Home Lancong Romantika di Yogya
3

Romantika di Yogya

24
3
Penari Tayub. Foto-foto: Asyma D.A Sianipar.

Entah mengapa, ketika pertamakali menjejakkan kaki di kota ini, saya langsung jatuh cinta.  Bukan karena tempatnya yang meriah dengan berbagai tawaran wisata sebagaimana yang seringkali dibicarakan orang; bukan pula karena biaya hidupnya yang relatif murah; atau karena kayanya kota ini oleh kreativitas para senimannya. Saya merasakan sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan ketika menjalani keseharian di tempat yang serba sibuk dan bising seperti Jakarta. Yogyakarta, di mata saya, memberikan nuansa tersendiri dan memberi kesempatan pada saya untuk merasakan romantisme sebuah budaya.

Saya mengawali perjalanan dengan mampir di rumah seorang kolega di daerah Tembi. Selama ini, Tembi dikenal sebagai kampung budaya, dan demikianlah yang saya temukan saat bermalam di sana. Keberadaan rumahnya tepat di dekat workshop Warwick Purser, seorang Australia yang rajin melestarikan budaya Jawa melalui karya interior rumahnya. Bukan di pinggir jalan besar, melainkan masuk ke gang-gang sempit yang cukup padat dengan rumah penduduk.

Ketika tiba di rumahnya, saya begitu takjub. Rumah itu begitu lapang dengan sedikit sekali partisi pembatas ruang. Ia bermaterialkan kayu sehingga menyatu dengan alam. Dan yang terpenting, di belakang rumahnya saya masih melihat hamparan tanah kosong yang luas. Begitu tenang dan nyaman. Saat pagi datang, suasana bertambah dramatis dengan garis-garis sinar matahari yang menyelinap dari jendela dan ventilasi.

Pada saat yang sama, kata orang, Jogjakarta telah berubah. Ia digempur oleh modernisme dan komersialisme. Saat ini, di jalan-jalan besarnya, banyak sekali papan reklame komersial. Tak hanya satu, dua, atau tiga. Dalam pandangan ekstrim saya, jumlah papan iklan itu bisa mencapai ratusan dengan kepadatan yang luar biasa. Kata orang pula, warung-warung gudeg lesehan yang menjadi khas kota Jogjakarta di sepanjang jalan Maliboro telah berubah. Sekarang, warung-warung lesehan itu sudah tidak terlalu otentik lagi dan menjadi komersial. Ia terlihat dari harganya yang menjadi mahal.

Yah, saya mungkin tidak tahu bedanya antara Jogjakarta dulu dan sekarang. Tapi bagi saya, sekalipun pandangan orang mulai sedikit miring tentang Jogjakarta sebagai kota budaya, saya masih dapat merasakannya. Tak banyak, mungkin, tapi cukuplah bagi saya mengetahui bahwa masih ada bagian dari negara ini yang mau mempertahankan kekhasannya.

Wayang.

Kepergian kedua pada awal 2010 membawa saya menyusuri kota ini di tengah malam. Menaiki becak dengan membayar Rp. 30.000, suasana menjadi lain. Di tengah malam, Jogjakarta begitu sepi dan tenang. Bapak tukang becak dengan baik hati menjadi guide saya mengelilingi rute Pasar Kembang dan Malioboro. Saya dibawa menyusuri tembok istana, dan saya masih melihat beberapa gebyok yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa. Kata Bapak itu, keraton ini tidak hanya dihuni oleh raja dan kerabatnya, tetapi juga para abdi dalem kerajaan. Keraton yang dibangun setelah Perjanjian Giyanti ini dibangun pada 1775 oleh Sultan Hamengkubuwono I. Konon, luas keraton ini mencapai 14.000 m2 dengan Tugu-Panggung Krapyak sebagai batas utara-selatan dan Sungai Code-Sungai Winongo sebagi batas timur-barat. Hal yang menarik, bagi orang-orang setempat, hingga saat ini ia masih diyakini sebagai pusat jagatraya.

Usai menikmati indahnya suasana malam Jogjakarta, yang juga kaya akan bangunan-bangunan kolonial, seperti Kantor Pos Besar, Pasar Beringharjo, dan Benteng Vredeburg, keesokannya saya mencoba berjalan di seputaran alun-alun barat Keraton Jogjakarta. Saya mengunjungi Masjid Gedhe Kauman yang merupakan masjid tertua di Jogjakarta. Masjid ini menjadi sebuah contoh arsitektur hasil akulturasi antara Islam dan Hindu Jawa. Dalam penglihatan saya, bentuknya tidak sekonvensional masjid di Indonesia yang pada umumnya beratap kubah. Masjid ini beratap tiga yang juga dilengkapi dengan gapura. Bangunan masjidnya juga berlapis-lapis. Misalnya saja, terdapat bangunan yang disebut “Pagongan”. Pagongan adalah bangunan masjid yang digunakan untuk melakukan dakwah dengan pendekatan kultural Jawa melalui gamelan. Menurut keterangan dari pemandu, terdapat 10 jenis bangunan dalam masjid ini yang kesemuanya memiliki fungsi tersendiri.

Masjid Gedhe Kauman.

Dari bangunan yang memiliki nilai antara Islam dan tradisional Jawa, saya kemudian mengunjungi tempat lain yang tidak kalah menarik. Candi Prambanan. Saya sengaja memilih datang saat tempat wisata ini sudah mulai sepi, dimana orang-orang beranjak pulang. Selain untuk keperluan fotografi, saya merasa lebih nyaman bergerak ketika tidak ada lagi orang di kompleks candi ini.

Menurut catatan yang ada, Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia. Namun, orang yang pertamakali menemukan candi ini di masa peradaban modern adalah seorang Belanda bernama C.A Lons pada 1733. Saat saya mengunjungi candi ini, masih banyak stagger terpasang di bagian utama candi sebagai bagian dari renovasi akibat gempa bumi Jogjakarta pada 2005 lalu.

Candi Prambanan dikenal ditengah masyarakat karena kisah percintaan antara Bandung Bondowoso dan Rara Jonggrang. Dibangun pada abad ke-10 masehi oleh Rakai Pikatan dan Rakai Balitung, candi ini sebetulnya memiliki kemiripan arsitektural dengan candi di Angkor Wat di Kamboja. Mungkin karena keduanya masih sesama mazhab Hindu.

Prambanan memiliki tiga candi utama yang merepresentasikan dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa. Ketiga candi ini masing-masing memiliki satu candi pendamping, seperti Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan  Garuda untuk Wisnu.  Selain candi-candi ini, masih ada ratusan lagi candi di kompleks Prambanan. Saat ini, tidak hanya candi yang menjadi daya tarik Prambanan, tetapi juga sendratari Ramayana yang dibuat semegah mungkin dengan tata lampu warna warni di kompleks utama candi.

Ah, perut saya mulai keroncongan. Saya mencari makanan khas Jogja. Tapi saya tidak mau makan gudeg lesehan yang “komersial” itu. Jadi saya memilih makan Bakmi Godog Jawa di depan Museum Perjuangan Jogjakarta. Namanya “Sabar Menanti”. Ya, keadaannya memang sama dengan namanya. Saya harus menunggu lama sekali untuk satu porsi Bakmi Godog Jawa. Meski demikian, rasanya lebih otentik dibanding gudeg yang sering saya makan di Jakarta.

Kemegahan Candi Prambanan.

Dalam batin saya, setelah melihat banyak artefak kebudayaan-sejarah, saya berpikir bahwa budaya seperti ini tidak boleh dibiarkan mati. Memang baru sebagian kecil yang saya kunjungi. Akan tetapi, dalam dunia yang semakin terbuka dan tanpa batas, bagaimanapun diperlukan saringan agar kita masih bisa memiliki identitas dan budaya sendiri dan tidak terserap habis oleh globalisasi.

(24)

Asyma D.A Sianipar Naomi Asyma Detty Agustina Sianipar, begitu nama lengkapnya. Saat ini ia bekerja sebagai Asisten Program (Programme Assistant) di sebuah lembaga donor lingkungan bernama Global Environment Facility - Small Grant Programme (GEF SGP) yang berlokasi di Jakarta. Bekerja dalam sebuah lembaga donor yang bertugas membantu komunitas akar rumput dan memantau kondisi lingkungannya, penulis sering kali bepergian ke luar daerah, bertemu masyarakat, dan tidak lupa mengamati tradisi budaya serta kekhasan dari daerah tersebut. Sebelum terjun ke dunia Lembaga Swadaya Masyarakat, ia juga pernah bekerja freelance pada sebuah free travel magazine bernama "Trave". Disamping hobi melakukan perjalanan ke berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri, ia juga sedang mendalami seni fotografi (karya dapat dilihat pada www.asyma268.deviantart.com) dan membiasakan diri dalam menulis dan berbagi (tulisan pribadi dapat dilihat pada www.worldofthousandwords.wordpress.com). Melalui tulisan-tulisannya, penulis berharap dapat memberikan pengetahuan baru bagi orang-orang di sekelilingnya.

Comments with Facebook

Comment(3)

  1. Masih banyak sisi lain Jogja yang kurang terekspos, baik dari segi pariwisata sampai kulinernya……… Saya tinggal di Jogja selama beberapa waktu, semakin lama di sini semakin merasa sayang, terlebih banyak tulisan dari orang yang domisilinya diluar Jogja……. Dan yang pasti, masih banyak (terlalu banyak) Jogja yang saya kurang ketahui…..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Yuuuhuuu,Ya Allah…,kapan aku bisa ke Jogya lagi yaaa??? ‘n’ bisa jelajah negeriku yang cantik nian???

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Benar mas, mengunjungi kota Yogja tak pernah habisnya membawa kita pada suasana kekhasan sebuah bentuk yang njawani, hangat dan menyentuh hati.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *