Home Bernala Membaca Annable Chong
0

Membaca Annable Chong

6
0
Soffa Ihsan

Annable Chong hatinya terasa plong. Hasrat dan impian yang telah berjingkrak-jingkrak semenjak remaja, kini mampu dimuntahkannya secara total “foot ball”. Ia yang lahir dan besar hingga Sekolah Menengah Atas di Singapura ini berasal dari keluarga yang well educated (berpendidikan). Ayahnya adalah jebolan kampus bergengsi, yaitu Cambridge University di Inggris.

Sedari kecil, perempuan yang nama aslinya Grace Quek ini sudah terbiasa “gaul intelektual” melalui buku-buku koleksi bapaknya, termasuk soal feminisme. Selepas Sekolah Menengah Atas, ia hijrah ke negara impiannya, Amerika Serikat. Di negeri terbesar pertama industri pornografi itu, ia juga tengah menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam bidang cultural studies.

Semasa usianya baru menginjak 22 tahun, Annable Chong telah  menorehkan  sejarah. Ditambah pula, kemuakan ia dengan kehidupan yang biasa-biasa dan monoton. Tanpa sungkan, ia mempertontonkan sebuah “akrobat” yang bagi jamak orang bisa menyirap-nyirapkan kemirisan. Alamak! Ia peragakan  gangbang. Apa pula itu? Secara atraktif, ia menyediakan tubuh montoknya untuk “digoyang ngebor” oleh 251 laki-laki.  Nyatanya,  ia berhasil “menghabisi” 251 laki-laki itu. Jangan kaget, adegan hardcore-nya itu dikonsumsikan untuk publik melalui sekeping VCD.

Konyolkah tindakan Annable Chong? Dalam logika umum, sangat mungkin untuk menjadi tergopoh untuk memahaminya. Sebaliknya, akan mengumpatnya sebagai aksi kebinatangan. Seorang perempuan seperti Annable Chong berani-beraninya “melawan” laki-laki yang telah terpatri secara biologis lebih agresif. Sedari lama, kekuatan patriarki lebih unggul, membius serta mengangkangi kaum perempuan.

Dulu kita kenal Kaisar Caligula, yang membuat pesta pora seks. Ada juga Hercules yang kuat perkasa dan siap membobol tubuh puluhan perempuan. Bayangkan, berapa banyak perempuan waktu itu yang menjadi “budak nafsu” bagi hasrat seks laki-laki. Perempuan bernasib jadi ajang “kuda-kudaan”. Apalagi, perbudakan sedemikian menjadi mentradisi yang ditopang oleh moralitas istana, adat, mistifikasi, dan juga agama.

Annable Chong sendiri mengakui adegannya itu benar-benar berangkat dari pilihan sadar. Secara herois, ia hendak menunjukkan bahwa perempuan ternyata mempunyai “power” yang besar. Perempuan memiliki kemampuan untuk “menundukkan” laki-laki. Perempuan tidak hanya bisa dibuat bulan-bulanan kaum laki-laki. Karenanya, perempuan setara dengan laki-laki. Sebuah pemberontakan melalui jalur seksualitas yang acapkali memang hasil konstruksi sosial-budaya.

Betulkah ini “pemberontakan” atau kian maraknya kecenderungan male clone, perempuan yang meniru kekuatan laki-laki?. Di televisi, pemirsa sudah cukup banyak disuguhi bintang-bintang perempuan “otot kawat balung wesi” seperti Zena atau Nikita dan juga ratu-ratu silat bumiputera. Mereka gesit ber-ciat-ciat dan berhasil menghempaskan pendekar atau penjahat laki-laki.

Di jalan-jalan, barangkali tidak sulit berpapasan dengan perempuan berlagak kelaki-lakian. Tubuh tegap dan otot bisep yang nonjol. Tempat-tempat fitness juga dipenuhi kaum hawa yang berniat tidak melulu menjaga kebugaran atau membentuk tubuh langsing, tetapi juga kekekaran. Produk-produk penunjang “tampang moderen” seperti jins, jaket kulit atau sepatu bot sudah merata menjadi “pembalut” secara unisex. Perempuan-perempuan berjilbab juga tak segan-segan tampil seksi dan “maskulin” dengan balutan jins, jaket kulit atau manik-manik lainnya. Sementara, kaum pria bisa pula meniru-niru “pernik-pernik” keperempuanan. Ada istilah ‘cowok metroseksual’. Yah, berbusana, menyitir Roland Barthes, filosof Perancis, memang bukan lagi semata sebagai real-clothing, tetapi juga image-clothing.

Aha, inilah gonjang-ganjing zaman yang tak menyebal dari rangkaian tuntutan kesetaraan perempuan dengan laki-laki. Bukan sekedar “hak”, tapi juga “kedudukan” kaum perempuan yang ingin dikedepankan. Dunia kerja yang pada abad-abad sebelumnya lebih menempatkan laki-laki sebagai makhluk paling berhak, kini rontok oleh “smong” tuntutan keterlibatan kaum perempuan. Domestifikasi perempuan kini dipandang sebagai pengekangan.

Dulu, di Eropa, tulis Will Durant dalam The Pleasure of Philosophy, hadirnya perempuan dalam dunia kerja dikutuk sebagai  insiden industri. Lalu, seiring lajunya kapitalisme, kaum perempuan justru menjadi bagian dari mode of production.

Perkawinan yang dianggap sebagai ikatan  paling sah, juga tak lepas dari gempuran gerakan kesetaraan. Betty Friedan, aktivis-feminis Amerika Serikat, menyadarkan masyarakat Amerika Serikat kala itu bahwa perempuan telah dibelenggu oleh laki-laki termasuk dalam soal perkawinan. Maka, lahirlah semboyan “perkawinan adalah perbudakan”. Konsep intimasi menjadi “cair”. Manusia butuh kebebasan untuk mengungkapkan cinta kasihnya, tanpa belenggu moralitas kaku, adat dan juga agama.

Transgresi (pelanggaran) Tubuh
Gerakan feminisme memang masih lonjong. Kesamaan visi untuk memperjuangkan kesejajaran perempuan dan laki-laki tidak menghentikannya dari metamorfosa. Ditempa oleh keadaan yang terus ditekuri, feminisme pun terus berbenah diri. Persis taksonomi gerakan keagamaan, feminisme ada yang radikal dan ada yang moderat. Dewasa ini, kita mengenal ada ekofeminis dan posfeminis yang menoleh pada kodrat keperempuanan dengan tetap dibawah panji kesetaraan.

Modernitas dengan segebung kekuatannya melalui kapitalisme dan globalisme, terus-terusan mengguyur kehidupan masyarakat. Kehidupan masih akan menampakkan wajahnya yang seksis. Ketidakadilan jender masih bercokol, baik ditopang oleh adat, agama, dan juga  kapitalisme. Namun, adat dan agama masih bisa ditekuk-tekuk melalui  tafsir ulang. Karena, dari sono-nya keduanya sudah bersosok “open book”, bukan doktrin absolut yang menjumudkan benak pemeluknya.

Sementara, kapitalisme seringkali menampilkan diri dengan wajah yang “mutlak”. Gerusannya tak mudah ditampik oleh banyak orang. Tak akan ada daya yang mampu membendung industrialisasi. Karena ia adalah sumber dari progresivitas material umat manusia. Ia niscaya, sebab itu wajar jika masyarakat mudah menerimanya. Proses “mimesis” dan ”mimikri”, apalagi pada masyarakat kita yang bermental “ringkih”, akan selalu membinar-binar.

Di sebelah lain, di negeri kita, baik di kota dan di desa, wajah-wajah perempuan yang mandiri dan mampu mensiasati apa yang ditahkikkan patriarki, juga tampil menghilirmudiki kehidupan sosial-budaya kita. Ibu-ibu yang bekerja siang malam menjadi penjual jamu gendong, penjual sayur di pasar, penjual nasi, penjual daun jati, pemijat, atau kondektur bus, adalah sederet perempuan perkasa yang menggeluti hidup dengan gesit, tangkas, tanpa malas.

Dalam tilikan Musdah Mulia, pemikir Indonesia, satu diantara sepuluh kepala rumah tangga di negeri kita adalah perempuan. Bukankah ini petanda bahwa perempuan kita bukanlah tipikal perempuan yang pasif atau hanya menjadi “bibir Mer” saja? Irisan kenyataan yang, meminjam istilah Ivan Illich, filosof Austria, menandaskan adanya jender kedaerahan (vernacular gender).

Nah, tak akan pernah ada kekuatan apapun yang mampu menghadang gelombang hasrat yang berpancang pada cita-cita kemanusiaan. Semuanya kini berantakan oleh pemberontakan demi pemberontakan dalam  merengkuh kesetaraan.  Agama memang bukan “tersangka utama” dalam membelingut ketidakadilan jender. Adat-istiadat tertentu dan juga pandangan filosofis tertentu termasuk pihak yang ikut berperan serta dalam menimpangkan kesetaraan. Adat yang mengharubiru juga memberikan saham yang besar dalam mengukuhkan ketidakadilan jender. Pemikiran beberapa filosof Eropa modern, seperti Descartes (Perancis), Nietszche (Jerman), atau Schopenhauer (Jerman), bahkan memandang fitrah perempuan merupakan wujud pengabdian dan kehinaan.

Seorang Annable Chong mungkin saja telah bertindak secara rasional. Ia sadar betul atas pilihannya. Ia tahu, tubuhnya adalah “panjatan” untuk mengungkapkan kemuakannya atas ketidakadilan yang dimeriahkan dalam iklim kapitalisme. Amboi, Annable Chong telah melakukan transgresi (pelanggaran) atas kebertubuhan; seksual dan banalitas. Ia terjang tatapan liturgis, filsafat kuno, atau kepercayaan adat bahwa tubuh perempuan adalah sumber fitnah.

(6)

Soffa Ihsan Menulis esai di berbagai media massa nasional dan lokal. Ia menulis banyak buku pemikiran, termasuk novel. Satu diantara buku non-fiksinya adalah "In The Name of Sex - Santri, Dunia Kelamin, dan Kitab Kuning". Sempat menjadi redaktur di LenteraTimur.com di Jakarta hingga 2012.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *