagai agama untuk kemaslahatan semesta, maka sudah saatnya batas-batas formal-struktural yang kaku perlu dihindari. Sehingga harus dihapus kesan bahwa ketika peradaban dan kebudayan maju, justru agama (Islam) malah menelikungnya. Tugas agama (Islam) semestinya justru memicu kemajuan seraya menyandinginya.

Kita tak sekedar menghibur diri dan berapologi dengan klaim bahwa kontribusi Islam dalam peradaban adalah besar. Tetapi, penting membuktikan bahwa agama ini memicu peradaban (tamaddun wa tsaqafah). Dengan menjalankan nilai-nilainya, seorang muslim justru harus merasakan keleluasaan hidup. Adapun kaidah dan batasan-batasannya, justru sebagai pembimbing. Dengan demikian, terutama secara sosiofak (sosiologis), kita tidak lagi menjalankan strategi kebudayaan yang keliru. Dalam hidup secara multikultural, tidak lagi perlu menciptakan distansi yang kaku antara budaya lokal dan agama secara frontal. Dalam arti lain, Islam tidak bertugas hanya mendawuhkan akidah dan syariatnya dalam arti formal-skripturalis, tetapi juga seyogyanya terus bersama-sama mengolah kebudayaan secara lebih elok dan manusiawi.

Sampai di dalam konteks ini, memang harus segera dihindari klaim sosiologis yang memutlakkan. Slogan seperti ‘Islam untuk Islam’ perlu ditindaki secara proporsional. Bahkan, dalam fase peradaban seperti sekarang, bisa saja klaim tersebut malah merugikan, baik secara strategis maupun subtantif. Secara subtantif, misi Islam tidak pernah menganjurkan adanya singularitas. Dalam konteks inilah, dakwah Islam bukan semata Islamisasi dalam arti harus semua menjadi Islami. Dengan begitu, medan hidup menjadi jelas. Keyakinan teologis memang perlu diamalkan, tetapi kearifan manusiawi yang antroposentris juga harus dipegang.

Dalam tatanan sosiologis, alih-alih cenderung memperebutkan status dan bukan substansi, Islam justru harus mendorong proses kedewasaan budaya. Prinsip nilai kelayakan karena kepantasan dan kesetaraan harus sama-sama dijalankan. Islam pun menjadi agama yang memberkahi manusia. Makhluk yang sengaja didesain oleh Tuhan menjadi majemuk – ras, bangsa, etnis, dan agamanya berbeda-beda. Menafikan eksistensi kemajemukan budaya jelas menggugat Tuhan. Tetapi sebaliknya, dapat damai menerimanya berarti kita telah berdamai dengan Tuhan. Islam haruslah menjadi teks yang utuh dan terbuka untuk dibaca. Sebab, pemeluknya pun akan menjadi teks bagi yang lain; betulkah dia muslim?

Kontekstualisasi Menuju Esoteris
Untuk menjernihkan pemahaman kontekstualisasi, terutama dalam pemahaman budaya, Islam sejatinya bisa merambah masuk ke wilayah tradisi dan budaya manapun. Namun, kekuatan budaya yang dimaksud di sini tidak sekedar dilihat secara terbatas. Sebab, kebudayaan mencakup aspek yang bersifat internal dan eksternal.

Tradisi yang selama ini meliputi kehidupan budaya Islam di kalangan orang Islam sendiri, lebih sering terjebak pada pemahaman-pemahaman kekuatan eksternal. Sehingga, jika dilihat dari kondisi yang berkembang selama ini, Islam kurang diuntungkan. Telah terjadi pengabaian yang parah terhadap pemahaman Islam secara internal.

Kontektualisasi harus dipahami sebagai ladang bagi persemaian Islam; sebagai kekuatan spiritual di satu pihak dan kekuatan sosial-budaya di lain pihak. Karena itu, tantangan-tantangan kebudayaan dalam Islam perlu dikembalikan dalam cita-cita spiritual Islam seturut konsep kemasyarakatan. Kalau toh secara kultural Islam tampak “loyo” dewasa ini, itu tidak lebih dari adanya indikasi betapa kekuatan eksternal Islam masih kuat mendasari pemahaman umat Islam. Atau, secara konseptual, pemahaman kita terhadap Islam selama ini sangat dipengaruhi oleh pandangan yang oleh Fritjhof Schuon, filosof kelahiran Swiss, disebut sebagai kekuatan “eksoteris”.

Nah, ikhtiar untuk melakukan ‘penyegaran’ dalam cara pandang eksoteris memang layak untuk terus dilakukan. Ini sebagai upaya untuk mengembalikan potensi Islam sebagai suluh dalam peradaban. Dengan demikian, menjadi muslim tidak berarti menjadi “musuh” terhadap budaya liyan (the other), melainkan menjadi “kawan” dalam membangun peradaban adiluhung. Karena itu, pemajangan patung tak selayaknya dipandang secara picik sebagai “berhala” atau “pemberhalaan”, tetapi sebagai “identitas budaya” yang tak berpunggungan dengan iman.

(36)

Soffa Ihsan Menulis esai di berbagai media massa nasional dan lokal. Ia menulis banyak buku pemikiran, termasuk novel. Satu diantara buku non-fiksinya adalah "In The Name of Sex - Santri, Dunia Kelamin, dan Kitab Kuning". Sempat menjadi redaktur di LenteraTimur.com di Jakarta hingga 2012.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *