Home Lancong Harmoni di Baduy
8

Harmoni di Baduy

27
8
Alam pegunungan Kendeng, Kanekes. Foto-foto: Ramdan Panigoro.

Lupakan ponsel atau alat elektronik Anda saat mengunjungi Desa Kanekes, atau yang lebih popular disebut Desa Baduy, Banten. Selain tidak ada listrik untuk men-charge baterai, sinyal pun sulit didapat. Lagipula, daripada menatap layar ponsel, lebih baik Anda menatap alam sekitar; daripada mendengarkan i-pod, lebih baik menikmati suara-suara alam.

Peraturan adat yang menjaga kelestarian tradisi nenek moyang memang membuat listrik tidak masuk ke desa ini. Listrik dipandang dapat membawa serta hal-hal yang merusak atau tidak sesuai dengan tradisi yang dipegang. Dari perspektif orang luar Baduy, kondisi ini tentu betul-betul eksotik.

Sejarah dan Lokasi
Baduy sebetulnya bukanlah nama dari komunitas yang ada di desa ini. Nama tersebut menjadi melekat karena diberikan oleh peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedoin Arab yang merupakan masyarakat nomaden atau berpindah-pindah. Dari Badawi atau Bedoin, nama itu pun bergeser menjadi Baduy.

Orang Baduy, karena bermukim di Desa Kanekes, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Orang Kanekes. Namun karena istilah “Baduy” terlanjur lebih dulu dikenal, maka nama “Baduy” lebih populer ketimbang “Orang Kanekes”.

Orang Baduy.

Wilayah Kanekes sendiri berada tepat di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidimar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. Namun, meski sudah dikenal orang banyak, data tentang siapa dan asal muasal Baduy masih minim dan simpang siur. Ada pendapat yang mengatakan mereka adalah orang-orang pelarian dari Padjajaran, ibukota Kerajaan Sunda. Namun teori lain mengatakan orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang memiliki daya tolak kuat atas pengaruh luar.

Orang Baduy
Sehari-hari, orang Baduy menggunakan bahasa Sunda berdialek Sunda-Banten. Namun, banyak dari mereka yang sudah bisa berbahasa Indonesia dan terbiasa melakukan interaksi dengan wisatawan. Mereka sering menjadi penunjuk jalan atau pengangkut barang. Orang Baduy juga tidak keberatan apabila Anda bertanya seputar ajaran dan adat istiadatnya.

Agama yang dianut oleh orang Baduy adalah Sunda Wiwitan. Dengan agama ini, mereka cenderung menjadi eksklusif, menolak budaya luar. Meski demikian, dilihat dari tempat tinggal dan kadar adat yang dipegang, orang Baduy terbagi ke dalam dua komunitas, yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Perempuan Baduy.

Bagi orang Baduy Luar, adat tidak dipegang secara ketat. Pemukiman mereka lebih terbuka untuk orang luar atau wisatawan. Pakaian yang mereka kenakan juga sudah tidak bisa dibedakan dengan orang-orang non-Baduy. Namun, secara arsitektural, rumah-rumah mereka masih memiliki ciri khas Baduy, yakni didominasi oleh kayu dan beratapkan rumput kering.

Sementara, orang Baduy Dalam lebih ketat dalam memegang adat. Hal ini terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka mengenakan pakaian dengan bahan yang terbuat dari alam dan hanya menggunakan warna putih atau biru tua. Mereka juga mengenakan ikat kepala putih serta membawa golok untuk keperluan pertanian atau memotong kayu.

Pemukiman Baduy Dalam juga lebih tertutup bagi orang luar. Pada masa Kawalu, selama tiga bulan berturut-turut dalam penanggalan Baduy, semua orang luar, tanpa terkecuali, betul-betul dilarang masuk. Orang asing tak diijinkan memasuki wilayah ini.

Ada memang waktu dimana orang asing dapat memasuki kawasan Baduy Dalam. Namun, selepas kepergian orang asing tersebut, mereka akan melakukan upacara pembersihan. Upacara ini diadakan dengan asumsi orang asing tersebut membawa sesuatu yang tidak bersih, dan karena itu perlu disterilkan melalui ritual.

Di kawasan Baduy Dalam, ada tiga kampung yang masing-masing dikepalai oleh seorang kepala suku atau yang disebut Puun dan wakilnya yang disebut Jaro. Ketiganya adalah kampung Cibeo, Cikesik, dan Cikertawana.

Masing-masing Puun ini memiliki peran yang berbeda: Puun Cibeo mengurusi pertanian, Puun Cikesik mengurusi keagamaan, dan Puun Cikertawana bertanggungjawab dalam hal kesehatan atau obat-obatan.  Tanggung jawab ini berlaku secara kolektif untuk ketiga kampung.

Perempuan Baduy sedang menenun di teras rumah.

Meski kawasannya tertutup, orang Baduy Dalam mudah ditemukan di kawasan Baduy Luar, bahkan sampai Ciboleger yang menjadi pintu gerbang menuju pemukiman orang Baduy.

Pemandangan menarik lainnya adalah ketika menelusuri kawasan Baduy Luar. Di sini sangat mudah menemukan perempuan-perempuan yang sedang menenun dengan alat tradisional. Dengan alat tradisional, mereka mengerjakannya di teras rumah. Perempuan-perempuan ini juga kerap berjalan beriringan dengan pakaiannya yang khas.

Harmoni manusia dengan alam juga mewujud di sini. Dalam ajaran agama Sunda Wiwitan, orang-orang Baduy dilarang menebang pohon di hutan-hutan yang telah ditentukan. Hal ini membuat udara menjadi segar dengan alam yang terhampar hijau dimana-mana. Langit terlihat bersih. Begitu juga dengan kicauan burung, kokok ayam, dan gemericik air jernih yang menjadi mudah didengar.

Ketradisionalan orang Baduy sontak membuat daya tarik bagi wisatawan. Orang-orang non-Baduy menganggap ketiadaan listrik, jalan yang tak diaspal, dan tak adanya kendaraan bermotor merupakan fenomena yang tak biasa.

Hamparan hijau pegunungan Kendeng, Kanenkes.

Untuk mencapai wilayah ini, dari Jakarta, Anda bisa menggunakan kereta api jurusan Rangkasbitung. Perjalanannya memakan waktu sekitar empat jam. Dan dari Rangkasbitung, Anda bisa menyewa mobil atau elf menuju Ciboleger dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Dan akses ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui medan yang menanjak.

(27)

Ramdan Panigoro Ramdan Panigoro adalah lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) angkatan 1997. Saat ini ia bekerja freelance sebagai video editor. Hobinya adalah traveling, fotografi, menulis, dan membaca.

Comments with Facebook

Comment(8)

  1. Pak Wildana

    Waktu saya ke sana bareng anak2 antroplog UI, saya dapat info dari mereka bahwa uang sudah dikenal oleh masyarakat Kanekes dari Jaman Belanda. Buktinya: mereka pernah menemukan uang dari jaman Belanda di rumah penduduk setempat. Kemudian di Kanekes Dalam ada yang jualan rokok juga seperti pedagang asongan. Minyak goreng & gula pasir juga sudah masuk ke wilayah Kanekes Dalam (pastinya mereka membelinya dari luar: desa terdekat yg terbuka terhadap kultur luar adalah Ciboleger).

    Orang Kanekes adalah penganut ajaran Sunda Wiwitan yang menolak kebudayaan luar, maka semua penganut Sunda Wiwitan dilarang bersekolah. Tapi ada satu orang yang bernama Pak Sarpin (beliau orang Kanekes Luar) yang belajar baca-tulis di wilayahnya (tidak belajar secara formal di sekolah). Dan dia mengajarkan ilmunya tersebut kepada semua orang Kanekes (baik Luar maupun Dalam) yang mau.

    Kesimpulannya awalnya orang Kanekes amat sangat tertutup alias anti budaya luar tapi lama kelamaan adat istiadat mereka semakin luntur karena perkembangan zaman.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Di masyarakat Baduy itu ada transaksi jual beli apa gak ya? Kok sepertinya serba mandiri semua & di sana itu pendidikan sekolahnya gimana ya?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Banyak orang yang tahu dan kita juga menyadari, bahwa contoh kehidupan yang diberikan oleh masyarakat Baduy sungguh menggambarkan harmoni kehidupan yang luhur dan arif dalam berkehidupan baik dengan sesama maupun dengan alamnya.
    Tapi mengapa banyak dari kita yang tahu dan tidak menjadikan romantika kehidupan mereka terserap dalam kehidupan mereka di lingkungannya.
    Mungkin Tuhan masih menyisakan yang baik diantara kita, untuk menjadi pelajaran kehidupan kita.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Wow, syukurlah, terlihat ternyata memang terdapat komunitas yang bisa mandiri tanpa tergantung industri.

    Belajar dari Kaum Kanekes, sepertinya hal yang pokok adalah adanya tekad untuk memegang nilai dengan teguh, dan mungkin itu berangkat dari sikap mencukupkan diri dengan apa yang ada.

    Terima kasih untuk sharingnya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Seminggu lalu, baru saja saya menginjakkan kaki di Baduy. Tepatnya berada di Desa Balimbing. Kami menginap di rumah Pak Sarpin, di Kampung Balimbing. Sayang sekali, saya tak bisa melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam karena hujan terus mengguyur. Termakasih atas catatannya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Saya punya pengalaman pernah tidur di rumah orang baduy, tepatnya di Dusun Marengo, di rumah Bapak Ailin. Ternyata, walaupun cara hidupnya tradisional, mereka sangat terbuka terhadap masyarakat luar. Mereka hidup bersahaja, tetapi sangatlah beradab.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Meihat foto-foto di Baduy rasanya baru kemarin berkunjung padahal sudah lama sekali saya rindu dengan kearifannya serta kejujurannya, mempertahankan budaya nenek moyang serta kehidupan yang bersahaja. Terimakasih Mas atas foto-fotonya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Wah, ternyata Indonesia itu memang kaya akan budaya dan tradisi di tiap suku-sukunya.. Kalau tidak salah Suku Baduy ini merupakan salah satu suku pedalaman di Banten.. Tapi cukup maju untuk perkembangan Budaya dan Pemikiran.. Beda sekali dengan Suku Pedalaman di Daerah Mentawai..

    Itulah hebatnya Indonesia.. Sayang kalau kita bangsa Indonesia tidak mengetahui tradisi yang bernilai tinggi sekali di Provinsi kita..

    Terimakasih ya Pak Ramdan atas infonya..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *