Home Featured Memandang Bajo, Menimbang Cara Pandang

Memandang Bajo, Menimbang Cara Pandang

38
1
Orang Bajo: Suku Pengembara Laut - Pengalaman Seorang Antropolog.

Buku Orang Bajo: Suku Pengembara Laut adalah kisah jujur mengenai perjumpaan dan dialog antara manusia dari dua kebudayaan yang berbeda. Ia merupakan perjumpaan antara seorang antropolog Perancis dengan Suku Bajo yang tinggal di Pulau Nain di utara Manado, Sulawesi Utara, dan Torosiaje di Gorontalo.

Sekalipun menggunakan gaya penceritaan yang personal (aku, sudut pandang orang pertama), berbagai catatan mengenai cara hidup dan deskripsi tempat tinggal orang Bajo jauh dari kesan dramatis dan malah menghilangkan pertanyaan klasik mengenai subyek dan obyek dari benak kita. Si “aku” yang datang jauh-jauh dari Perancis bukanlah aku-yang-mengamati tapi aku-di-dalam kalian atau aku-yang-ada-karena kalian.

Sejak halaman pertama, kita diajak masuk ke dalam perenungan semacam itu. Gaya penceritaan dalam catatan pengalaman François-Robert Zacot ini berhasil mengajak pembacanya menangkap tujuan etnografi, yakni perluasan pengertian tentang “kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia (human possibilities) melalui studi tentang bentuk-bentuk kehidupan lain”.

Menurut pengakuan Zacot, gaya penceritaan “aku” yang mencampurkan catatan pengalaman pribadi penulis dan deskripsi etnografis dipilih karena masyarakat Bajo baru dapat diteliti dari segi etnografis jika masuk ke dalam masyarakat Bajo. Selain itu, berbagai macam kesulitan selama penulis berada di dalam masyarakat Bajo bukanlah residu penelitian tapi justru bahan yang memperkaya informasi mengenai asas-asas kehidupan masyarakat Bajo (halaman 10).

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa dalam buku ini kita kerap menjumpai catatan-catatan yang tergolong “ajaib”. Sebut saja catatan mengenai pengalaman Zacot mengenakan sarung dan diintip anak-anak Bajo (halaman 37), sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo ketika ditanya mengenai sejarah mereka (halaman 303), kejengkelan atas sikap orang Bajo yang suka meminta barang apapun yang ada di rumah Zacot (halaman 288) atau julukan-julukan yang diberikan Zacot kepada beberapa individu.

Beberapa kali saya terpaksa menutup buku karena tertawa keras-keras. Tapi, dalam waktu yang sama, juga merenungkan berbagai proses penyesuaian diri yang juga pernah saya alami selama ini, terutama pengalaman terkini saya di Papua. Menjadi tidak jelas kemudian, siapa yang saya tertawakan; Zacot atau saya sendiri.

Semua deskripsi “ajaib” itu ditulis bukan tanpa alasan atau sebagai hiasan semata. Mengenakan sarung dan diintip anak-anak adalah bagian dari proses penyesuaian fisiologis yang dijalani Zacot. Hidup di dalam masyarakat bahari Bajo berarti harus membuang jauh-jauh ruang privat.

Masyarakat Bajo tinggal di dalam rumah yang didirikan di atas laut dan sebagian kecil di dalam leppa (perahu kecil) (halaman 128). Selain kehilangan ruang privat karena rumahnya selalu didatangi orang-orang Bajo, ia sampai ikut mengalami sendiri dampak dari kurangnya interaksi dengan daratan: kakinya lemah karena kurang bergerak dan merasa asing saat menginjak daratan.

Ungkapan kejengkelan Zacot pada sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo merupakan warna manusiawi yang dibubuhkannya dalam pembahasan mengenai cara pandang orang Bajo terhadap dunia. Sejarah orang Bajo diwarnai perpisahan yang menyakitkan dengan daerah asal mereka. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia berhasil mendapatkan cerita rakyat Bajo yang memberi petunjuk atas misteri asal-usul orang Bajo (halaman 215). Selain sikap bungkam, salah satu petunjuk menarik mengenai asal-usul dan sikap orang Bajo memandang dunia adalah pantangan orang Bajo untuk menyebutkan “timur” dalam arah mata angin (halaman 382, 392).

***

Tidak lama setelah selesai membaca buku versi Indonesia terbitan 2008 ini, saya melihat tayangan mengenai orang Bajo di sebuah acara di stasiun televisi. Sang pembawa acara (yang biasanya mewakili karakter anak muda Jakarta masa kini), menjelaskan cara hidup orang Bajo sambil tertatih-tatih melewati jalanan kayu di kampung orang Bajo. Dengan penuh rasa takjub, pembawa acara dan kamerawan acara itu menyoroti kebiasaan perempuan-perempuan Bajo yang mengenakan bedak tebal di wajah mereka. Seperti acara televisi lain, liputan atas orang Bajo itu singkat saja dan berkali-kali disela tayangan iklan.

Ada ajakan untuk mengenal berbagai macam budaya di Indonesia melalui tayangan tersebut. Tapi bentuk perkenalan macam apa yang sebenarnya hendak dianjurkan bagi para pemirsa televisi? Jangan-jangan, kita sedang meniru sikap orang Eropa yang terheran-heran dan tertawa melihat orang dan gaya hidup Jawa atau Batak pada pameran-pameran kolonial yang kerap diadakan pada akhir abad 19 di Eropa.

Selama beberapa abad, masyarakat Bajo berkembang sebagai masyarakat yang menumpukan nasib dan daya hidup mereka pada cara hidup maritim. Zacot melakukan penelitian tepat pada saat cara hidup maritim mereka berada di dalam ambang perubahan; ketika rezim Orde Baru sedang mengkonsolidasikan kekuatan mereka. Semua perbedaan masyarakat harus disingkirkan demi kepentingan keutuhan bangsa dan pembangunan nasional.

Bentuk-bentuk pemerintahan adat dan lokal yang tidak bisa mengakomodasi kepentingan pusat untuk sentralisme harus minggir. Maka, demikianlah Zacot terheran-heran melihat alat pengeras suara yang mengumandangkan berbagai macam instruksi untuk masyarakat Bajo di Torosiaje. Cara hidup maritim masyarakat Bajo pun dipandang sebagai bentuk tindak subversif karena menolak untuk hidup menetap di darat.

Di buku setebal 482 halaman ini, Zacot mengingatkan para pembaca akan kenyataan dan masalah jati diri yang kini dihadapi masyarakat Bajo (halaman 13). Paksaan untuk hidup di darat, desakan agama atas adat istiadat orang Bajo, dan serbuan media massa yang mengekspos gaya hidup mereka, membuat masyarakat Bajo seolah menyaksikan dan merelakan jati diri mereka hilang secara perlahan-lahan. Sementara, di sisi lain Indonesia, di sebuah kamar atau ruang makan, kita menikmati tayangan di televisi mengenai orang Bajo.

Orang Bajo bukan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang sedang mengalami pengikisan jati diri. 30 tahun pemerintahan yang sentralistik dan mengutamakan deru industri telah membuat orang Bajo, orang Dayak Kadori di Kalimantan, Orang Rimba di Jambi-Riau, orang Amungme, Kamoro, serta tujuh suku lainnya di Mimika, Papua, terpaksa meninggalkan masa lalu dan menanggalkan jati diri mereka dengan amat menyakitkan.

Saya jadi sedih membaca ajakan Zacot yang ia tulis di halaman kata pengantar. Karena, jangankan berpikir untuk memandang semua masyarakat di Indonesia sebagai warisan berharga sejarah dan kemanusiaan Indonesia, memandang mereka “yang lain” tanpa prasangka saja kita masih kesusahan.

(38)

Leonardus Onny Wiranda Ia dilahirkan di Malang, Jawa Timur, pada 9 Oktober 1978. Sejak lulus dari Fakultas Sastra UK Petra Surabaya, Jawa Timur (2004), ia pernah menjadi penjual buku, asisten peneliti,editor, penulis lepas, penerjemah, copywriter, hingga sekarang bekerja bersama teman-teman di Timika, Papua, sebagai konsultan pendamping untuk Biro Pendidikan LPMAK.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. apakah ada cara untuk mendapatkan buku ini? karena saya sudah mencari di beberapa toko buku dan tidak menemukannya, terima kasih :)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *