Home Lancong Berlayar ke Selayar
15

Berlayar ke Selayar

105
15
Pulau Selayar
Pulau Selayar. Foto: Yudasmoro Minasiani.

Perjalanan ke Pulau Selayar yang saya lakukan lebih dikarenakan rasa ingin tahu. Sebuah pulau yang bentuknya memanjang di ujung selatan Propinsi Sulawesi Selatan ini begitu membuat saya penasaran. Beberapa kawan saya yang sudah pernah ke Selayar mengatakan bahwa pulau ini memiliki potensi wisata yang bagus.

Bertindak sebagai seorang solo backpacker, sayapun memutuskan untuk mengunjungi pulau ini. Dengan menggunakan bis “Sumber Mas Murni” dari terminal Malengkeri, Makassar, perjalanan ke Pulau Selayar dimulai pukul 09.00 WIT. Dengan harga tiket sebesar Rp 100.000, bis exclusive (di sini tidak ada istilah executive) ini menempuh perjalanan dengan waktu tempuh sekitar sebelas jam.

Rute menyusuri pantai barat hingga ke ujung selatan menjadi perjalanan yang tak pernah membosankan. Dengan menyinggahi kota-kota seperti Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba, pemandangan hijau yang terkadang berpadu dengan birunya laut menjadi suguhan selama perjalanan sebelum memasuki dermaga Tanjung Bira. Tanjung Bira sendiri memiliki gugusan pantai yang membuat saya begitu terkesan. Cantik luar biasa!

Dari dermaga Tanjung Bira, penyeberangan ke Selayar dilayani oleh kapal fery yang mempunyai jadwal reguler. Biasanya, penyeberangan dilakukan dua kali dalam sehari. Namun dalam kondisi tertentu, seperti hari libur, penyeberangan bisa dilakukan tiga kali dalam sehari.

Siang itu penyeberangan berjalan agak lambat karena banyaknya kendaraan yang akan menyebrang. Saya langsung naik ke atas di bagian balkon penumpang. Tidak ada kursi sama sekali disini. Namun angin laut yang bertiup sejuk dan pemandangan laut lepas dan pulau-pulau akan lebih baik bagi saya daripada hanya duduk di bagian kabin penumpang.

Kebanyakan penumpang yang menyeberang adalah keluarga. Sisanya adalah para pekerja dan pedagang yang membawa barang dagangan yang cukup banyak. Seorang bapak yang mengaku sedang berdinas untuk institusi pemerintah mengatakan pada saya bahwa saya beruntung ombak siang itu sedang tenang.

“Sebulan lalu saya ke sini, ombaknya tiga meter dan kita terpaksa merapat di Pulau Buton,” katanya.

Perjalanan selama 1,5 jam di atas kapal fery juga dihibur dengan tontonan tak terduga. Beberapa ekor lumba-lumba berlompatan seolah beradu cepat dengan fery yang saya naiki. Para penumpang langsung menuju balkon sambil mengarahkan kameranya ke laut. Seru sekali mereka! Sayang, saya sendiri tak sempat mengabadikan tontonan dadakan itu. Para lumba-lumba keburu menghilang kembali.

Suasana balkon fery juga ramai saat itu. Saya sempat mengobrol dengan beberapa penumpang lain. Kebanyakan dari mereka merupakan penduduk asli Selayar. Salah satunya adalah Mas Andi. Sosok yang humoris dan cepat akrab ini ternyata juga penumpang di bis yang sama dengan saya. Obrolan hangat kami akhirnya membawa saya menerima tawaran Mas Andi untuk menginap di rumahnya.

“Nggak apa-apa kan tinggal di kampung?” goda Mas Andi.

Sebagai penikmat backpacking, saya pun tak bisa menolak ajakan yang menggiurkan itu. Bagi saya, tinggal di tengah-tengah warga setempat adalah hal yang menarik. Saya bisa merasakan langsung kehidupan mereka dan menyatu dengan penduduk setempat.

Pukul 19.00, akhirnya fery tiba di dermaga Selayar. Keadaan yang gelap tanpa lampu jalan membuat saya tak bisa mengetahui kondisi alam di sekitar dermaga ini. Kami semua langsung kembali menaiki bis. Perjalanan dari dermaga menuju kota Benteng, yang merupakan ibukota Selayar, memakan waktu sekitar satu jam. Sejenak saya sempat tertidur pulas karena merasa lelah.

Terminal Selayar sendiri berukuran cukup luas, meski tak banyak kendaraan umum. Maklumlah, mungkin karena sudah hampir pukul 20.00 jadi tak ada angkutan umum yang ngetem di sini. Namun banyak sekali supir ojek yang menawarkan jasa mengantar.

Saya dan Mas Andi langsung menuju ke sebuah angkot yang ternyata sudah dicarter oleh keluarganya untuk menjemputnya.

Sambil diperkenalkan pada anggota keluarga, kami segera berangkat menuju tempat tinggal Mas Andi, yaitu di Desa Tanabau, sekitar delapan kilometer dari Benteng. Perjalanan menuju Tanabau melewati jalur yang menanjak dan agak berliku. Aspalnya terasa halus meski kadang ada beberapa lubang. Keadaan jalan begitu gelap gulita karena tak ada penerangan jalan sama sekali.

Dari obrolan dengan Mas Andi selama perjalanan, saya baru tahu bahwa ternyata ia sudah setahun ini merantau ke Bandung, Jawa Barat. Dan hari ini adalah hari pertamanya pulang kampung setelah setahun meninggalkan Selayar.

Tak heran, ketika tiba di Desa Tanabau, rumah Mas Andi yang berbentuk rumah panggung sederhana itu sudah dipenuhi kerabatnya. Acara temu kangen pun berlangsung meriah malam itu. Saya sendiri diperkenalkan sebagai tamu dari Jakarta. Selain keramahan kerabatnya, malam itu saya juga senang sekali bisa menikmati aneka macam kue-kue tradisional khas Sulawesi. Saya tak tahu nama-nama kue tersebut, namun kebanyakan terbuat dari pisang yang diolah dengan berbagai cara.

Setelah semua acara selesai, saya kemudian beristirahat dan membersihkan diri di sebuah kamar mandi yang letaknya sekitar 200 meter dari letak rumah. Setelah itu, Mas Andi dan beberapa keluarganya menemani saya untuk obrolan malam dengan ditemani kopi hangat. Nikmatnya!

Suasana malam di Desa Tanabau ini begitu menenangkan hati saya. Langitnya begitu bersih hingga saya bisa melihat taburan bintang yang bak pohon natal mengisi semua sudut langit. Suara jangkrik dan kodok juga saling bersahut-sahutan mengiringi tidur saya di malam hari.

Paginya, salah satu kerabat Mas Andi, Mas Lukman, mengajak saya untuk berjalan-jalan di hutan. Dengan pengalaman beberapa kali mengantar turis di Selayar, ia banyak bercerita tentang keadaan penduduk Selayar.

“Pulau ini sebetulnya bagus Mas, cuma warganya nggak pernah mau didatangi investor,” katanya.

Ketika saya tanyakan mengapa demikian, Mas Lukman hanya menjawab, “Bisa nangkap ikan yang banyak tiap hari kayak gini aja kita sudah senang Mas. Nggak perlu macam-macam.”

Sosok pria yang murah senyum ini memang enak diajak mengobrol. Sebelum ke hutan, kami sempat mampir di gua Baluyah. Gua ini letaknya di bawah tanah. Dari pinggir jalan, gua ini hanya terlihat seperti gunukan batu yang ditutup semak belukar. Namun ketika saya menghampirinya, barulah terlihat mulut gua yang berada di bawah.

Menurut Mas Lukman, di sekitar gua ini masih banyak terdapat ular. Saya jadi agak deg-degan untuk menjelajah sekitar gua. Setelah menuruni batu-batu besar, akhirnya saya tiba di dasar gua. Di bagian dinding gua masih ada lagi beberapa gua kecil.

“Ini bisa dimasukin orang kok. Tembusnya nanti disana tuh,” jelas Mas Lukman sambil mengarahkan telunjuknya ke arah hutan di belakang gua.

Karena tak membekali diri dengan peralatan caving yang layak, kami mengurungkan niat untuk memasuki gua-gua kecil tersebut.

Batu-batu di gua ini ternyata cukup unik. Jika dikerok sedikit dengan benda tajam, maka bagian dalam batunya berwarna putih dan berkilauan.

“Ini namanya batu intan,” jelas Mas Lukman.

Dari gua Baluyah, kami mampir sebentar di pantai Baluyah. Pantai ini sangat sepi dari pengunjung. Biasanya, pantai ini baru ramai dikunjungi warga di hari libur. Ukuran pantainya sendiri tidak terlalu besar. Ada tempat penginapan di sebelah kiri jalan masuk, dan beberapa restoran di sebelah kanan agak mendekat ke arah laut.

Pantai Baluyah termasuk bersih dengan pasir putihnya yang menawan. Ombak di sini tidak terlalu besar karena ada perairan dangkal yang cukup luas di sekitar pantai. Beberapa perahu nelayan juga tampak tertambat di daerah perairan dangkal. Suasana yang sangat cocok untuk orang yang ingin menyendiri.

Setelah puas menikmati pantai Baluyah, kami melanjutkan perjalanan ke hutan yang letaknya sekitar 45 menit dari pantai Baluyah dengan mengendarai sepeda motor. Dalam perjalanan, kami melewati kampung-kampung nelayan dan pinggiran hutan. Kondisi jalannya, meski agak sempit, cukup mulus. Jarang terdapat lubang-lubang di jalan.

Di sebuah perbukitan, motor kami berbelok ke kiri meninggalkan jalan utama. Kami memasuki jalan setapak diantara alang-alang dan menelusuri jalur berkelok dan mendaki. Seorang ibu warga setempat menyapa saya di sebuah tikungan di bukit.

“Hai mister!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Saya pun membalas lambaian ibu itu. Tak lama kemudian, Mas Lukman memarkir motornya di pinggir hutan. Dengan berbekal sebuah golok, ia mengantarkan saya berjalan-jalan di hutan. Kondisi hutan di sini tidak terlalu lebat. Jalan setapaknya masih tergolong lebar berliku melewati pohon-pohon tinggi yang tumbuh agak berjauhan.

Setelah melalui sebuah sungai kecil yang airnya jernih, perjalanan memasuki rute mendaki dengan kondisi hutan yang agak lebat. Jalan setapak mulai dihimpit berbagai macam tanaman. Beberapa kali kami harus benar-benar menerobos semak belukar. Suara burung saling bersahut-sahutan. Mas Lukman pun beberapa kali memamerkan keahliannya bersiul meniru burung-burung itu.

Di sebuah tempat terbuka, saya melihat sebuah tangki air berwarna oranye yang berukuran cukup besar. Menurut Mas Lukman, tangki itu berfungsi untuk mengairi perkebunan yang ada di sekitar hutan. Ia sendiri pernah bertugas di Departemen Kehutanan dan bertugas mengatur aliran tangki-tangki di hutan ini setiap pagi.

Saya juga diajak mengunjungi letak beberapa tangki air lainnya sebelum akhirnya kami menuju ke sebuah pintu air. Masih sangat asri kondisi hutan di sini. Jauh dari sentuhan tangan-tangan pecinta alam dan sampah-sampah mie instan.

Cukup lama kami beristirahat di pintu air hutan ini. Maklumlah, napas saya sudah tak sekuat dulu lagi untuk melakukan trekking di bukit dan hutan. Jauh berbeda dengan Mas Lukman yang saat itu masih terlihat segar bugar dan selalu mengajak bercanda.

Siangnya, kami segera pulang ke rumah untuk bersiap melakukan salat Jumat. Berbeda dengan di Jakarta, di sini saya harus banyak menyesuaikan diri dengan warga lain. Di Desa Tanabau, para jemaah salat Jumat rata-rata memakai baju koko dan sarung. Hanya ada tiga jemaah yang waktu itu memakai celana panjang biasa: dua kuli yang sedang merenovasi mesjid dan saya sendiri.

Untuk urusan makanan, saya tak perlu khawatir karena di Selayar ini kebanyakan penduduknya adalah nelayan. Saat waktu makan di rumah Mas Andi pun, hidangan ikan pun tak pernah terlewatkan. Mulai dari ikan goring, sop kepala ikan, hingga sop ikan dengan kuah santan. Hasil laut yang berlimpah di Tanabau membuat hobi menyantap seafood saya benar-benar terpuaskan.

Menjelang sore, saya bersama Mas Andi kembali diajak mengeksplorasi sekitar Tanabau. Sebuah bandara yang letaknya dua kilometer dari rumah Mas Andy terlihat sepi dan tak terpakai.

“Ini bandara Aroepala. Sekarang lagi direnovasi,” jelas Mas Andi.

Jika bandara ini selesai direnovasi dan siap digunakan, tentunya akan banyak membantu orang yang akan menuju Selayar. Hanya menempuh waktu 25 menit dari bandara Hasanudin, Makassar.

Setelah itu, Mas Andi juga mengajak saya menuju suatu perkampungan yang bernama Kampung Padang. Keunikan kampung ini adalah letaknya yang menjorok ke laut. Untuk mencapai tempat ini, saya harus melalui sebuah jalan sepanjang dua kilometer yang membelah lautan.

Menurut Mas Andi, sejarah Kampung Padang ini adalah berasal dari datangnya orang-orang suku Padang ke Pulau Selayar. Karena tidak diterima di daratan, akhirnya mereka mendiami sebuah daratan yang dulunya adalah batu karang besar yang kini namanya menjadi Kampung Padang.

Kota Benteng

Pengalaman menginap semalam di kediaman Mas Andi yang begitu sederhana namun menyenangkan itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Namun mengingat besok subuh saya harus naik bis menuju Makassar, malamnya saya memutuskan untuk menginap di kota Benteng.

Sebagai ibukota Selayar, Kota Benteng terbilang cukup ramai. Luasnya sendiri hanya sebesar kawasan Pondok Indah di Jakarta. Meski demikian, di kota ini penginapan tersedia cukup banyak. Yang paling strategis adalah Selayar Beach Hotel. Hotel yang terletak persis di seberang pantai ini juga dekat dengan pasar dan dermaga. Dengan demikian akses kemanapun menjadi mudah. Tarifnya berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per malam. Bagi para backpacker, hotel ini sangat cocok.

Di daerah dermaga, banyak penjaja hidangan laut yang ramai dikunjungi orang. Dan di tempat inilah saya lebih banyak menghabiskan malam terakhir saya di Selayar. Dalam segarnya angin laut, saya mengobrol dengan beberapa warga sambil menyantap ikan bakar.

(105)

Yudasmoro Minasiani Sebelum terjun dalam dunia travel writing sepenuhnya, ia sempat bekerja sebagai seorang manager di restoran cepat saji di Jakarta. Namun karena kecintaan pada dunia traveling dan jurnalistik, pria yang hobi menulis, naik sepeda, dan menyantap sate kambing ini pun akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya menjadi travel writer. Karya-karya lainnya dapat dilihat di www.mahavishnu8.multiply.com.

Comments with Facebook

Comment(15)

  1. “elok rupa, ragam potret khatulistiwa, selayang pandang…. selayang…. hmmm, enak dipandang”

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Tahun 2001 saya ke Selayar, kampung halaman suami. Pemandangannya bagus. Suami baru 2 kali ke sana. Selama ini suami dan keluarga tinggal di Ambon. Apa kabar Tanahbau? Jadi ingin ke sana lagi nih. Apalagi udah ada rute Denpasar-Selayar.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Sekarang (mulai maret 2010) sudah ada rute Makassar – Selayar – Bali, tapi masih dalam tahap uji coba. Mudah-mudahan banyak pengunjung sehingga rute ini bisa eksis dan melayani masyarakat yg ingin mengunjungi selayar.

    Salam kenal
    Mul – Asli Selayar
    bermukim di Yogyakarta

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Salam kenal Bung Yudasmoro. Tulisan ini menginspirasi saya untuk berangkat ke Selayar tahun baru 2010.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Salam,

    Wahhh… seru juga ya pertualangannya bapak… Jadi pengen kesana…. Apalagi saya begitu tertarik dengan keindahan alamnya… Mudah-mudahan saya juga bisa kesana…

    terimakasih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Bagus banget ceritanya…. Kira-kira habis duit berapa ya? Mohon infonya dong Mas Yudasmoro!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Dear Aida Jamil

    Tempatnya memang masih asri dan jauh dari sibuknya kota besar. Jadi bisa benar-benar menikmati suasana dan budaya lokal.

    Daeng Lalo,
    Waktu saya kesana kebetulan ombaknya lagi super tenang. Saya malah sempat ketiduran di dek. Namun waktu pulang memang ombak cukup tinggi karena hujan deras.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Dear Adsuri

    Thanx atas info bandaranya. Wah sekarang sudah makin lancar nih akses ke Selayar. Jujur saja waktu ke sana saya cuma 2 hari, jadi belum puas.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Salam….
    Saya jadi teruja untuk ke Selayar setelah membaca cerita bapak tentang selayar…. Tentu indah tempatnya…. Kalau saya ada peluang ke sana saya ingin sekali merasai keindahan suasana perkampungan di sana…. Saya berasal dari malaysia….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. Saya keduluan mas Mis menulis tentang Selayar. Tapi boleh juga laporan perjalanan ini, mengingatkan saya waktu pertama kali ke Selayar terpaksa mabuk laut di atas Fery… mual… dan akhirnya… ambruk. Sekarang sudah ada penerbangan udara, semoga tetap lancar.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. Tambahan:
    Pulau Selayar memang patut dijelajahi, banyak tempat-tempat wisata yang sangat-sangat menarik. Terkadang penduduk Selayar sendiri banyak yang tidak tahu.

    Misal, salah satunya adalah bekas-bekas 2 Benteng pos Jepang, satu di utara, satu di selatan. Oleh karena itu banyak turis- turis Jepang di Bali yang mau ke Selayar, tapi tidak mau via Makassar.

    Jadi rencana akan ada penerbangan Bali – Selayar – Flores/labuan Bajo.

    Demikian,
    Salam,
    adsuri

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  12. Halo Mas Yudas,
    Bandara mulai awal April 09 sudah berfungsi kembali. 2x seminggu (Selasa pagi dan Jumat sore) dengan pesawat 22 org. Tahun depan mungkin sudah dengan yang 50 orang.

    Saya bermukim di Selayar hampir 2 tahun, tahun 05 – 06. Naik pesawat 35 menit dari Makassar.

    Salam,
    adsuri

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  13. Wah jadi tau banyak nih tentang Selayar. Coba Bapak ke Maros di Permandian alam Bantimurung. Di sana pun tidak kalah serunya… Trims.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  14. Untuk pesawat masih dalam renovasi bandaranya. Katanya sih 2010 sudah bisa dipakai (cuma 25 menit dari Makasar).

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  15. Wah jadi pingin ke pulau selayar.
    Selain bis dan kapal apakah sudah bisa ditempuh dengan pesawat?

    Terima kasih.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *