Home Featured Meraba Tana Toraja yang Bersahaja
4

Meraba Tana Toraja yang Bersahaja

57
4
Patung-patung khas Tana Toraja. Foto-foto: LenteraTimur.com/Nasrudin Ansori.

Banyak alasan kenapa saya begitu bersemangat memanfaatkan masa cuti ke Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Inilah sebuah perkampungan Toraja di daratan Sulawesi, yang berjarak sekitar sepuluh jam dari Makassar. Ia terkenal dengan upacara pemakaman dan rumah-rumah yang berbaris unik.

Dengan menumpang bus berpendingin (AC), pukul 14 WIT di pertengahan 2010, saya bersama rombongan teman-teman dari berbagai kota memulai perjalanan dari kawasan Pelabuhan Paotere, Makassar. Bis berjalan perlahan saat memasuki Kabupaten Maros, karena ada perbaikan jalan hampir sepanjang puluhan kilometer.

Kiri kanan jalan tampak jejeran rumah panggung berukuran kecil khas Bugis, dengan latar perbukitan yang cantik. Hamparan sawah dan kolam-kolam besar berisi ikan peliharaan, menambah cantik lanskap yang ada di sekitar Maros. Sesekali kami menemui sutar, alat transportasi berupa sepeda motor yang digabung dengan becak berukuran kecil dan pendek.

Di Barru, saya melewati hamparan lautan lepas yang saat itu tengah dihiasi sinar matahari terbenam berwarna kuning keemasan. Satu dua rumah makan seafood sederhana tampak menggoda selera untuk disinggahi. Namun, pesona Tana Toraja, terus memanggil untuk segera tiba di sana.

Pare-Pare saya jumpai sekitar pukul 20. Kota ini terkenal karena merupakan tanah kelahiran teknolog yang juga mantan presiden, BJ.Habibie. Kontur kota Pare-Pare meliuk-liuk dengan jejeran rumah-rumah berdempetan di kiri kanan jalan.

Waktu menunjukkan pukul 24 saat saya memasuki kota Rantepao, Tana Toraja. Sebuah patung raksasa menyambut kedatangan saya dan rombongan. Kolam tenang di bawahnya memantulkan cahaya lampu malam yang ada di sekitar patung berupa manusia itu. Jalanan sangat lengang, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat. Tana Toraja tak seperti kota besar di Pulau Jawa yang denyut kotanya terus berjalan.

Ornamen rumah Tongkonan.

Saat memasuki lobi hotel yang saya pesan sebelumnya, kesan megah dan elegan langsung menyambut. Ornamen dan desain bangunannya kuat dengan identitas arsitektur dan budaya Tana Toraja. Sebuah bangunan mirip gazebo bergaya rumah Tongkonan di lantai dua, semakin memperkuat tampilan hotel sebagai cerminan etnis ini.

Rasa lelah karena perjalanan jauh menuntun saya untuk segera tidur. Waktu saya terbatas; hanya dapat menyambangi objek-objek andalan Tana Toraja dalam waktu satu hari saja. Untuk itu, aktivitas menjelajah Tana Toraja mesti dimulai pada pagi hari besok.

Banyak yang bilang, Tana Toraja kurang menarik jika tak ada upacara adat seperti pemakaman adat. Bagi saya, pendapat tersebut tak berlaku. Begitu banyak hal unik dan menarik lainnya. Sebut saja Desa Lemo, objek pertama yang saya kunjungi. Di sini, spot pertama yang saya jelajahi adalah barisan rumah Tongkonan. Ada sekitar empat rumah Tongkonan yang sebagiannya digunakan warga sebagai lumbung padi.

Kondisi tanah saat itu agak basah, tapi hamparan rumput yang ada di sekitarnya berhasil menghalau lumpur tanah yang ada di bawahnya. Saya pun mulai menikmati keunikan rumah Tongkonan yang luar biasa. Tumbuhan hijau di atas atapnya makin memperindah tampilan rumah antik itu. Selain barisan rumah adat, Lemo juga menawarkan puluhan makam unik yang berjejer di dinding batu, dilengkapi patung berupa manusia. Warga setempat menyebutnya Tau-Tau, patung yang mencirikan wajah orang yang meninggal, lengkap dengan diberi pakaian layaknya manusia yang masih hidup.

Jejeran toko oleh-oleh khas Tana Toraja hadir untuk mereka yang ingin membawa buah tangan dari Lemo. Umumnya, yang dijual adalah patung-patung berukuran kecil berupa manusia berpakaian adat. Harga patung berkisar antara Rp. 15 ribu sampai Rp. 20 ribu, terdiri dari dua pasang patung (laki-laki & perempuan). Separuh lebih murah jika dibandingkan dengan patung souvenir yang dijual di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Patung souvenir tersebut juga diberi pakaian mirip Tau-Tau yang ada di pemakaman adat. Kain yang dipasang bercorak khas Tana Toraja.

Makam di Lemo.

Lepas dari Tau-Tau, saya menuju desa Kambira. Jika di Lemo makam ada di dinding batu, di Kambira makam ditanam di dalam pohon berukuran raksasa. Hanya mayat bayi yang belum tumbuh gigi yang boleh ditanam di dalam batang pohon ini. Pada satu pohon terdapat sekitar enam makam bayi yang diletakkan di sekeliling pohon. Makam di tutupi dengan semacam jerami berwarna hitam. Ukuran makam berukuran seperti cetakan foto 10 R.

Selain makam bayi di dalam batang pohon, di Kambira juga terdapat rumah adat Tongkonan. Ada yang untuk didiami keluarga kecil, ada juga khusus untuk menyimpan padi. Cara mudah untuk mengetahui apakah rumah adat tersebut sebagai rumah tempat tinggal atau lumbung padi sangatlah mudah. Jika Tongkonan bertiang enam, maka bangunan panggung tersebut berfungsi sebagai penyimpanan/lumbung  padi. Jika bertiang empat, maka tak lain adalah sebagai makam sementara warga Toraja. Jika tiangnya sangat banyak, maka dapat dipastikan itu adalah Tongkonan sebagai tempat tinggal.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang rumah Tongkonan, saya beranikan diri meminta izin kepada salah satu warga di Kambira untuk memasuki area dalam rumah. Saya pun perlahan menapaki anak tangga yang tingginya sekitar tiga meter dari permukaan tanah itu. Sebuah pintu bermotif detail menyambut kedatangan saya. Meskipun tampak sangat megah dari luar, ternyata rumah ini hanya memiliki beberapa perabotan di dalamnya. Di bagian tengah rumah, tak ada satu pun benda-benda seperti lemari. Di bagian belakang, saya menemui karpet sederhana lengkap dengan bantal guling yang tersusun rapi. Tak ada kasur di sana.

Pada ruangan selanjutnya, saya menemui kembali tempat tidur sederhana yang dilengkapi dua jendela. Dari jendela ini saya dapat memandang barisan Tongkonan berada di seberang, yang berfungsi sebagai penyimpan padi. Ruangan kamar ini sepertinya tak tersentuh cat sama sekali. Ia bertolak belakang dengan tampilan luar rumah yang semarak dengan warna-warni merah dan hitam bermotif khas Tana Toraja. Sungguh perpaduan warna dan desain ciamik yang menambah cantik rumah Tongkonan.

Makam kaum bangsawan di Tampangallo.

Tanpa terasa, jam tangan menunjukkan pukul 11. Rasanya tak sabar untuk segera sampai di Desa Tampangallo. Mobil sewaan minibus kembali membawa saya menyusuri jalanan kecil meliuk-liuk di sepanjang jalan. Saya sempat menemui puluhan warga Toraja sedang bergotong royong membangun rumah adat. Wajah bersahaja sesekali tersenyum ramah ketika saya melewati perkampungan mereka.

Beberapa menit kemudian saya tiba di desa dengan papan nama kecil bergaya sederhana: “Tampangallo”. Dari situ, saya dan rombongan harus menuruni tanjakan menurun licin dan berlumpur. Aspal mulus sepertinya masih menjadi sebuah mimpi di sepanjang jalur menuju pemakaman para bangsawan di Tampangallo ini.

Sawah hijau dan perbukitan cantik yang terhampar luas di sebelah kiri jalan terus menggoda saya untuk membidikkan lensa kamera. Saya pun melewati jalan setapak yang di sampingnya terdapat hamparan sawah yang belum digarap. Air keruh tampak tenang di atasnya, tanpa satu helai pun padi hijau yang tumbuh.

Sekumpulan makam bangsawan dari masa lampau mudah sekali ditemui di Tampangallo. Makam tersebut diletakkan di dinding berbatu di dalam sebuah goa berukuran lumayan besar. Beberapa buah tengkorak tergeletak begitu saja di atas bebatuan. Di sudut lain saya kembali menemui Tau-Tau dan beberapa peti yang bentuknya mirip lambung kapal. Ia terletak di dinding goa yang lokasinya sulit saya jangkau. Saya mesti berpuas dengan cukup berdiri sekitar lima meter untuk menikmati pemandangan unik tersebut.

Satu jam di Tampangallo rasanya sudah lebih dari cukup. Desa Kete’kesu yang sangat popular di kalangan wisatawan menjadi tujuan saya berikutnya. Desa ini berjarak sekitar empat puluh menit dari Tampangallo, dengan melewati kota Rantepao dan desa-desa kecil lainnya. Kete’kesu terkenal dengan barisan rumah Tongkonan yang sangat rapi. Rumah-rumah saling berhadap-hadapan. Sebagian besar rumah tersebut tak tersentuh cat seperti Tongkonan yang sebelumnya saya temui di desa Kambira.

Di sana saya menemui seorang ibu paruh baya asli Toraja. Baginya, hidup di Kete’kesu sangat menyenangkan dan damai. Damai itu memang saya rasakan saat menyaksikan suasana asli perkampungan Kete’kesu yang jauh dari hiruk pikuk laju kendaraan yang dialami sebuah kota besar.

Barisan Tongkonan di Kete'kesu.

Di Kete’kesu, lagi-lagi saya menemui sebuah komplek pemakaman yang unik. Ada dua makam yang peti matinya berbentuk kepala babi dan kerbau, diletakkan di kiri kanan jalan terjal di atas bukit. Selain itu, tulang belulang tampak mendominasi pemandangan di sudut lainnya. Puntung rokok tampak berjejal-jejal di sekitar tulang belulang tersebut.

Usai mengamati Kete’kesu, rasa lapar menuntun saya ke sebuah rumah makan di kota Rantepao yang menyediakan makanan khas Tana Toraja: pa’piong. Umumnya pa’piong adalah campuran antara daging babi yang dimasak dengan aneka bumbu seperti daun serai, bawang putih, bawang merah, merica, daun bawang, dan telor. Selain babi, pa’piong juga berisi daging ayam. Cara memasak pa’piong sangat unik, yakni dengan cara mencampur potongan daging babi atau ayam serta semua bumbu di dalam sebatang bambu berukuran kira-kira 10-15 centimeter. Bambu tersebut lalu dibakar diatas api selama sekitar 15 menit.

Saya memesan Pa’piong isi ayam lengkap dengan nasi putih, sayur, serta segelas teh hangat. Seporsi Pa’piong bisa untuk 4 orang sekaligus. Rasanya yang lezat menambah kenikmatan perjalanan saya di  dataran tinggi Sulawesi, di tengah-tengah perkampungan Tana Toraja yang berbukit-bukit ini.

Selesai menyantap Pa’piong, saya berbelanja oleh-oleh di Pasar Induk Rantepao di Jalan Mappayukki. Banyak pertokoan yang menjajakan suvenir dan makanan khas Toraja; mulai dari kopi Toraja yang sangat terkenal itu hingga kaos bergambar rumah Tongkonan. Rata-rata harga yang ditawarkan masih terasa bersahabat dengan kantong. Jika pandai menawar, bukan tak mungkin kaos untuk orang dewasa dihargai dengan Rp. 20 ribu saja.

Tuntas berburu cinderamata, maka tuntas pulalah perjalanan saya di Tana Toraja yang bersahaja ini. Inilah salah satu perjalanan menyusuri satu sisi pesona alam dan budaya di negeri yang raya ini. Perjalanan yang seakan menjadi candu untuk menyambangi sudut-sudut lain di tanah air yang beragam ini.

(57)

Nasrudin Ansori Nasrudin Ansori adalah seorang penulis yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia sangat menyukai dunia petualangan, fotografi, buku, internet, mie ayam, dan persahabatan. Kini ia menjadi Perwakilan Lenteratimur.com di Kalimantan Selatan.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. catatan perjalanan yang bagus.

    memang banyak yg mengatakan bahwa tanpa upacara adat, Toraja hanya kawasan dataran tinggi yang senyap dan menyimpan banyak misteri. Kalau anda berkunjung saat upacara adat sedang berlangsung, maka kesenyapan dan ke-misterius-annya sedikit demi sedikit akan terkuak dalam bentuk eksotisme budaya toraja.

    sedikit komentar soal phrase:
    …”Dengan menumpang bus berpendingin (AC), pukul 14 WIT di pertengahan 2010, saya bersama rombongan teman-teman dari berbagai kota memulai perjalanan dari kawasan Pelabuhan Paotere, Makassar…”

    waktu yang dipakai di Makassar, Sulsel adalah WITA (Waktu Indonesia Tengah), bukan WIT.
    Juga, agak mengherankan bagi saya bahwa anda memulai perjalanan dari pelabuhan Paotere, bukan terminal bus Daya yang terletak di pinggir Makassar. Tapi mungkin memang travel agen anda memulai dari Paotere, kawasan yang sesungguhnya padat penduduk dengan jalan raya yang tak begitu luas, kurang nyaman bagi bus besar untuk melewatinya.

    salam takzim

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. unik ya rumah tongkonan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. pak Step :

    makasih atas komentar nya…senang rasanya bisa berbagi catatan ini ke semua pembaca situs ini..Tana Toraja sangat berkesan..makasih ata apresiasi yg bapak berikan…salam kenal..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Terima kasih atas artikel perjalanan yang luar biasa ini. Apa yang dl dikenal sebagai Tana Toraja, sekarang sudah terbagi dua secara administratif: Kab. Tana Toraja dengan ibukota Makale dan Toraja Utara dengan ibukota Rantepao.

    Sedikit koreksi, di dalam artikelnya tertulis antara lain,” Waktu menunjukkan pukul 24 saat saya memasuki kota Rantepao, Tana Toraja. Sebuah patung raksasa menyambut kedatangan saya dan rombongan.” Yang disebut Rantepao seharusnya Makale. Di sini memang terdapat satu patung Pong Tiku (Pahlawan Toraja) di tengah-tengah kolam.

    Selebihnya, laporan perjalanan seperti ini menambah daya tarik Toraja sebagai destinasi wisata. Dan atasnya kita mesti memberikan apresiasi.

    Terima kasih, Salama’

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *