Home Featured We Tenri Olle, Ratu Cendekia dari Tanete

We Tenri Olle, Ratu Cendekia dari Tanete

545
11
Makam Siti Aisyah We Tenri Olle di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Foto: www.barru.go.id.

Di negara yang mendefinisikan pahlawan sebagai pejuang anti-Belanda, maka tidak akan ada tempat bagi anak negeri yang melakukan perjuangan di kutub berbeda. Betapapun heroik tindakan yang sudah dilakukan, tapi definisi kepahlawanan di kemudian hari membuatnya lenyap.

Siti Aisyah We Tenri Olle adalah satu diantara sekian banyak raja perempuan Bugis yang narasi tentang dirinya senyap di lintasan sejarah. Ia adalah Raja Tanete, putri kedua dari La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Masa kekuasaan We Tenri Olle terbilang cukup lama, 55 tahun, yakni sejak 1855 hingga 1910.

Di tangan We Tenri Olle inilah popularitas Tanete melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa. Ia berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes, untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah yang akan diceritakan kemudian.

Akan tetapi, kontribusinya tak hanya ihwal La Galigo. Ia jugalah yang pertama kali membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas sosial maupun gender.

Masa remaja We Tenri Olle dihabiskan di istana Sultan Tanete yang saat itu diperintah oleh kakeknya dari pihak ibu: Raja Tanete La Rumpang Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, perempuan cerdas ini menemukan bintang terangnya kala berinteraksi dengan dua peneliti asal Eropa, BF Matthes dari Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria.

BF Matthes, yang juga mendirikan sekolah di Tanete untuk kaum laki-laki terpandang pada 1876, adalah peneliti asal Belanda yang menggali sastra klasik Bugis, I La Galigo. Sedangkan Ida Pfeiffer adalah perempuan petualang asal Austria yang sempat singgah di Kerajaan Tanete dalam perjalanannya keliling dunia. Interaksi antara Matthes, Pfeiffer dan We Tenri Olla membuka cakrawala wawasan dirinya kala muda untuk berpikiran maju melampaui zamannya.

Saat naik tahta, We Tenri Olle sejatinya harus menghadapi banyak pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Sang ibunda lebih menghendaki La Makkawaru, kakak lelaki sulung Tenri Olle, untuk naik tahta. Tetapi, intervensi kakeknya, La Rumpang, ayah Collipujie yang juga Raja Tanete kala itu, membuat penentangan ibundanya mereda. Apalagi, perilaku keseharian La Makkawaru yang disebutkan gemar berjudi dan meminum minuman keras membuatnya tersingkir dari tahta kekuasaan Tanete. Perilaku demikian bertolak belakang dengan Tenri Olle yang terkenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.

We Tenri Olle menikah dengan Arung Bakka Soppeng, bernama La Sandji Unru, dan melahirkan tiga putri: We Pancaiktana Bunga Walie, I Pateka Tana, I Hawang, dan seorang putra, La Sangaji Unru, yang kelak meneruskan tahta ayahandanya sebagai Raja Bakka di Soppeng. Kedekatan antar raja-raja di daerah Bugis memungkinkan mereka saling kawin untuk mempertahankan kekerabatan dan stabilitas wilayah.

Kerajaan Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil. Luasnya 61.180 hektar dengan jumlah penduduk, pada saat itu, 13.362 jiwa. Kerajaan kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang.

Sebagaimana daerah lain di Sulawesi Selatan, mata pencaharian penduduk Tanete adalah bertani dan nelayan. Saat ini, di zaman modern, bekas wilayah Kerajaan Tanete dimasukkan sebagai salah satu wilayah administratif kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Saat memerintah, We Tenri Olle berusaha mempertahankan pola patron-klien dengan penjajah Belanda untuk menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat Tanete. Meski menyadari betapa terhinanya hidup dalam kungkungan penjajahan formal, namun Ratu Tanete ini merasa kestabilan kerajaan jauh lebih dibutuhkan. Tak ada guna mengobarkan perlawanan bersenjata. Apalagi, kokohnya kekuatan militer Belanda saat itu tak memungkinkan untuk ditaklukkan. Ia merasakan betapa sulitnya Tanete ketika rajanya, La Patau, ditangkap dan diasingkan oleh Belanda karena perlawanan fisik yang La Patau gencarkan pada 1840.

Sebagaimana kakeknya, La Rumpang, We Tenri Olle lebih memilih untuk bersikap kooperatif dengan Belanda seraya berusaha mengambil banyak manfaat dari hubungan baik itu untuk berkonsentrasi pada kesejahteraan, pendidikan, dan pelestarian kebudayaan Bugis. Sikap politik yang diambilnya inilah yang kelak merugikan reputasinya.

Tak heran, barangkali, kronik hidup penguasa Tanete yang juga peminat sastra dan pemerhati pendidikan ini tak selengkap kronik penguasa lokal yang lain. Setidaknya, dalam penelusuran di berbagai literatur, tahun kelahiran perempuan cerdas asal Tanete ini tidak pernah disebutkan. Keterangan hanya ada pada tahun wafatnya, yakni 1919, di desa Pancana Tanete ri Lau, yang juga kampung kelahirannya.

Kecerdasan We Tenri Olle ada pada kepiawaiannya melakukan reformasi pemerintahan. Saat ia naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu). Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa wilayah (palili) atau daerah vasal.

Untuk menjaga kewibawaan dan efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang.

We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.

Menemukan Kembali Epos Lagaligo
Lamanya masa pemerintahan We Tenri Olle memungkinkan dirinya untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La Galigo. Dengan diinisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan Collipujie, sang ibunda, ia kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis.

Kekeramatannya dipicu oleh anggapan masyarakat Bugis saat itu bahwa cerita La Galigo bukan saja hanya sekedar epos, tetapi juga merupakan petuah leluhur (to Riolo) yang mengandung samudera hikmah kehidupan dan karenanya layak dikultuskan. Belum lagi ketinggian bahasa perumpamaan yang tersirat di antara larik-larik aksara Bugis Kuno yang hanya segelintir orang mampu menggali maknanya.

Di banyak tempat, manuskrip yang juga biasa disebut lontarak ini disimpan secara khusus, yakni di dalam kain putih dan diberi dupa-dupa. Dibutuhkan upacara ritual yang sakral untuk membukanya, dengan dipimpin oleh dukun atau seorang Bissu, manusia transgender yang dipercaya memiliki kemampuan magis dalam berhubungan dengan dewata. Selain itu, tak banyak orang Bugis yang mampu memahami bahasa asli La Galigo, yang merupakan bahasa Bugis kuno.

Kemampuan We Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos La Galigo, yang tersusun dalam 300.000 larik cerita berangkai, membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.

Menurut BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya, Collipujie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam di dalam bilik-bilik senyap istana-istana raja-raja Bugis hingga keruntuhannya.

Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini. Ia berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra bugis ini.

Sekolah Rakyat (volkschool) untuk semua kalangan
Dari pendalaman tentang sastra dan intensitas pergaulannya dengan BF Matthes dan Ida Pfeiffer, Tenri Olla kemudian memikirkan langkah strategis untuk memajukan bangsa Tanete melalui pendidikan. Akan tetapi, berbeda dengan BF Matthes yang mendirikan sekolah khusus untuk laki-laki, bangsawan, dan kaum kaya, We Tenri Olla justru mendirikan sekolah rakyat yang terbuka untuk semua kalangan pada 1890 atau 1908. Ia memberikan akses seluas-luasnya untuk masyarakat bawah agar dapat mengikuti pendidikan tanpa diskriminasi ekonomi, sosial, atau gender.

Siti Aisyah We Tenri Olle. Foto: www.tappikawali.blogspot.com.

Model sekolah rakyat ini, atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool), merupakan inisiatif We Tenri Olla dan menjadi yang pertama di jazirah Sulawesi Selatan kala itu. Ia lahir dari ide kreatif Kerajaan Tanete tanpa bantuan dari pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Belakangan, model sekolah rakyat ini diadopsi oleh daerah lainnya di Sulawesi Selatan hingga ke Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut “Sekolah Melayu” sebagaimana dituliskan oleh FB Matthes dalam bukunya.

Karena keterbatasan publikasi, model sekolah yang dirintis oleh We Tenri Olla ini tidak banyak ditemukan deskripsinya dalam banyak literatur. Kemungkinan, mengingat cakupannya yang menyeluruh ke seluruh kalangan, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan berhitung. Dua mata ajaran standar yang dipakai untuk mengasah kemampuan dasar masyarakat Tanete kala itu.

Kala itu, ide sekolah rakyat untuk semua kalangan tanpa diskriminasi ini sungguh luar biasa dan melampaui zamannya. Bahkan jauh mendahului RA Kartini dan Dewi Sartika, dimana nama yang pertama dibuat lebih dikenal dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia.

Selanjutnya, setelah We Tenri Olle mundur dari singgasana Kerajaan Tanete pada 1910, praktis tidak ada kronik yang menceritakan keberlanjutan tahta Tanete di masa berikutnya. Hal ini mungkin dikarenakan Tanete lambat laun dimasukkan dalam daerah administratif Onder Afdelling Barru yang bernaung dibawah Afdelling Parepare. Onder Afdelling Barru yang kini menjadi Kabupaten Barru merupakan gabungan kerajaan-kerajaan kecil: Berru (Barru), Tanete, Soppeng Riaja dan Mallusetasi.

Perempuan Bugis
Dalam tradisi Bugis, sudah sejak lama peran perempuan memang tak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Perempuan Bugis merupakan pihak yang turut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan Bugis, jauh sejak masa epos La Galigo mula dikisahkan.

Nenek moyang Bugis, yang disebut Tomanurung, dikisahkan tidak saja hanya seorang lelaki bernama Batara Guru, tetapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis awal.

Sejak lama, negara-negara Bugis dikenal sangat egaliter dan demokratis. Pada masa-masa awal pemerintahannya, pemilihan raja didasarkan pada kecakapan individual dan kolektif dengan mendudukkan faktor garis keturunan kebangsawanan di urutan ke sekian.

Maccai na malempu, waraniwi na magetteng, demikian peribahasa masyarakat Bugis yang artinya adalah ‘cendekia lagi jujur, berani lagi teguh pendirian’. Bagi masyarakat Bugis, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cendekia, jujur, berani, dan teguh pada pendirian yang benar.

Sejumlah pemimpin pada kenyataannya memang muncul dari kalangan jelata. Sebut saja I Sangkilang di Gowa akhir abad 18, atau beberapa Arung Matoa Wajo yang dipilih dari pemimpin-pemimpin kampung. Ada pameo yang terpatri dalam benak orang Bugis bahwa pada dasarnya raja adalah rakyat jelata juga. Mereka naik ke tahta pimpinan hanya karena kualitas kemanusiaannya melebihi yang lain.

Egalitarianisme Bugis juga diterapkan dalam kesetaraan gender. Tidak saja dalam pranata sosial keseharian, kaum perempuan Bugis pun ditempatkan di tataran yang setara dengan kaum lelaki, bahkan dalam sistem politik. Kronik beberapa kerajaan Bugis semisal Luwu, Bone, Tanete, Soppeng, dan Wajo, beberapa kali mencatatkan raja dari kalangan perempuan. Perempuan Bugis yang menjadi raja di kerajaannya tidak saja hanya penghias silsilah saja (lontarak), tapi juga berkontribusi aktif untuk kemajuan rakyatnya.

Dalam buku “History Of Java” (1817), Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya.

“The women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi).

[Perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran hak pribadi atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain].

Tak hanya dihargai pendapatnya, terkadang beberapa perempuan Bugis terpilih menjadi penguasa di kerajaannya masing-masing. Kesetaraan hak politik perempuan ini diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.

Selain Wa Tenri Olle, kronik raja-raja Bugis mencatat beberapa perempuan Bugis yang pernah memerintah di masing-masing wilayah. Di antaranya adalah We Tenri Rawe (Raja/Pajunge ri Luwu, abad 14), Adatuang We Abeng (1634, Ratu Sidenreng), Datu Pattiro We Tenrisoloreng (1640-Bone), We Batari Toja Daeng Tallang (1724-Bone), Adatuang Adi We Rakkia Karaeng Kanjenne (1700-an, Sidenreng), Soledatu We Ada (Ratu Soppeng, istri Arung Palakka, 1670), We Maniratu Arung Datak (1840-Bone), Besse Kajuara (1860-Bone), Andi Ninong dan Petta Ballasari (Ranreng Matoa Wajo, abad 20), Andi Depu, Datu Balanipa Mandar, Andi Pancaetana (1915, penguasa Enrekang).

Ada dua nama yang kemudian tercatat sebagai perempuan yang gencar melakukan perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di masanya. Dua perempuan itu adalah Besse Kajuara We Tenriawaru dan We Maniratu Arung Datak.

Senyap di Lintas Sejarah
Siti Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritas di lintas sejarah Indonesia. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti mengenai sejarah penulisan La Galigo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak mengundang kekaguman dalam bentuk tulisan-tulisan yang tersebar di buku sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat Bugis saat ini, yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka.

Di daerahnya, di Pancana Tanete ri Lau, Kabupaten Barru kini, nama Wa Tenri Olle hanya dikenal dari sebentuk bangunan makam megah berwarna putih berbentuk kubah berciri arsitektur Eropa. Tak banyak yang tahu detail kisah hidupnya selain bahwa perempuan cerdas ini pernah menjadi Penguasa Tanete di akhir abad 19.

Namanya jauh dari sentuhan literatur. Bahkan, dalam penelusuran mesin pencari di internet, hanya ditemukan 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1.080.000 tautan dan Dewi Sartika dengan 2.100.000 tautan. Ironisnya, tak ada yang bisa menjejak tahun kelahiran perempuan besar ini.

Padahal, seperti telah diterangkan di atas, kontribusi aktif We Tenri Olle memajukan pendidikan jauh lebih mula dan lebih luas daripada dua orang di Pulau Jawa itu. Dengan inisiatif dan dana sendiri, perempuan Bugis ini mendudukkan laki-laki dan perempuan di bangku pendidikan yang sama, menerima pengajaran yang sama. Ia memaknai emansipasi dalam bentuk hakiki tanpa merasa jengah dengan pembedaan jenis kelamin.

Perihal RA Kartini, sosoknya yang dimitoskan oleh Indonesia pada gilirannya memang disangsikan oleh banyak kalangan. Di antaranya adalah sosiolog Universitas Indonesia, Profesor Harsja Bachtiar, yang mempertanyakan pengkultusan perempuan Jawa itu dalam sejarah Indonesia. Sementara, di belahan “Indonesia” lain, ada sosok seperti We Tenri Olle yang justru lebih berhasil dan lebih bergaung ke masyarakat banyak.

Satu-satunya cacat seorang Wa Tenri Olle, jika kita menyepakati hal ini sebagai cacat sembari melenyapkan pertimbangan-pertimbangan politis-strategis masa itu, adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda melawan raja-raja Bugis di Pare-Pare pada 1905.

Faktor lain yang barangkali turut membuat namanya senyap adalah tidak adanya karya tulis yang ia hasilkan sendiri.

Meski demikian, namanya tetap tak bisa digeser kala siapapun mencari jejak kepahlawanan yang pernah di lahirkan di bumi yang kini bernama Indonesia. Siti Aisyah We Tenri Olle tetaplah seorang perempuan serba bisa, penguasa Tanete lebih dari separuh abad, pemula pendirian sekolah modern di Tanete, dan penggali sastra klasik La Galigo.

Sumber:
www.melayuonline.com
www.id.wikipedia.org
www.sejarah.kompasiana.com
www.budaya-sulsel.com
www.majalahversi.com

(545)

Muhammad Ruslailang Noertika Muhammad Ruslailang Noertika biasa disapa Daeng Rusle. Saat ini ia tinggal dan bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Beberapa tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online. Ia bisa ditemui di www.daengrusle.net.

Comments with Facebook

Comment(11)

  1. Sy sbg warga Barru sgt menghargai perjuangan We Tenri Olle dlm memajukan pendidikan dan kesusastraan pd zamannya dan hingga kini masih dikenang. Beliau mestinya menjadi Pahlawan Nasional Perempuan. Sungguh sgt Luar Biasa pemikiran dan komitmen beliau. Semoga masih ada penerus We Tenri Olle muncul lg dan mewarisi keistimewaan Beliau. Mari kaum Perempuan bang kit dan berjuang.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Alhamdulillah. tulisan ini menambah wawsan sejarah tanete.
    slm dr arung niyyo‘ tanete riaja.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Tulisan yang sangat bagus, 3 tahun yang lalu. Dan saya baru menemukan tulisan ini sekarang.

    Sebagai anak keturunan Bugis, walaupun lebih kepada bugis peranakan yang lahir dan besar di Kalimantan, tentu hal ini sangat menarik bagi saya, selain fakta bahwa pemikiran orang-orang Bugis pada masa itu sudah bisa dikatakan visioner.

    Izin untuk membaca lebih hikmat lagi.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Kami keturunannya akan selalu menyalakan pelita ditengah “kesenyapan” catatan sejarah tentang dirinya. Walau We Tenri Olle tenggelam dlm kesunyian sejarah tapi beliau tetap mutiara yg berkilau.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. L.S.; One of the best rulers of Indonesia ever.I am now making an encyclopedy about all the ca. 300 dynasties of Indonesia.Like to contact the dynasty of Tanette. Thank you. Facebook Donald Tick Holland

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. terimakasih buat tulisan ini,luar biasa,makin menambah wawasan sejarah Indonesia.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. s aya tak tertahan air mata bagaikan hujan gerimis membaca tulisan ini,mungkin kerana ada kaitan leluhur. terima kasih . semoga allah swt.membalasnya.tawau sabah.malaysia.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Saya sampai merinding membacanya :) Itulah perempuan2 Bugis yg berjuang bukan untuk mencari nama namun didasari ketulusan untuk membangun negeri. Sy sedang berusaha mencari jejak2 leluhur, informasi anda sangat bermanfaat buat sy. Sy ucapkan terima kasih yg sebesar2nya Daeng.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Sayang sekali kalau baginda tidak dikenal hanya karena baginda memilih untuk tidak melawan Belanda. Bukankah R.A. Kartini juga tidak melawan Belanda? Saya sangat kagum dengan masyarakat Bugis yang memuliakan kaum perempuan. Salam dari Kalimantan Selatan

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Semoga Allah memberkahi mereka2 yg membuat tulisan2 yg meluruskan sejarah dan mencerdaskan bangsa seperti ini.

    Sungguh Alm. Siti Aisyah We Tenri Olle adalah seseorang yang tahu strategi.

    Semoga Allah mempertemukan Beliau dengan Sayyidah Fathimah dan keluarganya di Telaga Haudh. Amin Ya Robbal Alamin.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. mantap..!!!
    sejarah Indonesia memang kaya, dan tulisan di atas memberi perspektif yang lain tentang peran gender dalam salah satu suku di Indonesia

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *