0

Ella

33
0
Perempuan di Rantai Kekerasan. Foto: Repro
Perempuan di Rantai Kekerasan. Foto: Repro

Perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang keras dari lawan jenis. Sosoknya yang lembut menjadi tempat yang empuk bagi mereka yang merasa berkuasa. Kekerasan itu sendiri umumnya dilakukan oleh orang terdekat yang dilandasi suatu komitmen, entah itu rumah tangga maupun ikatan emosional.

Buku Perempuan di Rantai Kekerasan yang diterbitkan Penerbit Esensi, Jakarta, ini adalah satu diantara banyak catatan mengenai sejarah kelam kaum perempuan. Menariknya, buku ini merupakan kumpulan kisah yang ditulis langsung oleh korban kekerasan tersebut.

Satu diantara penulisnya bernama Ella Devianti. Kebetulan, saya memang mengenal Ella. Perempuan yang kini berusia 26 tahun itu pernah satu kantor dengan saya saat bekerja di sebuah media di Jakarta. Sedari dulu ia memang penulis buku. Tapi betul-betul diluar dugaan saya, bahwa dalam masa perkenalan terdahulu, ia ternyata pernah mengalami kekerasan. Menuliskan pengalamannya adalah langkah berani yang mungkin tak bisa dilakukan perempuan lain.

Kejadian buruk itu bermula di masa kuliah. Kala itu usianya baru lagi 21 tahun. Sebagaimana anak muda pada umumnya, Ella memiliki seorang kekasih. Awalnya semua berjalan normal. Mereka berkasih-kasihan, berjalan-jalan, menonton, bercanda, dan melewati waktu dengan harmonis dan bahagia.

Tanpa diduga, lelaki pujaan hatinya itu berubah. Lelaki itu mendadak garang. Tidak hanya tamparan, tetapi gelas pun pernah melayang ke tubuh Ella. Persoalannya dipicu oleh perubahan sikap Ella yang oleh lelakinya dinilai kian menjauh. Saat itu Ella memang berupaya untuk memfokuskan diri pada skripsi sembari mencari pekerjaan.

Si lelaki ternyata tak suka dengan perubahan itu. Emosinya terpancing. Ia mulai melakukan segala macam teror.

Di suatu siang, lelaki itu berusaha menghalangi Ella untuk lulus kuliah.

“Aku berhenti kerja,” kata Ella di suatu siang kepada pacarnya.

“Kenapa?”

“Mau ngerjain skripsi.”

“Kamu kan udah telat dan belum bayar semesteran. Emangnya masih bisa lulus?”

“Kemarin memang dipersulit sama manajer keuangan. Aku sih sudah bayar semesteran.”

“Pake duit siapa? Kok nggak bilang kalo kamu bayar semesteran? Pake gaji? Bukannya udah habis?”

Aku menyimpannya di suatu tempat yang kamu tidak tahu, gumam Ella.

“Ya kalo dipersulit gitu ngapain sih ngurus-ngurus lagi?”

Kamu tidak tahu, bagiku lulus adalah gerbang menuju dunia baru, gumamnya lagi.

“Jangan-jangan, abis lulus kamu udah berencana mau ninggalin aku ya? Kamu memang udah ngerencanain ini semua kan! Nanti kalo kamu lulus, kamu bakal balik lagi ke Dude pujaanmu itu dan menertawakan aku. Gitu kan!”

Sekarang aku berharap aku punya pikiran seperti itu, gumamnya lagi.

“Diem aja berarti bener kan. Pantek loe!”

“Ya, aku pengen putus,” jawab Ella datar dengan mata menerawang jauh.

“Tuh, bener kan! Loe emang perek ya! Nyesel gua kenal sama loe dulu. Nyesel! Nih, gua balikin, gua gak butuh semua barang-barang dari loe!” Si lelaki membanting handphone, rice cooker, piring-piring, dan semua barang-barang yang dibelikan Ella untuknya.

“Nggak ada HP nggak mati gua!”

Suatu ketika, Ibu Ella datang ke kos Ella. Saat itu handphone Ella bunyi. Ibunya melihat handphone itu, ternyata dari lelakinya Ella. Ella tak mau mengangkat. Ibunya bertanya ada apa, Ella hanya bilang sedang serius skripsi.

Tiba-tiba ibunya menyambar handphone itu.

“Kemana aja loe, nggak ngangkat telepon,” terdengar suara dari seberang sana. “Selingkuh ya! Dua hari nggak ada kabar. Loe pikir gua bakal mati loe tinggalin? Gua juga bisa mandiri! HALO!”

“Ini ibunya El…”

Klik!

Belum lagi selesai ibunya bicara, lelaki itu langsung mematikan handphone.

Ibunya kemudian mencoba membujuk Ella supaya menceritakan apa yang terjadi. Tapi Ella masih saja mencoba menetralisir, alih-alih membela, lelakinya itu.

Tapi tak lama terdengar suara bentakan dari arah pagar kos.

“KELUAR LO!”

Ella menggigil ketakutan. Ibunya kaget.

“JANGAN BERLINDUNG DI BALIK NYOKAP LOE YA. GUA UDAH MUAK SAMA KELAKUAN LOE. KELUAR LOE, KITA OMONGIN SEMUANYA. JANGAN MAIN NGILANG-NGILANG AJA!”

Teror semacam ini kadangkala berbentuk pesan layanan singkat, atau SMS. Seperti ketika Ella memutuskan hendak pindah kos untuk menghindari lelakinya itu.

“Loe bener-bener nggak tahu terima kasih ya. Mau kabur gitu aja?”

“HOI PANTEK… UDAH SENENG-SENENG LOE YA SAMA PUJAAN HATI LOE.”

“GUA AKAN CARI LOE SAMPAI KEMANA PUN. GUA BUNUH LOE. MATI!”

Tapi terkadang SMS kemarahan ini disusul dengan SMS lain.

“Di mana? Boleh pinjam duit nggak?”

Hanya butuh waktu sebentar, SMS lain menyusul lagi.

PANTEK LOE… BENER-BENER UDAH LUPA YA….”

“GIMANA GUA BAYAR WARNET NIH?”

Tak lama, lelaki itu meng-SMS lagi

“Please El, aku udah nggak tahu lagi mau minta ke siapa. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi.”

Karena tak dijawab juga, lelaki itu meng-SMS kembali.

‘OKE KALO EMANG MAU LOE. JANGAN KIRA GUA MATI NGGAK ADA LOE. GUA AKAN TETAP HIDUP. INGET ITU!”

“GUA NGGAK NYESEL UDAH MUKUL LOE. GUA MALAH NYESEL WAKTU ITU NGGAK LANGSUNG BUNUH LOE, BABI.”

Untuk beberapa waktu Ella mencoba berdamai dengan seluruh kenyataan itu. Ia berupaya bertoleransi dengan berpikir bahwa pacarnya itu marah besar karena memiliki rasa sayang yang juga luar biasa. Sempat kadang ia berpikir kurang dapat membina lelakinya. Ella merasa berada dalam suatu lingkaran dimana dirinya punya andil dalam perilaku lelakinya itu.

Setelah mencari pengetahuan ke sana kemari, Ella akhirnya tahu bahwa apa yang menjadi pikirannya selama ini adalah suatu kekeliruan besar. Bodoh. Ia mendapatkan pencerahan setelah membaca buku-buku, majalah-majalah, dan kasus-kasus serupa yang menimpa perempuan lagi; bahwa seseorang tidak akan pernah mampu mengubah pasangannya yang menderita psikopat. Di sebuah majalah, Ella membaca: Satu-satunya solusi adalah menolak menjadi korban. Serahkan pacar Anda kepada yang lebih ahli, yaitu seorang psikiater.

Ella cukup berhasil memutus total pengalaman buruknya itu. Dan di akhir tahun 2008 lalu, ia pun menikah seorang lelaki yang, dalam bukunya, disebutkannya datang tergopoh-gopoh menghampiri saat kepalanya tertunduk sedih. Lelaki yang “… menungguku untuk bersandar di bahunya”.

(33)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *